Selasa, 18 September 2012

Tugas 5 - Perkembangan Bisnis Franchise di Indonesia

PERKEMBANGAN BISNIS FRANCHISE (WARALABA) DI INDONESIA

   Dewasa ini, bisnis franchise (waralaba) sudah banyak ada di Indonesia dan berkembang secara sangat pesat diberbagai kota besar di Indonesia. Tak hanya di pulau Jawa, melainkan juga di pulau-pulau lainnya.
Starbucks Coffee.
   Waralaba sendiri berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu Franchising  dan bahasa Perancis yaitu Franchise yang artinya kejujuran/kebebasan atau hak-hak untuk menjual suatu produk jasa maupun layananan. Kini, waralaba lebih dikenal di Indonesia dengan istilah Franchise.  Yang dimaksud dengan waralaba dalam versi pemerintah Indonesia adalah  perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa. Sedangkan menurut  Asosiasi Franchise Indonesia, waralaba adalah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

   Bisnis franchise atau waralaba dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.    Waralaba Luar Negeri (cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi)
2.    Waralaba dalam negeri (juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba)

   Secara umum, kita bisa membedakan franchise menjadi, franchise industrial dan franchise komersial:

1. Franchise industrial
Adalah suatu bentuk kerjasama wirausaha antar pengusaha(manufacturer). Franchisor adalah pemilik sistem manufacture dan/atau brevet eksklusif. Di sini, franchisor memberikan pengusaha (manufacturer) lainnya hak mengeksploitasi sistem manufacture dan/atau brefet eksklusif dan mengoperasikannya di wilayah yang terbatas. Karena dengan semua sarana yang dimiliki akan memungkinkan franchisee melakukan bisnis usaha yang sama dengan franchisor, yaitu dengan mengkopi formula dan metodologi yang ditransferkan. Oleh karena itu, franchisor tidak menyerahkan kepada franchisee integralitas dari prosedur produksi melainkan  hanya sebagian.

2. Franchise komersial, terdiri dari:
Franchise distribusi produk: adalah franchise yang bertujuan mengkomersialisasi satu atau beberapa produk, yang biasanya diproduksi oleh franchisor atau didistribusikan oleh franchisor secara eksklusif
Franchise distribusi jasa: obyek perusahaan terdiri dari satu atau kesatuan dari jasa, yang dikomersialisasikan oleh franchisee, berdasarkan metodologi yang dia terima dari franchisor. Jenis franchise ini membutuhkan kontrol yang cukup ketat dari franchisor supaya kualitas servis yang memuaskan tercapai.

   Waralaba adalah satu cara mengembangkan usaha diantara beberapa cara bisnis yang lainnya misalnya dengan membuka cabang atau menjalin kemitraan, untuk   bisnis waralaba itu sendiri dimulai pada tahun 1800-an di Inggris ketika system tied house digunakan oleh pembuat bir untuk memasarkan produk mereka. Berikut adalah sejarah awal mula atau perkembangan bisnis waralaba di dunia hingga masuk ke Indonesia.
    Waralaba pertama kali diperkenalkan atau dikembangkan oleh Isaac Singer pada tahun 1850-an. Singer adalah seorang pembuat mesin jahit yang ingin meningkatkan distribusi mesin jahitnya. Pada awalnya, usaha Singer menemui kegagalan namun ialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis warabala di Amerika Serikat.      Kemudian, cara Singer ini diikuti oleh pengusaha-pengusaha lain yang hasilnya lebih sukses dari Singer. Seperti, John S Pomberton pendiri Coca Cola. Namun, ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa yang mengikuti Singer kemudian adalah bukan John S Pomberton melainkan sebuah industri otomotif Amerika Serikat, General Motors Industry pada tahun 1898. Ada juga contoh lainnya di Amerika Serikat yaitu sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan penjual.
   Waralaba saat ini didominasi oleh rumah makan siap saji. Kecendrungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restoran cepat sajinya.  Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restoran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran.
   Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J. Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA.
   Di Indonesia, sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Perkembangan kedua dimulai pada tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee (penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba)  tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memiliki hak untuk memproduksi produknya .
   Bisnis waralaba di Indonesia dapat ditelusuri jauh awal tahun 1980 ketika itu ada 6 perusahaan yang menggunakan waralaba sebagai strategi pemasaran produknya , ada beberpa bisnis waralaba yang sudah cukup lama di Indonesia seperti Es teler 77, Ny.Tanzil Fried Chicken dan  CFC dibidang perumahan kita mengenal Homes 21 Realty untuk bidang pendidikan kita mengenal adalah Oxford Course Indonesia dibidang ritel kita mengenal  M convenience store dan fotografi kita mengenal SS Photo.
   Agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu adalah kepastian hukum yang mengikat baik bagi franchisor (pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya) maupun franchisee. Karenanya, kita dapat melihat bahwa di negara yang memiliki kepastian hukum yang jelas, waralaba berkembang pesat, misalnya di AS dan Jepang. Tonggak kepastian hukum akan format waralaba di Indonesia dimulai pada tanggal 18 Juni 1997, yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba. PP No. 16 tahun 1997 tentang waralaba ini telah dicabut dan diganti dengan PP no 42 tahun 2007 tentang Waralaba. Selanjutnya ketentuan-ketentuan lain yang mendukung kepastian hukum dalam format bisnis waralaba adalah sebagai berikut:

1. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 259/MPP/KEP/7/1997 Tanggal 30 Juli 1997 tentang Ketentuan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba.
2. Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 31/M-DAG/PER/8/2008 tentang  Penyelenggaraan Waralaba
3.  Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten.
4.  Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
5.  Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.

    Banyak orang masih skeptis dengan kepastian hukum terutama dalam bidang waralaba di Indonesia. Namun saat ini kepastian hukum untuk berusaha dengan format bisnis waralaba jauh lebih baik dari sebelum tahun 1997. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya payung hukum yang dapat melindungi bisnis waralaba tersebut. Perkembangan waralaba di Indonesia, khususnya di bidang rumah makan siap saji sangat pesat. Hal ini ini dimungkinkan karena para pengusaha kita yang berkedudukan sebagai penerima waralaba (franchisee) diwajibkan mengembangkan bisnisnya melalui master franchise yang diterimanya dengan cara mencari atau menunjuk penerima waralaba lanjutan.
Excelso. Salah satu waralaba milik Indonesia,
yang sudah banyak cabang di kota-kota
besar di Indonesia
   Dengan mempergunakan sistem piramida atau sistem sel, suatu jaringan format bisnis waralaba akan terus berekspansi. Ada beberapa asosiasi waralaba di Indonesia antara lain APWINDO (Asosiasi Pengusaha Waralaba Indonesia), WALI (Waralaba & License Indonesia), AFI (Asosiasi Franchise Indonesia). Ada beberapa konsultan waralaba di Indonesia antara lain IFBM, The Bridge, Hans Consulting, FT Consulting, Ben WarG Consulting, JSI dan lain-lain. Ada beberapa pameran Waralaba di Indonesia yang secara berkala mengadakan roadshow diberbagai daerah dan jangkauannya nasional antara lain International Franchise and Business Concept Expo (Dyandra),Franchise License Expo Indonesia ( Panorama convex), Info Franchise Expo ( Neo dan Majalah Franchise Indonesia).
   Perkembangan bisnis waralaba di Indonesia saat ini semakin pesat jika dahulu hanya didominasi perusahaan waralaba asing saja  maka saat ini  perusahaan lokal kita juga menunjukan kekuatan bisnis waralaba nya, jika dahulu kita hanya mengenal beberapa fast food asing maka sekarang banyak juga kita juutmpai  bisnis fast food yang berasal dari dalam negeri yang menjalankan bisnisnya dengan konsep waralaba bahkan ada  beberapa bisnis waralaba yang mengusung makanan tradisional  bahkan  mengembangkan bisnisnya dibeberapa negara , jika saja anda berkesempatan untuk  datang pada saat pameran waralaba maka banyak kita jumpai beberapa bisnis lokal yang baru bermunculan baik dari industri makanan , jasa pendidikan maupun otomotif  dengan semakin tingginya perkembangan bisnis waralabadiIndonesia diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapat negara melalui pajak yang dibayarkan para pelaku bisnis waralaba di Indonesia.  
Berikut ini adalah berbagai contoh bisnis franchise yang ada di Indonesia :
§  Di Indonesia waralaba yang berkembang pesat dan masih sangat menguntungkan adalah waralaba di bidang makanan (Wong Solo, Sapo Oriental, CFC, Hip Hop, Papa Rons dan masih banyak merek lainnya).
§  Waralaba berbentuk retail mini outlet : IndomaretYomartAlfaMart
§   Di bidang Telematika atau Information & Communication Technology , juga mulai diminati pada 3 tahun terakhir ini berkembang beberapa bidang waralaba seperti distribusi tinta printer refill/cartridge (Inke, X4Print, Veneta dll) , pendidikan komputer (Widyaloka, Binus) , distribusi peralatan komputer ( Micronics Distribution ) , Warnet / NetCafe (Multiplus, Java NetCafe, Net Ezy) , Kantor Konsultan Solusi JSI , dll.
§  Yang juga menguntungkan adalah waralaba di bidang pendidikan (Science Buddies, ITutorNet,Primagama, Sinotif) , lebih menarik lagi terdapat Sekolah robot ( Robota Robotics School ),taman bermain (SuperKids) dan taman kanak-kanak(FastractKids, Kids2success , Townfor Kids) , Pendidikan Bahasa Inggris (EF/English FirstILPDirect English) dll.
   Dilihat dari banyaknya brand waralaba yang terkenal dan sukses, maka dapat dinyatakan bahwa perkembangan merek dan waralaba di Indonesia cukup pesat dan pada pameran pameran franchise di Indonesia terlihat banyak merek-merek nasional Indonesia bersaing dengan merek global dan regional.
McDonald's. Waralaba milik AS yang
kini sangat banyak
ada di Indonesia.
   Pada tahun 2012 ini, Kementrian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) akan mendorong para usaha waralaba untuk terus berkembang di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menyediakan fasilitator guna melayani perkembangan para pengusaha waralaba di Indonesia.
Dirjen Perdagangan Dalam Negerti Kementertian Perdagangan di JCC Jakarta, Jumat 1 Juni 2012 mengatakan bahwa bihanya berupaya mendukung usaha waralaba di Indonesia. Selain menyediakan fasilitator, juga menyediakan pameran. Selain itu juga berupaya menghasilkan regulasi yang mendukung perkembangan usaha waral aba di Indonesia. Ia juga menjelaskan bahwa untuk pengembangan usaha waralaba di Indonesia, maka dibutuhkan juga system waralaba yang baik, dan peningkatan kreatifitas untuk menciptakan efesiensi usaha waralaba di Indonesia.  Pemerintah juga berharap waralaba di Indonesia bisa tumbuh dengan baik, sehingga nantinya bisa berkontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, Anang Sukandar mengatakan bahwa perkembangan bisnis waralaba di Indonesia belumlah signifikan pertumbuhannya. Bahkan 90% dari 1700 usaha waralaba bisnis opportunity nya tidak berasal dari waralaba. Menurutnya, Indonesia perlu mencoba atau mencotoh cara Malaysia dalam perkembangan bisnis waralabanya.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar