Sabtu, 22 September 2012

Tugas-5 Perkembangan Cat



Warna dalam Sejarah

Warna adalah sesuatu yang telah mempesona budaya sepanjang sejarah. Setiap daerah dari berbagai zaman telah menghasilkan  pewarna dan pigmen tersendiri yang dibuat dari sumber daya yang tersedia. Warna telah berhasil digunakan manusia untuk berkarya selama lebih dari 20.000 tahun. Bukti dari pemikiran ini berada di sebuah goa di Cina yang dinding-dindingnya dilukisi dengan warna-warna puluhan ribu tahun yang lalu, dan dianggap adalah awal dari pemanufakturan cat.

Dinding-dinding kuno yang berwarna juga ditemukan di Dendera, Mesir. Walau selama bertahun-tahun sudah terkena debu dan unsur-unsur yang biasanya memudarkan warna, sampai sekarang dinding-dinding tersebut masih memiliki warna yang cemerlang. Dinding tersebut dilukis kira-kira sekitar 2.000 tahun yang lalu.  Diperkirakan ada enam warna yang digunakan dalam melukis dinding tersebut, yaitu; putih, hitam, biru, merah, kuning dan hijau. Metode yang digunakan dalam melukis dinding tersebut sepertinya dengan pertama mewarnai seluruh dindingnya dengan warna putih. Kemudian menggunakan warna hitam untuk meng-outline gambarnya, lalu mewarnainya dengan empat warna lainnya. Namun mereka tidak terlalu banyak menggunakan warna merah, dan lebih banyak menggunakan warna-warna gelap dibandingkan yang terang.

Namun pada tahun 2011 seorang arkeolog dari Afrika Selatan melaporkan menemukan sebuah campuran berbasis ochre buatan manusia yang telah berusia 100.000 tahun. Diperkirakan campuran tersebut digunakan sebagai sebuah pewarna, seperti cat. Lukisan-lukisan di goa yang dilukis dengan menggunakan campuran ochre berwarna merah atau kuning, ataupun dibuat dengan menggunakan bahan-bahan lainnya seperti hematite, oksida mangan dan arang diperkirakan dilukis oleh Homo sapiens awal sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Warna secara luas digunakan oleh orang Mesir kuno dan dianggap memiliki sifat magis dan penyembuhan. Pada tahun 1500 sebelum masehi pembuatan cat dianggap sebagai suatu seni, dan sangat dihargai di daerah Kreta dan Yunani. Keterampilan ini dikuasai oleh orang-orang Mesir dan kemudian diteruskan oleh orang-orang Romawi. Antara tahun 600-SM sampai 400 AD, orang-orang Yunani dan Romawi memperkenalkan pernis (varnish dalam Bahasa Inggris).
Bagi orang-orang Aztec, dye warna merah dianggap lebih berharga dari emas. Orang-orang India dan Cina mempraktekkan Penyembuhan Warna, yaitu sebuah cara menyembuhkan penyakit dengan menggunakan warna. Tercatat diagnosis-diagnosis warna dalam Nei/Ching, Chinese Chronicle, yang berumur 2.000 tahun.

Namun, dengan semua pencapaian ini, ditemukan bahwa tidak banyak peradaban dunia yang telah memberi nama warna-warna yang telah mereka temukan.  Pada tahun 1960 dua antropolog melakukan studi di seluruh dunia mengenai penamaan warna. Banyak bahasa hanya berisi istilah dua warna, setara dengan putih (cahaya) dan hitam (gelap). Dari 98 bahasa yang dipelajari, bahasa yang memiliki jumlah tertinggi dalam penamaan warna dasar adalah Bahasa Inggris. Ada sebelas nama asli warna dari Bahasa Inggris, yaitu; hitam (black), putih (white), merah (red), oranye (orange), kuning (yellow), hijau (green), biru (blue), ungu (purple), pink, abu-abu (gray) dan coklat (brown). Jutaan warna lainnya memiliki nama yang ‘meminjam’ dari nama-nama benda lain, contoh; peach dan gold (emas).

Salah satu rekaman penemuan warna paling awal dibuat oleh Plato, yang menemukan bahwa dengan mencampur dua warna, akan dihasilkan warna ketiga yang baru. Penemuan ini merubah pembuatan warna selamanya.
 
 Orang Mesir adalah yang mengembangkan pewarna menggunakan pigmen-pigmen yang didapat dari kandungan tanah. Pigmen-pigmen tersebut menghasilkan warna-warna seperti kuning, oranye, dan merah. Orang-orang Romawi lah yang mengembangkan dan menciptakan warna ungu, yang dibuat dengan cara menghancurkan empat juta buah moluska. Warna Cochineal Red ditemukan oleh suku Aztec. Warna tersebut  dibuat dengan menggunakan kumbang cochineal betina. Satu pon larutan air ekstrak warna cochineal memerlukan kurang lebih satu juta kumbang cochineal betina. Orang-orang Spanyol lah yang memperkenalkan warna merah tersebut ke Eropa pada tahun 1500-an. Warna kuning India (Indian Yellow) dibuat dari urin sapi terkonsentrasi yang dicampur dengan lumpur dan diangkut ke London untuk dimurnikan.  Warna hijau dibuat dari getah buah beri Blackthorn, sedangkan warna coklat sepia terbuat dari kantung tinta cumi-cumi yang telah dikeringkan.

 Cat adalah produk yang digunakan untuk melindungi dan memberikan warna pada suatu objek atau permukaan dengan melapisinya dengan lapisan berpigmen. Cat dapat digunakan pada hampir semua jenis objek, antara lain untuk menghasilkan karya seni (oleh pelukis untuk membuat lukisan), salutan industri (industrial coating), bantuan pengemudi (marka jalan), atau pengawet (untuk mencegah korosi atau kerusakan oleh air).
Cat terdiri dari pigmen, yaitu sebuah zat pengikat agar terus terikat dan pengencer yang tepatnya digunakan untuk membuatnya mudah untuk diterapkan kepada suatu obyek. 5000 tahun yang lalu Blue Frit adalah pigmen sintetis pertama yang diproduksi oleh orang Mesir dari menghancurkan kaca berwarna biru. Sebelum abad kesembilan belas kata 'cat' (paint) hanya digunakan untuk cat yang bertipe diikat dengan minyak, sedangkan cat yang diikat dengan lem disebut ‘distemper’.

Pada tahun 1000 SM
pengembangan cat dan pernis yang menggunakan getah pohon akasia telah berjalan. Pada zaman ini warna-warna seperti umbers, oker dan hitam sudah dapat diperoleh dengan mudah. Ada juga beberapa warna yang baru ditemukan, seperti warna ‘Egyptian Blue’ (Biru Mesir), warna ‘Naples Yellow’ (Kuning Naples) yang ditemukan pada sekitar tahun 500 SM, dan warna timah merah yang ditemukan secara tidak sengaja pada sekitar tahun 2500. Warna Timah Putih ada secara alamiah, namun permintaan untuk warna tersebut menuntut adanya produksi warna tersebut secara buatan manusia. Pada abad kedua, Vitruvius menjelaskan tentang pembuatan warna timah putih.

Sebelum abad ke-16, warna pigmen sangat bergantung kepada zat warna yang dapat ditanam, ataupun yang asli dari Eropa dan wilayah yang memiliki iklim serupa.  Antara tahun 1.550 dan 1850 hanya zat warna alami yang tersedia, namun jangkauannya diperluas dengan zat warna dari wilayah tropis Amerika Tengah dan India, serta tempat-tempat lainnya.
 Pada abad ke-17 Belanda meningkatkan ketersediaan timah putih dan menurunkan biaya dengan penemuan Proses Stack. Semua cat timah putih mengandung kapur di dalamnya, sedangkan timah putih murninya hanya digunakan untuk pengecatan top coat. Pada tahun 1856, pewarna sintetis pertama, 'Mauveine', ditemukan oleh Henry Perkins. Penemuan ini menyadarkan banyak orang bahwa pewarna dapat dibuat secara sintetis dan murah.

Pada saat itu lah minyak biji rami mulai diproduksi secara massal.
Menggunakan pabrik yang dilapis besi dan seng yang berbasis pigmen, dihasilkan cat yang dapat dicuci (washable) yang dipasarkan sebagai ‘White Charlton’ di tahun 1870. Cat campuran yang pertama sebenarnya dipatenkan oleh D.R. Averill dari Ohio pada tahun 1867, namun tidak terkenal.  

Perusahaan Sherwin-Williams menghabiskan sepuluh tahun untuk menyempurnakan formula dimana partikel-partikel halus cat akan tetap tersuspensi dalam minyak biji rami. Pada tahun 1880 mereka berhasil mengembangkan formula yang jauh melebihi kualitas semua cat yang tersedia pada saat itu. Pada tahun itu juga cat dalam kaleng mulai diproduksi dalam berbagai macam warna untuk diekspor ke seluruh dunia.
 
Secara umum, bahan baku cat terdiri dari 4 bagian, yaitu:
  • tedy san chester: komponen pokok dalam cat yang berfungsi untuk menghasilkan hardness, flexibility dan pembentukan lapisan.
  • Solvent: berfungsi untuk mengencerkan cat sebelum di aplikasikan ke barang.
  • Pigment: berfungai sebagai pewarna dan menciptakan daya tutup cat.
  • Additive: bahan tambahan untuk menjadikan cat mudah di aplikasikan dan hasilnya sesuai dengan keinginan.
Cat dapat dikeringkan dengan berbagai macam cara, yaitu;
  • Secara fisika ; yaitu adanya reaksi fisika yang berupa penguapan thinner yang berada dalam campuran cat. Bila semua thinner yang ada di dalam campuran itu sudah menguap maka cat itu kering. Contoh: Pengeringan untuk cat NC dan Alkyd.
  • Secara kimia: yaitu adanya reaksi kimia antara dua benda yang berlainan jenis. Contoh ; Pengeringan melamine dan PU setelah bereaksi dengan hardener.
  • Secara radiasi: pada cat UV bisa kering setelah kena radiasi dari lampu UV (Ultra Violet) yang ada dalam mesin UV.
Pada zaman yang modern ini, cat sudah sangat berkembang dalam produksi dan dapat digunakan untuk berbagai macam hal. Salah satu kegunaan umumnya adalah untuk membuat sebuah karya seni, yaitu sebuah lukisan. Ada tiga macam cat yang dapat (atau umumnya) digunakan dalam membuat sebuah lukisan, yaitu; cat air (watercolour), cat akrilik, dan cat minyak.

Watercolour adalah suatu metode untuk melukis. Cat air (atau watercolor paint) adalah jenis cat yang digunakan untuk menghasilkan lukisan watercolour. Cat tersebut terbuat dari pigmen yang tersuspensi dalam larutan air. Biasanya diaplikasikan ke kertas khusus watercolour. Cat air harganya bisa dikatakan lebih murah dibandingkan cat-cat lainnya, karena itu lebih sering digunakan untuk aktifitas anak-anak. Finger painting menggunakan cat air berasal dari Cina.


Contoh lukisan watercolour
Cat akrilik adalah cat yang cepat keringnya karena mengandung pigmen-pigmen yang tersuspensi dalam campuran emulsi polimer akrilik. Cat ini dapat diencerkan dengan air, namun menjadi kedap air saat kering. Cat macam akrilik ini sangat fleksibel dan hasil lukisannya dapat tampak seperti menggunakan cat lain apabila ditambah bahan lain saat proses pelukisan. Saat sudah mengering, cat akrilik menjadi plastik. Cat ini baik untuk digunakan oleh pemula dalam membuat sebuah lukisan karena mudah untuk digunakan. Lebih tebal dari cat air, dan mudah untuk dibaur dengan warna-warna yang berbeda, serta mudah untuk dikontrol diatas kanvas. Apabila terjadi kesalahan dalam pengecatan, mudah untuk dibetulkan karena dengan mudah bisa langsung diaplikasikan warna lain diatasnya. 
Contoh lukisan akrilik
Cat minyak adalah cat untuk melukis (yang biasanya digunakan untuk melukis) yang paling tebal dan paling mudah untuk dikendalikan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama, sampai beberapa hari untuk mengeringkan cat minyak yang sudah diaplikasikan ke kanvas, ataupun media lainnya. Karena itu, proses melukis dengan cat minyak bisa mencapai beberapa hari, berbeda dengan dua tipe cat (watercolour, dan akrilik) lainnya yang relatif lebih cepat keringnya. Setelah diaplikasikan ke kanvas, tekstur dan bentuk catnya dapat diubah-ubah, tanpa khawatir catnya akan mengering. Saat melakukan kesalahan, seluruh lapisan cat yang salah tersebut harus dikikis. Cat minyak juga dapat dikatakan lebih mahal dibandingkan tipe cat lainnya, dan diperlukan lebih banyak alat-alat untuk memanfaatkan catnya secara utuh. Penggunaan cat minyak biasanya lebih berantakan, dan sangat susah untuk membersihkannya karena tidak larut dengan air. Diperlukan semacam terpentin untuk membersihkan cat minyak. Biasanya hanya seniman-seniman yang sudah benar-benar ahli yang menggunakan cat minyak.
Contoh lukisan minyak

Selain untuk melukis dan membuat karya seni, cat juga digunakan untuk memberi warna pada bangunan, serta memberi kekedapan air. Banyak sekali merek cat tembok pada hari ini, dengan kualitas yang berbeda-beda. Cat tembok pada hari ini mengandung binder, pigmen, aditif dan extender sebagai bahan baku utamanya.  

Dari zaman dahulu sampai sekarang, warna berperan banyak dalam kehidupan manusia, dan dalam sejarah. Telah berkembang cat dari yang awalnya diproduksi dengan bahan-bahan alamiah dan dijual dengan harga yang sangat mahal (melebihi emas), sampai sekarang dimana cat digunakan sebagai alat pewarna sehari-hari dan harganya lebih terjangkau. Cat telah berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi, dan pada hari ini kebanyakan dari cat yang ada terbuat dari bahan sintesis. Mengikuti perkembangan teknologi, cat dan warna pun juga akan terus ikut berkembang.

Sumber:

http://www.kidzworld.com/article/23736-the-different-types-of-paint#

1 komentar: