Sabtu, 15 September 2012

Tugas 5 - Perkembangan Televisi



Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yangmonokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε) yang dalam bahasa Yunani berarti jauh dan visio yang dalam bahasa Latin berarti penglihatan, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.” Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal sering disebut dengan TV (dibaca: tivi, teve ataupun tipi.)
Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Televisi menjadi penemuan fenomenal sejak dikomersialkan pada tahun 1930-an. Televisi telah merubah cara orang mendapatkan hiburan dan informasi dengan gambar bergerak yang bisa disiarkan secara langsung.
Pada awal perkembangannya, televisi dikembangkan oleh para insinyur yang terkagum-kagum dengan penemuan telepon. Para insinyur itu berpikir, bila suara bisa dikirimkan melalui kabel, gambar bergerak pun pasti bisa dikirimkan dengan kabel. Perlahan-lahan, para insinyur mewujudkan harapan orang untuk menyaksikan pengiriman gambar bergerak itu.
Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.
Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Banyak sumber yang mengatakan bahwa televisi pertama kali diciptakan pada tahun 1920an oleh Philo Farnsworth.
Televisi Pertama dan Farnsworth
Test Card
Pada tahun terciptanya televisi pertama oleh Philo Farnsworth yang tersedia secara komersial sejak tahun 1920-an, pesawat televisi telah menjadi biasa atau umum di rumah-rumah, bisnis dan institusi, khususnya sebagai wahana periklanan, sumber hiburan, dan berita. Televisi pertama yang diciptakan masih berwarna hitam putih atau bisa disebut tidak berwarna dan masih belum bersuara.
Tahun 1927, akhirnya televisi dapat mengeluarkan suara walaupun masih dalam bentuk yang sederhana dan tanpa warna. Acara televisi pertama yang memiliki atau mengeluarkan suara adalah The Jazz Singer pada tahun 1927.
Awal perkembangan televisi berwarna pertama adalah pada tahun 1940 Seseorang bernama Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis. Televisi berwarna merupakan bagian dari sejarah televisi, teknologi televisi dan praktek yang berhubungan dengan transmisi televisi gambar bergerak dalam video berwarna.
Dalam bentuk yang paling dasar, siaran warna dapat dibuat dengan penyiaran tiga gambar monokrom, masing-masing dalam tiga warna yaitu merah, hijau dan biru atau red, green, blue (RGB). Ketika ditampilkan bersama-sama atau dalam suksesi cepat, gambar ini akan berbaur dan bercampur sehingga dapat menghasilkan gambar penuh warna seperti yang terlihat oleh penonton.
Salah satu tantangan teknis yang besar dalam memperkenalkan televisi berwarna adalah keinginan untuk menghemat bandwidth, berpotensi tiga kali lipat dari standar hitam-putih yang ada (B & W), dan tidak menggunakan jumlah spektrum radio yang berlebihan. Di Amerika Serikat, setelah penelitian yang cukup besar, National Television Systems Committee menyetujui semua sistem-elektronik untuk dikembangkan oleh RCA yang dikodekan informasi warna secara terpisah dari informasi kecerahan sehingga sangat mengurangi resolusi informasi warna dalam rangka untuk menghemat bandwidth (suatu ukuran dari banyaknya informasi yang dapat mengalir dari suatu tempat ke tempat lain dalam suatu waktu tertentu.). Kecerahan (brightness) tetap kompatibel dengan yang ada pada televisi hitam putih tetapi resolusi sedikit berkurang, sedangkan televisi berwarna bisa mendapat informasi tambahan dalam sinyal dan menghasilkan tampilan warna yang resolusinya terbatas. Resolusi hitam putih yang lebih tinggi dan gambar resolusi gambar berwarna yang lebih rendah menggabungkan dalam mata untuk menghasilkan gambar berwarna yang tampak berresolusi tinggi.
Televisi Berwarna Pertama
Pada tahun 1956, Robert Adler dan  Eugene Polley menemukan remote televisi yang tujuan sebenarnya adalah untuk menghindari iklan. Hari ini sulit untuk membayangkan hidup tanpa remote kontrol. Kita menggunakannya untuk memanipulasi segala sesuatu dari TV dan stereo, untuk penutup jendela, AC, kipas angin, dan lain-lain. Tapi 55 tahun yang lalu atau lebih, remote tidaklah lebih dari sebuah produk futuristik teoritis dan para penonton televisi harus bangun dari sofa sesekali. Praktek pertama, remote control televisi dapat dipakai dan diciptakan pada tahun 1956. Dijuluki Space Commander, remote televisi pertama hanya memiliki dua tombol dan memiliki banyak kelemahan.
Space Commander bukanlah percobaan pertama remote kontrol televisio. The Lazy Bones dan Flashmatic datang sebelumnya, dengan sebelumnya merupakan model kabel rumit dan yang terakhir bekerja dengan seberkas cahaya yang dibedakan dari sumber cahaya lain yang terjadi bersinar di atasnya ke penerima sinar pada pesawat teleivisi. Tak satu pun dari model ini menyorot keluar atau terkenal, tapi Space Commander lebih terkenal dari The Lazy Bones dan Flashmatic. Ini dioperasikan pada frekuensi ultrasound yang dihasilkan ketika tombol ditekan dan setiap memukul bar internal.
Remote ultrasound adalah sebuah penemuan untuk perbaikan, namun masih memiliki kekurangan sebagai berikut: suara terkait frekuensi yang sama menyebabkan saluran untuk berubah pada waktu yang tidak diinginkan. Segenggam koin gemerincing, gambang anak, atau jumlah suara yang sama, mirip, maupun cukup dekat untuk frekuensi remote control yang sering berbunyi akan menyebabkan saluran spontan berubah. Meskipun dengan sekian banyaknya kekurangan, Space Commander akan selalu memiliki tempat khusus dalam sejarah teknologi.
"Space Commander"
"Space Commander"
Setelah berkembangnya remote kontrol untuk televisi, orang-orang makin memperbaiki lagi teknologi dalam monitor televisi. Meskipun diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1953, hanya beberapa tahun setelah televisi hitam-putih sudah distandarisasi disana, harga tinggi dan kurangnya bahan siaran sangat memperlambat penerimaan penjualan televisi berwarna di pasar. Meskipun colorcast nasional pertama (Tournament 1954 Parade Roses) terjadi pada tanggal 1 Januari 1954, set televisi berwarna mulai terjual dalam jumlah besar pada tahun 1960an, karena sebagian besar atau beberapa transisi warna 1965 lebih dari setengah atau hampir semua program prime-time jaringan akan disiarkan dalam warn, dan pengenalan GE Porta-warna ditetapkan pada musim semi tahun 1966 yang akan membawa semua warna di siaran prime-time pertama pada awal musim gugur itu.
Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, set televisi berwarna telah menjadi standar, dan penyelesaian colorcasting total dicapai ketika program siang hari  terakhir dikonversi ke warna dan bergabung dengan primetime di musim semua-berwarna pertama pada tahun 1972.
Di Eropa, warna acara televisi yang tersiar tidak standar pada format PAL sampai 1960-an, dan siaran tidak mulai sampai 1967. Pada titik ini banyak masalah teknis di set televisi bewarna pada awal bekerjanya tetapi setelah itu penyebaran penjualan set televisi berwarna di Eropa cukup cepat.
Pada pertengahan 1970-an, stasiun penyiaran hanya dalam warna hitam-putih yang agak tinggi bernomor beberapa stasiun UHF di pasar kecil, dan beberapa daya rendah stasiun repeater di pasar lebih kecil seperti tempat liburan. Pada 1979, bahkan terakhir ini telah diubah menjadi warna dan pada awal 1980-an B & W set telah didorong ke ceruk pasar, terutama daya rendah menggunakan, set portabel kecil, atau digunakan sebagai layar monitor video di bawah-biaya peralatan konsumen, di produksi televisi dan pasca-produksi industri.
Televisi kemudian dikembangkan dengan teknologi mutakhir, dan pada tahun 1960-an akhirnya televisi masuk Indonesia. Televisi hitam putih perlahan-lahan digantikan dengan televisi berwarna. Sejak tahun 1990-an, teknologi televisi berkembang dengan pesat. Setelah tahun 2000an Era TV tabung atau CRT (Cathode Ray Tube) sudah berakhir. Kini tinggal segelintir merk branded yang masih produksi untuk kebutuhan dalam negeri.
SONY yang dulu sebagai top brand value #1 di kategori TV tabung, justru yang pertama menghapus TV tabung dari product rangenya, beralih ke TV Plasma. Jejak ini diikuti oleh para kompetitornya seperti Toshiba, Hitachi dan Panasonic.

TV Plasma mulai ramai dipasarkan di Indonesia (sekitar 2003) dengan ukuran 37", 42" dan 50", juga dipelopori oleh SONY.
Tidak berselang lama muncul LCD TV dengan ukuran 22" dan 26" yang dipelopori oleh SHARP (AQUOS generasi pertama). Samsung dan LG mengikuti jejak SHARP, dengan menawarkan ukuran yang lebih besar hingga 32".
TV Plasma dibandingkan LCD saat itu, jelas lebih menjanjikan sebagai pengganti TV tabung.
Keunggulan TV Plasma, ukuran lebih besar, warna hitamnya lebih pekat (LCD lebih cenderung abu-abu) sehingga contrast ratio lebih tinggi, response time lebih kecil, dan dapat diaplikasikan untuk teknologi layar sentuh / touch screen.
Sejalan dengan perkembangan teknologinya, LCD sudah semakin mengejar ketinggalannya dari TV Plasma. Baik dalam hal ukuran, contrast rationya, response time dan aplikasi dengan layar sentuh.
Lagi-lagi SONY sejak 2006 stop produksi TV Plasmanya dan beralih ke LCD, yang dinamakan BRAVIA. Sementara LCD Toshiba dipromosikan dengan nama REGZA. Hanya Panasonic yang bersikukuh pada produk TV Plasma untuk ukuran 42" ke atas. Sementara untuk < 42" Panasonic tampil dengan VIERA. Namun pada akhirnya Panasonic harus mengakui trend ke depan adalah LCD dan akhirnya juga harus mengikuti main stream dengan meluncurkan Viera 40".

Apa sebenarnya perbedaan Plasma dan LCD TV?
Secara visual fisiknya sama-sama tipis, tidak ada bedanya. Namun yang pasti panel TV Plasma terbuat dari kaca (spt TV tabung) sementara panel LCD dari bahan plastik/acrylic transparan dan terasa lunak saat disentuh.
Walaupun secara fisik keduanya kelihatan sama, tapi teknologi yang diterapkan sangat berbeda. 

TV Plasma
Teknologi pada TV Plasma memang mirip TV tabung. Dengan arus listrik, dihasilkan elektron untuk bereaksi dengan molekul air raksa (mercury), dimana sebagai hasilnya akan dilepaskan sinar Ultraviolet (UV). Radiasi sinar UV ini akan membuat sel yang berisi gas phospor berpendar. Sel tersebut ada yang di cat dengan warna dasar merah, hijau atau biru. Bila digabung, setiap 3 sel dengan warna RGB (Red, Green, Blue) membentuk 1 pixel/titik pada layar TV Plasma. Dengan cara demikian sebuah pixel/titik pada TV plasma dapat diatur warnanya, dengan mengatur komposisi kekuatan masing masing sel warna dasarnya.
Sisa energi yang tidak terserap oleh gas phospor akan diubah menjadi panas dan sebagian kecil lagi keluar dari panel TV yang terbuat dari kaca. Sehingga jika kita raba panelnya saat menyala, seperti ada sedikit setrum.

LCD TV (Liquid Crystal Display)
Berbeda dengan TV Plasma, panel LCD TV tidak menghasilkan cahaya pada sel-selnya.
Untuk mengerti tentang LCD, kita harus mengerti tentang cara kerja kalkulator sebagai kakek buyutnya.
Pada layar kalkulator berisi cairan yang dapat dipolarisasi dengan bantuan arus listrik, sehingga cahaya dapat tembus melalui cairan (transparan) atau sebaliknya cahaya diblokir tidak tembus (tidak transparan).
Jadi fungsi panel kalkulator, begitu juga panel LCD hanya sebagai filter cahaya.
Sama seperti pada TV Plasma, LCD juga terdiri dari pixel yang terbagi menjadi 3 sel dengan warna dasar RGB.
Dengan mengatur seberapa transparan filter sel warna merah, filter sel warna biru dan filter sel warna hijaunya, maka dapat diatur warna yang muncul pada pixel tersebut di layar LCD.
Untuk itu, agar warnanya terlihat jelas oleh kita, maka dibelakang panel LCD tersebut harus ada sumber cahaya.
Sumber cahaya ini disebut dengan Back Light dan yang digunakan adalah lampu CCFL (Cold Cathode Fluorescent Lamp) atau bahasa gaulnya lampu neon. Tapi tentu saja lampu neonnya bukan yang untuk dipakai di rumah sehari-hari. Dibuat khusus yang umurnya lebih tahan lama. Namun sekali lampu neon tetap neon. Tidak ada yang tahu umurnya secara pasti.

LED TV
Nama LED TV sebenarnya salah kaprah. Sebab LED (Light Emitting Diode) tidak ada hubungannya dengan TV. Istilah yang benar adalah LCD TV dengan LED Back Light.
Dibandingkan lampu neon, lampu LED jelas lebih unggul dari sisi life timenya (karena lebih sedikit menghasilkan panas), lebih hemat listrik, dan lebih tinggi lumensnya (lebih terang).
Selain dari Back Light tidak ada yang berbeda dengan LCD TV.
Tapi mengapa harga LED TV jauh lebih mahal pada awalnya?
Karena dengan ukuran lampu LED yang kecil, TV jadi bisa dibuat jauh lebih tipis daripada LCD yang ada.
Jadi mahalnya bukan karena teknologinya, tapi karena designnya.

Plasma - LCD - LED
Resolusi:
tidak tergantung apakah Plasma, LCD atau LED maka resolusinya saat ini terbagi 2 :
High Definition atau HD-ready TV, resolusi panelnya Horizontal : 1366 pixels x Vertikal : 768 pixels
Full HD TV, resolusi panelnya Horizontal : 1920 pixels x Vertikal : 1080 pixels

Jika ada pilihan antara HD ready dan Full HD sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan harganya.
Resolusi signal output dari antena, parabola, tv berlangganan dan dvd/vcd player saat ini adalah 800 x 600 pixels.
Untuk itu tidak dibutuhkan resolusi yang Full HD, karena setiap titik/pixel yang tidak terdefinisi akan diinterpolasi oleh processor TV, dengan cara mengira-ngira warnanya.
Misalnya, diantara 2 pixel yang berwarna hitam dan putih, maka 1 pixel ditengahnya akan berwarna abu-abu atau jika ada 2 pixel di antaranya maka urutannya menjadi putih, abu-abu muda, abu-abu tua dan hitam.
Proses interpolasi ini membuat gambar kurang tajam pada batasan perubahan warna. Baik yang HD-ready atau yang Full HD sama-sama harus melakukan proses interpolasi ini agar gambar dapat tampil full screen di layar TV.

Lain lagi ceritanya jika signal outputnya dari Bluray, HD-DVD, PS-3, Xbox atau aplikasi untuk komputer dengan high resolution output yang sudah dalam format 1920x1080 pixels, maka Full HD TV jelas jauh lebih sempurna gambarnya, karena setiap titik/pixelnya terdefinisi. Sementara pada HD-ready TV ada sebagian pixel yang tidak bisa ditampilkan pada layarnya dan menjadi berkurang detailnya.

Konsumsi listrik :
Plasma paling boros dan LED paling kecil. Namun belakangan ini Panasonic mengembangkan teknologi untuk penghematan listrik pada plasma TV nya hingga konsumsi listriknya tinggal 1/3 nya dari umumnya TV Plasma, tapi masih tetap di atas LED.

Contrast Ratio :
Contrast Ratio adalah pembagian gradasi dari yang paling terang ke yang paling gelap.
Contrast Ratio 5.000.000:1, artinya dari warna biru yang paling terang ke biru yang paling gelap terbagi menjadi 5 juta gradasi warna.
TV Plasma tentu paling tinggi contrast rationya, diikuti LED dan baru LCD.
Namun contrast ratio LCD type the latest atau LED kini sudah di atas 1.000.000:1 dan sudah tidak signifikan lagi perbedaannya dengan Plasma.
Samsung yang selalu menjadi leader dalam hal contrast ratio.

Response time :
adalah waktu yang diperlukan oleh TV untuk memproses sinyal menjadi gambar.
Plasma hanya butuh sekitar satu koma sekian mili second. Sementara LCD butuh waktu lebih lama untuk proses polarisasinya. Diawal sejarah perkembangannya, response time LCD bisa mencapai belasan mili seconds. Dan keterlambatan ini sangat jelas ditangkap oleh mata.
Jadi jika dijejerkan TV tabung dengan LCD dengan siaran yang sama, maka terlihat pada LCD gambarnya selalu terlambat.
Response time produk LCD dan LED sekarang sudah jauh lebih baik berkisar 3-6 mili seconds dan sudah hampir tidak terdeteksi lagi.
Sharp Aquos dalam perkembangan LCD nya yang menjadi leader dalam response time.
Sebenarnya menonton siaran tunda sepersekian detik tidak terlalu menjadi masalah, namun point berikut yang berkaitan dengan response time adalah masalah yang sebenarnya.

Refresh rate :
 Pada TV Plasma gambar yang bergerak cepat tidak masalah karena response timenya kecil, namun tidak bagi LCD dengan response time belasan mili seconds. Gambar menjadi tidak jelas.
Sejalan dengan waktu, selain response time LCD dan LED yang semakin kecil, dalam perkembangannya saat ini juga diterapkan teknologi dengan processor yang membantu memproses sinyal agar membuat fast motion picture menjadi lebih jelas.

Kesimpulan :
Saat ini spesifikasi Plasma, LCD dan LED sudah semakin sama. Apa yang dulu menjadi kelebihan dari Plasma, sudah sanggup dikejar oleh LCD/LED TV. Sementara teknologi TV Plasma seperti jalan ditempat, hampir tidak ada perkembangan selain menjadi follower LCD / LED, seperti teknologi 3D.
Investasi untuk mengembangkan teknologi Plasma sangat mahal. Bahkan tidak banyak produsen TV yang sanggup membuat panel Plasmanya sendiri. Sulitnya membuat panel Plasma yang sempurna menjadi tidak ekonomis untuk produksi massal. Panel Plasma terbaik untuk produk High End saat ini masih diimpor oleh produsen TV asal Jepang dari sebuah negara kerajaan kecil di eropa tengah Lichtenstein. Rekor flat screen panel TV terbesar masih dipegang oleh TV Plasma, walaupun market share penjualannya sudah jauh dibawah LCD atau LED.

Tube TV (CRT)

TV Plasma

TV LCD
Kekurangan TV plasma dari sisi penggunaannya :
1. Konsumsi listrik
2. Panas yang berlebihan
3. Radiasi
4. Sama seperti TV tabung, terlalu sering menampilkan gambar yang sama spt logo TV dapat mengakibatkan kerusakan pixel yang permanen, bayangan logo TV tidak bisa hilang. 
5. Mengandung Mercury (air raksa), untuk proses daur ulang dapat mencemari lingkungan.

Kekurangan LCD atau LED yang terutama adalah harganya. Biaya produksi LCD atau LED dilihat dari bahan bakunya harusnya jauh lebih murah. Namun seperti juga pada Handphone, yang diproduksi adalah lebih banyak teknologi, prestige dan fitur-fitur aplikasinya seperti internet yang belum tentu kita tahu cara menggunakannya, atau bahkan belum bisa digunakan di Indonesia hingga mungkin beberapa tahun ke depan.

Referensi:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar