Minggu, 23 September 2012

Tugas-5 Perkembangan Mumi

tubuh yang kekal dan abadi di dunia
Mumi merupakan mayat yang diawetkan dari dekomposisi agar bentuk tubuhnya tetap terjjaga, proses pengawetan dapat dilakukan oleh dua cara, yakni alami dan buatan.  Hal ini dapat dipenuhi dengan cara menyimpan mayat di tempat yang sangat kering, menyimpannya di tempat yang sangat dingin ataupun di tempat yang tidak ada oksigen. Selain itu bisa juga dengan cara memberi bahan kimiawi pada mayat yang akan diawetkan tersebut.
Mumi yang paling terkenal adalah mumi-mumi yang diawetkan dengan cara dibalsam, seperti mumi-mumi yang ditemukan di Negara Mesir dari zaman Mesir Kuno. Orang-orang pada Zaman Mesir Kuno mempercayai bahwa semua orang yang meninggal akan memasuki babak baru dalam kehidupan setelah kematian yang mereka anggap sangatlah penting. Sehhigga mayat-mayat tersebut mereka awetkan. Karena mereka juga percaya bahwa tubuh tersebut akan digunakan pada tahapan kehidupan setelah kematian tersebut.
Selain itu ditemukan pula mumi di Negara Cina yang berasal dari peti mati Spires yang tenggelam menggunakan tanaman obat-obatan.
Pada dasarnya ada berbagai teknik yang dikembangkan oleh orang yang pekerjaannya membuat mumi atau yang dikenal dengan sebutan embalmers. Pada awalnya mereka hanyalah membungkus mumi dengan banyak lilitan kain linen. Namun teknik ini adalah teknik yang digunakan sebelum mereka mengenal teknik pembalsaman. Hasilnya mumi menjadi belum maksimal dan gagal mencegah mayat mumi dari pembusukkan. Meskipun semua organ telah dikeluarkan dari dalam tubuh mayat mumi, namun hal ini tetap tidak berhasil seperti yang telah diharapkan.
Seiring dengan berkembangnya waktu para pembuat mumi sudah menemukan sebuah penemuan yang sangat penting. Yakni dengan merendamkan kain linen ke dalam serin membuat kain linen menjadi keras. Kain yang keras menjadikan sebuah cangkang pada mumi yang memiliki manfaat untuk melindungi mumi dari udara luar. Proses ini juga dapat mencetak wajah yang berada di dalam balutan kain linen menjadi lebi realistis. Namun tentunya hasil yang dicapai masih belum juga sempurna.
Namun seiring berkembangnya zaman, para pembuat mumi menemukan teknik yang lebih maju dari sebelumnya, yakni merendam kain linen pada resin, sehingga dapat membuat kain menjadi lebih keras dan memiliki fungsi seperti ‘cangkang’ yang dapat melindungi mumi dari udara luar. Dengan ditemukannya teknik ini, wajah mumi juga dapat tercetak lebih jelas. Namun tentu saja, teknik ini masih belum sempurna dan mencapai hasil yang maksimal, karena masih belum mengenal teknik pembalseman pada mumi.







Tahapan pertama pembuatan adalah tahapan pengeluaran otak. Pada Zaman Mesir Kuno mereka masih belum tahu betapa pentingnya fungsi otak sebagai salah satu organ vital manusia. Sehingga mereka menggunakan teknik yang terkesan sadis pada zaman sekarang. Pertama-tama para pembuat mumi akan memasukkan pengait melalui lubang hidung mayat, hingga tembus dan sampai pada otak mayat. Kemudian mereka akan memasukkan sebuah alat kecil yang terbuat dari besi berbentuk stik melalui hidung. Setelah alat ini menyentuh otak dari mayat, otak tersebut langsung diaduk oleh stik besi kecil tersebut sampai cair dan didamkan selama beberapa hari agar dapat dikeluarkan dari kepala melalui lubang hidung. Untuk memudahkan pengeluaran otak yang sudah cair tersebut, mayat diletakkan dalam posisi tengkurap dan kemudian cairan tersebut akan mengalir keluar melalui lubang hidung tersebut. Lalu setelah kepala mayat sudah benar-benar bersih dari otaknya, para pembuat mumi kemudian memasukkan kain linen melalui lubang hidung mayat, dan memasukkan cairan getak tumbuhan yang dikenal dengan sebutan resins ke dalam tengkorak mayat melalui lubang hidungnya juga.
Kemudian mereka akan merobek sisi perut sebelah kirinya untuk mengeluarkan organ-organ yang terdapat di dalam tubuh mayat, seperti usus, hati, lambung, paru-paru, ginjal dan sebagainya dengan tujuan untuk mencegah pembusukan di dalam tubuh mayat. Namun ada satu organ yang tidak dikeluarkan oleh para pembuat mayat dari tubuh mayat, yakni jantung. Mereka mempercayai kalau jantung merupakan organ yang paling vital dari manusia karena mereka berangapan kalau jantung merupakan sumber kecerdasan, perasaan, serta pemikiran.  Hal ini tentunya salah karena sebenarnya fungsi dari jantung adalah untuk memompa darah ke seluruh tubuh.Dan yang merupakan sumber kita berfikir, perasaam serta kecerdasan semua berasal dari otak. Sehingga mereka tetap membiarkannya di dalam tubuh mayat agar dapat tetap digunakan di tahapan kehidupan setelah kematian.
Organ-organ tubuh yang telah dikeluarkan tersebut kemudian dioleskan cairan natron atau anggur, setelah itu organ dikeringkan menggunakan natron padat. Natron adalah sebuah senyawa yang terbuat dari garam dan soda, dan senyawa ini telah ditemukan di Wadi Natrun dekat Cairo.  Jika tidak terdapat natron, maka fungsi natron dapat digantikan dengan garam.  Garam dapat digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengawetkan mayat. Karena kandungan dari dalam garam dan natron sama-sama memiliki fungsi seperti pasir yang terdapat di gurun yang panas, yakni zat-zat tersebut dapat meyerap cairan yang terdapat dari dalam tubuh dan menyebabkannya menjadi kering dan lebih mudah untuk diawetkan.
Lalu tubuh mayat yang tidak lagi memiliki organ dalam diletakkan diatas dipan yang tebuat dari batu. Setelah itu para pembuat mumi akan menaburi tubuh mayat tersebut dengan serbuk natron higga tidak ada lagi bagian yang tidak tertutupi oleh serbuk tersebut. Kemudian didiamkan selama kurang lebih empat puluh hari agar mayat bisa benar-benar kering serta bebas dari cairan. Dan lebih baik kalau ruangan terjaga terututup dan tidak dikunjungi karena masuknya udara dari ruangan luar dapat sangat berpengaruh pada proses pengeringan mayat tersebut. Suhu ruangan harus panas agar mayat dapat terdehidrasi denan lebih cepat. Kadang-kadang karena kondisinya yang sangatlah kering, tak jarang beberapa anggota tubuh menjadi lebih mudah terlepas atau copot. Jika hal ini terjadi para embalmers akan menggantikannya dengan membuat tiruan organ yang terlepas dasi kain linen, kayu atau bahkan emas. Hal ini karena mereka tidak ingin ada cacat sedikitpun pada tubuh mayat, sehingga setelah dibungkus, semua anggota tubuhnya lengkap.
Setelah benar-benar kering, tubuh dari calon mumi tersebut akan dibersihkan kembali dan diisi lagi dengan lebih banyak natron, kain linen yang teridir dari  berbagai rempah seperti myrrh, bubuk gergajian dari kayu dan lain sebagainya. Semua bahan ini dimasukkan melalui lubang tempat dikeluarkannya organ tubuh dari mayat tadi. Setelah seleai dimasukkan berbagai macam bahan, para pekerja mumi kemudian menjahit lubang di bagian kiri perut si mayat dengan rapih.
tubuh mumi lalu dibaluri oleh getah atau resins, untuk kemudian akan dibalut oleh kain rennin. Pada balutan kain tersebut, diletakkan berbagai macam jimat-jimat kepercayaan dari Zaman Mesir Kuno yang diyakini memiliki fungsi sebagai jimat pelindung. Setelah selesai, sebuah kain besar kemudian digunakan untuk menutup seluruh bagian tubuh mumi tersebut lalu diikat  dengan rapih menggunakan kain linen pula. Dan kini mayat sudah menjadi sebuah mumi.
Pada wajah mumi yang sudah tertutup dengan rapih oleh balutan kain linen tadi, sebuah topeng—yang telah dibuat menyerupai wajah dari mumi semasa hidupnya—diletakkan diatasnya. Bahan yang digunakan untuk membuat topeng itu adalah semacam papier marche, namun tak jarang juga ada topeng yang terbuat dari lempengan emas yang murni.
Dari banyak mumi, wajah mumi yang paling terkenal dan mendunia adalah wajah dari Fir’aun Tutankhamun. Topeng replica wajah Raja Tutankhamun terbuat dari emas murni. Topeng tersebut sudah dicetak sedemikian rupa dengan teknik yang ada pada masa itu sehingga sangat menyerupai wajah dari Raja Tutankhamun dengan sangat sempurna lengkap dengan semua perhiasan yang digunakan oleh Raja Tutankhamun pada semasa hidupnya memimpin menjadi seorang raja.
Mumi yang sudah sempurna kemudian diletakkan pada sebuah peti atau beberapa peti secara berturut-turut agar kemudian dapat disimpan di dalam sebuah sarcophagus.
Banyak ahli yang memperkirakan kalau pembuatan mumi memakan waktu yang lama yakni tujuh puluh hari atau bahkan lebih. Mereka berpendapat kalau pada empat puluh hari pertama merupakan waktu untuk mengeringkan tubuh dari mumi, dan tiga puluh hari kemudian merupakan waktu untuk membungkus mayat dengan kain linen. Dan proses mumifikaasi harus dilakukan di tempat yang bersuhu panas dan kering agar tubuh dapat terdehidrasi dengan cepat. Hingga kemudian mumi akan nampak keras, kering, berwarna coklat gelap, kriput dan tidak membusuk. Dan ini berarti pemakaman mayat dilakukan sekitar dua bulan setelah meninggalnya mayat dari mumi tersebut.
Pada masa itu, pihak yang mampu untuk mengurus pembuatan mumi hanyalah orang-orang dari golongan kerajaan, golongan bangsawan dan orang-orang yang kaya. Orang-orang yang berasal dari golongan biasa saja hanya mampu memberikan garam pada tubuh mayat, dan organ-organ tubuh tidak dikeluarkan dari jasad mumi tersebut. Mereka juga tidak menggunakan bahan berupa rempah-rempah seperti myrrh yang tentunya tidaklah murah untuk kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti yang jauh lebih sederhana dari yang biasa kita lihat dan ketahui selama ini. Karena biasanya yang kita lihat merupakan peti-peti yang digunakan oleh para Raja Mesir Kuno.
Kini banyak sekali orang yang meneliti tentang mumi. Seorang supir taksi yang bernama Alan Bills dari Inggris—yang telah wafat diusianya yang keenam puluh satu karena kanker paru-paru—rela menyumbangkan tubuhnya untuk dijadikan bahan penelitian pembuatan mumi, untung mengungkap rahasia pembuatan mumi. Tubuhnya akan diawetkan sama halnya dengan Raja Tutankhamun yang berhasil diawetkan selama tiga ribu tahun sejak ia meninggal. Proses pembuatan mumi ini dimulai pada Selasa, 18 Oktober 2011. Proses pembalseman dirinya ditayangkan langsung di televisi dan diberitakan oleh media massa setempat.
Proses pembuatan mumi dari era modern ini tentunya juga memakan waktu yang cukup lama, yakni beberapa bulan. Dimulai dari proses dikeluarkannya organ tubuh dari mayat Alan Bills hingga dioleskannya garam kaulis pada tubuh Alan Bills agar dihilangkan kelembaban pada tubuhnya, sebelum kemudian tubuhnya dibalut dengan kain linen.
Setelah semua proses mumifikasi selesai dengan sempurna, mumi dari Alan Bills kemudian akan dipajang di Universitas Sheffield, Inggris untuk tujuan penelitian selanjutnya.
Istri dari Alan Bills yang bernama Jan merasa sangat beruntung karena bisa menjadi salah satu dari sekian banyak wanita di dunia yang bisa memiliki suami yang dijadikan sebuah mumi.
Seiring berkembangnya waktu para arkeolog sudah banyak yang meneliti soal mumi, beberapa dari makam mumi-mumi dari zaman mesir kuno berhasil ditemukan. Namun banyak sekali cerita mengenai “kutukan mumi” yang kini sudah menduia. Cerita-cerita ini tidak hanya berkembang begitu saja, namun diikuti pula oleh peristiwa-peristiwa yang mendukung adanya “kutukan mumi” tersebut seiring dengan semakin majunya zaman.
Banyak orang yang berburu makam Tutankhamun agar dapat bertemu dengan mumi dari raja tersebut. Proses pencarian tersebut memakan waktu yang lama—bertahun-tahun—pada proses penggalian. Hingga akhrinya pada tahun 1922, seorang arkeolog bernama Earl Carnavon bersama Harold Carter berhasil menemukan makam dan mumi dari Raja Tutankhamun. Namun proses peggalian tersebut terpaksa dihentikan karena banyaknya tekanan untuk menentukan siapa yang berhak memiliki harta yang ditemukan bersama mumi tersebut. Hingga akhirnya Caravon akhirnya memutuskan untuk kembali ke Inggris. Dan dikabarkan kondisinya memburuk—ia seringkali terserang demam hingga pada akhirnya ia dan istri serta anaknya memutuskan untuk kembali lagi ke Cairo, Mesir. Saat itu kondisi dari Carter juga dikabari memburuk dan ia memutuskan untuk kembali juga kepada keluarganya.
Caravon kemudian mengalami koma sebelum pada akhirnya wafat pada 5 April 1923 pada usia lima puluh tujuh tahun. Dan pada saat itu kota Cairo diliputi kegelapan. Dan sejak saat itulah berkembang “kutukan” Raja Tutankhamun yang dipercaya telah memakan jiwa dari Caravon hanya setelah dua bulan ditemukannya mayat dari Raja Tuthankhamun.
Selain itu hal lain yang mengejutkan banyak orang adalah ditemukannya sebuah tulisan di dinding jalan menuju tempat disimpannya mumi Tuthankhamun yang bertuliskan “Maut akan menjemput orang yang menyentuh mayat ini.”
Selain Lord Caravon, ada banyak orang yang turut meninggal seperti beberapa orang arkeolog dan turis-turis. Mereka rata-rata meninggal dalam kondisi yang mengenaskan dan aneh.
Sejumlah peneliti mencoba mencari jawaban yang lebih rasional dari sekedar kata “kutukan”. Mereka menduga jamur yang menempel pada dinding menyebabkan terjadinya alergi serta infeksi pada siapa yang melaluinya. Dan dari situ munculah dugaan kalau orang mesir membuat racun yang dapat mencegah orang untuk mencapai mumi dari raja mereka.
Pada tahun 1980, para kru tv di Inggris mulai membuat film yang berjudul “Kutukan Raja Tut”. Namun tentu saja pembuatan film ini tidak berjalan dengan mulus. Hal ini terbukti dengan patahnya kaki pemeran utama dari film ini di Sembilan tempat. Peristiwa ini terjadi karena mobil yang dikendarainya meluncur dari bibir bukit.
Perannya kemudian digantikan namun kru yang bertugas tidak mau bekerja sama lagi dikarenakan “kutukan” yang menimpa mereka.
Selain berkembangnya isu “kutukan mumi” sekarang juga sudah ada musium mumi yang bernuansa modern yang dapat ditemukan di Meksiko.
Musium ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para penunjungnya, sehingga banyak pengunjung yang kerap datang untuk sekedar melihat-lihat mumi. Selain itu mereka bisa mempelajari juga serba-serbi mumi dengan melihat objek-objek yang mereka pajang tanpa perlu ada rasa takut karena semuanya bernuansa modern dan tidak dipenuhi oleh “kutukan mumi” yang terdengar sebelumnya.
Hal yang paling menarik dari para mumi ini adalah ekspresi serta mimik wajah yang ditampilkan oleh para mumi yang dipajang di musium ini. Selain itu kondisi mumi juga terlihat masih sangat bagus.
Puluhan mumi yang ada disini terbentuk karena adanya proses mumifikasi yang diakibatkan oleh wabah penyakit kolerabdi kota Guanajuato pada tahun 1883, yang kemudian dipamerkan di Monterrey, Meksiko.
Para peneliti menyebutkan kalau proses mumifikasi yang dialami oleh mumi-mumi modern ini terjadi karena factor-faktor alami yakni factor kelembaban dan iklim Meksiko yang sangat cocok bagi pembentukan mumi modern ini.
Saat Halloween tiba pun, banyak sekali anak-anak yang berkeliling mengenakan kostum mumi yang mereka buat sendir dengan menggunakan tisu gulung yang mereka lilitkan di badan mereka sehingga mereka terlihat seperti mumi. Namun ada beberapa orang yang salah mengira kalau mumi adalah zombi.
Kini mumi juga terkenal sebagai model-model horror yang digunakan di berbagai film, novel serta cerita-cerita yang berkembang di masyarakat. Banyak orang yang menggunakan kata mumi untuk menakut-nakuti orang atau anak kecil sehingga banyak orang yang  merasa ngeri saat mendengar kata muni. Tetapi hal ini tentunya tidak benar, karena mumi sebenarnya tak lain adalah orang-orang wafat yang mayatnya diawetkan karena tujuan tertentu seperti penelitian atau budaya kepercayaan dari mereka sendiri.

Referensi:
Misterius-misterius.blogspot.com
yohanes29.wordpress.com
wisata.kompasiana.com
mellbiruu.blogspot.com



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar