Sabtu, 01 September 2012

Tugas-5 Perkembangan Teropong dan Mikroskop


Pengertian Teleskop

  Teleskop atau yang sering kita sebut teropong merupakan instrumen  pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk gambaran dari benda yang sedang diamati. Teleskop merupakan alat yang paling penting dalam pengamatan astronomi. Selain itu ada juga jenis teleskop optik yang dipakai bukan untuk kegiatan astronomis antara lain: transit, monokular, binokular, lensa kamera, atau keker. Fungsi utama teleskop adalah memperbesar ukuran sudut benda, dan juga kecerahannya.

Sejarah Penemuan Teleskop

     Pada tahun 1608, Teleskop pertama kali ditemukan oleh Hans Lipperhey, seorang pembuat lensa Belanda.
Ia menemukan bahwa menyusun dua lensa dengan jarak tertentu membuat benda tampak lebih dekat. Ini merupakan pertama kalinya pembuatan teleskop didokumentasi. Ia telah mengajukan hak paten atas penemuannya namun ditolak.

    Di tahun 1609, Galileo yang mendengar kabar tentang ditemukannya teleskop langsung membuat beberapa buah sendiri dan mengarahkannya ke langit malam. Dengan bantuan teleskop ia menguatkan teori heliosentrisnya, yaitu bahwa seluruh planet di tata surya mengelilingi matahari. Hal ini menentang kepercayaan gereja yang menyatakan semua benda langit mengelilingi bumi. Ketika Galileo hendak menerbitkan penemuannya ia hampir dibakar oleh para petinggi gereja namun akhirnya dipenjarakan di rumahnya seumur hidup. Setahun setelah itu, Galileo berhasil menerbitkan penemuannya secara diam-diam pada bulan Maret tahun 1610.
Teleskop Galileo

    Galileo menjadi orang yang diberikan penghargaan atas penemuannya karena ialah yang dengan detail mengungkapkan hasil-hasil penemuan teleskop lewat tulisannya walaupun ia sendiri mengaku bahwa ia bukanlah orang yang pertama kali menciptakan teleskop.

Perkembangan teleskop

  Pada tahun 1610, Galileo yang awalnya menciptakan alat berdasarkan temuan Lippershey. Teleskop pertamanya memiliki pembesaran 8 kali lipat. Ia terus mengasah lensanya hingga akhirnya berhasil diperoleh pembesaran 32 kali lipat. Dengan teleskopnya, ia mengamati fase-fase planet Venus, empat bulan Jupiter, cincin Saturnus (saat itu istilah cincin pada planet belum dikenal), dan bintik-bintik matahari. Galileo bahkan melakukan pengukuran terhadap bayangan-bayangan di Bulan yang membawanya pada kesimpulan bahwa gunung-gunung yang ada di permukaan bulan jauh lebih tinggi daripada yang ada di Bumi.

    Teleskop ciptaan Galileo serupa dengan teleskop yang digunakan untuk pertunjukan opera yang fungsi utamanya adalah memperbesar objek. Pengaturan lensanya memiliki kekurangan dalam batasan pembesaran yang bisa diperoleh. Galileo hanya bisa melihat tidak lebih dari seperempat bagian bulan tanpa memindahkan teleskopnya. Meski begitu konsep Galileo ini masih menjadi panutan teleskop generasi berikutnya. Inilah yang dikenal dengan nama teleskop refraksi atau refraktor, yaitu teleskop yang mempergunakan lensa untuk membengkokkan cahaya.
Teleskop Newton

    Tahun 1704, Sir Issac Newton mengumumkan dibuatnya konsep baru dalam desain teleskop. Newton menyatakan bahwa lensa dapat memecah cahaya putih menjadi spektrum cahaya yang membentuknya hingga menyebabkan sesuatu yang disebut lenturan kromatik, yaitu lingkaran cahaya kemerahan di sekitar objek yang dilihat dengan menggunakan cermin. Newton menghindari masalah tadi dalam teleskop rancangannya dengan memakai cermin lengkung yang digunakan untuk mengumpulkan sinar dan memancarkan kembali ke titik fokusnya. Cermin pemantul itu bertindak sebagai semacam keranjang pengumpul cahaya dimana semakin besar keranjang, semakin banyak cahaya yang bisa dikumpulkan. Teleskop Newton ini disebut teleskop refleksi atau reflektor.

    Tidak seperti pada teleskop reflektor, pembuatan teleskop refraktor cenderung lebih rumit. Untuk menghindari penyimpangan bayangan (abrasi), lensa teleskop refraktor harus dibuat dengan sangat cermat. Lensa yang besar akan cenderung menyerap cahaya yang menembusnya, sementara bobotnya yang berat juga mempersulit proses pembuatannya. Karena itu, saat ini seluruh teleskop berukuran besar yang digunakan dalam astronomi berjenis reflektor.


    Dari akhir 1800an hingga kini ada persaingan dalam membuat teleskop refraktor terbesar. Pada tahun 1897, teleskop refraktor terbesar di dunia saat itu adalah refraktor 102 cm milik Observatorium Yerkes di Amerika Serikat. Di tahun 1928, teleskop refraktor gandaDari akhir 1800an hingga kini ada persaingan dalam membuat teleskop refraktor terbesar. Pada tahun 1897, teleskop refraktor terbesar di dunia saat itu adalah refraktor 102 cm milik Observatorium Yerkes di Amerika Serikat. Di tahun 1928, teleskop refraktor ganda Zeiss dengan diameter lensa 60 cm yang digunakan di Observatorium Bosscha, Lembang, menduduki peringkat kedua sebagai teleskop refraktor terbesar.Tahun 1946, diciptakan refraktor 66 cm milik Observatorium Mount Stromlo di Australia. Teleskop ini menjadi yang terbesar kedua menggeser Bosscha namun teleskop ini telah musnah akibat kebakaran yang melanda Observatorium Mount Stromlo pada 2003 lalu. Sementara itu, refraktor milik Observatorium Yerkes kini telah dipensiunkan, oleh karena itu teleskop refraktor di Observatorium Bosscha menjadi teleskop refraktor terbesar di dunia yang masih dioperasikan. Selain itu, teleskop tersebut juga memegang rekor sebagai teleskop refraktor ganda terbesar di dunia, yaitu teleskop refraktor yang lebih kecil kesemuannya.
Observatorium Bosscha

    Pada tahun 1976, perkembangan teleskop generasi selanjutnya adalah kembali memaksimalkan penggunaan cermin reflektor. Jika Newton menggunakan cermin dengan diameter sekitar 15 cm, maka Special Astrophysical Observatory di Zelenchukskaya, Rusia, menggunakan cermin berdiameter hingga 6 m. Dengan ukuran sebesar itu, teleskop ini cukup kuat untuk menangkap cahaya lilin dari jarak hingga 24.000 km. Namun demikian, penggunaan cermin berukuran besar bukannya tidak mengundang masalah. Cermin berdiameter diatas 4 m rentan terhadap distorsi. 

    Pada tahun 1996, Untuk mengatasi masalah yang ada pada teleskop di Rusia, diciptakan teknologi cermin ganda. Salah satu contohnya adalah seperti yang digunakan pada teleskop reflektor terbesar di dunia saat ini di Observatorium Mauna Kea, Hawaii.


Pengertian Mikroskop

    Mikroskop merupakan sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar. Dalam bahasa yunani ‘micros’ berarti kecil sedangkan ‘scopein’  berarti melihat. Ilmu yang mempelajari objek yang kecil dengan menggunakan mikroskop disebut mikroskopi. Mikroskop juga dasar dari penciptaan kata mikroskopis yang berarti sesuatu yang sangat kecil.

Sejarah Perkembangan Mikroskop

  Pada tahun 1590, Zacharias Janssen, ilmuwan dari belanda, beserta ayahnya berhasil menciptakan mikroskop pertama yang digunakan untuk melihat benda-benda yang sangat kecil ukurannya dan sulit dijangkau bila menggunakan mata telanjang. Janssen menyadari bahwa terdapat benda-benda dengan ukuran yang lebih kecil dan sulit dijangkau dengan kasat mata. Ia menciptakan sebuah mikroskop dengan menggunakan lensa cembung dan cekung untuk memperbesar tampilan benda-benda yang sangat kecil ukurannya.

   Di tahun 1609, Galileo menyelesaikan pembuatan mikroskop pada tahun 1609 dan bahkan mengklaim dirinya sebagai pencipta pertamanya. Mikroskop yang dibuatnya diberi nama mikroskop Galileo, disamakan dengan nama penemunya. Mikroskop jenis ini menggunakan lensa optik, sehingga disebut mikroskop optik. Mikroskop yang dirakit dari lensa optik memiliki kemampuan terbatas dalam memperbesar ukuran obyek. Hal ini disebabkan oleh limit difraksi cahaya yang ditentukan oleh panjang gelombang cahaya. Secara teoritis, panjang gelombang cahaya ini hanya sampai sekitar 200 nanometer. Oleh karena itu, mikroskop berbasis lensa optik ini tidak bisa mengamati objek berukuran di bawah 200 nanometer.
Mikroskop Galileo

    Tahun 1668, mekanisme penyetelan fokus yang pertama untuk mikroskop tersebut dibuat dan disempurnakan oleh Campini, seorang ilmuwan yang berasal dari Italia.

    Pada tahun 1672, seorang berkebangsaan Belanda bernama Antony Van Leeuwenhoek terus mengembangkan pembesaran mikroskopis. Antony Van Leeuwenhoek sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional melainkan seorang wine tester. Namun karena keingintahuannya yang besar, Leeuwenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai, air hujan, ludah, feses dan lain sebagainya. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda kecil yang dapat bergerak yang tidak terlihat dengan mata biasa. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan nama ‘animalcule’ yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan mikroskopnya. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak.

    Pada akhirnya Leeuwenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200-300 kali. Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatannya tersebut dan menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil yang sekarang dikenal dengan protozoa. Ia telah menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang, coccus maupun spiral yang sekarang dikenal sebagai bakteri. Penemuan-penemuan tersebut membuat banyak orang sadar akan kehidupan yang sangat kecil dan menciptakan ilmu mikrobiologi.

Mikroskop Cahaya Binokuler

    Tahun-tahun berikutnya dilaksanakan berbagai percobaan oleh berbagai ilmuwan untuk menyempurnakan mikroskop Leeuwenhoek. Hasil akhir percobaan tersebut menciptakan mikroskop cahaya atau disebut compound light microscope, yaitu mikroskop yang menggunakan cahaya lampu sebagai pengganti cahaya matahari seperti mikroskop biasa. Di mikroskop biasa terdapat cermin yang memantulkan sinar matahari dari luar. Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimum hingga 1000 kali. Tiap mikroskop memiliki kaki yang berat dan kokoh dengan maksud agar dapat berdiri dengan stabil. Sistem lensa yang digunakan ada tiga, yaitu lensa obyektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa obyektif dan okuler terdapat pada kedua ujung mikroskop. Lensa okuler ada yang tunggal (monokuler) maupun ganda (binokuler). Lensa obyektif pada ujung bawah memiliki tempat dudukan lensa yang bisa dipasangi hingga 3 lensa dengan pembesaran berbeda. Kondensor berfungsi menerangi objek yang sedang diamati dan lensa-lensa mikroskop.
Mikroskop Elektron

    Di tahun 1931, seorang ilmuwan dari universitas Berlin, Dr. Ernst Ruska menggabungkan penemuan mikroskop dengan ilmu lainnya membangun mikroskop transmisi elektron (TEM) menggunakan dua lensa medan magnet. Beberapa tahun kemudian ia menambahkan lensa ketiga dan menghasilkan resolusi hingga 100 nanometer. Inilah pertama kali diciptakannya mikroskop elektron, sebuah mikroskop yang mampu melakuakan peambesaran obyek sampai dua juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada mikroskop cahaya. Mikroskop electron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi elektro magnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya.

    Tahun 1938, versi lain mikroskop elektron (SEM) dikembangkan oleh Manfred von Ardenne, seorang ilmuwan Jerman. SEM (scanning electron microscopy) bekerja menurut prinsip scan sinar elektron pada permukaan sampel, yang selanjutnya informasi yang didapatkan diubah menjadi gambar. Hingga kini teleskop dan mikroskop masih terus dikembangkan agar melampaui kemampuan sebelumnya.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar