Minggu, 16 September 2012

Tugas-5 Perkembangan Alat Tukar

Uang Sebagai Alat Tukar

            Apa yang Anda pikirkan apabila mendengar 'alat tukar'. Kebanyakan dari Anda pasti langsung mengkaitkan dengan uang. Uang memang merupakan alat tukar yang dapat diterima secara umum. Namun, beberapa abad yang lalu, alat tukar tidak harus berupa uang. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Emas dan perak juga dapat dijadikan sebagai alat tukar kalau dapat diterima secara umum. Namun, apakah uang selalu dijadikan alat tukar?

            Perkembangan alat tukar di Indonesia diawali dengan adanya sistem barter. Sebelum adanya sistem barter, setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika mereka lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi pribadi, dan lain-lain. Intinya adalah apa yang diperoleh manusia, itulah yang dimafaatkan untuk kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, manusia harus mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya, muncullah sistem barter.

Awal Munculnya Alat Tukar
            Barter adalah kegiatan tukar-menukar barang atau jasa yang terjadi tanpa perantara uang. Manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, manusia harus mencari seseorang atau beberapa orang yang membutuhkan sesuatu yang kita punya, sehingga dapat dilakukan proses tukar-menukar, misalnya pada kehidupan masyarakat zaman dahulu. Pekerjaan yang dapat dilakukan zaman dahulu hanya sedikit, seperti berburu, bercocok tanam, menangkap ikan, dan beternak.

Penggambaran proses barter yang sering terjadi

            Sistem barter tidak bertahan selamanya dalam dunia perdagangan. Semakin hari, manusia semakin dapat merasakan kesulitan dalam melakukan sistem barter tersebut. Kebanyakan, kesulitan yang mereka hadapi adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya (disebut juga kehendak ganda yang selaras atau double coincidence of wants). Selain itu, ada juga kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya dan barang yang dibarter tidak dapat dipecah-pecah menjadi satuan kecil untuk membagi nilainya. Kesulitan-kesulitan tersebut mendorong manusia untuk menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran, dengan menetapkan benda-benda tertentu sebagai alat tukar.

            Sistem tukar-menukar dengan menggunakan benda-benda tertentu disebut juga uang barang. Benda-benda yang ditetapkan sebagai uang barang adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted), benda-benda bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai, khasiat, keistimewaan atau fungsi tertentu yang dianggap berharga), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari, seperti garam yang digunakan oleh orang Romawi sebagai alat tukar, maupun sebagai alat pembayaran upah. Contoh lain dari benda-benda yang dapat digunakan sebagai alat ukur selain garam antara lain, manik-manik, kulit kerang, tanah liat, tembaga, dan sebagainya.

Kulit kerang yang sering digunakan sebagai uang barang

            Sistem uang barang terlihat seperti sistem yang lebih maju dan lebih efektif, karena sudah jelas alat tukarnya. Namun, seperti sistem barter, sistem tersebut mengalami kesulitan-kesulitan dalam pertukaran tetap. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain, nilai yang dipertukarkan belum mempunyai pecahan, banyak jenis uang barang yang beredar dan hanya berlaku di masing-masing daerah, sulit untuk penyimpanan (storage) dan pengangkutan (transportation), dan kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.

            Di Indonesia, uang logam sudah digunakan sebagai alat tukar atau alat transaksi sejak zaman-zaman kerajaan. Uang logam pertama kali muncul pada saat raja Asshurbanipal mengadakan hubungan dagang dengan raja Gyges. Asshurbanipal terkejut karena raja Gyges menggunakan uang dalam transaksi perdagangannya. Bahkan, negara-negara besar yang terlebih dahulu mengadakan hubungan perdagangan dengan Asshurbanipal belum pernah menggunakan uang dalam melakukan transaksi. Macam-macam uang digunakan pada zaman itu, dari yang berbahan kulit kerang, logam mulia, gigi, dan lain sebagainya. Namun kesulitan-kesulitan mulai muncul, seperti kesulitan dalam hal membedakan kulit kerang yang kecil dengan yang besar dan kesulitan dalam hal daya tahan lama. Lalu, muncullah ide untuk membuat uang logam.

Uang logam yang berlaku pada zaman kerajaan

            Mengapa uang logam? Karena, apabila kita melihat dari salah satu kesulitan dalam penggunaan uang barang sebagai alat tukar, yaitu kurangnya daya tahan benda-benda yang digunakan sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama, dan dikaitkan dengan logam, maka uang logam merupakan solusinya. Uang logam tahan lama dan tidak mudah rusak. Selain itu, logam dipilih sebagai bahan uang karena digemari umum, nilainya bisa ditentukan, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan.

            Uang logam biasanya terbuat dari emas, perak, perunggu, tembaga, dan alumunium, karena logam-logam tersebut diyakini nilainya tidak akan berkurang walaupun sudah lama digunakan. Uang logam juga disebut-sebut sebagai uang penuh (full bodied money) yang artinya nilai uang yang tertera di permukaan sama dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.

            Proses pembuatan uang logam diawali dengan menimbang dan menentukan kadarnya. Para penguasa memerintahkan tukang tempa logam untuk menempa logam menjadi ukuran yang lebih kecil. Setelah ditempa, logam tersebut diberi gambar dan cap resmi. Kepingan logam diberi angka yang menunjukkan nilainya, biasa disebut nilai nominal.

            Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia, terutama emas dan perak, sangat terbatas. Pemberlakuan uang logam memiliki kelemahan-kelemahan, seperti cadangan emas dan perak di berbagai wilayah tidak sama, serta sulit dipindahkan atau disimpan, terutama dalam jumlah besar. Selain itu, emas dan perak memiliki fungsi lain sehingga ada pembatasan untuk memakainya sebagai uang.

            Karena penggunaan uang logam sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar, sehingga diciptakanlah uang kertas. Uang kertas diberlakukan untuk mengatasi kesulitan dalam penggunaan uang logam. Mula-mula, uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat atau perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya.

Uang kertas yuan, yen, dan dolar

            Dalam perjalanannya, penggunaan uang kertas berkembang menjadi atribut dan simbol sebuah negara. Namun, sebagai garansi dari negara yang bertanggung jawab atas peredarannya, maka jumlah uang kertas yang diterbitkan selalu dikaitkan dengan jumlah cadangan emas yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan. Sekitar tahun 1976, ketergantungan pencetakan uang kertas sudah tidak lagi dihubungkan dengan cadangan emas, tetapi dibiarkan bergulir dan terjun ke pasar besar menghadapi hukum penawaran dan permintaan sebagaimana yang tumbuh dalam hukum ekonomi.

            Setelah munculnya uang kertas, manusia masih menghadapi kesulitan-kesulitan dengan uang kertas, terutama kesulitan dalam membayar suatu barang dengan jumlah yang cukup besar. Membawa lembaran uang yang banyak juga terlihat sangat merepotkan. Akhirnya, dibuatlah suatu bentuk uang untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, yang disebut uang giral. Uang giral merupakan simpanan uang atau rekening dana di bank yang dapat dipakai sebagai alat pembayaran dengan menggunakan cek, bilyet giro, dan telegraphic transfer. Adanya uang giral, menyebabkan transaksi pembayaran dalam jumlah yang besar menjadi lebih praktis dan aman.

Contoh cek yang dikeluarkan oleh Bank of Tokyo

Perkembangan Alat Tukar di Indonesia
            Perkembangan alat tukar di Indonesia dimulai setelah Indonesia berhasil meraih kemerdekaan pada tahun 1945. Keadaan ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan ditandai dengan hiperinflasi akibat peredaran beberapa mata uang yang tidak terkendali, sementara pemerintah RI belum memiliki mata uang. Ada tiga mata uang yang dinyatakan berlaku oleh pemerintah RI pada tanggal 1 Oktober 1945, yaitu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda, dan mata uang De Javasche Bank.

Mata uang Jepang
Mata uang Hindia Belanda
Mata uang De Javasche Bank

            Pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Letjen Sir Montagu Stopford memperparah kekacauan ekonomi akibat hiperinflasi dengan mengumumkan pemberlakuan mata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNEI. Kebijakan tersebut diprotes keras oleh pemerintah RI, karena melanggar persetujuan bahwa masing-masing pihak tidak boleh mengeluarkan mata uang baru selama belum adanya penyelesaian politik. Namun, protes keras ini diabaikan oleh AFNEI, sehingga pemerintah RI mengeluarkan kebijakan yang melarang seluruh rakyat Indonesia menggunakan mata uang NICA sebagai alat tukar.

Mata uang NICA nominal 50, 10, dan 500

            Pada tanggal 26 Oktober 1946, pemerintah RI memberlakukan mata uang baru ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai alat tukar yang sah di seluruh wilayah RI. Sejak saat itu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda dan mata uang De Javasche Bank dinyatakan tidak berlaku lagi. Untuk mengatur nilai tukar ORI dengan valuta asing yang ada di Indonesia, pemerintah RI pada tanggal 1 November 1946 mengubah Yayasan Pusat Bank pimpinan Margono Djojohadikusumo menjadi Bank Negara Indonesia (BNI). Beberapa bulan sebelumnya pemerintah juga telah mengubah bank pemerintah kedudukan Jepang Shomin Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Tyokin Kyoku menjadi Kantor Tabungan Pos (KTP). Semua bank ini berfungsi sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah RI.

            Pada tahun 1946, tepatnya pada tanggal 4 Januari 1946, ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Karena perpindahan ibukota tersebut, pemerintah RI mengeluarkan beberapa mata uang ORI yang telah diperbaharui. Pada seri ORI II, III, IV, dan ORI Baru, kita dapat melihat sesuatu yang berbeda dari ORI I, yaitu adanya tulisan 'Djogjakarta' dan bukan lagi 'Djakarta'. Seri ORI II hanya memilik 4 pecahan dan tiga diantaranya, yaitu pecahan 5, 10, dan 100 rupiah memiliki bentuk yang sama seperti seri ORI I. Hanya pecahan 25 rupiah saja yang berbeda. Uang-uang seri ini tidak mempunyai pengamanan yang baik, hanya kualitas kertas dan rahasia pada kode kontrol nomor seri saja yang membedakan apakah uang ini asli atau palsu.

Seri ORI I (Jakarta, 17 Oktober 1945)
Seri ORI II (Yogyakarta, 1 Januari 1947)

            Selanjutnya pada tahun 1947, pemerintah mengeluarkan seri ORI III. Uang-uang seri ini sedikit berbeda dari seri-seri sebelumnya. Seri ORI III memiliki 7 pecahan, dari yang terkecil, yaitu 1/2 rupiah, sampai yang terbesar, yaitu 250 rupiah. Selain itu, pada seri ini terdapat pecahan 100 rupiah Maramis, yang hanya bisa dikalahkan oleh pecahan 600 rupiah pada seri ORI IV. Seri ORI IV merupakan seri yang unik, karena seri ini terdiri dari pecahan-pecahan yang sangat ganjil nominalnya, yaitu 40 rupiah, 75 rupiah, 100 rupiah Hatta, 400 rupiah, dan tentunya 600 rupiah, yang merupakan salah satu uang kertas terlangka dan termahal. Seri ORI III dan ORI IV sama-sama memiliki kekurangan, yaitu banyaknya versi yang palsu sehingga harus dapat mempelajari rahasia kode kontrolnya.

Pecahan 0,5 rupiah seri ORI III 
Pecahan 40 rupiah seri ORI IV

            Tahun 1949, merupakan tahun yang besar bagi perkembangan uang di Indonesia. Selain diterbitkannya seri ORI Baru, uang rupiah ditetapkan dan dinyatakan secara resmi sebagai mata uang resmi negara Indonesia, tepatnya pada tanggal 2 November 1949. Pemerintah memandang bahwa Indonesia perlu mengeluarkan mata uang sendiri, bukan hanya sebagai alat pembayaran, tetapi juga sebagai tanda atau lambang utama bahwa Indonesia sudah menjadi negara yang benar-benar merdeka. Perkataan 'rupiah' berasal dari kata 'rupee', yang merupakan mata uang India.

            Berdirinya negara Republik Indonesia Serikat, yang merupakan salah satu hasil kesepakatan dari Konferensi Meja Bundar, membuat pemerintah mengeluarkan uang dengan seri baru, yaitu seri RIS. Seri RIS yang bertanggal 1 Januari 1950 merupakan seri penggati seri-seri ORI. Seri yang beredar hanya terdiri dari 2 pecahan, yaitu pecahan 5 dan 10 rupiah. Selanjutnya pada tahun 1951 dan 1953, seri uang yang digunakan adalah seri pemandangan alam. Mengapa disebut 'seri pemandangan alam'? Karena, gambar pada uang-uang di seri ini merupakan gambar yang mengintrepretasi keindahan pemandangan alam di Indonesia. Seri yang dikeluarkan pada tahun 1951 dan 1953 memiliki gambar yang sama, tetapi tanda tangan yang tertera berbeda.

Pecahan 5 dan 10 rupiah seri RIS
Pecahan 1 dan 2,5 seri pemandangan alam

            Sebelum seri pemandangan alam diterbitkan kembali, uang-uang seri kebudayaan dikeluarkan dan mulai diedarkan pada tahun 1952. Seri kebudayaan ini merupakan seri yang pertama kali dicetak oleh Bank Indonesia. Sebelumnya, semua fungsi moneter termasuk mencetak uang baru, dilakukan oleh De Javasche Bank. Oleh karena itu, banyak orang yang beranggapan bahwa uang seri ini memiliki nilai khusus karena merupakan awal dari sejarah uang kertas di Indonesia. Keindahan design dari seni ini hampir tidak bisa dibantah lagi, penuh dengan sentuhan budaya lokal. Tema atau design yang mirip dengan seri ini masih dapat ditemukan pada seri berikutnya, namun secara perlahan mulai menghilang dan makin sulit untuk menemukan uang dengan design seperti seri kebudayaan.

Uang-uang seri kebudayaan

            Dapat kita lihat dari perkembangan uang dari tahun 1945-1953, bahwa dari tahun ke tahun, perkembangan uang hanya terletak pada nominal dan desgin nya. Pergantian uang pun terlalu sering karena selalu dikeluarkannya seri baru dengan gambar atau design yang lebih menarik. Menanggapi hal tersebut, pemerintah langsung mengeluarkan dan menetapkan bentuk uang yang akan digunakan masyarakat sebagai alat tukar untuk tahun 2000-2005. Untuk mengapresiasi para pahlawan yang telah berjasa terhadap Indonesia, Bank Indonesia mengeluarkan secara lengkap pecahan baru dari nominal yang paling kecil, yaitu 1.000 rupiah, sampai nominal yang paling besar, yaitu 100.000 rupiah, dengan gambar pahlawan nasional. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan dan menetapkan uang logam 50, 100, 500 rupiah sebagai alat tukar dan alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Uang-uang yang diberlakukan di Indonesia sejak tahun 2000-sekarang

            Sampai detik ini, uang-uang yang diterbitkan tersebut masih digunakan sebagai alat tukar dan alat pembayaran. Namun, tidak langsung uang-uang yang kita gunakan sekarang diterbitkan dalam bersamaan. Uang yang pertama kali diterbitkan adalah pecahan 1.000 rupiah pada tahun 2000 dan juga uang logam 100 rupiah dan 500 rupiah dari bahan kuningan mulai digunakan secara umum, pecahan 5.000 rupiah diterbitkan pada tahun berikutnya, uang logam diperindah dan diterbitkan pecahan 500 rupiah dari bahan alumunium pada tahun 2003, pecahan 20.000 dan 100.000 rupiah pada tahun berikutnya, pecahan 10.000 dan 50.000 rupiah diterbitkan pada tahun berikutnya, pecahan 2.000 rupiah diterbitkan pada tahun 2009, dan yang terakhir adalah uang logam 1.000 rupiah yang diedarkan mulai 10 Juli 2010.

Pecahan 2.000 rupiah yang berlaku sekarang
Uang logam 1.000 rupiah yang berlaku sekarang

            Walaupun penetapan seri uang yang digunakan sebagai alat tukar dan alat pembayaran belum berubah, masyarakat di Indonesia merasa bahwa uang kertas dan logam dapat memberatkan mereka dalam hal transaksi uang dalam jumlah yang cukup besar. Mendesaknya kebutuhan masyarakat akan adanya sebuah alat tukar yang mudah, praktis, dan aman, menimbulkan munculnya uang giral yang diciptakan oleh bank umum. Masyarakat Indonesia merasa bahwa uang giral memudahkan pembayaran karena tidak perlu menghitung uang, alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas, lebih aman karena risiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang, bisa segera dilaporkan ke bank yang mengeluarkan cek atau bilyet giro dengan cara pemblokiran.

Contoh uang giral (berupa cek) yang dikeluarkan oleh Bank BCA

Sumber:
blogapaitu.blogspot.com
indradarmawanusd.blogspot.com
www.bi.go.id
www.eonet.ne.jp
www.kaskus.id
www.rumahuang.com
www.uang-kuno.com
www.wikipedia.org

1 komentar: