Sabtu, 15 September 2012

Tugas 5 - Wayang Orang, Sebuah Lakon Kehidupan



Wajang Wong
      
          Wayang Orang adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Maha­barata sebagai induk ceritanya. Dari segi cerita, Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. Pada mulanya, yakni pertengahan abad ke-18, semua penari Wayang Orang adalah penari pria, tidak ada penari wanita. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini.  Dalam berbagai buku mengenai budaya wayang disebutkan, Wayang Orang diciptakan oleh Kangjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (1757 - 1795). Para pemainnya waktu itu terdiri atas abdi dalem istana.
 

Sejarah Wayang Orang
Menilik dari sejarah seni pertunjukan budaya Jawa, mayoritas dipengaruhi oleh kisah Mahabharata dan Ramayana dari India yang telah berbaur dengan budaya lokal. Tetapi dari kedua sumber budaya ini, Mahabharatalah yang menjadi runutan hampir mayoritas seni pertunjukan Jawa seperti wayang purwa, wayang orang dan lain sebaginya. Mahabhrata memiliki inti cerita seputar konflik antara Pandawa dan Kurawa mengenai sengketa pemerintahan Negara Astina yang puncaknya terjadi pada perang Bharatayudha. Mahabharata mulai populer di Jawa sekitar abad 10 masehi pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh ( 991-1016 M) dari Kediri. Lalu berkembang semakin populer dalam bentuk Kakawin atau bentuk puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa kuno. Pencipta kakawin yang paling terkenal adalah Mpu Sedah dalam karya Bharatayudha yang ditujukan sebagai persembahan kepada Prabu Jaya Baya diakhir pemerintahannya. Kisah Mahabharata ini mengilhami terciptanya beragam jenis kesenia daerah jawa seperti seni arsitektur yang terlihat pada candi, seni tari seni lukis, dan pertunjukan. Sumber-sumber Mahabharata diera kerajaan Jawa kuno banyak ditulis di daun lontar yang berisi tentang filosofi-filosofi kehidupan sosio-budaya-politik masyarakat Jawa.

 

Pertama kali Wayang Orang itu dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. Namun, barn pada pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan Wayang Orang itu lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Pemasyarakatan seni Wayang Orang hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya drama tari Langendriyan. Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Orang mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Orang bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sri Wedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.
         
 


Penyelenggaraan pertunjukan Wayang Orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali Wayang Orang masuk dalam siaran radio, yaitu  Solosche Radio Vereeniging, yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.Wayang Orang juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877 -1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Orang untuk tontonan kerabat keraton. Waktu itu lakonnya adalah Sri Suwela dan Pregiwa - Pregiwati. Wayang Orang di Yogyakarta ini disebut Wayang Wong Mataraman.

         
Pakaian para penari Wayang Orang pada awalnya masih amat sederhana, tidakjauh berbeda dengan pakaian adat keraton sehari-hari, hanya ditambah dengan selendang tari. Baru pada zaman Mangku­negara VI (1881-1896), penari Wayang Orang mengenakan irah-irahan terbuat dari kulit ditatah apik, kemudian disungging dengan perada.Sejalan dengan perkembangan Wayang Orang. terciptalah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru itu antara lain adalah sembahan, sabetan, lumaksono. ngombak banyu, dan srisig.
         
Karena ternyata kesenian Wayang Orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun­culanlah berbagai perkumpulan Wayang Orang; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO) Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, per­kumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di `kebon raja' yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.
          Patut juga dicatat, peranan masyarakat keturunan Cina di Surakarta dan Malang yang aktif mengem­bangkan kesenian Wayang Orang. Mereka bergabung dalam perkumpulan kesenian PMS (Perkumpulan Ma­syarakat Surakarta) yang secara berkala mengadakan latihan tari dan pada waktu-waktu tertentu mengadakan pementasan untuk pengumpulan dana dan amal. Perkembangan seni Wayang Orang di Surakarta lebih bersifat populer dibandingkan di Yogyakarta. Kreasi seniman Surakarta untuk melengkapi pakaian tari Wayang Orang, mengarah pada `glamour' dengan kemewahan tata panggung. Untuk pemeran tokoh wayang bambangan seperti Arjuna, Abimanyu, dan sejenisnya, digunakan penari wanita. Sedangkan di Yogyakarta tetap mempertahankan penari pria.
          Di Jakarta, pada tahun 1960 - 1990, pernah pula berdiri beberapa perkumpulan Wayang Orang, di antaranya Sri Sabda Utama, Ngesti Budaya, Ngesti Wandawa, Cahya Kawedar, Adi Luhung, Ngesti Widada, Panca Murti, dan yang paling lama bertahan Bharata.
Pentas seni Wayang Orang juga melahirkan seniman-seniman tari yang menonjol, antara lain Sastradirun, Rusman, Darsi, dan Surana dari Surakarta; Sastrasabda dan Nartasabda dari Semarang; Samsu dan Kies Slamet dari Jakarta.



Eksistensi ditengah Modernitas dan Urbanisme
      Semangat urbanisme yang dinamis senantiasa menjurus kepada arah modernisasi di hampir seluruh aspek kehidupan. Peninggalan-peninggalan masa lalu yang harusnya tetap lestari hingga kini, perlahan kian hilang pamor dan atensinya. Budaya-budaya luhur peninggalan nenek moyang seyogyanya merupakan bentuk refleksi atas jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya.
Di tengah jalan yang cukup pesimis ini, menarik disimak adalah sebuah fenomena bertahannya salah satu bentuk kebudayaan daerah, tepatnya kebudayaan Jawa, berupa seni pertunjukan wayang orang yang mampu mencuri atensi warga ibukota, khususnya mereka-mereka yang rindu akan eksistensi kebudayaan daerah.

Salah satu pelaku kebudayaan tersebut ialah kelompok Wayang orang Bharata. Mereka hadir dalam bentuk kekiniannya dengan tujuan agar dapat diterima dan terus eksis di tengah gempuran modernisasi. Menilik dari bergeliatnya kembali seni pertunjukan budaya Jawa ini, relevansi apakah yang ada di balik kebangkitannya? Apakah ini benar-benar bentuk eksistensi atau restorasi seiring perkembangan zaman?
Di tengah Jakarta yang bergeliat dengan modernitasnya, mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa kesenian tradisional mulai kehilangan pamornya. Hampir tidak ada ada lagi bentuk kesenian tradisonal yang mampu berdiri di tengah kehidupan ibu kota yang dinamis ini, mungkin dapat dikecualikan untuk sebuah gedung kecil di antara penuh sesaknya deretan gedung di kawasan Senen, Jakarta Pusat, dimana di dalam gedung yang berpapan namakan Gedung Kesenian Bharata tersebut terdapat sekelompok penggiat seni pertunjukan Jawa yang mampu menghidupkan dan mel estarikan salah satu kesenian tradisional dengan begitu kreatif. 


                   

Wayang orang oleh tangan mereka diubah menjadi sebuah konsep teater kota layaknya teater Broadway di New York, Amerika Serikat, dimana wayang orang ditampilkan secara reguler setiap hari jumat dan sabtu dengan bentuk penampilan yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi lebih terlihat kasual. Terbukti, semakin hari pertunjukan wayang orang di tempat ini semakin mendapatkan atensi dari masyarakat ibukota dan sekitarnya, bukan hanya para warga keturunan Jawa yang rindu kesenian daerah mereka saja yang menonton, melainkan beragam orang yang berbeda suku bahkan berbeda kewarganegaraan pun turut mengapresiasi seni pertunjukan ini.
Seiring perkembangan zaman dengan bertambahnya masukan pengaruh budaya-budaya dari luar, seni pertunjukan wayang orang mulai kehilangan pamornya di akhir dekade 90-an. Ketika itu wayang orang terkena imbas kisruh politik dan ekonomi yang melanda Indonesia yang menyebabkan masyarakat menjadi enggan untuk mengapresiasi bentuk-bentuk budaya karena harus berpikir untuk menyelamatkan kehidupan mereka di tenga krisis. Selain karena atensi masyarakat mulai berkurang, masalah klasik soal pendanaan juga menjadi masalah pelik kala itu hingga membuat seni pertunjukan ini menjadi pesimis untuk bangkit.
Kita patut berterima kasih kepada mereka-mereka yang masih mau melestarikan seni pertunjukan wayang orang ini dengan tulus walaupun tantangannya tidak bisa dibilang sepele. Salah satu penggiat yang melestarikan seni pertunjukan ini adalah kelompok Wayang Orang Bharata yang bermarkas di salah satu gedung di kawasan padat Jalan Kalilio, Senen, Jakarta Pusat, dimana mereka berhasil menyajikan bentuk pelestarian yang dapat diterima dan eksis di lingkungan urban ibukota. Sebagaimana kita tahu, bentuk kesenian tradisional di Jakarta memang mulai menurun pamornya seiring dengan gempuran berbagai pengaruh modernisasi yang masuk, namun berkat kegigihan dan kreativitas mereka, akhirnya seni pertunjukan wayang orang ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Bentuk pertunjukan yang tadinya bersifat kurang terbuka dan cenderung konservatif dan sedikit mengandung improvisasi, diubah olehmereka menjadi lebih populer. Tema-tema yang diangkat memang masih berakar dari kisah Mahabharata dan Ramayana namun dengan sentuhan isu masa kini yang bersifat ringan sehingga cenderung menjadi lebih sebagai bentuk hiburan yang otentik dan kian minim filosofi.
Namun, keeksistensian wayang orang Bharata ini patut diapresiasi karena mampu kembali menggaet atensi masyarakat untuk menyimaknya. Mungkin inilah yang disebut sebagai bentuk hiburan alternatif di tengah hingar-bingar hiburan modern yang iu-itu saja, dan mungkin juga ini adalah bentuk penghapusan titik jenuh masyarakat urban akan kebutuhan hiburan. Dengan bentuk yang berbeda dengan mainstream hiburan saat ini, seni pertunjukan wayang orang Bharata menyajikan kisah epik budaya Jawa dalam visualisasi layaknya teater yang atraktif dan murah meriah. Memang pada umumnya yang menyaksikan wayang orang di gedung ini mayoritas adalah kalangan menengah yang bukan hanya berasal dari para keturunan Jawa yang rindu akan seni budaya leleuhurnya, melainkan juga apresiasi di luar etnis Jawa dan bahkan hingga orang asing yang menyebut bentuk kesenian sepeerti ini sebagai an extraordinary thing yang memiliki niilai otentik tinggi. Media juga turut berperan penting dalam memperkenalkan alternatif ‘hiburan’ ini kepada masyarakat luas, dan memang terbukti atensi masyarakat kian meningkat berkat pemberitaan tersebut.
Namun ada yang disayangkan dari kebangkitan kesenian wayang orang ini, karena beberapa aspek di dalamnya cenderung berubah menjadi minim filosofi dan pesan pembelajaran yang diberikan kepada para penonton. Seperti ketika pementasan Srikandi dan Larasati Kembar pada tanggal 7 Mei 2011 yang lalu, fakta ini terlihat jelas. Dikisahkan pusaka keris milik Arjuna hilang dicuri oleh dua orang yang menyamar sebagai Srikandi dan Larasati sehingga membuat dua perempuan yang tidak bersalah ini menjadi tertuduh atas peristiwa ini. Arjuna pun marah dan mengancam akan menceraikan Srikandi dan bahkan tak segan untuk membunuh mereka jika tidak segera mengembalikannya. Petualangan mereka yang diselingi dengan kemunculan dua kesatria muda, Gondang Jagat dan Gondang Dewa, yang ternyata merupakan anak kandung kesekian Arjuna hasil hubungannya dengan sekian banyak perempuan, kemunculan Punakawan yang walaupun berkarakter merakyat namun kurang menunjukkan fungsinya sebagai orang yang bijak (justru lebih banyak melawak) hingga tertangkapnya dua pencuri yang ternyata adalah sepasang saudara, Sriwati dan Sriweni (adik dari Kanjeng Prabu Witoko yang menjadi otak pencurian pusaka milik Arjuna tersebut) hingga kemunculan beberapa tokoh yang justru membingungkan alur cerita.
Di awal mungkin penonton banyak yang mengira bahwa jalan cerita akan bergulir pada perebutan kembali pusaka Arjuna yang dicuri tersebut dan menyampaikan pesan tentang filosofi kejahatan akan selalu dapat diberangus dengan kebaikan, namun yang didapat justru malah menjadi semacam humor, terutama di bagian-bagian mendekati akhir pertunjukan dan mayoritas lelucon yang dilontarkan juga minim makna sehingga menjadi agak rancu. Hingga akhir cerita pun, penonton masih menyimpan tanda tanya akan makna dari pertunjukan yang baru saja mereka saksikan. Mungkin ini dapat menjadi satu masukan penting bagi perkembangan wayang orang Bharata selanjutnya, supaya esensi dari seni pertunjukan ini tidak bergeeser dari nilai yang sebenarnya.
Diluar beberapa keluhan penonton yang diuraikan di atas, kita sebagai penikmat seni pertunjukan ini hendaknya turut mengapresiasi dengan positif akan keberadaan wayang orang Bharata di tengah urbanisme ibukota. Sebagai kelompok pelestari kebudayan Jawa yang independen (baca: minim dukungan pemerintah), usaha mereka pantas untuk mendapatkan acungan jempol karena berhasil membangun kembali reputasi pertunjukan wayang orang yang sempat terpuruk dan dengan kreatif mengolahnya menjadi sesuatu yang kekinian tanpa menghilangkan unsur keotentikannya

Kesimpulan
Pesan penulis, semoga dengan perkembangannya zaman ini, kesenian daerah khususnya wayang orang tidak ikut tergerus waktu. Dengan kesenian dan kebudayaan daerah, masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang memiliki pamor yang cukup besar di mata bangsa lain. Kebudayaan lokal tersebut juga mengajarkan kita tentang filosofi-filosofi kehidupan yang sangat berguna untuk diinterpretasikan dalam kehidupan yang penuh gejolak ini.
Generasi muda Indonesia sekarang pun seyogyanya dapat meneruskan dan melestarikan tradisi bangsa yang sangat berharga ini. Menyelami dan memaknai, tidak hanya sekedar melestarikan. Melestarikannya bukan sekedar sebagai harta warisan yang diturunkan oleh para nenek moyang, tetapi sebagai amanah yang hendaknya diemban sampai kapanpun waktu berjalan, untuk kebaikan umat manusia, sebagai ciptaan tuhan yang maha mencipta.  

    Kanthi sesanti, Jaya jayawijayanti, rahayu ingkang pinanggih

                                                                               Nuwun

                                    






Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar