Selasa, 04 Juni 2013

Tugas Biografi - Hafiz Audiatamma XI IPS 2

Nen Nur, Atlit Bola Keranjang Sekaligus Guru TK di Bukittinggi
                Pada Kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang kisah kehidupan nenek saat beliau masih muda. Walaupun informasi yang didapatkan saya dari beliau kurang banyak dikarenakan beliau sudah melupakan kisah waktu kecilnya, saya harap dari informasi ini sudah cukup untuk menyimpulkannya dan sudah cukup pula untuk diambil manfaatnya.


A.      Biografi

Pada tanggal 10 Bulan Juli Tahun 1935, telah lahir seorang Perempuan yang bernama Nen Nur. Beliau adalah Nenek saya. Sebenarnya beliau itu bukanlah nenek asli saya tetapi beliau merupakan adik dari nenek asli saya. Walaupun begitu saya sudah menganggap beliau adalah nenek saya dikarenakan nenek saya sudah meninggal saat saya belum lahir di makkah saat nenek asli saya sedang menunaikan ibadah haji. Beliau lahir di bukittinggi dan juga tinggal di bukittinggi, sumatera barat, tepatnya di daerah sungai buluh yang merupakan 6 Km dari Bukittinggi Kota. Beliau mempunyai saudara berjumlah 8 orang dan salah satu nya itu merupakan nenek Asli saya yang meninggal sebelum saya lahir. Beliau mempunya orang tua yang bernama hajah Sarama untuk Ibu  nya dan Haji Muhammad Nur untuk Ayahnya. 
                Beliau mengawali pendidikannya di Sekolah Rakyat yang bertempatkan di Bukittinggi. Beliau tidak mengikuti pendidikan taman kanak-kanak ataupun playgroup dikarenakan waktu itu indonesia masih dijajah oleh belanda dan karena itulah demi keamanan beliau orangtua beliau melarangnya untuk mengikuti Taman kanak-kanak ataupun playgroup. Kemudian setelah beliau lulus beliau melanjutkan tingkat pendidikannya di SMP 2 yang bertempatkan di bukittinggi. Setelah beliau lulus, beliau tetap pula melanjutkan jenjang pendidikannya ke arah yang lebih tinggi. Beliau melanjutkan jenjang pendidikannya ke SGTK (Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak) di sekolah fransiscus. Di Sekolah ini dia pun dilatih untuk menjadi guru taman kanak-kanak. Beliau memasuki sekolah guru taman kanak-kanak ini dikarenakan cita-cita beliau sejak kecil adalah menjadi guru taman kanak-kanak.
                Setelah beliau lulus dasi Sekolah guru taman kanak-kanak, beliau pun langsung bekerja menjadi guru Taman kanak-kanak di taman kanak-kanak Fransiscus. Beliau mengajar menjadi guru taman kanak-kanak di fransiscus selama kurang lebih 5 tahun. Setelah itu beliau menjadi guru di sekolah dasar di fransiscus. Beliau dipindahkan dari taman kanak-kanak fransiscus menjadi sekolah dasar fransiscus dikarenakan di sekolah dasar fransiscus ini kekurangan tenaga kerja guru nya. Beliau pun pada akhirnya bekerja menjadi guru sekolah dasar di fransiscus. Beliau mengajar menjadi guru sekolah dasar di fransiscus ini selama kurang lebih tujuh tahun. Selama tujuh tahun ini beliau mengajar bermacam-macam anak murid, salah satu nya adalah ibu saya beserta saudara-saudara ibu saya.
                Selama dua belas tahun dia sudah mengabdi menjadi guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar, akhirnya beliau harus pergi meninggalkan pekerjaannya itu. Pada tahun 1960 atau 1970 an, beliau beserta saudara-saudaranya dan juga beserta keponakan-keponakannya, pergi merantau ke jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Sejak saat itu pula beliau tidak lagi mengajar menjadi guru taman kanak-kanak ataupun di sekolah dasar di fransiscus. Dan sejak saat itu pula beliau berhenti bekerja. sekarang ini dia bertempat tinggal kan di petukangan di jakarta.
               
B.      Peranan
       
Nen Nur, saat beliau berumur sekitar 7-10 tahun saat indonesia sedang dijajah belanda, beliau mengatakan bahwa pernah suatu hari tiba-tiba desa beliau tinggal mengalami kekacauan yang luar biasa dikarenakan bangsa jepang mendatangi desa-desa tersebut dan mulai menghancurkan rumah-rumah penduduk desa setempat. Para penduduk desa pada waktu itu mengalami ketakutan dan kepanikan yang luar biasa. Beliau berkata bahwa hampir seluruh warga desa disana pada menyembunyikan diri dari bangsa jepang karena mereka takut. Saat itu beliau sedang bermain di rumah bersama saudara-saudaranya, tiba-tiba orangtua beliau memanggil beliau dan saudara-saudaranya untuk mengumpat di dalam rumah. Semua saudara-saudaranya pun mengumpat di dalam rumah, dan dia sendiri mengumpat di dalam lemari di dalam dapur. kemudian dia mendengar tentara jepang mendobrak pintu belakang rumah beliau dan langsung menghampiri orangtua beliau. Tentara jepang tersebut teriak di depan orangtua beliau “OCHA!! OCHA!! OCHA!!!” yang maksud dari tentara jepang tersebut adalah dia meminta Teh. Tapi karena kedua orangtua beliau tidak mengerti bahasa Jepang, mereka pun hanya diam gemetaran. Karena itu Tentara Jepang tersebut langsung menghampiri dapur dan mengobrak-abrik lemari-lemari makanan disana dan untung saja tentara jepang tidak membuka lemari tempat beliau bersembunyi.  Setelah mendapatkan teh tersebut, tentara jepang pergi meninggalkan rumah beliau dan orangtua beliau maupun saudara-saudara beliau selamat sentosa.

Beliau juga pernah menyaksikan warga desa di desa dia hampir dibunuh oleh tentara jepang. Waktu itu warga desa tempat dia tinggal dikumpulkan oleh tentara jepang di sebuah lapangan. Di tengah lapangan tersebut berdiri seorang pria warga desa yang diikat dan babak belur karena disiksa oleh tentara jepang. Orang tersebut disiksa dan diancam akan dibunuh oleh tentara jepang dikarenakan orang tersebut menentang tentara jepang. Sebelum pria itu dibunuh tentara jepang, tante nenek saya yang saya tidak tau namanya maju ke hadapan para tentara tersebut dan berbicara dengan mereka menggunakan bahasa jepang. Isi dari percakapan tersebut kurang lebih “Jangan bunuh dia, dia itu orang baik-baik”. Setelah berdebat cukup panjang, tentara jepang akhirnya memaafkan pria tersebut dan tidak jadi membunuhnya dan mereka pergi meninggalkan desa.

Saat 17 agustus 1945, beliau mendengar kabar dari radio daerah bahwa Indonesia merdeka. Rakyat Desa tempat dia tinggal bergembira mendengar kabar tersebut. Setelah kemerdekaan tersebut pun bangsa jepang sudah tidak pernah mendatangi desa dia tinggal dan rakyat desa hidup tenang.


Saat Beliau menjadi guru di TK Fransiscus, beliau suka bermain bola keranjang bersama guru-guru yang lain dan mereka pun menjadi atlit bola keranjang tingkat daerah di daerah bukittinggi. Bola keranjang tersebut berbeda dengan basket yang sekarang, kalau dari perkataan Nenek saya, bola keranjang itu beranggota 10-11 anggota dan tidak ada dribble bola melainkan langsung passing ke teman anggota ataupun langsung melempar ke dalam keranjang. Walaupun mereka masih menjadi atlit daerah, tapi mereka sudah sering tanding dengan daerah lain. Nama dari rekan Tim Bola Keranjang putri beliau menurut ingatan beliau antara lain neti, rina, lely, susi, dan sisanya beliau tidak ingat. Tim Bola keranjang ini juga sering mendapatkan juara 1 melawan tim bola keranjang yang lain dan pernah juga menjadi juara dua atau tiga maupun tidak mendapatkan kejuaraan sama sekali. Karena mereka sering menang pertandingan bola keranjang,  pernah tim Bola Keranjang Nenek saya ditantang bertanding dengan salah satu tim bola keranjang di jakarta. Tetapi karena pada saat itu keuangan beliau dan keluarga beliau sedang mengalami krisis, maka beliau tidak mengikuti pertandingan di jakarta tersebut tetapi rekan-rekannya tetap melaksanakan pertandingan di jakarta, walaupun pada akhirnya mereka kalah. Dan saat beliau mulai berumur sekitar 20-25 tahun an, keluarga beliau mengalami kebangkrutan dan beliau jatuh miskin. Karena itu, beliau dan saudara-saudaranya pergi merantau ke jakarta.. Dan saat itu pula dia berhenti menjadi atlit bola keranjang di daerah nya sekaligus berhenti menjadi Guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar