Selasa, 18 September 2012

Tugas 5 - Perkembangan Becak

Perjalanan Kereta Tak Berkuda
“Saya mau tamasya, Berkeliling keliling kota, Hendak melihat-lihat keramaian yang ada, Saya panggilkan becak, Kereta tak berkuda, Becak, becak, coba bawa saya”

Pernahkah anda mendengar lagu tersebut ketika anda dalam masa kanak-kanak? Mungkin lirik lagu ini tidak asing di telinga anda. Yap, lagu ini berjudul “Naik Becak”. Lagu ini merupakan lagu yang populer di semua kalangan, terutama anak-anak. Tapi pernahkah terpikirkan di benak anda, dari mana becak berasal? Dimana dan kapan kereta tak berkuda tersebut mulai dipergunakan?
Becak (dari bahasa Hokkien: be chia “kereta kuda”) adalah alat untuk mengangkut orang dan/atau barang dalam jumlah kecil, menggunakan dasar sepeda yang dimodifikasi menjadi kendaraan beroda tiga yang dilengkapi dengan kabin penumpang. Becak direncanakan untuk mengangkut 2 orang penumpang, tetapi terkadang digunakan untuk mengangkut sampai 4 orang.

Sejarah dan Perkembangan
Kereta yang ditarik manusia
Becak pada awalnya ternyata berasal dari Jepang. Munculnya kendaraan yang ditarik dengan tenaga manusia itu, untuk pertama kalinya hanya kebetulan saja. Tahun 1869, Jonathan Goble, seorang pria Amerika yang menjabat pembantu di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jepang, berjalan-jalan menikmati pemandangan Kota Yokohama. Suatu saat ia berpikir, bagaimana cara istrinya yang kakinya cacat bisa ikut berjalan-jalan? Tentu diperlukan sebuah kendaraan. Kendaraan itu, pikirnya, tidak usah ditarik kuda karena hanya untuk satu penumpang saja. Kemudian ia mulai menggambar kereta kecil tanpa atap di atas secarik kertas. Rancangan tersebut ia kirimkan kepada sahabatnya, Frank Pollay. Pollay membuatnya sesuai rancangan Goble lalu membawanya ke seorang pandai besi bernama Obadiah Wheeler. Jadilah becak.
Orang-orang Jepang yang melihat kendaraan pribadi yang ditarik manusia itu, menamakannya "Jinrikisha" (人力車, 人 jin = orang, 力 riki = tenaga, 車 sha = kendaraan), yang berarti "kendaraan tenaga manusia". Penarik jinrikisha biasanya diberi upah tiap minggu. Jinrikisha kemudian identik dengan kendaraan para bangsawan. Sejak 1870, pemerintah Jepang memberikan lisensi kepada tiga orang Jepang: Izumi Yosuke, Suzuki Tokujiro, dan Takayama Kosuke untuk membuat jinrikisha. Dua tahun kemudian sekitar 40.000 jinrikisha memenuhi jalanan di Tokyo, dan menjadikannya alat transportasi populer di Jepang.
Pada tahun 1800-an, jinrikisha akhirnya sampai ke telinga masyarakat di Tiongkok. Di Cina, becak digunakan sebagai kendaraan pribadi para kaum bangsawan. Dalam Bahasa Inggris, becak disebut rickshaw. Sementara, penghelanya disebut Hiki. Namun, lama kelamaan, pemerhati kemanusiaan di Tiongkok merasa iba terhadap para Hiki. Kemudian, penggunaan becak mulai dilarang sejak itu. Dalam perkembangannya becak tak lagi dioperasikan dengan cara ditarik melainkan dikayuh (cycle-rickshaw).
Kendaraan Bangsawan

Ternyata, becak pun sudah menyebar melintasi Asia Selatan (India) dan Pakistan sekitar tahun 1930-an, menyapu seluruh Asia Tenggara, bahkan hingga ke Afrika Selatan. Para imigran China membawa alat transportasi ini ke negara-negara tujuan seperti India dan Singapura. Di Asia Tenggara, becak diperkirakan mulai berkembang sekitar awal tahun 1940-an.

Becak di Indonesia
Sama seperti Awal mula becak, tak jelas juga kapan becak dikenal di Indonesia. Lea Jellanik dalam Seperti Roda Berputar, menulis becak didatangkan ke Batavia dari Singapura dan Hongkong pada 1930-an. Jawa Shimbun terbitan 20 Januari 1943 menyebut becak diperkenalkan dari Makassar ke Batavia Akhir 1930-an. Ini diperkuat dengan catatan perjalanan seorang wartawan Jepang ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Makassar. Dalam catatan berjudul “Pen to Kamera” terbitan 1937 itu disebutkan, becak ditemukan orang Jepang yang tinggal di Makassar, bernama Seiko-san yang memiliki toko sepeda. Karena penjualan seret, pemiliknya memutar otak agar tumpukan sepeda yang tak terjual bisa dikurangi. Dia membuat kendaraan roda tiga, dan terciptalah becak.
Menurut Tim Hannigan dalam “Beguiled by Becak” , becak yang membawa penumpang memenuhi jalan-jalan di Batavia baru terlihat pada 1936. Sebelumnya ada kendaraan roda tiga (tricycles) yang dipakai untuk mengangkut barang selama bertahun-tahun.

Berbeda dengan becak di Jepang (jinrikisha) dan Cina (angkong) yang beroda dua dengan menggunakan Ban mati, becak versi Indonesia lebih modern. Rodanya tiga dan menggunakan ban angin. Menjalankannya dikayuh dengan dua kaki dari belakang tempat penumpang.

Awalnya pemerintah kolonial Belanda merasa senang dengan transportasi baru ini. Namun belakangan pemerintah melarang keberadaan becak karena jumlahnya terus bertambah, membahayakan keselamatan penumpang, dan menimbulkan kemacetan.

Jumlah becak justru meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Kontrol Jepang yang sangat ketat terhadap penggunaan bensin serta larangan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi menjadikan becak sebagai satu-satunya Alternatif terbaik moda transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan penguasa membentuk dan memobilisasi kelompok-kelompok, termasuk tukang becak, demi kepentingan perang melalui pusat pelatihan pemuda, yang mengajarkan konsep politik dan teknik organisasi.

Pasca perang, ketika jalur dan moda transportasi kian berkembang, becak tetap bertahan. Bahkan ia menjadi transportasi yang menyebar hampir di seluruh Indonesia. Pada pertengahan hingga akhir 1950-an ada sekitar 25.000 hingga 30.000 becak di Jakarta. Jumlah becak membengkak hingga lima kali lipat pada 1970-an.

Pemerintah yang sedang gencar melakukan pembangunan, terutama Jakarta, merasa gelisah. Becak dianggap sebagai gambaran keterbelakangan Indonesia. Kuno dan memalukan. Mulailah pemerintah mencari cara menghambat laju becak. Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan aturan mengenai larangan total angkutan yang memakai tenaga manusia, membatasi beroperasinya becak, dan mengadakan razia mendadak di daerah bebas becak. Ia juga yang menentukan batas waktu Jakarta bebas becak pada 1979. Ironisnya, pada 1966 jumlah becak ada 160 ribu –jumlah tertinggi dalam sejarah.
Kendaraan Kontroversial di Jakarta

Kebijakan serupa dilanjutkan oleh gubernur-gubernur berikutnya: Suprapto, Wiyogo Atmodarminto, Suprapto, dan Sutiyoso. Becak dianggap biang kemacetan, simbol ketertinggalan kota, dan alat angkut yang tak manusiawi. Di sisi lain, becak juga mulai menghadapi pesaing dengan kehadiran ojek motor, mikrolet, dan metromini. Pada 1980, misalnya, pemerintah mendatangkan 10.000 minica (bajaj, helicak, minicar) untuk menggantikan 150.000 becak. Pemerintah ketika itu memprogramkan para tukang becak beralih profesi menjadi pengemudi kendaraan bermotor itu. Bahkan pemerintah menggaruk becak dan membuangnya ke Teluk Jakarta untuk rumpon, semacam rumah ikan. Karena sulit, Gubernur Suprapto sampai bilang: “becak-becak akan punah secara alamiah.”
Sebenarnya, becak tidak punah dari peradaban di Indonesia. Becak masih terus beroperasi di kota-kota di Indonesia, seperti kota-kota di Sumatra, Jawa, dan Makassar. Di Indonesia ada dua jenis becak yang lazim digunakan:

* Becak dengan pengemudi di belakang. Jenis ini biasanya ada di Jawa.
* Becak dengan pengemudi di samping. Jenis ini biasanya ditemukan di Sumatra. Untuk becak jenis ini dapat dibagi lagi ke dalam dua sub-jenis, yaitu:

1. Becak kayuh - Becak yang menggunakan sepeda sebagai kemudi.
2. Becak bermotor/Becak mesin - Becak yang menggunakan sepeda motor sebagai penggerak.

Dibeberapa negara lain masih ada becak yang pengemudinya berada di depan, sebagaimana dikembangkan di India, Pakistan dan Bangladesh, konsep ini yang kemudian dikembangkan dalam oleh bajaj yang diambil dari India pada tahun 1970an.

Becak Penghuni Tanah Air
1. Becak Jawa
Becak Jawa yang umum ditemukan di Jakarta
Becak di Jawa umumnya adalah becak dayung, becak yang digerakan seperti sepeda oleh tenaga manusia. Umumnya, kemudi becak di Jawa berada di belakang kabin penumpang. Setiap daerah atau kota di Pulau Jawa memiliki ciri khas becak masing-masing. Seperti becak di Bandung berbeda dengan becak di Yogyakarta, Surakarta(Solo), dan Surabaya.

2. Becak Mesin
Becak mesin adalah becak yang dioperasikan dengan mesin atau motor. Kabin penumpang disambung dengan sebuah sepeda motor untuk menggerakannya. Biasanya sepeda motor yang digunakan disambung pada bagian samping kabin penumpang. Maka dari itu, becak mesin disebut juga Becak Motor.
Becak di Sumatra dengan sepeda motor sebagai pendorong
Pada awalnya becak mesin Medan menggunakan mesin dua langkah merk Rex buatan Jerman yang sederhana berukuran silender kecil yang dipasang pada becak dayung. kemudian berkembang menggunakan sepeda kumbang Gobel yang dikayuh untuk menghidupkannya dan beberapa merk lainnya, sekarang digunakan motor produksi baru yang banyak dipasarkan di Indonesia untuk menggerakkan becak tersebut. Contoh sepeda motor yang digunakan seperti Honda Win di kota Medan, Vespa di kota Padang Sidimpuan, bahkan di kota Tebing Tinggi menggunakan sepeda motor sport seperti Honda Tiger, Suzuki Thunder, bahkan Kawasaki Ninja.
Becak motor sangat popular di kota-kota di Pulau Sumatra. Kendaraan ini menjadi kendaraan sehari-hari masyarakat di Sumatra. Becak motor tidak terlalu menimbulkan masalah karena menggerakannya menggunakan sepeda motor, tidak seperti becak di Jawa yang dikayuh dan menghambat lalu lintas.

3. Becak Makassar
Becak Makassar yang hanya cukup untuk 1 orang
Becak Makassar berbeda sedikit dari becak yang dikembangkan di Jawa karena ukuran ruang penumpangnya lebih sempit, bila dimuati dua orang terasa sempit, lebih cocok bila digunakan untuk mengangkut satu orang penumpang.








4. Helicak
Helicak
Helicak adalah kendaraan angkutan masyarakat yang direncanakan sebagai pengganti becak, dikembangkan di Jakarta pada tahun 1970an. Nama helicak berasal dari gabungan kata helikopter dan becak, karena bentuk kabin memang mirip dengan kabin helikopter sedangkan fungsinya sama seperti becak yang dapat memuat 2 orang penumpang.
Helicak pertama kali diluncurkan pada 24 Maret 1971. Mesin dan bodi utama kendaraan ini adalah skuter trike Tri Lambretta dengan mesin 150 CC yang didatangkan dari Italia. Kendaraan ini pertama kali dicetuskan di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin sebagai pengganti becak yang dianggap tidak manusiawi, pernah dicoba untuk dikembangkan di Salatiga, Jogyakarta, Surabaya.
Seperti halnya becak, pengemudi helicak duduk di belakang, sementara penumpangnya duduk di depan dalam sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca (fiber glass) sehingga terlindung dari panas, hujan ataupun debu, sementara pengemudinya tidak dan terpapar dengan cuaca panas maupun hujan. Dari sisi keselamatan kendaraan ini dianggap tidak aman bagi penumpang, karena bila terjadi tabrakan, si penumpanglah yang pertama kali akan merasakan akibatnya, sedang pengemudinya bisa melompat dan terhindar dari kecelakaan.


Pro dan Kontra

Becak merupakan kendaraan yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil sedikit pun(kecuali becak motor). Becak juga tidak mengeluarkan emisi gas buang yang akan mencemari lingkungan. Becak memiliki system yang hampir mirip dengan sepeda. Becak juga tidak menyebabkan kebisingan dan sangat dianjurkan untuk menjadi objek pariwisata.

Meskipun begitu, becak memiliki kecepatan yang sangat lamban. Ini dapat menghambat lalu lintas terutama di kota-kota besar yang sudah dipadati oleh kendaraan bermotor. Selain itu, beberapa pandangan yang mengatakan bahwa becak tidak enak dilihat atau mengganggu pemandangan kota yang sedang berkembang pesat seperti Jakarta, karena bentuknya yang kurang modern dan ketinggalan zaman.

Sumber
http://liriklaguindonesia.net/naik-becak.htm
http://aksesdunia.com/2012/sejarah-dan-perkembangan-alat-transportasi-becak/
http://gudang-sejarah.blogspot.com/2008/12/sejarah-becak.html
http://indonesiaindonesia.com/f/88543-sejarah-becak-pernah-mati/
http://id.wikibooks.org/wiki/Profil_Becak_di_Indonesia/Sejarah_perkembangan_becak_di_Indonesia
http://id.wikibooks.org/wiki/Profil_Becak_di_Indonesia/Asal-muasal_becak
http://www.infokepanjen.com/2010/12/sejarah-dan-perkembangan-becak.html
http://id.wikibooks.org/wiki/Profil_Becak_di_Indonesia/Becak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar