Senin, 03 September 2012

Tugas 5 Perkembangan Daerah Tebet


Utopia Urban Bernama Tebet
Tebet Jaman Dahulu
Kisah Tebet menjadi sebuah pemukiman yang berkembang memang tidak bisa lepas dari kisah Ganefo pada tahun 1963. Oleh karena pada tahun 1963 akan didakan penyelenggaraanGames of New Emerging Forces (Ganefo), maka warga penduduk di Senayan dan sekitarnya terpaksa digusur atau dibebaskan. Yang menyebabkan semua ini adalah Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno yang berhasil mengguncang dunia karena telah membuat tandingan dari Olimpiade Tokyo dengan menyelenggarakan Ganefo.Penyelenggaraan Ganefo ini dipicu oleh kemarahan Soekarno yang marah karena Komite Olimpiade Internasional (KOI) menskorsing Indonesia untuk ikut di Olimpiade Tokyo. Saya memang tidak mengalami Ganefo. Maklumlah, saat itu saya belum lahir. Namun saya bisa membayangkan berapa jumlah kampung yang dibebaskan pada tahun 1960-an. Data statistik menunjukkan, luas wilayah Tebet sekitar 3.00 km2, dimana terdapat Tebet Barat, Tebet Timur, dan Tebet Utara. Kalo ditambah wilayah lain, yaitu Kebon Baru, Bukit Duri, Manggarai, Manggarai Selatan dan Menteng Dalam, dimana wilayah tersebut masuk ke dalam Kecamatan Tebet, maka luas Tebet mencapai 9.53 km2.
“Gara-gara proyek pembangunan kompleks olahraga Gelora Bung Karno dan perkampungan atlet, memang terjadi perpindahan besar-besaran warga kampung Betawi ke wilayah baru di Tebet. Sementara di Tebet sudah bermukim beberapa etnis lain. Makanya setelah tahun 1963, Tebet dihuni oleh multietnis. Selain etnis Tionghoa dan Arab, ada pula orang Belanda maupun Portugis yang masih bermukim di Tebet pada tahun 1960-an. Setidaknya ada dua kampung Betawi asal Semanggi yang pindah ke Tebet. Nama kampung itu adalah kampung Tunduan” jelas Pak Andi, warga asli Tebet yangsekarang  merupakan tetangga saya yang tinggal satu kompleks dengan saya di daerah Tebet Utara. “Kayaknya warga kampung Tunduan sudah nggak ada, deh. Yang pasti dulu, kampung ini mendiami wilayah yang sekarang dikenal dengan Semanggi sampai Parkir Timur Senayan.” Ujarnya.
Ketika ada perluasan di sekitar Senayan, ada kampung lain yang juga dibebaskan. Kampung yang kena gusur ini dikenal dengan kampung Kemandoran yang sebelum tahun 1970-an mendiami wilayah sekitar stasiun kereta api Palmerah. 

“Warga yang di Semanggi punya tanah ribuan meter persegi, begitu di Tebet diganti jadi beberapa kavling,” jelas Pak Andi. 

Kalau diliat sejarahnya, sebelum terjadi eksodus besar-besaran warga Betawi dari Senayan, wilayah Tebet sebenarnya memang sudah ada. Tapi Tebet belum menjadi pemukiman yang asyik dan ramai seperti sekarang ini. Mayoritas lokasinya masih berupa rawa, semak belukar, pepohonan yang besar-besar, serta anak-anak sungai yang mengalir di beberapa wilayah itu.
Konon dulunya tanah di sekitar tebet adalah tanah basah, penduduk sekitar tebet yaitu orang-orang melayu menyebut tanah semacam itu dengan Tebat. Dengan dialek setempat akhirnya kata Tebat berubah menjadi Tebet. Kata Tebet sendiri berasal dari kata Tebat. Arti Tebat adalah sebuah tambak di tengah rawa-rawa, dimana air yang ada di tambak itu berasal dari aliran sungai. Tambak ini sebagai tempat menampung air hujan agar tidak menggenangi daerah sekeliling.  Kalo melihat artinya, ketika zaman Belanda Tebet dijadikan salah satu wilayah resapan air karena terdapat banyak rawa dan dilewati oleh aliran anak sungai cabang dari sungai Ciliwung yang memang dekat dari wilayah Tebet. Kebetulan pula Tebet dianggap sebagai dataran rendah.

Hutan Kota Tebet di Tahun 60-an
Dengan mencontoh negara asalnya, tata ruang di Batavia dibentuk sedemikain rupa sehingga mirip seperti di Belanda.Ada kanal yang dibangun untuk menanggulangi masalah banjir atau genangan air, salah satunya pendirian Banjir Kanal Barat pada tahun 1930-an, dimana pintu kanalnya berada di Manggarai. Sementara itu, daerah-daerah yang memang secara alamiah telah berfungsi sebagai daerah resapan dan tangkapan air, tetap dibiarkan begitu saja. Artinya, pihak Belanda tidak mengizinkan orang bermukim di lokasi tersebut. Kisah yang beredar, agar penduduk tidak berani mendirikan rumah di daerah resapan air, dibuatlah legenda untuk menakut-nakuti warga, bahwa lokasi yang rawa-rawa sebagai tempat jin buang anak.
Wah kalo dulu setiap sore mancing di sungai dekat rumah, sekarang sih udah gak mungkin lagi ya.” kata Pak Andi, mengingat kenangan masa kecil dengan orangtuanya yang sejak tahun 1962 mendiami Tebet Utara Dalam ini.

Dulu, daerah-daerah yang terkenal di tebet adalah pasar tebet barat dan pasar pspt dimana orang-orang banyak membeli kebutuhan sehari-hari nya. Sebelum menjadi gedung dan dikelola oleh PD Pasar Jaya, pasar Tebet Barat hanya sebuah tanah lapang yang luas. Bayangkan sebuah lapangan sepakbola yang ada di tengah-tengah rawa maupun persawahan. Dahulu belum banyak perumahan yang bermukim di sekitar Tebet Barat. Meski begitu, lapangan yang luas ini menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai daerah, termasuk dari Manggarai, Cililitan, maupun Pasar Minggu. Rawa yang tumbuh di sekitar mulai ditebang. Munculah beberapa rumah di sekitar pasar. Penghuni rumah tidak hanya dari etnis Tionghoa, tetapi juga dari etnis lain. Banyak warga Betawi asal Senayan yang memilih tinggal di dekat Tebet Barat.


                     Pasar Tebet Barat                                     Pasar Tebet Timur/PSPT                            



Mereka yang memilih Tebet Barat sebagai pemukiman ini lumrah. Setidaknya ada dua alasan. Alasan pertama, lokasi perumahan mereka dekat dengan jalan utama. Kalo mereka ingin ke Pasar Minggu cukup jalan kaki ke Pancoran lalu naik oplet atau delman dari Pancoran. Alasan kedua, biasanya warga Betawi yang memilih Tebet Barat adalah ingin ikut berdagang.Orang-orang Betawi yang terakhir ini biasanya bukan sebagai pegawai, tetapi memang wiraswasta, entah itu menjadi pedagang ayam potong atau pedagang makanan seperti gado-gado, sotoBetawi, nasi uduk, dan makanan lain khas Betawi.    
      
                     Lapangan sepakbola PSPT di Tebet Timur

Ketika menjelang sore, tanah lapang itu difungsikan untuk main sepakbola. Di tahun 1960-an memang belum ada lapangan sepakbola PSPT seperti sekarang ini. Warga Tebet masih main sepakbola di Tebet Barat. Namun ketika jumlah pedagang semakin banyak, apalagi ketika terjadinya eksodus, lapangan bola terpaksa digusur, dialihkan ke lapangan sepakbola di Tebet Timur. Agar supaya lokasi dagang aman, teduh, dan tidak terkena hujan, maka lapangan tersebut ‘disulap’ menjadi kios-kios permanen. Kios-kios tersebut dibuat dari kayu. Baru pada zaman Gubernur Ali Sadikin, Pasar Tebet Barat dikomersilkan dengan dikelola langsung oleh Pemda DKI Jakarta.


Selain pasar, ada juga tempat makan yang sampai saat ini masih terkenal. Di ujung pasar darurat, persis di pojok perlintasan antara Tebet Utara, Tebet Barat, dan Tebet Timur, ada sebuah warung yang sampai sekarang masih ngetop, yakni warung makan bernama Warmo. Kata ‘Warmo’ sebenarnya kependekatan dari Warung Mojok. Seperti yang saya sudah jelaskan, maksud ‘warung mojok’ ya karena warungnya memang lokasinya di pojok jalan. 

Seperti juga warung-warung makan lain, Warmo juga menjual makanan rumahan ala warung Tegal biasa. Barangkali yang membedakan, kalo kebetulan makan di situ dan beruntung, Anda bisa bertemu dengan sejumlah artis ibukota. Maklumlah, dahulu warung ini seringkali menjadi tempat gaul para artis ibukota, yang sebagaian besar berdomisili di kawasan Tebet dan sekitarnya. Hingga sekarang, sekelompok artis itu sesekali masih sering mangkal di Warung ini. Yang istimewa lagi, warung berukuran 10x7 m2 ini buka 24 jam non-stop.


Warmo/Warung Mojok di Jalan Tebet Raya

Warmo termasuk salah satu pelopor warung tegal di Jakarta.Warteg ini didirikan Darsyid dan adiknya, Tumuh. Kedua pria ini berasal kota pesisir, Tegal, Jawa Tengah. Mereka merantau ke Jakarta pada tahun 1955. Di Jakarta, Darsyid berganti-ganti pekerjaan. Awalnya ia menjadi jadi pembantu rumah tangga. Lalu ia pernah berjualan es podeng. Setelah menikah dengan wanita sekampungnya, Tarina, pada tahun 1970, Darsyid nekatmembuka warung nasi. 

“Waktu ada uang saya mikir, daripada dibeliin radio lebih baik buka warung nasi,” kata Darsyid. 

Di tahun 1970-an belum ada nama brand bernama ‘warteg’ atau warung tegal di Jakarta. Dulu namanya masih warung nasi saja.Suatu ketika masih di tahun 1970-an, Darsyid mengajak rekan anggota arisan pengusaha warung nasi asal Tegal untuk mengubah nama warung-warung mereka menjadi warung Tegal.Usulan tersebut kemudian disepakati. Inilah cikal bakal kata ‘warteg’.

Sebelum menetap di Tebet, Darsyid dan Tumuh membuka warteg di pinggir gang Kober, Jatinegara, Jakarta Timur. Namun wartegnya digusur, karena pelebaran gang menjadi jalan besar.Ia kemudian pindah ke Tebet. Ia mendirikan warteg dengan bilik bambu di atas tanah negara di tempat yang bertahan hingga kini.

Awalnya Darsyid menamai warungnya dengan warteg. Namun Raja Dangdut Rhoma Irama, yang kebetulan sempat tinggal di jalan Gudang Peluru yang tidak jauh dari Tebet, memberi namaWarmo. Warmo singkatan dari warung mojok. Nama itu dipilih karena lokasinya di pojokan. Kebetulan juga salah seorang karyawan Darsyid bernama Warmo. Karena Darsyid sering memanggilnya, nama Warmo menjadi akrab di telinga pelanggan. Bahkan nama itu lebih terkenal daripada namanya pemiliknya, Darsyid dan Tumuh.  Anak muda seperti Rhoma Irama tadi lebih suka menyebutnya Warmo daripada warteg.Darsyid pun terpaksa mengubah nama warungnya menjadi Warmo. Kini namanya Warteg Warmo Jadi Mulya.

Oh iya, entah benar atau tidak, ada yang bilang kalo makan di Warmo jangan dibawa pulang. Kalo dibawa pulang, makanannya jadi tidak sedap lagi. Mending makan di tempat.Kenapa? Konon menurut kabar, ada 'jimat' yang diletakkan di salah satu sudut warung itu, dimana 'jimat' itu mensyaratkan makanan cuma enak kalo makan di situ.

Seiring dengan waktu, dimana sudah tidak banyak lagi rawa maupun tambak, nama ‘Tebat’ berubah menjadi Tebet. Tebet kemudian menjadi salah satu wilayah pemukiman kelas menengah ke atas. Belakangan ini malah banyak apartemen, perkantoran, distro-distro dan pusat nongkrong atau hangoutyang makin hari makin ramai.


Tebet Di Masa Kini
Kini, wilayah kawasan tebet sudah berubah drastis. Perubahan berlaju kencang dalam tiga tahun terakhir ini. Seiring membaiknya kondisi ekonomi negeri ini, kawasan pemukimantebet berubah wajah menjadi tempat nongkrong remaja dan anak muda berduit. Rumah tinggal pun disulap menjadi deretan distro (distribution outlet), kafe, restoran, salon, spa, dan sebagainya.
   Jalan Tebet Utara Dalam yang padat tiap akhir pekan
Di Tebet, hanya ada beberapa tempat makan dan toko-toko kecil. Awalnya di kawasan itu, tepatnya di trotoar di samping SMPN 115, hanya terdapat sebuah warung mie dan roti bakar bernama Wafa ’99 milik Haji Mansyur yang terkenal di kalangan anak-anak muda. Warung itu beroperasi sejak tahun 1982 dan mulai 2001 buka 24 jam. Namun belakangan ini semakin banyak tempat-tempat usaha yang diawali dengan dibuka nya bloop di tahun 2003 yang didirkan oleh Martin Sunu.Martin menjual barang-barang lokal yang diproduksi dalam jumlah sangat terbatas dengan harga terjangkau.  Ia menyewa sebuah rumah. Lokasi itu dipilih karena disekitarnya banyak sekolah dan tempat kursus. Segmen pasar yang hendak disasar memang para remaja dan anak-anak muda. Ia buka distronya menjelang lebaran dan ternyata mendapat sambutan hangat.












                      Logo Bloop               Bloop, Distro pertama di kawasan Tebet Utara
Sukses dengan distro pertama yang dimulai dengan selusin koleksi t-shirt, Martin lalu membuka satu lagi di seberang jalan dan diberi nama Endorse. Usahanya berkembang pesat. Dari fashion, Martin yang mendapat dukungan penuh keluarganya melanjutkan ke usaha tempat makan. Ia dan keluarganya lalu membuka DeJones Burger dan Bebek Ginyo. DeJones hampir setiap hari digemari anak-anak muda, sementara Bebek Ginyo menjadi restoran anak muda dan keluarga-keluarga muda. Dan dari sinilah Tebet berubah, Tebet yang awalnya merupakan tempat relokasi warga Senayan yang jadi korban gusuran pada tahun 1959 dan awal 1960-an karena di Senayan dibangun gelanggang olahraga (Gelora Bung Karno), kini jadi tempat bisnis dan hang-out anak-anak muda serta orang kantoran. Atau bisa disebut sebagai utopia kaum-kaum urban.
Dimulai dari kesuksesan tersebut, sekarang tempat-tempat bisnis dan nongkrong serta sebagai nya ini sudah bertambah banyak sampai tidak bisa dihitung dengan kedua jari tangan lagi.  Sedikitnya sudah ada delapan distro, belasan kafe dan restoran, serta sejumlah salon/spa di kawasan itu. Beberapa rumah sedang direnovasi, dan entah jenis usaha apa lagi yang akan muncul.
Di Tebet banyak berdiri distro-distro yang keren, letaknya tepat berada di sepanjang Jalan Tebet Utara Dalam. Lebih dari 30 distro berdiri di sini. Dan yang cukup terkenal adalah Distro Endorse, Bloop, Noin Brand, Square Inc, dan Nanonine. Menawarkan aneka model T-Shirt, Topi, Jaket, Sepatu, Celana Blue Jeans, Aksesoris, dan lain-lain. Harga yang dijual mulai dari Rp. 10.000  hingga Rp. 250.000-an. Tak berlebihan kalau dikatakan, Tebet Utara telah menjelma menjadi daerah tujuan wisata belanja di Jakarta, dan juga sajian kulinernya yang beragam.










                             Nano Nine                        Kemacetan di malam akhir pekan


                                     




 Noin Brand                                            Endorse, Distro kedua setelah Bloop

                                      Suasana akhir pekan di Tebet
Selain terkenal dengan distronya, Tebet juga dikenal sebagai tempat wisata kulinernya yang lengkap.Lokasinya berdekatan dengan distro-distro yang tersebar di Tebet Utara. Beragam rumah makan dan cafe ada disini, seperti Nasi Bebek Ginyo, Kebab Turki, DeJons Burger, Dikies Food & Beverage, Sushi-Ya, Burger & Grill, Ayam Bakar Mas Mono, Comic Cafe, Seven Eleven, dan lain-lain. Sebagian rumah makan, distro, dan cafe di Tebet, dimiliki oleh warga yang tinggal di sekitar daerah Tebet Utara. Mereka sengaja membuka usaha seperti itu, karena melihat peruntungan di kawasan Tebet yang sudah menjadi tujuan wisata belanja dan kuliner di Jakarta. 
        







   Nasi Bebek Ginyo                                                             Seven Eleven Tebet


      









 Corner Tebet Utara                                               Burger and Grill Tebet







  De Jons Burger            
                                                                                    Comic CafĂ© Tebet

Sore hingga malam distro dan tempat-tempat makanpenuh pengunjung. Puncak keramaian terjadi pada akhir pekan. Para pengunjung umumnya remaja dan anak muda, sebagian masih dengan seragam sekolah. Mereka datang berombongan dengan menggunakan mobil pribadi.Jalanan pun jadi macet. Distro dan tempat-tempat makan itu tidak mampu menampung kendaraan para pengnjung.Sejumlah tempat makan bahkan tidak punya tempatparkir. Sejumlah tempat makan punya area outdoor yang berbatasan dengan jalan. Suasananya pun jadi terasasantai.
Sayang, jalanannya sering macet, asap kendaraan bisa mengganggu kenyamanan dan juga udara Jakarta yang sangat panas ditambah keramaiannya yang membuat udara terasa agak panas dan gerah. Karena keramaian dan suasananya, saya seringkali berpikir daerah Tebet sekarang ini menjadi seperti Orchard Road nya Singapur yang gagal. Perbedaannya hanya saja disini lebih macet, kebersihan dan tempat nya lebih bagus di Singapur, dan disini panas nya bukan main. Wajar jika warga yang mendiami daerah Tebet seperti saya yang sudah mengenal betul daerah nya agak malas bahkan engganuntuk jalan-jalan atau sekedar nongkrong di daerah ini.Saya bahkan lebih memilih untuk pergi ke tempat-tempat lain dibandingkan dengan orang-orang yang baru pertamakali mengunjungi daerah Tebet. Tapi saya juga tidak heran jika banyak warga luar yang sering berkunjung ke daerah ini karena tempat nya yang enak, dan strategis untuk sekedar nongkrong atau makan, serta bisa juga untuk mencari barang-barang bagus, jadi seperti Dago nya Jakarta. Tertarik untuk sesekali berkunjung ke sini?Yuk.  

2 komentar:

  1. Agar lebih sopan dalam menulis, harap menyertakan daftar pustaka, tempat tulisan Anda berasal.
    Ingat, ada beberapa foto yang Anda pasang itu milik orang lain yang berhakcipta (antara lain copyright by Brillianto K. Jaya). Maka sepatutnya Anda menyertakan namanya sebagai sumber referensi.

    Suatu tulisan sejarah menjadi tidak berkualitas, ketika tidak menggunakan sumber sejarah, sumber referensi, atau menggunakan tulisan orang lain seolah-olah sebagai tulisan sendiri.

    BalasHapus
  2. nice writing! awalnya penasaran sama nama-nama tempat di Jakarta. pengen rasanya tau lebih banyak lagi tentang asal usul tempat yang lainnya! btw researchnya dari mana ya ??

    BalasHapus