Rabu, 19 September 2012

Tugas 5 - Sejarah Perkembangan Ilmu Falconry


Elang Hitam
Falconry di Indonesia ini merupakan salah satu olahraga yang tergolong unik karena menggunakan hewan sebagai sarana. Namun sedikit sekali peminat olahraga falconry di Indonesia karena pengaruh globalisasi dan seiring perkembangan zaman orang-orang mulai cenderung memilih hobi-hobi yang berhubungan dengan teknologi. Selain itu lahan yang dibutuhkan olahraga ini juga cukup luas dan susahnya merawat burung-burung yang akan kita jadikan partner merupakan suatu kendala untuk kebanyakan orang yang sibuk dan menganggap olahraga ini sebagai hobi yang kuno dan merepotkan. Falconry atau hawking (dari Bahasa Inggris, artinya "perburuan dengan memakai elang") adalah jenis olahraga yang memanfaatkan falcon (jenis elang atau alap-alap) atau hawk (rajawali) dalam suatu aktivitas berburu. Orang yang memptaktikkan falconry dinamakan falconer , biasanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, menunggang kuda atau unta baik sendirian maupun rombongan, dengan membawa burung elang yang bertengger di lengan mereka. Olahraga ini menuntut kesabaran dan ketekunan dalam melatih burung. Burung harus dapat dijinakkan atau "dimanusiakan" dan diajari untuk melakukan berbagai macam hal seperti terbang kembali ke tangan sang majikan atau berburu di ladang perburuan. Dalam merawat mereka juga harus dibedakan dengan hewan-hewan lain, karena mereka merupakan makhluk yang berbasis binatang liar yang juga harus menggunakan standar binatang liar yang berarti mereka harus dilatih sebagaimana mereka diperlakukan di alam.  Pada tahun 2010, salah satu olahraga tertua di dunia ini didaftarkan ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia UNESCO oleh banyak negara, antara lain Republik Korea, Uni Emirat Arab, Belgia, Republik Ceko, Perancis,Mongolia, Maroko, Qatar, Arab Saudi, Spanyol dan Suriah. Di Arab, olahraga elang ini telah menjadi identitas nasional bangsa,  bahkan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi mengeluarkan paspor khusus bagi pegiat falconry.
Burung elang adalah salah satu predator terbaik yang mampu menangkap mangsanya dengan cara eksotis, terbang melayang lalu tiba-tiba menukik dengan kecepatan tinggi, menyambar secepat kilat hewan malang di atas tanah maupun di permukaan air. Kemampuan inilah yang kemudian dieskploitasi manusia untuk mengembangkan seni berburu unik. Yordania, Pakistan, Rusia, dan Turkmenistan adalah tempat favorit para falconer. Mereka berburu burung gagak, kelinci, rubah, serigala, burung kuau, atau burung houbara (sejenis burung besar yang tidak dapat terbang). Ketika melihat hewan buruan, burung pemangsa para falconer akan terbang menuju hewan buruan, menukik, dan mencengkeram hewan buruan dengan cakarnya dan membawanya pada falconer.

Sejarah Falconry di Dunia
Peregrine Falcon, elang paling populer
sekaligus binatang tercepat di dunia
Falconry adalah salah satu olahraga tertua di dunia yang telah dipraktikkan pertama kali di Timur Tengah sejak abad ke-8 SM. Selanjutnya, tradisi ini berkembang di Eropa khususnya dalam kelompok bangsawan di abad pertengahan. Pada saat itu, setiap kelas sosial diberikan jenis burung pemangsa tertentu guna dilepaskan sebagai simbol kedudukan. Raja menerbangkan gyrfalcon dan budak menerbangkan goshawk.Di Asia, falconry berkembang di Timur Tengah, Asia Tengah, Mongolia, Korea, Cina danJepang. Falconry di Korea dimulai sejak zaman Tiga Kerajaan (57 SM-668) dan selanjutnya diperkenalkan ke Cina dan Jepang. Di Jepang, aktivitas ini dinamakanTakagari. Mulai abad ke-17 olahraga falconry menurun kepopulerannya setelah senapan ditemukan dan lahan-lahan banyak dibuka untuk kegiatan pertanian. Pada saat ini, kegiatan falconry hanya sedikit dipraktikkan manusia, terbatas pada kelompok-kelompok dan asosiasi hawking saja. Di Korea Selatan, bahkan hanya dua orang ahli falconry tradisional (maesanyang) saja yang tersisa. Sejumlah catatan kuat menuliskan bahwa falconry sudah dikenal sejak 4.000 tahun lalu di Asia Tengah dan Persia dan oleh orang-orang Arab, setidaknya sejak 18 abad silam. Orang-orang yang melatih elang untuk raja, para falconers, sangat dihormati. Mereka memegang hak istimewa tertentu, dan manfaat yang sangat baik jika, ketika berburu, bangau, sejenis burung atau crane tertangkap. Burung-burung ini dianggap yang terbaik membunuh.


Gyrfalcon, elang para raja
Kaisar Romawi Suci Frederick II dari Hohenstaufen pernah menulis sebuah buku tentang falconry yang berjudul Ars Venandi cum Avibus (Seni Berburu dengan Burung) pada 1241. Frederick tampaknya menulis buku tersebut setelah membaca risalah falconry yang lebih dulu muncul dari dunia Arab, yaitu Kitab Dawari al-Tayr (Buku Tentang Burung Pemangsa) yang ditulis oleh al-Ghitrif bin Qudamah al-Ghassani, pemburu ahli pada zaman Dinasti Umayyah pada 780 Masehi.

Sejarah Falconry di Indonesia
Elang, seperti banyak spesies burung lainnya, melewati Jazirah Arab saat melakukan migrasi tahunan dari Afrika menuju Asia. Dahulu kala, suku Badui mengambil keuntungan dari keadaan itu dengan memanfaatkan elang sebagai alat berburu untuk menyediakan daging bagi keluarga mereka selama musim dingin. Mereka menjebak sejumlah elang muda dengan menggunakan perangkap pada saat burung-burung tersebut bermigrasi, untuk kemudian dilatih menjadi pemburu andal. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, ekspedisi berburu menggunakan elang digunakan para pemimpin suku untuk bisa memantau situasi terbaru di wilayah mereka.

Falconry di Indonesia(sekarang)
burung hantu juga bisa dimasukan dalama kategori falconry
Di indonesia ada beberapa kelompok-kelompok yang berminat dalam olahraga falconry ini, mereka tidak hanya berburu dengan partner mereka juga melakukan program-program yang ditujukan untuk melestarikan spesies-spesies burung predator di indonesia ini. Seperti membuat tempat penangkaran, maupun merawat burung tersebut secara perorangan dan kemudian dilepaskan ke alam bebas. Salah satu kelompok yang terkenal dalam bidang falconry adalah Raptor Club Indonesia (RCI) yang didirikan oleh Lim Wen Sin dan dua rekannya, Josafat Agung Sulistyo (Jose), bendahara dan Trainner RCI, serta Ignasius Kendal. Raptor Club Indonesia (RCI) merupakan organisasi beranggotakan para penggemar burung pemangsa yang ikut prihatin pada nasib burung pemangsa di tanah air. Adapun sekretariat RCI, di Jalan Kaliurang km 5, Gg.Pangkur no 2 Jogjakarta. Organisasi ini dibentuk dikarenakan jumlah burung predator di Indonesia yang semakin hari semakin berkurang karena keteledoran manusia dalam menjaga kelestarian alam. Mereka beranggapan bahwa semua burung pemangsa di Indonesia ini dilindungi. Karena status burung pemangsa ini milik negara. apabila ada seratus orang yang melakukan pemeliharaan burung pemangsa, maka lama-kelamaan raptor di Indonesia ini akan punah.
Pemanfaatan Falconry di Indonesia
Di Indonesia, terutama fungsi falconry sebagai metode penangkaran burung  pemangsa. Hal ini mengingat banyaknya spesies burung pemangsa di Indonesia yang sangat terancam punah. Semoga dengan adanya penghargaan yang lebih terhadap burung pemangsa, mereka tidak akan cepat punah karena faktor perburuan liar dan perusakan habitat. Yang perlu ditegaskan di sini bukan hanya karena mereka sangat penting untuk falconry, tetapi lebih mengacu pada fakta bahwa mereka adalah kunci keseimbangan suatu ekosistem, sebagai peringkat satu di dalam suatu rantai makanan.
Penggunaan falconry pada zaman sekarang (secara lebih detail):


1. Hunting/ pure falconry (Murni untuk berburu)
Kegiatan ini merupakan inti dari falconry dan bisa dikatakan sebagai tujuan paling utama dari setiap falconer. Dengan menjadikan burung pemangsa sebagai partner berburu, maka pemilihan burung pun tidak bisa dilakukan dengan serta merta dan harus dilakukan dengan berbagai pertimbangan antara lain, tipe lingkungan berburu, mangsa apa yang tersedia, dan lain-lain. Setiap spesies burung pemangsa memiliki tipikal habitat dan cara berburu yang berbeda, maka pilihan harus tepat dan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan di atas.

2. ex-situ Breeding (pengembangbiakan secara buatan)
Breeding atau pengembangbiakkan secara buatan ini bertujuan untuk meregenerasi burung pemangsa dan tidak ada batasan spesies burung yang akan dikembangbiakkan. Tetapi program ini lebih dikhususkan untuk spesies burung pemangsa yang populasinya sangat terancam punah, dalam hal ini salah satunya adalah Nisaetus bartelsi atau Javan Hawk Eagle/ Elang Jawa. Di dalam program breeding ini, burung pemangsa yang telah terlatih merupakan modal utama sebagai calon indukan. Dengan pelatihan yang telah diberikan, burung-burung tersebut tidak lagi seliar sebelumnya sehingga bisa dikembangbiakkan secara buatan. Target ke depannya, kegiatan falconry hanya akan menggunakan burung pemangsa hasil dari breeding, bukan dari tangkapan dari alam. Selain itu, akan dilakukan pelepasanliaran hasil breeding ke alam untuk mendukung jumlah populasi mereka di alam, di samping adanya usaha untuk menjaga habitat mereka supaya tetap kondusif untuk mereka berkembangbiak.

3. Rehab and Release Program (program rehabilitasi dan pelepasliaran)
salah satu program release yang diadakan Raptor Club Indonesia
Di dalam kegiatan ini, fungsi falconry adalah sebagai metode yang dipergunakan untuk melakukan proses rehabilitasi burung pemangsa liar yang kategorinya dapat dilepasliarkan kembali. Sehingga ketika waktunya tiba, burung pemangsa tersebut dapat kembali hidup dan berkembang-biak di alam.


4. Education (Edukasi)
Merupakan kegiatan yang melengkapi falconry, di mana kegiatan edukasi terdiri dari pengenalan burung pemangsa kepada masyarakat, demo terbang, dll. Dalam melakukan kegiatan ini sangat dibutuhkan burung yang terlatih dan memiliki karakter yang baik sehingga masyarakat dapat melakukan pengamatan secara lebih dekat. Mereka dapat mengenal burung pemangsa secara lebih detail sehingga mereka lebih mengerti peran mereka di alam.

5. Pest control (Penggunaan falconry untuk pemberantasan hama)
Kegiatan falconry dapat juga digunakan untuk melakukan pemberantasan hama karena falconry menggunakan asas alamiah. Sebagai contohnya, kita bisa melakukan ‘airport patrol’ atau patroli bandara, di mana di luar negri cara ini telah terbukti sangat efektif di dalam mengusir burung-burung liar di sekitar landasan pacu pesawat. Burung-burung liar tersebut sangatlah berbahaya jikalau terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat karena dapat menyebabkan kecelakaan.

Konflik
Namun, dalam perkembangannya falconry mendapatkan tekanan dan kecaman dari dari para aktivis perlindungan hewan internasional. Selain itu, terdapat kontroversi apakah falconry merupakan olahraga atau seni.  “Jika Anda menyebut falconry sebagai seni, silakan atau sebagai olahraga, silakan. Tapi falconry lebih dari sekadar itu,“ ujar Larry Dickerson, presiden Asosiasi Falconer Amerika Utara. Menurutnya, jumlah falconer saat ini 65 ribu, terbesar ada di Timur Tengah Tengah, Cina, dan Pakistan.
Olahraga falconry memang tak sepopuler dahulu sebagai cara berburu. 
Berburu dengan elang mulai ditinggalkan sejak ditemukannya senapan. 
Padahal, ribuan tahun lalu elang menjadi favorit. Pada abad 14, Sultan Ottoman Bayazid menangkap putra Philip Bold, adipati Burgundy. Bayazid menolak 200 ribu dukat emas yang ditawarkan sebagai tebusan. Bayazid justru menginginkan tebusan yang lebih berharga, yaitu 12 elang gyr putih yang ditawarkan Carl VI dari Prancis. Saat ini, harga seekor elang gyr mencapai 10 ribu poundsterling atau Rp 140 juta.


Falconry Sekarang
Elang Brontok
Awalnya aktivitas ini dilakukan untuk mencari makanan, namun saat ini telah banyak dilakukan sebagai ajang persahabatan dan kebersamaan. Falconry umumnya dipraktikkan di jalur terbang migrasi burung (flyway) atau pada sebuah lapangan oleh orang dari segala umur, jenis kelamin dan pekerjaan. Tradisi ini mengembangkan hubungan yang kuat dan jalinan spiritual antara falconer dengan burung mereka yang mana membutuhkan komitmen kuat untuk mengembangbiakkan, melatih, memegang, dan menerbangkannya.Di banyak negara, falconry diwariskan dari generasi ke generasi sebagai tradisi budaya, yang memberikan latihan atau ajaran di dalam keluarga atau sebuah kelompok. Di Mongolia, Maroko, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab contohnya, para falconer mengajak anak-anak mereka ke padang pasir dan mengajarkan mereka menangani burung dan membangun hubungan kepercayaan dengannya.Para pemilik burung berasal dari latar belakang yang berbeda namun menjalin nilai-nilai kebersamaan, tradisi dan praktik yang sama dalam metode melatih dan merawat burung, menggunakan peralatan yang dibutuhkan, hal ini cukup sama di seluruh dunia. Tradisi ini membentuk dasar dari warisan kebudayaan dunia yang lebih luas, termasuk juga atribut-atribut budaya seperti pakaian tradisional, makanan, musik, lagu, puisi dan tarian yang didukung oleh komunitas dan kelompok yang mempraktikkannya
Pada 2010, falconry didaftarkan dalam Warisan Budaya Manusia Tak Benda UNESCO oleh banyak negara seperti Uni Emirat Arab, Maroko, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Belgia, Republik Ceska, Peancis, Mongolia, Spanyol, dan Korea Selatan. Akhirnya, pada November 2010, falconry pun menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang diakui dunia.  “Falconry memenuhi tiga persyaratan sebagai warisan budaya tak benda,“ kata Katalin Bogyay, perwakilan dari Konferensi Umum UNESCO.
Sementara itu, Terry Large, anggota Britain's Hawk Board, mengatakan, pengakuan dari UNESCO tersebut membuat falconry menjadi dikenal oleh publik. “Namun, di negara-negara Eropa, ada pembatasan apa yang harus berburu oleh para falconer,“ ujarnya.
Saat ini, falconry mulai murni dipraktikkan sebagai olahraga. Di UEA, burung elang dan houbara merupakan hasil penangkaran yang dilepas ke alam liar setelah dilengkapi dengan sistem pelacak satelit untuk memantau dan mempelajari pola migrasi serta perkembangbiakan mereka secara alami. Selain terdapat banyak fasilitas penangkaran burung elang, UEA juga merintis pendirian sejumlah rumah sakit spesialis burung elang yang dilengkapi dengan teknologi modern terbaru yang memungkinkan melakukan prosedur pengobatan rumit terhadap elang seperti anestesi penuh dan endoskopi untuk pembedahan. Di berbagai negara sekarang ini falconry hanya dijadikan sebagai hobi oleh beberapa orang yang menyukainya. Meskipun begitu beberapa suku-suku di pedalaman di dunia masih menggunakan metode falconry sebagai sarana berburu dan bertahan hidup mencari makanan.
Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar