Selasa, 04 September 2012

Tugas-5 Perkembangan Ilmu Astronomi


Cerita di Balik Ilmu Penghias Langit
 

Astronomi – ketika mendengarnya, spontan bintang-bintang gemerlap di langit gelap terbayang di kepala. Astronomi merupakan ilmu alam yang membahas evolusi, unsur kimia, dan perpindahan benda langit serta fenomena yang terjadi di luar atmosfir Bumi. Ilmu ini merupakan salah satu ilmu tertua yang ada di muka Bumi. Mayoritas budaya kuno menghubungkan astronomi dengan kepercayaan dan roh. Sebagai buktinya, telah ditemukan banyak artefak astronomi prasejarah, seperti piramida-piramida Mesir.


MESOPOTAMIA

Astronomi dapat ditemukan di Mesopotamia, yang terletak di antara Sungai Tigris dan Sungai Efrat. Mesopotamia merupakan tempat terletaknya Kerajaan Sumeria, Asyur, dan Babilonia. Sumber pengetahuan di wilayah ini pada zaman dahulu ditulis dengan aksara Kuneiform.

Pengetahuan dunia mengenai kegiatan astronomi Kerajaan Sumeria didapat melalui katalog bintang Babilonia yang ditulis sekitar tahun 1200 SM. Para ahli menemukan bahwa banyak terdapat bintang yang dinamai dengan bahasa Sumeria. Sumber klasik sering juga menyebut astronom Mesopotamia dengan panggilan “kaldim”. Pada kenyataannya, para kaldim terbukti merupakan ahli di bidang astrologi.

Terdapat tablet-tablet yang berisi tulisan dengan aksara Kuneiform dari masa Babilonia Kuno yang mendokumentasikan pengaplikasian ilmu matematika untuk menggambarkan variasi panjang hari pada tahun solar. Hasil observasi Bangsa Babilonia terhadap fenomena benda langit terekam pada sekumpulan tablet Kuneiform yang disebut juga Enūma Anu Enlil. Tablet tertuanya merupakan Tablet 63, yakni tablet milik Raja Ammi-Saduqa, yang berisi tentang penampakkan Venus pertama dan terakhir selama 21 tahun, dan juga bukti pertama yang menggambarkan fenomena planet secara periodik. Terdapat juga MUL.APIN, yaitu katalog bintang yang menggambarkan penampakkan heolikal – saat ketika bintang dapat terlihat di langit setelah lama tak terlihat, biasanya setelah matahari terbit – serta menjelaskan letak planet dan panjang hari. Pada masa Nabonassar (747-733 SM), kaum Babilonia telah menemukan siklus 18 tahun gerhana bulan. Salah satu astronom Babilonia yang terkenal adalah Seleukus, yang merupakan pendukung teori heliosentris.



Tablet astronomi Mesopotamia


MESIR

Orientasi piramida-piramida Mesir yang tepat mampu mendemonstrasikan kemampuan teknis tingkat tinggi dalam pengamatan langit sejak milenium ke-3 SM. Kumpulan piramida tersebut terlentang pada satu garis lurus menghadap bintang kutub yang pada saat itu adalah Thuban, bintang pada rasi Draco.

Evaluasi pada kuil Amun-Re di Karnak menunjukkan bahwa Piramida Besar terletak dalam satu garis lurus dengan penampakkan midwinter sun, yaitu ketika Matahari terletak paling jauh dari garis khatulistiwa. Selain pada saat tersebut, koridor tempat jatuhnya sinar Matahari akan mendapatkan pemasukan cahaya yang terbatas.

Di Mesir, terdapat beberapa buku dari kuil yang menjelaskan hasil observasi pergerakan serta fase matahari, bulan, dan bintang. Penampakkan bintang Sirius, bintang yang paling terang, pada setiap permulaan banjir tahunan merupakan salah satu contoh fungsi astronomi dalam penentuan waktu.

Karya Klemens dari Aleksandria pada zaman Romawi diterjemahkan oleh para ahli yang memperkirakan bahwa terdapat pengamat Mesir yang pada malam hari menggunakan bandul timbang tegak lurus dan instrumen pengamat menghadap ahli nujum dengan posisi yang menempatkan bintang kutub tepat di atas tengah kepalanya. Perkiraan tersebut didasari penjelasan pada tabel bintang di langit-langit makam Ramses VI dan Ramses IX, yang menjelaskan posisi-posisi bintang.


Susunan astronomis piramida-piramida Mesir



YUNANI DAN DUNIA HELLENISTIK
 
Yunani Kuno beranggapan bahwa astronomi merupakan sebuah cabang dari ilmu matematika. Perkembangan astronomi di Yunani dimulai pada abad ke-4 SM, dengan dikembangkannya model geometris tiga dimensi pertama oleh Eudoxus dari Cnidus dan Callippus dari Cyzikus. Model tersebut berguna untuk menjelaskan pergerakan planet-planet. Kemudian, astronom Yunani selanjutnya yang bernama Heraclides Ponticus menyatakan bahwa Bumi berotasi pada porosnya.

Pendekatan mengenai fenomena benda langit juga dinyatakan oleh filusuf alam seperti Plato. Pada karyanya yang berjudul “Timaeus”, Plato mendeskripsikan alam semesta sebagai badan berbentuk bola yang terbagi menjadi lingkaran-lingkaran yang menyandang planet.

Astronomi geometris Yunani Kuno dikenal dengan teorinya yang bernama epicycle. Model dengan teori ini dibuat oleh Apollonius dari Perga. Astronom tersebut juga berkontribusi dalam kompilasi dari katalog bintang pertama.

Perkembangan sains di Yunani Kuno yang berlangsung pada abad ke-3 dan ke-2 SM ini tidak hanya terjadi di Yunani, tapi juga di negara-negara bagian Hellenistik dan sebagian Aleksandria. Misalnya, dengan menggunakan sudut-sudut bayangan yang dibuat pada wilayah-wilayah yang terpisah jauh, Eratosthenes berhasil memperkirakan lingkaran perputaran Bumi dengan akurat.

Mekanisme Antikythera, yaitu alat observasi astronomi untuk menghitung pergerakan Matahari dan Bulan yang kira-kira dibuat pada tahun 150-100 SM, merupakan komputer astronomis pertama di dunia. Benda ini ditemukan di serpihan kapal yang terdampar di Pulau Antikythera, sebuah pulau Yunani.

Bukti utama yang menyatakan bahwa penemuan juga ditemukan di sekitar Yunani adalah tokoh terkenal yang berasal dari Aleksandria, yakni Ptolemaeus. Karyanya yang berjudul “Megale Syntaxis” – yang lebih dikenal dengan nama Arabnya, “Almages” – mempresentasikan astronomi geosentris yang berpengaruh besar terhadap astronomi sampai Masa Renaisans.


Ptolemaeus

INDIA

Astrologi di India Kuno didasari dengan perhitungan “sidereal”. Astronomi sidereal adalah astronomi berdasarkan bintang-bintang, dan periode sidereal adalah panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi Matahari dalam satu putaran penuh . Hal ini dapat diketahui dengan menemukannya tokoh Vedanga Jyotisha dan dokumen Lagadha, yang menjelaskan aturan-aturan untuk mengikuti jejak pergerakkan Matahari dan Bulan untuk ritual.

Aryabhata (476-550), pada karyanya “Aryabhatiya”, mempersembahkan sistem komputasi yang didasari oleh model planet, yang menjelaskan bahwa Bumi berputar pada porosnya. Ia menghitung banyak konstanta astronomis, seperti periode planet serta waktu solar dan gerhana bulan. Model-model lanjutan dari model Aryabhata adalah Varahamihira, Brahmagupta, dan Bhaskara II.

Astronomi di India berkembang pada masa Kerajaan Sunga, ketika terdapat perkembangan dalam perhitungan pergerakan dan tempat beberapa planet, serta letak dan penampakannya. Terdapat juga perkembangan perhitungan gerhana.

Nilakantha Somayaji merupakan astronom India Kuno lain yang menulis karya yang berjudul “Aryabhatiyabhasya”. Karya ini berisi tentang pendapatnya mengenai Aryabhatiya, serta penemuan sistem komputasi pribadinya yang merupakan sebagian model planet heliosentris.

Alat peraga astronomi untuk mengukur, dengan angka Hindu-Arab


CINA

Perkembangan astronomi di Asia Timur di mulai di Cina. Istilah solar ditemukan pada sebuah zaman di penghujung Dinasti Zhou. Sejarah astronomi di negeri ini dimulai dari hasil observasi astronomis abad ke-6 SM , sampai penemuan astronomi Barat dan teleskop pada abad ke-17.

Astronom Cina terkenal dengan kemampuannya memperkirakan gerhana dengan tepat. Ilmu astronomi di Cina digunakan untuk perhitungan waktu, seperti pembuatan kalender lunisolar. Katalong bintang pertama di dunia juga di buat oleh astronom Cina, Gan De, pada abad ke-4 SM.

Peta bintang Su Song


MESOAMERIKA

Mesoamerika dalam hal ini berkaitan dengan Suku Maya. Suku ini melasanakan kegiatan astronomis seperti menghitung fase bulan, pengulangan gerhana-gerhana, serta penampakkan dan masa tidak terlihatnya planet Venus sebagai bintang pagi dan sore. Banyak bangunan-bangunan Suku Maya yang dibuat berdasarkan penampakkan ekstrem dan letak planet Venus. Bagi Suku Maya Kuno, planet Venus merupakan penyebab perang dan banyak perang-perang yang dipercaya terjadi pada pergerakan planet ini.

Kalender Maya dibuat berdasarkan siklus Pleiades (gugus bintang), Matahari, Bulan, Venus, Jupiter, Saturunus, Mars, dan gerhana-gerhana yang digambarkan pada “Dresden Codex”, yang semuanya diperhitungkan dengan teliti. Galaksi Bima Sakti merupakan unsur yang sangat penting dalam Kosmologi suku ini.

Kalender Maya


ASTRONOMI ISLAM

Sejak dulu, kaum Muslim di Arab terkenal dengan pengetahuannya yang luas. Sumber pengetahuannya berasal dari buku-buku Yunani dan India, yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dan disediakan di perpustakaan setempat.

Observasi astronomi pertama di Islam di mulai pada abad ke-9, ketika katalog bintang Zij dibuat. Pada akhir abad ke-9, astronom Persia bernama Ahmad ibn Muhammad ibn Kathīr al-Farghānī menulis penjelasan mengenai pergerakan benda-benda langit secara rinci. Karyanya telah terjemahkan dalam bahasa Latin pada abad ke -12. Pada abad yang sama, Ja'far ibn Muhammad Abu Ma'shar al-Balkhi (Albumasar) membuat model planet dengan teori heliosentris yang didasari bukti dari revolusi orbit.

Pada abad ke-10, Abd al-Rahman al-Sufi (Azophi) mengobservasi bintang dan mendeskripsikan posisi, ukuran, serta keterangan yang dilengkapi dengan gambar dan warna pada setiap rasi dalam karyanya, "Buku Bintang Tetap". Ia juga telah menemukan Galaksi Andromeda yang dulu ia sebut dengan "Awan Kecil". Awan tersebut telah diketahui oleh astronom Isfahan, kemungkinan sebelum tahun 905. Al-Sufi juga tokoh yang pertama kali menemukan Awan Besar Magellan. Astronom Islam lain adalah Ali ibn Ridwan, yang mengobservasi SN 1006, yaitu supernova terterang di dunia, dan mendeskripsikannya dengan rinci.

Pada akhir abad ke-10, astronom Abu-Mahmud al-Khujandi yang mengobservasi perpindahan-perpindahan meridian Matahari membangun sebuah tempat pengamatan langit berukuran besar di dekat Tehran, Iran, sehingga ia dapat memperhitungkan kemiringan ekliptik, yaitu kemiringan jalur dari tengah Bumi ke Matahari.

Pada abad ke-11, Omar Khayyám membuat banyak tabel dan mereformasi kalender yang lebih akurat dari Kalender Julian, dan lebih menyerupai Kalender Gregorian. Pada abad ini pula, Ibn al-Haytham (Alhazen) menulis karya yang berjudul "Maqala fi daw al-qamar" (Dalam Penerangan Bintang) sebelum tahun 1021. Karya ini adalah metode percobaan pertama dalam ilmu astronomi dan fisika-astronomi, serta percobaan pertama yang berhasil mengkombinasikan astronomi matematis dengan "fisika" (yang kemudian disebut filosofi alam) untuk beberapa hipotesis astronominya. Ia juga tidak setuju dengan opini umum yang menyatakan bahwa Bulan mencermikan cahaya Matahari, dan membenarkan bahwa "Bulan memancarkan cahaya Matahari yang menyentuh permukaannya." Kemudian ia menciptakan sebuah alat eksperimen untuk membuktikan bahwa cahaya dipancarkan dari permukaan Bulan yang terkena cahaya.

Pada abad ke-12, Fakhr al-Din al-Razi mengkritik teori yang menyatakan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta, dan membenarkan bahwa ada lebih dari beribu-ribu dunia (alfa alfi 'awalim) dengan masing-masing dunia tersebut berukuran lebih besar serta memiliki kemiripan dengan dunia ini.

Bukti observasional empiris pertama mengenai rotasi Bumi ditemukan oleh Nasīr al-Dīn al-Tūsī pada abad ke-13, oleh Ali Qushji pada abad ke-15, dan kemudian oleh Al-Birjandi yang mencetuskan hipotesis "inersia sirkular" pada awal abad ke-16.

Filosofi alam (disebut juga fisika Aristoles) dipisahkan dari astronomi oleh Ibn al-Haytham (Alhazen) pada abad ke-11, oleh Ibn al-Shatir pada abad ke-14, dan oleh Qushji pada abad ke-15. Hal ini merupakan tahap awal dari perkembangan fisika astronomi yang independen.

Sekolah Maragha merupakan sekolah yang terdapat di Arab. Telah diketahui bahwa model heliosentris Kopernikus pada Nicolaus Copernicus' De revolutionibus menggunakan konstruksi geometris yang sebelumnya dikembangkan oleh sekolah Maragha, dan argumennya mengenai rotasi Bumi sangatlah mirip dengan pernyataan Nasīr al-Dīn al-Tūsī and Ali al-Qushji.

Penampakkan Merkurius yang dicetuskan oleh Ibn al-Shatir

 
EROPA BARAT PADA ABAD PERTENGAHAN

Kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa Barat baru saja ditemukan akhir-akhir ini. Sebelumnya, banyak ilmuwan yang menganggap bahwa tidak ada perkembangan ilmu pengetahuan di belahan Bumi tersebut pada Abad Pertengahan.

Ilmu Astronomi yang terdapat di Eropa Barat pada zaman itu awalnya merupakan karya-karya klasik dalam bahasa Yunani. Sayangnya, mayoritas masyarat Eropa tidak mengerti bahasa tersebut sehingga yang dapat dipelajari hanyalah buku praktek dan rangkuman singkat. Tokoh-tokoh terkenal yang menerjemahkan buku-buku bahasa Yunani menjadi bahasa Latin adalah Makrobius, Pliny, Martianus Kapella, dan Kalkidius.

Pada abad ke-7, warga Inggris yang bernama Venerabilis Beda dari Jarrow menerbitkan buku dengan judul "On the Reckoning of Time" yang bercerita tentang orang gereja yang menentukan tanggal hari Paskah dengan prosedur astronomi yang bernama komputus. Karya ini merupakan unsur pendidikan Kependetaan yang sangat penting sejak abad ke-7 sampai kebangkitan berbagai universitas di abad ke-12. Ilmu astronomi dari Romawi Kuno dan pengajaran Venerabilis Beda dan pengikutnya mulai dipelajari pada masa kebangkitan pendidikan yang didukung oleh Kaisar Charlemagne.

Pada abad ke-10, ilmuwan Eropa seperti Gerbert dari Aurillak pergi ke Spanyol and Sisili untuk mencari ilmu terkenal dalam bahasa Arab. Mereka menemukan teknik astronomis untuk penetapan waktu, kalender, dan astrolabe (perkakas rancangan Ibrahim al-Fazari pada masa khalifah Harun al-Rasyid yang digunakan untuk menentukan letak benda langit). Tak lama kemudian, para ilmuwan Eropa Barat mulai menerbitkan karya berbahasa Latin yang menjelaskan tentang konstruksi astrolabe, misalnya Hermann dari Reichenau.

Pada abad ke-12, lebih banyak lagi ilmuwan yang pergi ke Spanyol dan Silisi untuk mencari ilmu astronomi dan astrologi tingkat tinggi. Tak lama kemudian, terdapat banyak buku astronomi yang diterjemahkan dari bahasa Arab dan Yunani ke bahasa Latin. Hal ini tentu memperkaya ilmu di Eropa Barat, yang membawa berbagai universitas ke masa kebangkitannya. Bukti dari perkenalan astronomi dalam universitas-universitas tersebut adalah karya John Sacrobosco pada tahun 1220 dengan judul "Tractatus de Sphaera", yang merupakan buku pelajaran astronomi.

Pada abad ke-14, Nicole Oresme, yang kemudian menjadi uskup di Liseux, menyangkal teori yang menyatakan bahwa langit berputar, dan Bumi yang tidak bergerak; ia menyatakan sebaliknya. Bagaimanapun juga, ia mengatakan bahwa "semua orang, bahkan mungkin termasuk saya, berpikir bahwa langitlah yang bergerak alih-alih Bumi. Padahal, Tuhan telah menciptakan dunia yang tidak patut dipindahkan." Kemudian pada abad ke-15, kardinal Nicholas dari Kusa dalam beberapa karya ilmiahnya menyatakan bahwa Bumi berotasi mengelilingi Matahari, dan bahwa setiap bintang adalah Matahari yang jauh.

Nicole Oresme


MASA RENAISANS

Perkembangan ilmu astronomi pada Masa Renaisans dimulai dengan pernyataan Nikolaus Kopernikus tentang Teori Heliosentris, yaitu bahwa Bumi mengelilingi Matahari dan bukan sebaliknya. Pada karyanya, "De revolutionibus" terdapat penjelasan matematis tentang teori tersebut secara rinci, dengan teknik geometris yang telah digunakan sebelum zaman Ptolemaeus. Teorinya dipertahankan dan kemudian dikembangkan oleh Galileo Galilei dan Johannes Kepler.

Galileo adalah tokoh pertama yang menggunakan teleskop untuk mengobservasi langit, dan dengan menggunakan alat peraga ciptaannya, teleskop refraktor 20x, ia berhasil menemukan 4 satelit terbesar Jupiter pada tahun 1610. Observasinya merupakan yang pertama dalam pengamatan satelit planet selain Bumi. Ia juga menemukan dan menjelaskan dengan benar bahwa di Bulan terdapat lubang-lubang serta daerah yang terkena sinar matahari, yang dapat dibedakan dari daerah lainnya. Galileo menyatakan bahwa Venus memiliki fase yang serupa dengan fase Bulan. Ia juga menyatakan bahwa obserbvasi tersebut membuktikan kebenaran sistem Kopernikus, dan dengan penelitiannya yang lebih lanjut, menyatakan bahwa observasi tersebut tidak cocok dengan teori sebelumnya mengenai lokasi Bumi di tengah alam semesta.

Meskipun pergerakan benda-benda langit telah dijelaskan dengan ilmu fisika secara kualitatif sejak Aristoteles menerbitkan karya-karyanya, Johannes Kepler merupakan tokoh pertama yang menyatakan bahwa prediksi matematis pergerakan benda-benda langit disebabkan oleh alasan yang dapat dijelaskan dalam ilmu fisika. Dengan mengkombinasikan pengetahuannya dalam ilmu fisika serta observasi yang diciptakan oleh Tycho Brahe, Kepler menemukan 3 hukum pergerakan planet yang masih digunakan sampai hari ini.

Isaac Newton mempererat hubungan astronomi dan fisika dengan hukum gravitasinya. Pada karyanya yang berjudul "Philosophiae Naturalis Principia Mathematica", ia memperoleh prinsip-prinsip awal dari hukum Kepler. Perkembangan teori-teori Newton berperan besar dalam pembentukan fisika modern.


Fase Venus Galileo



AMERIKA PADA MASA KOLONIAL

Ilmu astronomi di wilayah Amerika mulai ditemukan ketika penjajahan Bangsa Inggris dimulai di sana. Astronomi awalnya berhasil dipelajari di lahan tersebut dengan dasar filosofi Aristoteles. Kemudian diketahui bahwa ketertarikan terhadap astronomi modern muncul di Almanak pada tahun 1659.

Para astronom yang pada saat itu masih merupakan jajahan menggunakan metode ilmiah dalam karya-karya mereka sendiri, dan dengan sumber terbatas mereka berhasil mempelajari ilmu astronomi dengan lebih lanjut. Kemudian, riiset-riset mereka dikembangkan dengan sumber yang lebih lengkap setelah memerdekakan diri menjadi Amerika Serikat.


ASTRONOMI MODERN

Pada abad ke-19, dengan ilmu spektroskopi dasar - yaitu ilmu yang mempelajari garis spektra (daerah yang mendapatkan lebih sedikit ketika menguraikan cahaya matahari) - para ilmuwan membuktikan bahwa unsur kimia di Matahari, terutama hidrogen dan helium, ditemukan juga di Bumi.

Pada abad ini pula, para ilmuwan menemukan bentuk-bentuk cahaya yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga dibentuklah ilmu astronomi inframerah, astronomi radio, astronomi sinar X, dan astronomi sinar gamma. Dengan ilmu spektroskopi, diketahui bahwa bintang-bintang lain serupa dengan Matahari, namun dengan berbagai massa, suhu, dan ukurang yang berbeda. Dengan diketahuinya eksitensi galaksi Bima Sakti dan beberapa galaksi lainnya, wawasan astronomi mulai terbuka luas atas kesadaran ilmuwan bahwa terdapat banyak galaksi yang belum semuanya diketahui manusia.

Seiring pergantian menuju abad ke-20, peran wanita dalam astronomi mulai terlihat. Hal tersebut merupakan perubahan dari masa sebelumnya ketika pria mendominasi karir astronom. Kaum wanita awalnya dipekerjakan sebagai "komputer" manusia, yaitu melakukan perhitungan sementara ilmuwan melaksanakan riset yang memerlukan ilmu tingkat tinggi. Namun, kaum wanita berhasil mempersembahkan penemuan-penemuan, seperti Annie Jump Cannon, yang menurut pernyataan Lewis D. Eigen, dalam 4 tahun berhasil menemukan dan membuat lebih banyak katalog bintang dari seluruh katalog bintang kaum pria. Sayangnya, kebanyakan dari penemu serta astronom wanita ini tidak mendapatkan cukup penghargaan yang patut mereka terima. Meskipun hasil temuan mereka digunakan oleh para pelajar, sedikit sekali yang mengetahui bahwa terdapat astronom wanita aktif sejak akhir abad ke-19.

Spektroskopi dipelajari lebih lanjut pada abad ke-20. Observasi tersebut perlu dimengerti, terlebih lagi karena diciptakannya fisika kuantum. Abad tersebut juga merupakan masa ketika kebanyakan pengetahuan yang sekarang digunakan dalam astronomi ditemukan. Dengan bantuan fotografi, benda-benda langit yang tadinya tak terlihat jelas dapat diobservasi. Pada abad ini, diketahui bahwa Matahari merupakan satu dari lebih dari 10 miliar bintang yang terdapat pada suatu galaksi. Eksistensi galaksi-galaksi lain ditetapkan oleh Edwin Hubble, yang memastikan bahwa Andromeda merupakan galaksi lain, dan masih banyak galaksi lain yang jauh dari galaksi kita.


Teleskop Hubble




Sumber:

1. Kepple, George Robert: Glen W. Sanner (1998), The Night Sky Observer's Guide, Volume 1, Willmann-Bell, Inc.
2. en.wikipedia.org
3. museumastronomi.com
4. scriptamus.wordpress.com
5. www.aprender-mat.info

1 komentar:

  1. Sua catatan penting tentang pentingnya ilmu astronomi bagi generasi muda:
    a. Kaum Muslim di Indonesia khususnya, setiap tahun selalu memperbincangkan awal Ramadhan, awal Syawwal, dan 10 Dzulhijjah. Kerap berselisih tentang penetapan tanggal-tanggal sakral itu. Perbedaan pandangan selalu saja dijadikan kambing hitam sumber masalah. Sementara titik temu belum dapat didekatkan.
    Perhatian akan ilmu astronomi dari generasi muda niscaya akan menjadi ikhtiar untuk mendekatkan kecintaan pada astronomi dan langkah awal pencarian titik temu dari permasalahan itu.
    b. Pada generasi modern ini, terdapat kontribusi astronom-astronom Indonesia (terutama yang berada di Jerman). Konon beberapa rasi bintang bahkan dinamai dengan nama khas Indonesia. Ini tentu saja dapat mendorong generasi muda Indonesia untuk tampil sebagai astronom-astronom kelas dunia.

    Semoga saja.

    BalasHapus