Sabtu, 08 September 2012

Tugas 5-Perkembangan Pesawat Tempur.

“Sang Penjaga Langit, Pesawat Tempur”

Sukhoi Su-27 Flanker. Penempur terbaru TNI-AU



 Pesawat Tempur adalah suatu jenis Peralatan Perang yang didesain untuk terutama bertempur melawan pesawat lain diudara. Berbeda dengan Pembom dan Pesawat Serang yang fungsinya lebih ditekankan ke penghancuran sasaran di darat. Akan tetapi, kebanyakan Pesawat Tempur modern memiliki kemampuan Multiperan (Multirole) dimana mereka bisa menghancurkan sasaran darat, namun juga mampu bertempur melawan pesawat lain.

Kenapa Penulis memilih topic ini? Karena perkembangan Pesawat Tempur, terutama pada era modern ini sudah sangat pesat, sehingga sangat penting untuk mengerti agar kita bisa menghadapi situasi global yang berubah-ubah, dan Penulis sediri memang penggemar Kedirgantaraan. Dalam pembahasan kali ini, Penulis akan menyempitkan lingkup pembahasan hanya kepada Pesawat Tempur (Fighter) dan Multiperan saja, tidak mencakup Pesawat Serang darat dan Pesawat Pembom.

Asal Mula Istilah

Sebelum kita membahas tentang perkembangan Pesawat Tempur dari PDI hingga Hari Ini, kita perlu untuk tahu asal mula istilah Pesawat Tempur itu sendiri.

Istilah Kekuatan Udara muncul sejak awal Abad 20 ketika HG Wells menulis War in The Air pada tahun 1908, sementara ide tentang pentingnya memiliki Supremasi Udara dicetuskan oleh Giulio Douhet dari Italia, Billy Mitchell dari AS, dan Alexander de Seversky dari Perancis, dimana pemikiran-pemikiran tersebut membuat Perencana Militer berhasil mengembangkan berbagai jenis pesawat yang dapat didayagunakan dalam Medan Perang. 

Istilah “Pesawat Tempur” belumlah muncul menjadi suatu istilah resmi dalam Bahasa Inggris sampai Perang Dunia Ke-1. Sebelumnya, AU Inggris (RAF-Royal Air Force) menyebutnya “Scouts” (Pengintai), AD AS (USAAF-US Army Air Force-Dulu AD AS memiliki Korps penerbangan sebelum berdiri sendiri menjadi USAF setelah PDII) menyebutnya “Pursuit” (Pengejar) dari 1910-an sampai 1940-an. Seringkali, Negara-negara lain juga mengikuti istilah ini dalam bahasa mereka, tetapi ambil contoh Rusia menyebutnya “Istrebitel” (Pemusnah)

Perang Dunia I (1914-1918)

Pesawat Tempur sebenarnya lahir dari suatu “keterpaksaan” dimana pada awal perang tidak ada kekuatan yang memiliki Pesawat Tempur yang sebenarnya. Untuk menjalankan misi militer dari udara, mereka menggunaka pesawat Sipil, seperti misalnya Bleriot pada tahun 1911. Untuk melumpuhkan pesawat lawan, para pilot menggunakan senapan mereka untuk menembak Pilot lawan dalam duel 1 lawan 1 diudara. Akan tetapi menggunakan senapan biasa untuk menembak sasaran diudara tentu merupakan hal yang sangat sulit.

Pesawat Tempur yang Sebenarnya barulah ada di tahun 1915 ketika muncul suatu ide untuk menambahkan Senapan Mesin dikursi belakang, atau malah membuat baling-baling ada dibelakang seperti pada Vickers F.B.5 Gunbus. Akan tetapi konfigurasi ini dinilai terbatas efektifitasnya karena hanya memungkinkan untuk menyerang sasaran yang datang dari belakang, dan perlu koordinasi antara penembak dengan pilot untuk menghaslkan tembakan akurat. Selain itu, baling-baling dibelakang membuat hambatan menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan baling-baling didepan
Vickers FB.5 Gunbus
Pada tahun 1915 juga, Rolland Garros-Seorang Desainer dan Pilot Pabrik Perancis MS (Morane-Sauliner) menempatkan Senapan Mesin Hotchkiss 8mm tepat dibelakang baling-baling. Penempatan semacam ini memang efektif karena memungkinkan Pesawat untuk menembak sasaran didepannya dan selanjutnya menjadi sistem yang umum sampai era Jet Tempur hari ini. Akan tetapi, pada saat itu sistem seperti ini sangat berbahaya karena senapan mesin yang ditembakkan bisa justru merusak baling-baling pesawatnya sendiri, meskipun memang Garros telah menambahkan lapisan metal pada baling-baling untuk melindunginya. Kemajuan baru muncul setelah Garros ditembak jatuh oleh Jerman pada 18 April 1915, dimana sistem revolusionernya yang kemudian dirampas Jerman disempurnakan lagi. Ditambahkan alat synchronizer yang memungkinkan senapan mesin menembak hanya ketika putaran baling-baling tidak menghalangi laras. Sistem ini diterapkan kepada Fokker E III, sebuah Monoplane yang kehadirannya mengejutkan Pilot-Pilot Sekutu, apalagi karena kemampuan manuvernya juga jauh lebih baik. Meskipun memang keunggulan ini tidak berlangsung terlalu lama karena Sekutu juga pada akhirnya mampu membuat sistem serupa, tetapi setidaknya Jerman telah berhasil membuktikan diri dalam kemajuan teknik mereka
Fokker EIII
Selain itu juga, mendekati akhir perang Jerman sempat menelurkan pesawat Fokker Dr. I yang merupakan jiplakan dari Triplane Inggris Sopwith Triplane, dan melahirkan Ace terkenal yaitu Red Baron (Manfred von Richtofen) yang mencetak 80 kemenangan udara sebelum akhirnya tewas dalam pertempuran pada 21 April 1918.
Fokker Dr.I Triplane. Pencetak Ace Handal Von Richtoffen AKA Red Baron
Masa Damai (1919-1938)

Setelah berakhirnya PDI, perkembangan Pesawat Tempur realtif stagnan karena para petinggi militer masa itu lebih mementingkan restrukturisasi Kekuatan Udara yang sempat babak belur dalam PDI. Sedang Soviet, Jepang, dan AS yang tidak terlibat PDI secara langsung juga kemudian mengembangkan Pesawat Tempur mereka sendiri. 

Perkembangan yang ada salah satunya adalah senapan mesin pada Pesawat Tempur yang posisinya kemudian dipindahkan kebagian Wing Root (Akar Sayap) yang merupakan bagian dengan kekuatan struktur paling kuat dan juga karena letaknya berada dibelakang Pilot memungkinkan tembakan yang lebih akurat.

Jerman, yang merupakan pihak yang kalah dalam PDI terpaksa dilarang untuk mengoperasikan Pesawat Tempur sesuai dengan isi Trakat Versailles. Akan tetapi, mereka kemudian mengembangkan pesawat tempur mereka secara diam-diam, dan pada masa Perang Sipil Spanyol, Soviet dan Jerman memanfaatkannya dalam menguji model terbaru mereka; Messerschmitt Bf-109 dan Polikarpov I-6 dalam Medan Perang. Jerman yang unggul berhasil mengembangkan Bf-109 agar menjadi lebih efektif, sedangkan Soviet yang kalah kemudian tidaklah mampu untuk mengembangkan I-6. Selain dalam bidang teknis, Perang Sipil Spanyol juga memungkinkan perkembangan taktik dalam penggunaan Pesawat Tempur
Messerschmitt Bf-109. Penempur andalan Luftwaffe pada PDII
Tentu saja seperti yang kita ketahui, Jerman, dengan keunggulan dalam bidang teknik kelak akan membuat Sekutu kewalahan dalam PDII nanti…

Perang Dunia II (1939-1945)

Dalam PDII Pesawat Tempur mengalami suat revolusi yang sangat cepat ditengah situasi perang yang berkecamuk di Front Eropa dan kemudian Pasifik. Daya dorong maksimal Pesawat Tempur telah meningkat 2x dari masa PDI, sehingga dengan mudah Pesawat Tempur mencapai kecepatan 600-700 Km/jam. Selain itu, desain Kokpit sudah lebih modern dengan model kanopi terutup, Sayap sudah semuanya menganut model Monoplane alias Sayap Tunggal, dan caliber Senapan Mesin pada Pesawat sudah meningkat dari 7-8mm menjadi 12.7-20mm. 

Ada pendekatan yang berbeda dalam desai Pesawat Tempur pada PDII. Jepang dan Italia memilih untuk membuat model yang ringan dan lincah, meski mengorbankan persenjataan dan pelindung, seperti misalnya A6M Zero dan Macchi M200. Sedangkan AS, Inggris, Jerman, dan Soviet lebih mementingkan persenjataan dan kecepatan serta perlindungan yang mumpuni meski mengorbankan kelincahan. Contoh yang terkenal dari masing-masing Negara adalah P-51 Mustang, Spitfire, Messerschmitt Bf-109 dan Yakovlev Yak-1.

Dari Kiri ke kanan: P-51 Mustang, Spitfire, Yak-1, A6M Zero, M200, Bf-109
Perang Dunia II di Eropa ditandai dengan Invasi Jerman ke Danzig, Polandia pada tahun 1939, sementara di Pasifik ditandai dengan serbuan Pearl Harbor di Hawaii tanggal 7 Desember 1941 yang kemudian membuat AS marah dan akhirnya terjun secara langsung. Serangan Pearl Harbor merupakan suatu ajang pembuktian bagi Pesawat Tempur Jepang seperti A6M Zero yang terbukti lincah sehingga mampu mengejutkan pertahanan udara AL Amerika. Total ada 2000 Pasukan AS dan 18 Kapal Perang menjadi korban
Ilustrasi serangan ke Pearl Harbor
A-6M Zero. Penempur andalan Jepang pada PDII
Sementara di Eropa, terjadi Battle of Britain pada Juli-Oktober 1940 dimana terjadi perang udara yang sangat dahsyat dimana RAF harus melawan kekuatan udara Jerman (Luftwaffe-AU Jerman) yang terdiri dari Pembom seperti Heinkel He-111 dan Penempur Messerschmitt Bf-109 yang sudah dikembangkan lebih jauh. Meskipun pada awalnya RAF jumlahnya kalah banyak dari Luftwaffe dan versi awal Spitfire dan Hurricane, Penempur andalan RAF kemampuannya tidak sebagus Bf-109. Namun dengan peningkatan kemampuan yang menghasilkan varian Spitfire MkII a, kemampuan mereka menjadi seimbang dengan Bf-109, dan akhirnya berkat koordinasi dan taktik yang unggul terutama berkat radar, RAF berhasil mengusir Luftwaffe dari London.
Jejak uap air dari Pesawat-pesawat tempur yang sedang "menari" diantara hidup atau mati diatas London.
Amerika Serikat yang dengan segera bangkit dari keterpurukan di Pearl Harbour kemudian mengembangkan P-38 Lightning dan P-40 Warhawk yang keduanya merupakan image yang saling berlawanan, dimana P-40 lebih murah dan dapat dirpoduksi massal sedang P-38 lebih besar, dan mahal untuk diproduksi. Sedang AL AS (USN-US Navy) memiliki Vought F4U Crosair dan Grumman F6F Hellcat. Semuanya dikerahkan dalam Medan Pasifik terutama untuk menghantam kekuatan AL Imperial Jepang (IJN/Nippon Kaigun-Imperial Japanese Navy).
P-38 Lightning
Sementara itu P-47 Thunderbolt dan P-51 Mustang dibuat untuk mengawal Pembom-Pembom AS B-17, B-24, dan B-29, sehingga kedua Penempur ini memiliki jangkauan yang jauh. Tidak Cuma itu, Penempur P-51 memiliki delapan Senapan Mesin M2 12.7mm yang membuatnya sangat mematikan. Terlebih Mustang juga diekspor AS ke Inggris dan Belanda, yang kelak Mustang dari Belanda akan menjadi salah satu kekuatan Penempur pertama AURI (Sekarang TNI-AU) setelah berakhirnya Agresi Militer

Mendekati akhir Perang, Jerman yang meskipun sudah mulai terdesak masih mampu untuk mengejutkan Sekutu. Pada tahun 1943, Messerschmitt membuat suatu jenis Pesawat Baru yaitu Me 262 yang berupa Penempur bermesin Pancar Gas pertama. Sebenarnya Frank Whittle telah mengembangkan Gloster Meteor yang merupakan Penempur bermesin Pancar Gas, akan tetapi Penempur ini tidak banyak terjun didalam medan perang PDII. Justru Me 262 yang mencicipi pertempuran. Dengan kecepatan mencapai 800 Km/jam, otomatis Penempur Sekutu yang menggunakan Mesin Piston tidak akan sanggup mengejar Me 262, dan para Pembom Sekutu juga akan kewalahan menghindarinya. Akan tetapi, setelah Sekutu mulai masuk kedalam wilayah Jerman, terbukti bahwa Me 262 bisa dikalahkan jika diserang pada saat yang rentan. Setelah perang, Me 262 yang tersisa kemudian dirampas Sekutu dan terbukti, teknologi Mesin Pancar Gas Jerman sekali lagi sudah lebih maju beberapa langkah dibanding teknologi serupa yang dimiliki Sekutu.
Me 262
Gloster Meteor
Sementara itu, Jepang yang sudah didesak Sekutu kemudian menggunakan taktik Kamikaze (Terj. Angin Dewa) dimana para Pilot sengaja menabrakkan Pesawat mereka, yang seringkali dimuati bom ke kapal Musuh. Seringkali taktik ini tidak berhasil karena pertahanan Anti Pesawat AL AS yang sangat efektif, namun terkadang taktik ini berhasil dan menimbulkan kerugian bagi AS. 

Seperti yang kita ketahui, PDII diakhiri dengan dijatuhkannya bom Atom oleh B-29 USAAF di Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, disusul oleh kemudian masuknya kembali Sekutu ke Pasifik. Dan tentu saja, Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
Enola Gay. Pembom B-29 sedang kembali ke Pangkalan setelah menjatuhkan Bom Atom di Hiroshima




Pasca Perang Dunia II dan Perang Korea (1946-1950); Penempur Pancar Gas Generasi Pertama.
Pembagian Generasi Penempur Pancar Gas. Tulisan di Artikel ini tidak menghitung Me 262 sebagai Generasi Pertama karena dari kebanyakan sumber, Pembagian Kronologi Generasi dimulai pasca PDII sehingga tidak memasukkan Me 262. Sehingga F-86 dan MiG-15 terdorong naik ke Generasi Pertama
Berakhirnya Perang Dunia II bukan berarti mengakhiri Pesawat Tempur bermesin Piston. Hal ini disebabkan kehandalan Mesin Pancar Gas yang masih diragukan pada masa itu. Terutama Kompresor yang gampang rusak dan terlalu sensitive, sehingga Penempur bermesin Piston masih digunakan sampai awal Perang Korea pada tahun 1950

Perang Korea merupakan salah satu pertempuran terakhir yang melibatkan Pesawat bermesin Piston seperti B-29 dan P-51, karena pada tahun itu juga lahir Penempur bermesin Pancar Gas F-86 Sabre yang langsung diterjunkan oleh AS ke Semenanjung Korea melawan MiG-15 Fagot milik KPAF (Korea’s People Air Force-Angkatan Udara Rakyat Korea;AU Korea Utara-Bedakan dengan ROKAF/Republic of Korea Air Force punya Korea Selatan) yang sudah lahir duluan tahun 1947. Terbukti F-86 dapat mengungguli MiG-15, meskipun persenjataan MiG-15 lebih berat dibanding F-86. Akan tetapi kehadiran jet MiG-15 telah lebih dari cukup untuk mempercepat peningkatan kehandalan Penempur Pancar Gas, sehingga kemudian Penempur Mesin Pancar Gas menggeser Penempur Mesin Piston. 

Pada saat itu juga disadari akan pentingnya suatu senjata yang mampu menembak jatuh lawan yang bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga diciptakanlah rudal udara ke udara yang dapat diluncurkan dari Pesawat Tempur.

Contoh Penempur Pancar Gas Generasi Pertama mencakup MiG-15 Fagot dan F-86 Sabre
F-86 dan MiG-15
Penempur Pancar Gas Generasi Kedua (1950-Awal 1960)

Pada era ini terjadi kemajuan yang sangat besar dalam Pesawat Tempur, dimana dengan ditemukannya Afterburner pada mesin Pancar Gas, dimungkinkanlah untuk menembus kecepatan suara dengan Mesin Pancar Gas. Sebelumnya pada 14 Oktober 1947 sudah dilakukan penerbangan menembus kecepatan suara oleh Chuck Yeager dengan Bell XS-1. Akan tetapi pada saat itu masih dibutuhkan Mesin Roket untuk melakukan hal tersebut.

Bell XS-1
Karena situasi Perang Dingin yang dipenuhi ancaman serangan Nuklir oleh lawan, maka desain Pesawat Tempur lebih menekankan kecepatan, yang didefinisikan sebagai Interseptor (Pencegat). Hal ini ditandai oleh desain sayap berbentuk segitiga (Delta Wing), kecepatan maksimal sampai 2x kecepatan suara, dan ketergantungannya dengan Rudal. Terutama Rudal jarak jauh/BVR (Beyond Visual Range-Melampaui Jarak Visual). Meskipun ada juga jenis Fighter-Bomber (Penempur-Pembom) yang mampu menyerang baik sasaran udara atau darat. 

Selain  itu, berkat miniaturisasi, Radar yang mulanya berukuran sangat besar akhirnya bisa dipasang ke Pesawat Tempur. Sebelumnya, pada era PDII pesawat Penempur Malam yang memiliki Radar ukurannya sangat besar, sehingga rentan diserang.

Akan tetapi, teknologi Rudal pada masa awal kelahirannya cenderung tidak handal. Rudal Infra Merah seperti AIM (Air Intercept Missile-Rudal Intersep Udara)-9 Sidewinder dari AS dan K-13 (Nama NATO: AA-2 Atoll) dari Soviet masih rawan pengecohan, dan kemampuan deteksinya terbatas pada panas mesin, sehingga harus digunakan pada aspek jam 6 dari lawan (Dengan kata lain, di ekor lawan), dan Rudal Berpemandu Radar seperti AIM-7 Sparrow juga mudah dikecoh dan kemampuan manuvernya tidak sebagus Rudal sekarang.
AIM-9M dan AIM-7M Sparrow. Varian modern dari AIM-9 dan AIM-7
Contoh Penempur Pancar Gas Generasi Kedua cukup beragam. Interseptor meliputi Dassault Mirage III dari Perancis, Mikoyan-Gurevich MiG-21 Fishbed dari Soviet, dan Lockheed F-104 Starfighter dari AS. Sementara Fighter Bomber meliputi Republic F-105 Thunderchief dan Sukhoi Su-7 Fitter
Dari kiri ke kanan: MiG-21, F-104, Su-7, F-105
Perang Vietnam; Penempur Pancar Gas Generasi Ketiga (1963-1975)
Keterlibatan Pesawat Tempur di Perang Vietnam didominasi oleh kampanye pengeboman oleh Pembom B-52 Stratofortress dan F-105 Thuderchief, serta pertempuran udara dimana penempur anyar AS pada masa itu, F-4 Phantom harus melawan MiG-17, 19, dan 21 milik VPAF (Vietnamese People Air Force-Angkatan Udara Rakyat Vietnam;AU Vietnam Utara). Pada Awal Perang, diperkirakan bahwa peran Kanon menjadi obsolot karena adanya Rudal yang memungkinkan serangan dari jarak yang lebih jauh, sehingga F-4 awal (A-D) tidak mempunyai Kanon internal. 

Akan tetapi, dengan kenyataan bahwa Rudal generasi awal seringkali tidak cukup handal, dan pada jarak dekat tidak mampu bermanuver untuk menghajar lawan. Alhasil, Penempur F-4 Phantom generasi awal kalah telak oleh MiG-MiG Vietnam Utara pada pertempuran jarak dekat. Tidak pula lupa bahwa SAM (Surface to Air Missile-Rudal Darat ke Udara) memainkan peran yang besar dalam pertahanan udara Vietnam Utara. Efeknya ya... Seperti gambar dibawah!
RF-4C dari USAF tersengat rudal SAM SA-2 Vietnam Utara
Akhirnya disadari bahwa peran Kanon tidak dapat dihapuskan. Pada akhirnya dibentuklah TOPGUN oleh US Navy untuk melatih pilotnya bertempur dan bermanuver dalam jarak dekat, dan varian F-4 Phantom berikutnya, yaitu F-4E akhirnya diberi Kanon internal untuk meladeni musuh dari dekat. Akan tetapi, semua perubahan itu terlambat untuk membantu Pendudukan Amerika di Vietnam, dan seperti yang diketahui, setelah Saigon jatuh pada 30 April 1975, maka Vietnam Selatan menyerah pada Vietnam Utara. Mengakhiri Perang Vietnam dan memaksa AS untuk hengkang dari situ.
Sementara itu MiG-17 Vietnam utara ditembak jatuh oleh Penempur USAF
Meskipun begitu, F-4 Phantom, bersama dengan MiG-21 telah dicap sebagai Penempur yang Combat-Proven dan pada akhirnya diminati oleh banyak Negara dan kemudian menjadi pesawat Multiperan yang sukses.

Diluar Perang Vietnam, juga dikembangkan Penempur Sayap Ayun (Variable Wing Geometry) seperti F-111 Aardvark, F-14 Tomcat yang sangat terkenal, MiG-23/27 Flogger, dan Penyerang Panavia Tornado. Desain seperti ini memungkinkan Penempur untuk melaju dengan kecepatan tinggi dengan saya diayun kebelakang seperti Sayap Delta, tetapi memungkinkan untuk mendarat dengan lebih stabil dan kecepatan rendah dengan membuka sayapnya.

Selain itu, muncul juga konsep mengenai lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL-Vertical Take-off and Landing) layaknya Helikopter yang didasarkan pada ketakutan NATO terhadap serangan Soviet ke Pangkalan Udara jika terjadi perang terbuka. Jikalau landasan rusak dan tidak ada Pesawat Tempur yang bisa Lepas Landas, setidaknya VTOL mampu lepas landas secara Vertikal. Dari banyak konsep yang ditawarkan, hanya Hawker Siddeley P.1127 (Kemudian menjadi Hawker Siddeley Harrier Gr.I) dan Yakovlev Yak-38 Forger saja yang berhasil mencapai status operasional. Keduanya menggunakan nosel Gas yang bisa diputar yang memungkinkan untuk lepas landas/mendarat secara vertikal dan terbang lurus dengan mengubah arah gaya dorong mesin. Selain itu, kemampuan mengubah arah gaya dorong mesin memungkinkan pesawat untuk berhenti diudara atau malah mundur. Hal ini membantunya untuk berpindah kebelakang musuh yang mengejarnya. Teknik ini disebut VIFF (Vectoring in Forward Flight) dan kelak dipakai oleh RAF dalam Perang Malvinas ketika bertarung melawan Argentina dengan hasil yang sangat baik.
Ilustrasi kemampuan VTOL Harrier. Dari Majalah Angkasa Edisi Koleksi No.1 Halaman 94-95
Contoh Pesawat Tempur Pancar Gas Generasi Ketiga yang terkenal adalah McDonnell Douglas F-4A-E Phantom, Mikoyan MiG-23 Flogger, Hawker-Siddeley Harrier Gr.I, Yakovlev Yak-38 Forger, dan Northrop F-5A/B Freedom Fighter.
Dari kiri ke kanan: F-5A, F-4E, F-14A, F-111, Harrier Gr.1, Yak-38
Penempur Pancar Gas Generasi Keempat (1975-1990)

Perkembangan Pesawat Tempur pada generasi ini ditandai dengan kesadaran akan pentingnya kelincahan dalam jarak dekat, selain juga dengan kemampuan meraih superioritas udara yang lebih baik. 

Peningkatan kemampuan Manuver pesawat tempur dimungkinkan dengan adanya sistem kendali Fly-By-Wire (FBW) dan Relaxed Static Stability (RSS), dimana Pesawat sengaja dirancang agar tidak stabil. FBW memungkinkan input yang lebih banyak dan responsif terhadap control Pesawat dibanding sistem kendali biasa, dan bisa secara otomatis mengkoreksi posisi pesawat agar tetap terbang stabil tanpa perlu input manual dari pilot. Ketidakstabilan Pesawat yang disengaja bukan tanpa tujuan. Tujuannya yaitu agar memungkinkan pesawat menjadi lebih lincah.

Pesawat yang pertama kali memakai sistem ini adalah General Dynamics (Sekarang diakuisisi Lockheed Martin) F-16 Fighting Falcon, yang berasal dari program LWF (Lightweight Fighter) AU AS yang kemudian terbukti efektif di medan pertempuran. Bahkan 12 unit diantaranya dimiliki oleh TNI-AU. Kesuksesan konsep FBW dan RSS inilah yang kemudian  selalu dipakai dalam Penempur Modern hari ini.

Sementara itu, AL AS dan F/A-18A Hornet, dan AU Perancis dengan Mirage 2000 berhasil menciptakan suatu konsep Pesawat Multiperan sejati, dimana mereka memiliki kemampuan untuk menyerang target udara dan darat dengan hasil yang sama baiknya dengan hanya satu jenis pesawat saja.

Dari Belahan Timur, Uni Soviet mengembangkan Penempur Mikoyan-Gurevich MiG-29 Fulcrum dan Sukhoi Su-27 Flanker yang terkenal akan kemampuan manuver yang jauh melebihi kemampuan yang dimiliki oleh seterunya di Barat. Manuver yang paling terkenal adalah Kobra Pugachev dimana Pesawat bergerak vertikal layaknya ular Kobra yang mematuk lalu kemudian kembali terbang datar yang pertama kali ditampilkan tahun 1989. Kelak Su-27 dan Su-30 juga ikut dipakai oleh TNI-AU sejak tahun 2003.
Ilustrasi Manuver Pugachev's Kobra
Selain itu, juga muncul avionik-avionik baru seperti misalnya HUD (Heads Up Display) yang memungkinkan pilot untuk melihat informasi penting tanpa harus mengalihkan pandangannya, HOTAS (Hands on Throttle And Sticks) yang memungkinkan Pilot untuk melakukan tindakan seperti misalnya mengganti senjata yang dipilih, mengganti sasaran, dan sebagainya tanpa perlu melepas tangan dari tongkat kendali. Selain itu, Radar pada Pesawat Tempur juga sudah dibuat lebih baik dengan kemampuan untuk melihat sasaran yang terbang rendah (Look Down/Shoot Down), dan HMS (Helmet Mounted Sight) yang memungkinkan Pilot untuk mengunci sasaran hanya dengan melihat kearahnya tanpa harus bermanuver, dan menembaknya dengan rudal yang memiliki kemampuan manuver yang tinggi pula.
HUD seperti pada F/A-18 ini sangat membantu Pilot dalam pertempuran
Kemajuan lainnya yang sangat penting adalah teknologi “Siluman” (Stealth) yang memungkinkan Pesawat untuk lebih sukar dideteksi oleh Radar dan Infra Merah. Hal ini mungkin berkat adanya Lapisan Penyerap Radar (RAM-Radar Absorbent Material) dan Mesin dengan emisi gas buang yang lebih rendah. Penempur yang pertama kali memakainya adalah Lockheed F-117A Night Hawk yang terjun pertama kali dalam Operasi Just Cause di Panama untuk membom sasaran penting Musuh.

Menariknya, kode "F" untuk Fighter (Penempur) pada F-117A sebenarnya digunakan pertama kali untuk mengelabui Soviet, namun pada akhirnya penyebutan "F" untuk pesawat ini menjadi standar. Padahal F-117A tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertempuran udara. Tapi hanya melakukan pemboman presisi ke sasaran musuh. 
F-117A. Penempur Siluman Sejati.
Dan tentu saja, kemampuan rudal untuk menjejak sasaran jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Hal tersebut dibutikan oleh Pilot RAF dan Royal Navy di Malvinas pada tahun 1982, dimana mereka dengan Harrier Gr.III dan Sea Harrier bisa menaklukkan Mirage III dan Kfir milik AU Argentina (FAA-Fuerza Aeara Argentina) yang hampir semua kill dilakukan dengan rudal jarak dekat AIM-9P Sidewinder. Ditambah dengan kemampuan Harrier untuk berhenti tiba-tiba diudara dengan maneuver VIFF (Lihat atas) yang memampukannya untuk bertukar posisi. Selain persenjataan, faktor pengalaman sangat menentukan juga karena Pilot-Pilot RAF jauh lebih berpengalaman dibandingkan dengan Pilot FAA.

Ilustrasi dari salah satu bentuk dasar VIFF-Berhenti mendadak diudara untuk bertukar posisi.
 Contoh Penempur Pancar Gas Generasi Keempat yang terkenal sangatlah banyak. Seperti General Dynamics/Lockheed Martin F-16A-D Fighting Falcon, McDonnel Douglas/Boeing F-15A-D Eagle, McDonnel Douglas/Boeing F/A-18A-D Hornet, Dassault Mirage 2000, Panavia Tornado ADV, Mikoyan-Gurevich MiG-29 Fulcrum, Sukhoi Su-27 Flanker, BAe Harrier Gr.III-IX, Sea Harrier FRS.1, dan masih banyak lagi.

Dari Kiri ke Kanan: MiG-29G, Su-27SKM, F-16A, F-15C, Mirage 2000C, dan Tornado F3
Penempur Pancar Gas Generasi 4.5 (1991-Sekarang)

Pada generasi ini, kesadaran akan pentingnya kemampuan Multiperan pada Pesawat Tempur sudah meningkat, sehingga hampir semua rancangan Pesawat Tempur memiliki kemampuan Multiperan

Kemajuan terbesar pada Generasi 4.5 adalah dengan penekanan akan pentingnya Network Centric Warfare yang mengandalkan Teknologi Informasi dalam penyaluran data. Dengan Datalink misalnya, suatu Pesawat Tempur yang melihat suatu target dapat menyampaikan datanya ke Pesawat kawannya, sehingga menciptakan suatu koordinasi yang baik antar Pesawat. Selain itu, mulai digunakannya Pesawat AWACS (Airborne Warning and Control Sistem) yang mampu melihat hampir seluruh medan perang dan mengkomando Pesawat kawan dalam serangan terhadap musuh, patroli dan sebagainya, sehingga menciptakan suatu keunggulan lebih dalam pertempuran.

Selain itu, kebanyakan desain Generasi 4.5 juga sudah dilengkapi dengan TVC (Thurst Vectoring Control) dan Canard (Sayap kecil yang ada didepan pesawat) yang meningkatkan kemampuan manuver Pesawat. Pertama kali dipakai oleh Sukhoi Su-37 Flanker-F, konsep ini terbukti sangatlah sukses menjadikan Su-37 sebuah pesawat yang luar biasa lincah. Meskipun memang hanya sebagai Demonstrator Teknologi dan bukan Pesawat Tempur. Selain itu, Canard dipakai oleh Eurofighter EF-2000 Typhoon, Dassault Rafale, dan Sukhoi Su-33 Flanker-D (Generasi 4). Sedangkan TVC baru dipakai oleh sedikit Penempur Generasi 4.5 dan Generasi Kelima seperti Mikoyan-Gurevich MiG-35 Fulcrum-F, Sukhoi Su-35BM Flanker-E, Lockheed Martin F-22A Raptor dan Sukhoi T-50 PAK FA.

Ada juga kemampuan Supercruise yang memungkinkan Pesawat Tempur terbang melebihi kecepatan suara tanpa perlu menggunakan Afterburner sehingga menghemat Bahan Bakar. Hanya EF-2000 dan F-22A yang memiliki kemampuan ini, meskipun beberapa desain lain seperti PAK FA dari Rusia juga direncanakan untuk mempunyainya.

Dari segi persenjataan, senjata berpemandu Laser seperti Paveway, ataupun berpemandu GPS seperti JDAM (Joint Direct Attack Munitions) makin populer digunakan untuk menghadapi sasaran keras yang berada dekat dengan pemukiman sipil, sehingga memungkinkan kehancuran maksimal pada target, namun dengan akurasi yang tinggi untuk menghindari jatuhnya korban sipil. Namun senjata konvensional masih digunakan untuk mengebom sasaran musuh, terutama dalam misi dukungan udara jarak dekat (CAS-Close Air Support)
Bom GBU-24 Paveway III
Contoh Penempur Pancar Gas Generasi 4.5 tidak sebanyak Generasi Keempat. Antara lain seperti Sukhoi Su-35BM Flanker-E, Mikoyan MiG-35 Fulcrum-F, Boeing F/A-18E/F Super Hornet, Dassault Rafale, dan Eurofighter EF-2000 Typhoon.
Dari Kiri ke Kanan: MiG-35, Su-35BM, EF-2000, Rafale M

Penempur Pancar Gas Generasi 5 (2005-Sekarang)
F-22A Raptor
Generasi ini adalah generasi terbaru dari perkembangan Pesawat Tempur. Dimulai dengan kehadiran Lockheed Martin F-22A Raptor tahun 2005, kemunculan Generasi 5 telah mengubah pandangan tentang pertempuran udara

F-22A yang sudah dikembangkan sejak April 1991 memiliki keunggulan yang kentara dibanding semua jenis Pesawat Tempur yang ada saat ini. Keunggulan yang utama tentu saja ada pada teknologi Siluman yang ia miliki. Dengan bentuk yang bersudut, dan lapisan penyerap Radar yang sudah lebih dimodifikasi agar tahan dengan cuaca buruk, maka Raptor akan lebih sulit dilacak oleh Musuh entah itu Infra Merah ataupun Radar. Dan juga, semua senjata yang dibawa tersimpan dalam ruang didalam perut Pesawat dimana ruangan tersebut hanya akan dibuka sesaat sebelum senjata tersebut diluncurkan. Konfigurasi macam begini bisa mengurangi RCS (Radar Cross Section) Pesawat karena senjata yang ada didalam tidak memantulkan sinyal radar.
Bagian dalam ruang senjata F-22A
Selain itu, dengan kemampuan Supercruise maka Raptor bisa dibawa lebih cepat dari kecepatan suara tanpa Afterburner. Dengan TVC, Raptor bisa bermanuver dengan lincah dan bahkan bisa meniru maneuver Kobra Pugachev dan Kulbit khas Flanker. F-22A juga memiliki Radar AESA (Activle Electronically Scanned Array) yang memampukannya melakukan penjejakan sasaran pada jarak yang lebih jauh dengan tetap mempertahankan kemampuan siluman yang ia miliki. Plus, frekuensi Radarnya berganti 1.000 kali tiap detik, sehingga mempersulit Musuh untuk men-jam Radarnya. Avioniknya juga sudah sangat canggih dengan HUD, HMS, dan Layar Full-Glass yang mempermudah Pilot untuk memperoleh informasi.

 Tentu saja dengan semua kelebihan tersebut Raptor diharapkan untuk menjadi sebuah Penempur Dominansi Udara yang bisa mengungguli semua Penempur lawan yang ada.
F-35 LightningII
Dari Amerika juga ada Lockheed Martin F-35 Lightning II yang pada saat ini sudah siap untuk operasional setelah melalui fase pengembangan sejak tahun 1996. Memiliki konsep yang serupa dengan Raptor, F-35 dijadikan sebagai alternatif Multiperan yang murah dibanding F-22A. Terlebih karena Kongres Amerika melarang penjualan F-22A sampai tahun 2030, sehingga F-35 juga dijadikan sebagai alternatif ekspor. 

Rencananya ada 3 varian F-35, yaitu F-35A untuk Angkatan Udara, F-35B yang memiliki kemampuan STOVL (Short Take-Off Vertical Landing), dan F-35C untuk Kapal Induk.

Akan tetapi perjalanan kedua jenis Pesawat ini tidaklah mulus, karena F-22A didera masalah suplai Oksigen yang ternyata bisa meracuni pilotnya, dan F-35C mengalami cacat desain dimana pengaitnya ternyata terlalu pendek, sehingga tidak bisa mengenai kabel pengait (Arresting Hook) pada Kapal Induk yang membuatnya mustahil untuk mendarat di Kapal Induk, dan meredesain pengaitnya harus merubah desain Pesawat secara total sehingga meningkatkan biaya pengembangan yang sudah kelewat mahal. Selain itu, harganya yang kemahalan membuat publik skeptis akan kemampuan Pesawat ini.

Dibelahan dunia lain, Rusia dan Cina sudah mulai mengembangkan desain Generasi ke-5 mereka sendiri. Rusia mengembangkan Sukhoi T-50 PAK FA sebagai jawaban atas F-22A Raptor. PAK FA dikabarkan memiliki kemampuan maneuver yang lebih baik dari Raptor, namun kemampuan silumannya tampaknya dikorbankan. Sementara itu, Cina mengembangkan J-20 Mighty Dragon sejak 1990-an, yang dimana proyek tersebut diwarnai tuduhan aksi spionase terhadap AS dan Rusia. Belum banyak yang diketahui tentang kedua Proyek ini, tapi yang jelas AS sudah tidak bisa ongkang-ongkang sendirian lagi karena sudah akan ada pesaingnya nanti.

Indonesia tidak ketinggalan. Beserta Korea Selatan kita mengembangkan KF-X/IF-X yang merupakan prototype generasi kelima yang rencananya akan masuk dinas operasional tahun 2020. Semoga…

Hanya ada 5 jenis Pesawat Tempur Generasi Kelima saat ini, yaitu Lockheed Martin F-22A Raptor dan F-35A/B/C Lightning II, Sukhoi T-50 PAK FA, KAI (Korean Airspace Industry)&PTDI KF-X/IF-X, dan J-20 Mighty Dragon dari Cina.
Dari kiri ke kanan: T-50 PAK FA, KF-X/IF-X, F-35, F-22A

Penempur Pancar Gas Masa Depan (Generasi Keenam)

UCAV Global Hawk


Belum ada banyak kabar tentang masa depan perkembangan Pesawat Tempur. Akan tetapi, sudah banyak pihak yang melakukan riset tentang kemungkinan Pesawat Tempur masa depan

Karakteristik umum yang akan muncul terutama adalah kemampuannya untuk diterbangkan dengan kendali jarak jauh (Secara umum sebagai Pesawat Tempur Tanpa Awak/UCAV (Unmanned Combat Air Vehicle/Kendaraan Udara Tanpa Awak) dengan persenjataan yang makin akurat untuk mengurangi resiko korban sipil lebih jauh.

Saat ini UCAV hanya digunakan sebagai sarana intai ataupun serangan darat, namun belum ada UCAV yang digunakan untuk melawan Pesawat lain. Walau demikian, sudah banyak prototipe UCAV yang direncanakan untuk memiliki fungsi demikian. Seperti X-45 dan X-47.

Contoh UCAV Modern yang sudah beroperasi antara lain adalah MQ-1 Predator, MQ-9 Reaper, RQ-170 Sentinel, dan Global Hawk. Akan tetapi, hanya Global Hawk dan RQ-170 saja yang menggunakan mesin Pancar Gas, sedang UCAV lainnya masih menggunakan baling-baling

Demikianlah yang Penulis dapat sampaikan tentang perkembangan Pesawat Tempur. Tentu saja nanti dalam beberapa tahun kedepan akan muncul perkembangan yang lebih jauh lagi, dan semoga saja proyek KIFX kita berjalan lancar sehingga kita bisa membuat Penempur sendiri (Meski masih dengan kerjasama) dan suatu saat nant juga bisa membuat Pesawat tempur secara mandiri. Wassalam.

Sumber-sumber: 
  • http://en.wikipedia.org
  • Majalah Angkasa Edisi Koleksi 1. 2003 .Pesawat Tempur Sepanjang Masa. Jakarta: Gramedia Majalah
  • Majalah Angkasa Edisi Koleksi 44.2008. The Most Famous Fighter Jets. Jakarta: Gramedia Majalah
  • Winardi, A. 2012. UAV Dari PDI Hingga Perang Teluk. Majalah Angkasa. Volume 22. Edisi 5. Jakarta: Gramedia Majalah
  • Darmawan, Adrianus. 2012. Pentagon We Have... A Problem!. Majalah Angkasa. Volume 22. Edisi 5. Jakarta: Gramedia Majalah
  • KK, Antonius. 2012. Apa Kabar PAK-FA? Terus Melaju. Majalah Angkasa. Volume 22. Edisi 10. Jakarta: Gramedia Majalah
  • Winardi, A. 2012. Lockheed Martin F-22A Raptor. Majalah Angkasa. Volume 22. Edisi 12. Jakarta: Gramedia Majalah
  • Darmawan, Adrianus. 2012. Kisah Spionase di Balik Kemunculan J-20. Majalah Angkasa. Volume 22. Edisi 12. Jakarta: Gramedia Majalah
  • Sidharta, Alexander. 2006. Panavia Tornado-The First Multi-Role Combat Aircraft. Majalah Commando. Volume II. Edisi 6. Jakarta: Gramedia Majalah
  • Hansen, Ole Steen.2009. Penerjemah: Ardhiyani, Ria Ulfah. Pesawat Militer Modern. Solo: Tiga Serangkai
  • Dougherty, Martin J. 2012. Penerjemah: ILM Senjata Berpeluncur Udara Modern. Tangerang: International Licensing Media
Semua gambar didapat dair Google Images (images.google.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar