Sabtu, 22 September 2012

Tugas 5 - Perkembangan Bioskop di Indonesia


Sejarah Perkembangan Bioskop di Indonesia Dari Tahun Ke Tahun

Bioskop adalah tempat untuk menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar. Gambar film diproyeksikan ke layar menggunakan proyektor.
Munculnya bioskop pertama kali di Indonesia boleh dibilang tidak terlalu terpaut jauh dengan bioskop permanen di Vitascope Hall, Buffalo, New York.  Di Amerika, bioskop permanen pertama lahir pada Oktober 1896, sementara di Indonesia pada tahun 5 Desember 1900 film mulai masuk ke Hindia Belanda. Pada waktu itu, film yang diputar bukanlah di sebuah gedung bioskop, melainkan di sebuah rumah penduduk berkewarganegaraan Belanda. Rumah itu terletak di daerah Kebon Jahe. Penyelenggara pertunjukan film waktu itu adalah De Nederlandsch Bioscope Maatschappij. Setelah beberapa lama, nama tempat ini diubah menjadi The Roijal Bioscope pada tanggal 28 maret 1903.

Bioskop zaman dulu bermula di sekitar Lapangan Gambir (kini Monas). Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru. Film-film yang diputar di dalam bioskop tempo dulu adalah film gagu alias bisu atau tanpa suara. Biasanya pemutaran di iringi musik orkes, yang ternyata jarang "nyambung" dengan film. Beberapa film yang kala itu yang menjadi favorit masyarakat adalah Fantomas, Zigomar, Tom MIx, Edi Polo, Charlie Caplin, Max Linder, Arsene Lupin, dll.




Pada tahun 1901, pertunjukan “gambar idoep” alias film mulai diperlihatkan kepada khalayak lebih luas. Pada tahun 1901, muncul de Callone, bioskop di Deca Park (sekarang Gambir). Bioskop De Callone mula-mula berupa bioskop terbuka di lapangan yang disebut ‘misbar’ (gerimis bubar). De callone kemudian menempati gedung di sekitar Pintu Air dengan nama Capitol. Selain itu, bioskop juga mulai didirikan di daerah sekitar Lapangan Tanah Abang, Lapangan Mangga Besar, Lapangan Stasiun Kota. Semuanya di Batavia. Konsep “bioskop” sangat sederhana, hanya ditutupi dinding bilik tanpa atap. Sama seperti ‘layar tancep’ pada masa sekarang.


Pada tahun 1903, beberapa gedung bioskop permanen berdiri di Batavia. Salah satunya Hadir bioskop bernama Elite, Deca Park, Capitol, Rialto (satu di kawasan Senen dan satu lagi di Tanah Abang). Rata-rata bangunan di berbagai kota di Indonesia pada masa itu dilandaskan pada konsep art noveau  (seni baru) yang juga kerap disebut seni dekoratif atau art deco . Inilah aliran seni yang berkembang  pada tahun 1890-1905 di Eropa yang melingkupi berbagai bentuk seni murni dan seni terapan termasuk karya arsitektur untuk bioskop. Bioskop Elite dan Capitol merupakan bioskop untuk kelas atas. Sedangkan  Rialto Senen dan Rialto Tanah Abang merupakan untuk penonton kalangan bawah.


Tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927, Loetoeng Ka saroeng, film lokal pertama diputar di berbagai bioskop di Bandung, antara lain di Elita dan Oriental Bioscoop.  Film yang diproduksi NV Java Film Company  itu juga diputar di Bioskop Majestic,  di kawasan elit Jalan Braga,  Bandung.  Bentuk bangunan Majestic digarap arsitek ternama Ir. Wolff Schoemaker. Majestic selesai dibangun pada tahun 1925. Pada tanggal  13 September 1934, dibentuk Persatuan Bioskop Hindia Belanda (Nederlandsch Indiesche Bioscoopbond) di Jakarta.


Tahun 1936--Menurut Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) HM Johan Tjasmadi - ia baru meluncurkan buku 100 Tahun Bioskop di Indonesia  - terdapat 225  bioskop yang ada di Hindia Belanda.  Bioskop tersebut antara lain hadir  di Bandung (9 bioskop), Jakarta (13 bioskop), Surabaya (14 bioskop)  dan Yogyakarta (6 bioskop).

Sebelum Jepang masuk ke Indonesia, ada sekitar 300 gedung bioskop di Indonesia. Jumlah itu berkurang tinggal 52 gedung yang tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang. Yang pertama tersingkir adalah bioskop menengah-bawah. Banyak gedung bioskop alihfungsi menjadi gudang penyimpanan bahan pokok. Film pada masa itu dianggap tidak menarik karena melulu berisi propaganda Jepang. Harga tiketnya pun terbilang mahal. Tahun 1945 pascakemerdekaan, muncul tiga lembaga perfilman: Perusahaan Produksi Film, Perusahaan Peredaran Film, dan Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia).


Pada tahun 1951, bioskop Metropole resmi beroperasi. Bioskop Metropole berkapasitas 1.700 tempat duduk, berteknologi ventilasi peniup dan penyedot, bertingkat tiga dengan ruang dansa dan kolam renang di lantai paling atas. Pemutaran film Annie Get Your Gun  menandai mulai beroperasinya  Metropole di kawasan Menteng, Jakarta. Rahmi Rachim Hatta - istri Wakil Presiden Mohammad Hatta,  Haji Agus Salim dan Sultan Hamengkubuwono IX meresmikan bioskop berkapasitas 1.500 tempat duduk. Bioskop bergaya art deco itu dirancang oleh Liauw Goan Seng. Dalam perjalanannya Metropole bolak-balik ganti nama. Warga Jakarta sempat mengenalnya dengan sebutan bioskop Megaria. 


Pada tahun 1955 bioskop Indra di Yogyakarta mulai mengembangkan kompleks bioskopnya dengan toko dan restoran. Festival Film Indonesia (FFI) pertama, 30 Maret – 5 April 1955. Lewat Djam Malam , dengan sutradara Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik. FFI berlangsung di Metropole dan Cathay. Di bioskop itu pula apda 10 April 1955 lahir PPBSI (Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia).

Gara-gara politik sempat terjadi pemboikotan film-film Amerika pada tahun 1960-an, Beberapa gedung bioskop sempat dibakar. Film dari Rusia, India, Melayu, Filipina mulai banyak beredar.Jika pada tahun 1960 jumlah bioskop di Indonesia sudah mencapai 890, pada tahun menjelang peristiwa G30S/Pki tinggal 350 saja. Pada awal Orde Baru 1966 film Amerika kembali bisa ditonton masyarakat umum.

PPBSI dan beberapa organisasi sejenis sepakat melebur menjadi GPBSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia) pada Desember 1970. Di sisi lain akibat dibukanya kesempatan untuk mengimpor film jumlah bioskop pada tahun 1969-1970 di Indonesia tercatat 653 bioskop. Jumlah itu meningkat pada tahun 1973 menjadi 1.081.

Pada tahun 1987, Indonesia mulai diperkenalkan bioskop sinepleks yang dikenal sebagai “21” (twenty-one) yang dikelola oleh perusahaan Subentra milik pengusaha Sudwikatmono. Kartika Chandra Theater di Jalan Jenderal Gatot Subroto adalah salah satu yang pertama memperkenalkan konsep satu gedung empat ruang bioskop. Penjaga loket dan pintu bioskop terdiri dari cewek-cewek cantik dengan baju batik dan rok panjang. Jumlah sinepleks makin banyak hingga ke kota lain.  Sinepleks dibangun di pusat perbelanjaan, kompleks pertokoan atau di dalam mal yang notabene menjadi tempat nongkrong anak muda. Di sekitar sinepleks itu tersedia pasar swalayan, restoran cepat saji, pusat mainan, dan macam-macam.


Sinepleks tidak hanya menjamur di kota besar, tetapi juga menerobos kota kecamatan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang memberikan masa bebas pajak dengan cara mengembalikan pajak tontonan kepada "bioskop depan". Akibatnya, pada tahun 1990 bioskop di Indonesia mencapai puncak kejayaan: 3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987, di seluruh Indonesia terdapat 2.306 layar. Dengan fasilitas yang nyaman, orang lebih tertarik nonton di sinepleks. Bioskop non-21 mulai berguguran, kalah bersaing. Sementara film nasional yang biasanya melayani kalangan itu seperti tidak punya tempat. Jumlah produksi film nasional pun merosot. Di sisi lain,  bioskop di Indonesia hampir seluruhnya dikuasai oleh jaringan sinepleks 21.


Tahun 2000-an, kelompok sinepleks 21 meluncurkan bioskop dengan konsep satu kelas di atas 21 biasa:  XXI dan The Premiere. The Premiere merupakan teater pemutaran film yang sama seperti teater yang lain. Namun yang membedakan adalah The Premiere ini menggunakan kursi nyaman yang bisa diatur posisinya, dan disediakan selimut yang nyaman serta tersedia juga layanan pemesanan makanan atau minuman dari dalam teater.





Sampai pada tahun 2007, Blitzmegaplex hadir pertamakali di Paris Van Java, Bandung.  Selanjutnya di Grand Indonesia Jakarta. Konsepnya sama, multilayar, namun dengan teknologi audio dan visual yang lebih canggih. Juga pelayanan yang lebih memudahkan serta menyatu dengan sarana lain di sekitar bioskop, seperti restoran. Blitzmegaplex juga memperkenalkan sebuah teater bernamakan The Velvet Suites. Teater ini memiliki kursi yang mirip seperti tempat tidur, lengkap dengan bantal-bantal empuk dan selimut.





Tanggal 18 Februari 2011, berita bahwa film impor sejak 18 Februari tak akan beredar lagi di bioskop di Indonesia merebak. Media massa melansir berita: Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (Ikapifi) tidak akan mengimpor film-film dari luar Indonesia. Begitu juga dengan Motion Picture Association of America (MPAA) menolak mendistribusikan film-film produksi Hollywood.  Aksi ituitu dilakukan sebagai protes atas kebijakan Direktorat Jenderal Bea Cukai yang menerapkan bea masuk atas hak distribusi film impor. Bea masuk itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim dalam praktek bisnis film di seluruh dunia.. Namun setelah sekitar tiga bulan bioskop hanya diisi film lokal dan film asing dan sepi peminat, ada harapan publik film Indonesia bisa kembali menonton film Hollywood.  Pada 18 Mei Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono, di Kantor Kementerian Keuangan mengatakan, “Tunggakan salah importir besar yang sudah dibayarkan Rp 9 miliar, jadi mereka boleh impor film lagi, tapi harus sesuai dengan aturan yang ada.” Tinggal dua importir besar lagi yang belum melunasi tunggakan karena masih dalam proses banding.”


Tahun 2012, muncul teater bernamakan IMAX di Indonesia. IMAX adalah sebuah system yang menggunakan film dengan ukuran frame sepuluh kali lebih besar dari ukuran frame film 35 mm, untuk menghasilkan kualitas gambar yang jauh lebih baik. Kebanyakan film yang diputar di IMAX merupakan film yang konvensional. Teater-teater IMAX menggunakan layar pemutaran film yang berukuran sangat besar dan menggunakan proyektor khusus. IMAX pertama kali dipopulerkan oleh sebuah perusahaan di Canada.



sumber:
-http://id.wikipedia.org/wiki/Bioskop
-http://amandaratriyasmin.blogspot.com/2011/09/sejarah-perkembangan-bioskop-dari-tahun.html
-http://www.kompas.com/readkotatua/xml/2012/01/19/10155593/bioskop.pertama.keliling.kampung
-http://id.wikipedia.org/wiki/Bioskop_21
-http://id.wikipedia.org/wiki/Blitzmegaplex




1 komentar: