Minggu, 09 September 2012

Tugas-5 Perkembangan Kereta Api


“Berkelana dengan Kereta Api”
“Naik kereta api
Tut...tut....tuut..
Siapa hendak turut

Ke Bandung, Surabaya,
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama”

            Berkeliling, bepergian, menelusuri suatu tempat di dunia ini adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. Terutama mendatangi tempat-tempat baru yang berjarak jauh dari tempat kita berdiri saat ini. Manusia membutuhkan alat bantu untuk bepergian, baik untuk jarak jauh maupun dekat. Kini, berbagai macam alat transportasi disuguhkan. Mulai dari becak, sepeda, mobil, hingga pesawat terbang sekalipun.
            Lagu kanak-kanak di atas meningatkan kita pada kereta api. Bagi sebagian orang, bepergian dengan menggunakan kereta api memiliki kenangan tersendiri, dibandingkan dengan alat transportasi yang lain. Mengapa? Banyak yang mengaku kereta api memiliki caranya sendiri, membawa penumpangnya ke tempat yang mereka tuju. Jalur yang dipilih, seolah membawa kita ke suatu tempat lain yang berbeda, begitu kata mereka.

Perkembangan Kereta Api
Kereta yang ditarik Kuda
            Perkembangan transportasi kereta api menggunakan jalan rel bermula dari dikembangkannya usaha untuk meningkatkan pelayanan transportasi yang meliputi antara lain kuantitas pengangkutan, kecepatan perjalanan, dan keawetan sarana prasarananya. Awal mula terciptanya jalan rel bisa dikatakan bermula di Inggris pada tahun 1630, abad ke 17, yaitu dengan adanya pengangkutan batu bara. Hasil penambangan batu bara semula diangkut dengan kereta yang ditarik kuda. Terdapat dua masalah berkaitan dengan penggunaan kereta yang ditarik kuda ini, yaitu jalan yang dilalui cepat rusak dan kapasitas angkut yang rendah.
            Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, pada jalan yang dilalui dipasang balok-balok kayu membujur, dengan maksud dapat memberikan landasan yang lebih kuat dan memperkecil hambatan antara roda dan permukaan jalannya. Dengan memasang balok-balok kayu membujur tersebut kapasitas angkut seekor kuda yang menarik kereta bisa meningkat.
            Balok-balok kayu membujur ini ternyata masih juga cepat rusak, baik oleh cuaca maupun oleh beban kereta. Maka, balok-balok kayu ini berikutnya diganti dengan bantalan besi. Penggantian dengan bahan dasar besi ini dimaksudkan untuk mengurangi gesekan ketika gerbong-gerbong kereta bergerak. Meskipun sudah menggunakan batang besi, tetapi dengan masih digunakannya bentuk roda biasa, masih terjadi melesetnya roda keluar dari batang besi. Untuk menghindari melesetnya roda tersebut maka roda-roda diberi flens (flange), yang terjadi pada tahun 1789.

Pengangkut Barang Tambang
            Akibat dari penggunaan flens pada roda ini mengakibatkan kendaraannya tidak dapat digunakan di jalan raya biasa, sejak itulah terjadi perbedaan antara jalan raya dan jalan yang menggunakan batang besi atau jalan rel. Selanjutnya, sepur kereta ini dibangun untuk menghubungkan tambang batu bara ke tempat pengecoran besi atau perairan pedalaman yang paling dekat dengan pelabuhan laut untuk memudahkan pengangkutan barang-barang tambang lainnya.
            Pada tahap ini, kereta api belum dapat dikategorikan sebagai angkutan umum. Kereta api dibangun dan dimiliki hanya untuk menyediakan pelayanan khusus angkutan batu bara dari tempat penambangan sampai pada tempat pengecoran besi atau sampai pada pelabuhan atau perairan pedalaman yang jaraknya relatif dekat.
         Penerapan pertama dilakukan pada kereta api yang dibangun dari Stockton ke Darlington yang menghubungkan tambang batu bara di Darlington ke pelabuhan laut Stockton yang menpunyai jarak 20 km. Hal tersebut merupakan suatu keberhasilan komersial yang segera dan dalam waktu yang sangat singkat telah menyebabkan dibangunnya ratusan perusahaan kereta api di seluruh dunia. Walaupun pada mulanya kereta api dikembangkan untuk angkutan barang, perusahaan-perusahaan komersial segera menyadari bahwa terdapat pula permintaan yang besar untuk angkutan penumpang.
            Kira-kira abad ke 18, teknis mesin uap yang ditemukan oleh seorang mekanis dari Skotlandia, James Watt, yang sedang berkembang pada masa itu, mulai dicoba untuk diterapkan pada mesin kereta api. Hingga akhirnya, mesin uap berhasil dimanfaatkan sebagai tenaga penggerak kereta api dengan tujuan untuk menyediakan sumber tenaga bagi industri. James Watt sendiri mempatenkan desain kereta api uapnya.
Model mesin Trevithick
            Tahun 1794, model kereta api uap pertama mulai berfungsi, yang di desain oleh John Fitch di Amerika Serikat. Sepuluh tahun kemudian, kereta api uap pertama digunakan di Inggris, hasil kerja keras Richard Trevithick, seorang ilmuwan Inggris. Tanggal 21 Februari di tahun yang sama, perjalanan di dunia dengan menggunakan moda transportasi kereta api dilakukan. Perjalanan ini dimulai di Selatan Wales. Namun, kerja keras Richard Trevithik ini tidak membuahkan hasil besar karena kurangnya penghargaan dari masyarakat di sekitarnya.
            Hingga sewindu setelahnya, kereta api merupakan benda yang memiliki nilai komersil buatan Matthew Murray, yang dinamakan Salamanca. Selanjutnya, Christopher Blackett dan William Hedley mengembangkan Puffing Billy, untuk sebuah perusahaan bidang kereta api pertama, Wylam Colliery Railway. Kini, Puffing Billy tersimpan di Science Museum yang terletak di London, sebagai lokomotif tertua yang masih ada.
            Kereta Api terus berkembang dengan segala nilai-nilai plusnya. George Stephenson, yang terinspirasi dari Trevithick, Hedley, dan Murray, kembali menyempurnakan desain lokomotif uap. Hasilnya, terbentuklah Bl├╝cher, salah satu lokomotif pertama yang sukses dengan adhesi roda flanged.
            Pada awal abad XIX kereta di atas rel mulai ditarik oleh kendaraan yang dijalankan dengan mesin (lokomotif) uap. pada masa-masa tersebut jalan rel mulai pula dibangun di beberapa negara, seperti Perancis, Jerman, Belgia, Belanda, Rusia, Austria, termasuk Indonesia. Perkembangan kereta api baik sarana maupun prasarananya terus berjalan. Pengembangan dalam hal kecepatan, pelayanan, keselamatan, efisensi, dan kenyamanan terus pula dilakukan, hal ini seiring pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Tahun 1881, jalur tram elektrik pertama berhasil dioperasikan dan secara resmi dibuka di Lichterfelde, dekat Berlin, Jerman, yang dibangun oleh Werner von Siemens. Tujuh tahun kemudian, pada Januari tahun 1888, Frank Sprague membangun jalur kereta listrik di Richmond, Virginia. Sekitar tahun 1890-an, penggunaan jalur kereta api listrik mulai merambah dan praktis, diikuti oleh ekstensifikasi kereta api bawah tanah.
            Di kota-kota besar seperti London, New York, dan Paris mulai membangun sistem subway. Ketika propulsi elektrik menjadi praktis, kebanyakan jalur kereta api di jalanan ikut diubah dengan basis elektrik, yang selanjutnya dikenal dengan "streetcars", "trolleys", "trams" dan "Strassenbahn".
            Di Amerika Serikat, sistem streetcars mulai dibangun sebagai sistem angkut antar pusat kota. Di negara bagian Illinois, Indiana, Ohio, Pennsylvania dan New York kebanyakan sistem tersebut dibangun. Di Selatan California, Pacific Electric Railway menyambungkan hampir semuat kota di Los Angeles, Inland Empire, dan Orange Countries. Sistem serupa juga terdapat di negara-negara Eropa. Salah satu yang terkenal terdapat di Belgia, yang menyambungkan setiap kota. Di Asia, Hong Kong Tramways berhasil menerapkan sistem yang sama tahun 1904 secara eksklusif, dan mulai mengembangkan kereta tingkat.
            Sistem di atas masih digunakan hingga sekarang. Tentu saja dengan beberapa perkembangan, mengikuti kebutuhan masyarakat kota besar pada khususnya. Kini, tram sudah dimodernisasikan untuk menjadi bagian dari “transit cepat” kaum urban. Dalam kurun waktu 30 tahun, jumlah kota yang menggunakan rel elektrik mulai berkurang karena memulai pembangunan “light rail” pada pertengahan abad 20.
            Lokomotif diesel-elektrik mulai dikembangkan selanjutnya, meggantikan lokomotif uap. Hal ini didasarkan atas penggunaannya yang lebih bersih, lebih efisien, dan membutuhkan perawatan yang lebih sederhana. Penggunaannya pun lebih sederhana. Setelah bekerja melewati kesulitan teknis, di awal 1900-an, lokomotif diesel menjadi terkenal setelah Perang Dunia II. Lokomotif diesel-listrik mulai digunakan di New Jersey tahun 1925, kereta diesel-listrik untuk penumpang bentuk streamline mulai meluncur di Amerika tahun 1934. Tahun 1970-an, kereta diesel dan tenaga elektrik menggantikan sistem uap hampir di seluruh dunia.
Peta Jalur Kereta Api India, 1940-an
            Medio 1940-an, India merupakan negara keempat dengan jaringan rel kereta api terpanjang di dunia. Berkembangnya jalur kereta api di India sendiri dikarenakan pengaruh Inggris yang memang sedang dalam masa penjajahan di India waktu itu. Perkembangan industri India sendiri terhambat hingga kemerdekaannya tahun 1947, menyesuaikan dengan peraturan yang dibuat oleh Inggris.
            Sistem pengendalian kereta api sebagai angkutan penumpang terus berkembang. Tidak hanya di benua Amerika maupun Eropa, pengembang kereta api di Asia mulai menunjukkan keahliannya. Tahun 1964, jalur kereta Shinkansen di antara kota Tokyo dengan Osaka di Jepang dibuka. Sinkansen adalah kereta cepat yang dapat menempuh kecepatan hingga 300 km/jam.
            Kereta serupa dengan nama yang berbeda juga dikembangkan di Spanyol, Perancis, Jerman, Italia, Republik Rakyat Cina, Taiwan, Britania Raya, Korea Selatan, Skandinavia, Belgia, dan Belanda. Konstruksi rel-rel kereta ini sudah menghasilkan jalur-jalur yang fantastis jauhnya. Seperti contohnya koridor kota London-Paris-Brussels, Madrid-Barcelona, dan jalur besar dan terkenal lainnya.
            Masyarakat benua Eropa sendiri terkenal sebagai pengguna kereta api terbanyak. Dikarenakan benuanya yang berukuran kecil, hampir seluruh negaranya tersambung melalui jalur kereta api. Hal ini jugalah yang membuat Eropa terkenal di mata wisatawan dunia. Penggunaan kereta api dirasakan lebih nyaman, berbiaya relatif lebih murah, dan berkesan dibanding perjalanan udara atau laut.
            Perkembangan terus berjalan, termasuk dalam rancang bangun, teknologi komunikasi dan informasi, dan teknologi bahan. Hal ini membawa pula perkembangan sarana dan prasarana kereta api, misalnya kereta api super cepat, kereta api monorail (dengan satu rel), kereta api levitasi magnetik (maglev), dan kereta api pengangkut berat. Begitu pula perkembangan dalam teknologi penggeraknya, misalnya lokomotif diesel, diesel-listrik dan penggerak listrik. Teknologi persinyalan juga berkembang sehingga tidak hanya digunakan sinyal mekanis tetapi juga sinyal elektris.

Perkembangan Kereta Api di Indonesia

Pembangunan Rel Kereta Api Indonesia Zaman Penjajahan
            Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, kereta api di Indonesia mucul pada abad ke 19, dalam bentuk kereta yang ditarik oleh lokomotif uap. Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen hari Jumat tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung yang jaraknya kurang lebih 26 kilometer. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada Hari Sabtu, 10 Agustus 1867.
Stasiun Kereta Api Semarang
            Keberhasilan pihak NV. NISM membangun jalan kereta api ini dilanjutkan. Tanggal 10 Februari 1870 rel kereta api lainnya dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta sejauh 110 kilometer. Dengan kesuksesan ini akhirnya banyak investor yang terdorong minatnya untuk membangun jalan kereta api di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara tahun 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Dari panjang hanya 25 kilometer di tahun 1864, berkembang menjadi 3.338 kilometer di penghujung abad ke 19.
            Selain di Pulau Jawa, pembangunan jalan kereta api juga dilakukan di Aceh di tahun 1874, Sumatera Utara pada 1886, Sumatera Barat tahun 1891, dan di Sumatera Selatan pada tahun 1914. Tahun 1922, pembangunan jalan kereta api berlanjut hingga Celebes, Pulau Sulawasi. Jalan kereta api di Sulawesi ini menghubungkan jarak 47 Km antara Makasar dengan Takalar, yang pengoperasiannya mulai dilakukan tanggal 1 Juli 1923. Sedangkan di Pulau Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi mengenai jalan kereta api jalur Pontianak-Sambas sejauh 220 Km sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi pembangunan jalan kereta api.
            Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan kereta api di Indonesia mencapai 6.811 kilometer. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 kilometer. Hilangnya kurang lebih 901 kilometer ini diperkirakan disebabkan oleh pembongkaran yang dilakukan oleh Jepang, semasa masa penjajahannya di Indonesia. Bongkaran jalan kereta api ini kemudian diangkut Jepang ke Myanmar (dulu Burma) untuk membangun jalan kereta api di sana.
            Semasa pendudukannya di Indonesia (tahun 1942-1943), Jepang juga ikut berkontribusi membangun jalur kereta api. Sepanjang 83 kilometer jalur kereta api antara kota Bayah-Cikara dibangun dan 220 kilometer antara Muaro-Pekanbaru.
                Ironisnya, Jepang membangun jalan kereta api jalur Muaro-Pekanbaru dengan menggunakan teknologi seadanya dan menggunakan tenaga penduduk Indonesia. Jalur Muaro-Pekanbaru saat itu diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang memperkerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang hingga kini makamnya bertebaran sepanjang Muaro- Pekanbaru.
            Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya dengan diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam "Angkatan Moeda Kereta Api" (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 28 September 1945. Di hari itu, AMKA menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperkenankan lagi campur tangan dengan urusan perkeretaapian di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya "Djawatan Kereta Api Republik Indonesia" (DKARI).
            Kini, animo masyarakat Indonesia untuk menggunakan kereta api dalam bepergian jarak menengah kembali menggeliat. Meskipun banyak yang sudah beralih ke penggunaan kendaraan pribadi, kendaraan udara atau laut, nama kereta api masih terpatri bagi kebanyakan orang.
            “...Ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama..”

Sumber :
http://elizareally.wordpress.com/ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar