Jumat, 21 September 2012

Tugas 5 - Perkembangan Olahraga Tinju


 Sejarah tinju dari berbagai era


Tinju adalah olahraga dan seni bela diri yang mengadukan dua orang dengan berat yang serupa, menyerang satu sama lain dengan menggunakan tinju mereka di dalam rangkaian pertandingan berinterval tiga menit yang disebut "ronde"
Di setiap ronde, petinju yang lebih banyak memberikan pukulan bersih atau serangannya dianggap lebih efektif serta dapat menghindari serangan lawan, dinyatakan menang ronde tersebut dan memenangkan  poin. Bila dapat menjatuhkan lawannya (atau knockdown) maka satu poin akan dikurangkan untuk petinju yang terjatuh. Petinju yang lebih banyak menang angka setelah jumlah ronde yang ditentukan akan dinyatakan sebagai pemenang. Namun, bila lawan yang terjatuh tidak dapat bangkit setelah 10 detik hitungan, maka ia dianggap KO (knockout) dan dinyatakan kalah. Kemenangan juga dapat dicapai bila salah satu petinju dianggap tidak dapat melanjutkan pertandingan oleh wasit, ini disebut TKO (Technical Knockout)

Teknik Dasar Tinju

Sikap
Meskipun banyak petinju yang mengembangkan gaya dan cara betarung sendiri, teknis dasar dan tradisional adalah sebagai berikut:
Sikap ini  berlaku untuk petinju yang tangan kanannya lebih dominan, atau disebut juga orthodox. Petinju berdiri dengan kaki kanan setengah-langkah di belakang kaki kiri. Tinju kiri (lead)  sekitar enam inci di depan wajah di tingkat mata. Tinju kanan (rear) diletakan di samping dagu dan siku diposisikan didepan  tulang rusuk untuk melindungi tubuh. Dagu diposisikan ke dada untuk menghindari pukulan ke rahang yang sering menyebabkan knockout. Menjaga posisi tangan seperti itu dianggap sangat penting dan tidak mudah selama pertandingan. Petinju kidal atau southpaw seperti Manny Pacquiao dan Marvin Hagler menggunakan cerminan dari sikap ortodox. Petinju kidal menggunakan tangan kanan sebagai lead, dan tangan kiri sebagai rear. Sikap kidal  dapat memberikan kesulitan bagi petinju ortodoks yang tidak terbiasa mendapat jab, hook, atau straight dari sisi yang berlawanan. Sikap kidal, sebaliknya, lemah terhadap serangan straight right (tangan kanan lurus)

Pukulan
Ada empat pukulan dasar dalam tinju: jab, straight, hook, dan uppercut



Jab dari Sonny Liston
Jab : Pukulan cepat yang dilemparkan dengan tangan lead. Jab dilakukan dengan memutarkan pinggul, sebanyak  90 derajat dan searah dengan serangan agar badan petinju menjadi horizontal dan serangan jab dapat  dilakukan dengan tangan di ekstensi penuh.  Jab menggunakan jangkauan tangan panjang dan tidak memerlukan power yang besar. Karena kekuatannya relatif lemah, jab sering digunakan sebagai alat untuk mengukur jarak, menguji pertahanan lawan dan mendirikan kesempatan untuk menyerang.

Ricky Hatton menerima straight dari Pacquiao

Straight : Disebut juga cross, adalah pukulan keras dan dilemparkan dengan arah lurus  menggunakan tangan rear. Straight digunakan untuk mengcounter atau membalas serangan jab, menyerang rahang musuh atau membuka kesempatan untuk hook. Straight sering digunakan setelah jab, yang disebut juga “one-two combo”.



Right hook dari Bernard Hopkins


 Hook : Pukulan dengan arah setengah lingkaran dan umumnya menggunakan tangan lead, diarahkan ke kepala musuh. Hook sering dianggap sebagai pukulan paling berbahaya karena bila dilakukan dengan tepat, power nya dapat menjatuhkan musuh dalam sekejap. Hook juga kerap digunakan ke tubuh. Serangan hook ke tubuh sering dianggap sebagai khas petinju-petinju asal Meksiko seperti Julio Cesar Chavez dan Marco Antonio Barrera.

Uppercut : Pukulan keras yang dilakukan dengan arah vertikal, biasanya dilakukan ketika seorang petinju berada di jarak dekat dengan lawannya. Mantan juara kelas berat Mike Tyson terkenal dengan uppercutnya.



Tipe-tipe Petinju

"Style" sering didefinisikan sebagai pendekatan strategis tempur seorang petinju. Meskipun seorang petinju sukses sebaiknya dapat adaptasi terhadap berbagai macam cara bertempur musuh, tetap biasanya ada satu style yang ia paling suka. Tipe dan gaya  seorang petinju bertarung sesuai dengan  fisik serta mental invindu dan tidak ada dua petinju dengan gaya bertarung yang sama persis.


Boxer/Out-fighter
"boxer" atau  outfighter berusaha untuk menjaga jarak antara dirinya dan lawannya, berkelahi dengan mengandalkan pukulan yang lebih cepat dan berjangkauan panjang, seperti jab. Karena bergantung pada pukulan lemah, outfighter cenderung menang angka ketimbang dengan KO. Seorang out-fighter perlu jangkauan, kecepatan tangan, dan kelincahan kaki.
Oscar de la Hoya vs Floyd Mayweather
Contoh-contoh out-fighter adalah Muhammad Ali, Larry Holmes, Lennox Lewis, Sugar Ray Leonard, Oscar De La Hoya, dan Roy Jones Jr.

In-Fighter
In-fighter/pressure fighter mencoba untuk tetap dekat dengan lawan, selalu berusaha untuk tidak lebih dari selangkah diantara lawan. Seorang in-fighter  membutuhkan rahang yang kuat karena gaya bertarung tersebut harus menerima pukulan yang lebih banyak sebelum mereka memposisikan pas didepan muka lawan dimana mereka paling efektif. In-fighter umumnya bertubuh pendek dan memiliki jangkauan tangan kurang dari lawan mereka dan dengan demikian lebih efektif pada jarak pendek dimana lawan tidak mampu memanfaatkan jangkauan tangannya. Inti dari gaya ini adalah agresi non-stop dan petempuran jarak dekat.
Chavez vs Caberera

Contoh-contoh: Mike Tyson, Harry Greb, Jake Lamotta, Rocky Marciano, Joe Frazier, Jose Luis Castillo, Ricky Hatton dan Julio Cesar Chavez.

Brawler
Brawler adalah petarung yang tidak mengandalkan strategi tertentu dan memilik kemampuan teknik yang kurang. Brawler hanya mengandalkan power dan daya tahannya. Gaya bertarung ini bisa dibilang paling menarik untuk ditonton karena kekasaraannya dan keliarannya menghasilkan pertandingan yang penuh aksi dan sering berakhir dengan KO.
Micky Ward vs Arturo Gatti
Contoh-contoh: Arturo Gatti, Micky Ward, George Foreman, Jack Dempsey, Antonio Margarito, Ricardo Mayorga, Michael Katsidis dan Erik Morales.

Counterpuncher
Counterpuncher adalah  petinju yang mengandalkan kesalahan lawan mereka. Mereka menggunakan pertahanan mereka (defense) dengan baik  untuk menghindari atau memblokir serangan dan kemudian segera menyerang lawan dengan pukulan balasan (counterpunch). Untuk menjadi sukses menggunakan gaya ini harus memiliki refleks yang baik, taktik, akurasi pukulan, dan tangan yang cepat.

Floyd Mayweather vs Ricky Hatton

Contoh: Floyd Mayweather Jr., James Toney, Pernell Whitaker, Willie Pep, Bernard Hopkins, Juan Manuel Marquez, Jersey Joe Walcott, Wilfredo Benitez, dan Nicolino Locche.

Boxer-Puncher
Boxer-puncher sering dianggap sebagai gaya yang paling lengkap dan seimbang. Seorang boxer-puncher dapat bertarung dengan jarak jauh maupun dekat. Mereka mempunyai kemahiraan yang seimbang dalam teknik dan power. Mereka dapat mengandalkan strategi untuk menang angka maupun bertarung secara kasar untuk mendapat KO.
Contoh: Sugar Ray Robinson, Manny Pacquiao, Marvin Hagler, Thomas Hearns, Joe Louis, Roberto Duran, Alexis Arguello, dan Carlos Monzon.

Sejarah Tinju

Sejarah Awal
Pertandingan tinju digambarkan pada ukiran relief Sumeria (di Irak) dari 3000 SM, sedangkan ukiran dari  Mesir kuno 3000 SN menggambarkan petinju dan juga  penonton. Penggambaran lain dapat dilihat di Assyria, Babilonia (Sekarang Irak) dan seni Het. Bukti awal tinju semacam sarung tangan dapat ditemukan di Minoan Crete (c. 1500-900 SM), dan Sardinia. Juga  dipertimbangkan patung tinju pertama  berasal dari pegunungan Prama (c. 2.000-1.000 SM).

Sebelum abad 20

Broughton’s Rules (1743)
Catatan mengenai tinju kuno banyak yang hilang setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi. Namun, ada catatan rinci ditemukan di berbagai kota dan provinsi di Italia antara abad ke 12 dan 17. Ketika pemakaian pedang menjadi kurang umum, ada minat baru masyarakat dengan tinju. Olahraga ini kembali menjadi populer di Inggris selama awal abad 16 kadang-kadang disebut sebagai prizefighting.

Tinju pada awalnya tidak memiliki aturan tertulis. Tidak ada kelas berat ataupun wasit. Aturan tinju resmi yang pertama, disebut Broughton’s Rules (Aturan Broughton)  diperkenalkan oleh juara Jack Broughton pada 1743 demi keselamatan para petinju, setelah banyaknya petarung yang tewas ketika bertanding. Berdasarkan aturan ini jika seorang petinju jatuh (knockdown) dan tidak bisa melanjutkan setelah hitungan 30 detik, laga usai. Memukul seorang petinju yang jatuh dan memukul bawah pinggang dilarang. Broughton juga memperkenalkan penggunaan sarung tangan.

London Prize Ring rules (1838)
Pada 1838, London Prize Ring Rules diperkenalkan. Kemudian direvisi pada tahun 1853, mereka ditetapkan sebagai berikut:
  1. Perkelahian dilaksanakan dalam  arena berbentuk pesegi yang dikelilingi oleh tali.
  2. Jika seorang terjatuh, ia harus bangkit dalam waktu 30 detik.
  3. Menggigit, menyundul dan memukul di bawah sabuk dinyatakan pelanggaran..
Marquess of Queensberry rules (1867)

John Graham Chambers memperkenalkan Marquess of Queensberry Rules pada tahun 1867 yang digunakan sampai sekarang. Hal-hal yang diperkenalkan adalah ronde, waktu berjatuh dikurangkan dari 30 detik menjadi 10 detik, diperkenalkannya kelas berat, dll

Abad 20 

1900-1920

Johnson vs Jeffries (1909)
Pada awal abad kedua puluh, sebagian besar  dari dunia tinju hanya terjadi di Amerika Serikat dan Inggris. Juara diakui melalui konsesus terpopuler lalu dinyatakan dengan surat kabar, hal ini karena belum adanya badan organisasi untuk tinju. Petinju paling terkenal di era ini adalah juara kelas berat Jim Jeffries dan Bob Fitzsimmons, yang menjadi petinju pertama yang menjadi juara dalam 3 kelas: menengah (1892), kelas berat ringan (1903), dan berat (1897). Juara terkenal lainnya termasuk kelas berat ringan Philadelphia Jack O'Brien dan juara kelas tengah Tommy Ryan. Pada tanggal 12 Mei 1902 petinju kelas ringan Joe Gans menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi juara dunia, prestasi ini diikuti oleh sesama kulit hitam Jack Johnson yang juga menjadi pertama dari kaumnya yang berhasil memenangkan kejuaraan kelas berat pada tanggal 28 Desember 1908. Johnson menjadi figur yang sangat kontroversial karena sifatnya yang lantang dan arogan terhadap kaum kulit putih dalam masa yang sangat rasis dan diskriminatif. AS pada saat itu masih menempatkan ras kulit hitam sebagai kaum bawahan.

Pada masa ini tinju adalah olahraga terpopuler di AS, dan juaranya adalah selebriti paling terkenal di masanya. Pertandingan kejuaraan kerap menghasilkan semangat tinggi dari publik. Meskipun demikian, legalitas tinju masih dalam keadaan tidak jelas. Pada tahun 1900, negara bagian New York mengesahkan UU Lewis yang melarang olahraga tinju.


1920-1940

Jack "Manassa Mauler" Dempsey
Pada 1920-an, tinju tetap menjadi olahraga unggulan di AS, dan bintang terbesarnya pada masa ini adalah Jack Dempsey, yang menjadi juara dunia kelas berat setelah mendominasi Jess Willard dengan brutal. Dempsey juga dikenal dengan petarungannya melawan Luis Angel Firpo, serta kehidupannya yang mewah diluar ring. Dempsey mengakhiri karirnya dengan dua laga mengesankan melawan Gene Tunney, yang salah satunya menjadi acara olahraga pertama yang menghasilkan  1.000.000. dollar AS. Meskipun Tunney mendominasi kedua laga, Dempsey tetap lebih populer dimata publik, terutama setelah kontroversi dalam pertarungan kedua mereka. Pertarungan ini memperkenalkan aturan baru bahwa penghitungan lawan yang jatuh tidak akan dimulai sampai lawan yang berdiri pergi ke sudut netral.

Louis mengalahkan Schmelling dengan cara KO
New York State Athletic Commission mulai terlibat dalam dunia tinju pada tahun 1930-an. Juara yang terkenal pada era itu termasuk kelas berat dari Amerika, Joe Louis dan dari Jerman, Max Schmelling. Louismembalas kekalahan sebelumnya oleh Schmelling dengan KO di ronde pertama pada tahun 1938. Laga ini dianggap sebagai peristiwa yang signifikan dalam sejarah olahraga AS karena Louis, seorang pria kulit hitam berhasil mengalahkan Schmelling, petinju favorit Nazi Jerman yang pada saat  itu dikuasai oleh ideologi rasisnya Adolf Hitler. Louis juga disebut sebagai petinju dengan pukulan terhebat sepanjang masa oleh The Ring Magazine. Juga pada tahun 1938 Henry Armstrong menjadi  satu-satunya petinju yang memegang gelar di tiga kelas yang berbeda pada waktu yang sama (bulu, ringan, dan welter). Usahanya untuk memenangkan gelar kelas menengah gagal pada tahun 1940.

1940-1960

Lamotta vs Robinson
Perang Dunia II sedikit menghambat perjalanannya dunia tinju, banyak juara yang dipaksa daftar ke militer. Setelah perang usai, Louis melanjutkan karirnya, namun bintang-bintang baru muncul di kelas lain, seperti Willie Pep juara kelas bulu, yang memenangkan lebih dari 200 pertarungan dengan defensenya yang hebat, dan juga Sugar Ray Robinson, sering dianggap sebagai petinju terbaik sepanjang masa di kalangan penggemar dan ahli sejarah tinju. Robinson memegang gelar kelas welter dunia 1946-1951 dan kelas menengah  1951-1960. Dalam 123 pertandingan pertamanya, Robinson hanya dikalahkan sekali yaitu oleh Jake Lamotta, meskipun Robinson setelah itu membalas kekalahannya 5 kali. Lamotta dikenal sebagai salah satu petinju paling tahan banting, ia hanya terjatuh sekali dalam 106 pertandingan.  
Sayangnya, banyak laga di tahun 1940-an dan 1950-an telah dirusak oleh keterlibatan mafia, tetapi beberapa petinju seperti Robinson, Lamotta dan Carmen Basilio terang-terangan menolak pengaruh mafia.

Rocky "Brockton Blockbuster" Marciano
Sementara di kelas berat, Joe Louis mempertahankan gelarnya sampai dia pensiun di tahun 1949, setelah memegang kejuaraan dalam rekor terlama yaitu 11 tahun. Ezzard Charles dan Jersey Joe Walcott menggantikannya, namun mereka kalah tenar dengan Rocky Marciano, yang dengan catatan 49-0 menjadi satu-satunya juara dunia kelas berat yang tidak pernah kalah. Di antara lawan-lawannya adalah Archie Moore yang memegang gelar juara dunia kelas berat ringan selama sepuluh tahun dan mencetak rekor sebagai petinju dengan kemenangan KO terbanyak (131).




1960-1980

Pada awal 1960an tinju kelas berat didominasi oleh Sonny "The Big Bear" Liston yg mengalahkan hampir semua yang ia hadapi, termasuk mantan juara Floyd Patterson yang dia kalahkan dua kali dengan KO, dua-duanya dalam ronde pertama. Liston kesannya tidak dapat dikalahkan, namun ini sebelum ia bertemu seorang petinju muda bernama Cassius Clay. Dunia olahraga terguncang setelah Clay secara tidak didugakan berhasil mengalahkan Liston, lalu dalam pertandingan keduanya Clay mengalahkan Liston dengan KO di ronde pertama. Clay, yang merubah namanya menjadi Muhammad Ali, adalah tokoh paling legendaris dalam sejarah tinju, popularitasnya melampaui olahraga tinju sendiri dan ia digemari di semua sudut dunia. Pada tahun 1968, Ali menolak untuk dikirim ke perang Vietnam, melawan pemerintahan AS. Ia mengganggap perang dan membunuh bertolak belakang dengan kepercayaanya. Karena perlawannya ini gelarnya dicabut dan ia dilarang bertinju.
Ali menang KO
Setelah 3 tahun tidak aktif, Ali kembali ke dunia tinju. Pada tahun 1971 dia melawan Joe Frazier dalam laga yang sering disebut "Fight of The Century" meskipun Ali kalah angka, ia membalas kekalahannya dua kali setelah itu. Pertarugan tersebut sering dianggap sebagai awal dari "era emas" tinju kelas berat. Salah satu tokoh yang paling disegani di era tersebut adalah petinju George Foreman. Pada tahun 1974, Ali melawan Foreman di Zaire (Sekarang Congo) Foreman, yang lebih muda dan memiliki power yang hebat sangat diunggulkan. Apalagi setelah ia berhasil menaklukan dua petinju yang pernah mengalahkan Ali: Joe Frazier dan Ken Norton. Keduanya dengan KO di ronde kedua. Namun, Ali kembali mengejutkan dunia ketika ia menang TKO di ronde 8.

Sementara di kelas bawah, Carlos Monzon dari Argentina menguasai kelas tengah dengan 14 pertahanaan gelar. Sebuah rekor yang baru dipecahkan pada tahun 2001 oleh Bernard Hopkins. Juga di kelas ringan, seorang petinju asal Panama, Roberto Duran mendominasi dengan relatif mudah. Sesuai dengan julukannya: Manos de Piedra (Tangan Batu) Duran menaklukan 11 dari 12 pertinju yang mencoba merebut gelarnya.

1980-2000

Duran vs Leonard
Pada awal 1980-an Larry Holmes mendominasi kelas berat setelah mengalahkan Muhammad Ali. Kemampuannya yang jelas jauh diatas petinju lain membuat persaingan dalam tinju kelas berat membosankan. Sehingga perhatian publik berpindah ke kelas-kelas tengah, ini lah era yang disebut "Four Kings" dimana dunia tinju fokus terhadap 4 petinju yang melawan satu sama lain dalam pertarungan-pertarungan paling legendaris di sejarah tinju. Mereka adalah Roberto Duran, Thomas Hearns, Marvin Hagler, dan Sugar Ray Leonard. 

Pada tahun 1980 Roberto Durán, dikenal sebagai juara kelas ringan terbaik sepanjang masa, naik ke kelas welter dan merebut gelar dari juaranya, Sugar Ray Leonard. Namun, dalam pertandingan kedua mereka, Duran secara tiba-tiba berhenti bertarung dan menghentikan laga, ia tidak pernah menjelaskan mengapa dan alasannya untuk berhenti masih menjadi subjek diskusi para penggemar tinju sampai sekarang. Sementara, Leonard melanjutkan kesuksesannya dengan mengalahkan Thomas Hearns pada tahun 1981.

Pada tanggal 15 April 1985, juara kelas tengah Marvin Hagler melawan Thomas Hearns dalam pertandingan yang penuh aksi dan sering dianggap sebagai 3 ronde paling berkesan dalam sejarah tinju. Kedua petinju dimulai dari detik pertama menyerang satu sama lain dengan agresi non stop, sampai akhirnya Hagler menang TKO. Pada tahun 1987, Leonard berhasil merebut gelar kelas tengah dari Hagler dalam salah satu keputusan juri paling kontroversial. Hagler pensiun tidak lama setelah itu, melambangkan kemuakannya terhadap keputusan tersebut.

Setelah akhirnya masa Four Kings, seorang petinju kelas berat muncul sebagai bintang baru. Dijuluki "Iron Mike" Tyson menjadi juara dunia kelas berat termuda pada usia 20, ia juga bisa dibilang sebagai pertinju terpopuler sejak Ali. Tyson dikenal karena auranya yang ganas dan menyeramkan, mencerminkan juara-juara sebelumnya seperti Jack Dempsey dan Sonny Liston.

Sama seperti Liston, karir Tyson dilanda dengan banyak kontroversi. Ia dituduh melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap istrinya Robin Givens. Sementara itu, ia kehilangan gelarnya dari James Douglas, seorang petinju tidak dikenal dan memiliki kemampuan jelas dibawah Tyson. Namun, yang paling parah adalah tuduhan pemerkosaannya terhadap Desiree Washington. Pada tahun 1991 Tyson dipenjara karena pemerkosaan, dan keluar tiga tahun kemudian. Dengan Tyson lenyap dari dunia tinju, Evander Holyfield, Lennox Lewis dan Riddick Bowe muncul sebagai kelas berat terbaik di era 90an.


Oscar De la Hoya
Sementara itu, di kelas welter ringan, petinju legendaris asal Meksiko Julio César Chavez mencetak rekor kemenangan berturut-turut terpanjang yaitu 89-0 sebelum seri melawan Pernell Whitaker pada tahun 1993. Pada akhir 1990-an Chavez digantikan oleh peraih medali emas Olimpiade asal AS, Oscar De La Hoya, yang menjadi figur populer dan petinju tersukses secara finansial, karirnya diperkirakan menghasilkan sekitar 600 juta dolar. De la Hoya memenangkan kejuaraan dalam enam kelas berat, ia juga pernah mengalahkan beberapa petinju ternama seperti Chavez, Whitaker, Fernando Vargas, Ricardo Mayorga dan Ike Quartey.

Pada akhir 1990-an Mike Tyson muncul kembali di dunia tinju, namun ia lagi-lagi menerima kekalahan yang tak terduga ketika ia melawan Evander Holyfield pada tahun 1996. Kontroversi datang ketika mereka bertanding lagi pada tahun 1997, Tyson menggigit sepotong dari telinga Holyfield, ia di diskualifikasi, lisensi tinjunya dicabut selama satu tahun dan juga didenda 3 juta dollar AS. Setelah itu Holyfield memenangkan dua dari tiga sabuk gelar juara, tetapi kalah  pada tahun 1999 dengan juara WBC Lennox Lewis.

Tyson menggigit telinga Holyfield

 2000-sekarang

Klitscko bersaudara, Vitali dan Wladmir
Di dekade terakhir ini, popularitas tinju di AS menurun. Banyak yang menyangka ini disebabkan oleh lemahnya kelas berat zaman sekarang, dan juga kalah tenar dengan olahraga baru yaitu Mixed Martial Arts (MMA). Namun, ketenaran tinju justru meningkat di negara-negara diluar AS, terutama di Eropa dan Amerika Selatan. Ini dicerminkan dengan dominasi para pertinju asal Ukraina: Klitschko bersaudara di kelas berat.

Barrera vs Morales
 Sejak naik daunnya tinju di Amerika Selatan, terutama Meksiko, kelas-kelas rendah yang didominasi oleh ras latin seperti kelas bulu dan kelas bantam mendapat perhatian publik. Petinju-petinju seperti Juan Manuel Marquez, Marco Antonio Barrera, Erik Morales adalah beberapa dari bintang-bintang tinju tahun 2000an. Kelas yang lebih ringan melibatkan petinju yang lebih kecil dan cepat, karena itu juga menghasilkan banyak pertandingan penuh aksi. Banyak pertarungan paling terkenal dari masa ini melibatkan petinju asal latin seperti trilogi Barrera vs Morales, Marquez vs Diaz, Castillo vs Corrales dll.

Namun figur paling terkenal di masa ini adalah Manny Pacquiao dari Filipina. Pacquiao menakjubkan dunia tinju dengan memecahkan rekor juara di kelas terbanyak, tepatnya 8: Kelas terbang, bantam super, bulu, ringan yunior, ringan, welter yunior, welter, dan tengah yunior. Pacquiao juga mengalahkan banyak petinju-petinju ternama diantara lain Marco Antonio Barrera, Erik Morales, Juan Manuel Marquez, Shane Mosley, Ricky Hatton, Antonio Margarito, Miguel Cotto, dan Oscar de la Hoya.

Manny "Pacman" Pacquiao


Floyd "Money" Mayweather

Meskipun minatnya menurun, AS tetap menghasilkan banyak juara. Seperti Roy Jones Jr. dengan kombinasi power dan kecepatan yang hebat, dapat menguasai kelas tengah super dan berat ringan. Bernard Hopkins yang setelah memecahkan rekor sebagai juara kelas tengah terlama dengan 20 pertahanan, kembali mengejutkan dunia tinju dengan menjadi juara tertua di umur 47, setelah merebut gelar berat ringan dari Jean Pascal. Selain itu, Floyd Mayweather Jr. setelah mengalahkan Oscar de la Hoya, menggantikan posisinya sebagai petinju tersukses secara finansial. Mayweather  yang dikenal dengan defensenya yang hebat dan ucapannya yang sering mengundang kontroversi,  memenangkan kejuaraan di 5 kelas berat, ia juga mengalahkan nama-nama besar seperti diantaranya  de la Hoya, Jose Luis Castillo, Diego Corrales, Shane Mosley, Juan Manuel Marquez, Miguel Cotto dan Ricky Hatton. Pertarungan antara dua bintang terbesar tinju masa ini, Pacquiao dan Mayweather, sangat ditunggu-tunggu oleh banyak penggemar, namun tidak pernah terjadi karena dihalangi berbagai macam alasan dari kedua pihak.

Pada awal 2010an, seorang petinju muda dari AS, dan peraih medali emas olimpiade bernama Andre Ward menjadi sosok baru yang menarik di dunia tinju. Ia mengikuti turnamen kelas tengah super yang disebut Super Six World Boxing Classic, sebagai kontestan termuda diantara juara-juara yang berpengalaman, tidak ada yang menyangka Ward akan sukses di turnamen tersebut. Hebatnya, Ward berhasil memenangkan turnamen dengan kemahiran teknisnya serta keahliannya dalam mengatur taktik. Nama-nama besar yang ia kalahkan diantara lain adalah Mikkel Kessler, Carl Froch, Arthur Abraham dan Chad Dawson.

Ward, juara Super Six
Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar