Minggu, 23 September 2012

Tugas-5 Perkembangan Alat Perekam Suara



Perkembangan Alat Perekam Suara

video
Rekaman Suara Pertama di Dunia
Menggunakan Phonoautograph oleh Édouard-Léon Scott de Martinville tahun 1860.


Peneliti Amerika telah menemukan rekaman audio lagu rakyat Perancis sepanjang 10 detik, yang diyakini sebagai rekaman suara tertua pada sejarah manusia. Rekaman tersebut menunjukkan seorang wanita muda menyanyikan beberapa frase dari lagu rakyat abad ke-18, ‘Au Clair de la Lune’. Lagu tersebut terekam pada tanggal 9 April 1860 oleh Edouard Leon Scott de Martinville, seorang typesetter dan pustakawan Paris, pada perangkat yang ia sebut sebagai "phonautograph". Rekaman tersebut dibuat 17 tahun sebelum rekaman terkenal Edison; 'Mary had a little lamb’ pada tahun 1877 dan 28 tahun sebelum rekaman pertama yang dimainkan; “a performance of a Handel oratorio at Crystal Palace” pada tahun 1888. Teknologi yang ditemukan tersebut memungkinkan suara seorang wanita muda Perancis, yang terekam di Paris pada bulan-bulan sebelum pelantikan Abraham Lincoln sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk dapat didengar lagi.



Phonoautograph

Leon Scott dan Phonoautograph.
Penemuan penting oleh peneliti Amerika tersebut juga menunjukkan bahwa phonoautograph merupakan alat perekam suara pertama yang ditemukan oleh Leon Scott dan telah ada sebelum phonograph penemuan Thomas Alpha Edison yang digunakan untuk mempelajari gelombang suara. Edouard-Leon Scott de Martinville merekam suara menggunakan phonautograph yang memindahkan gelombang suara ke dalam selembar kertas yang dihitamkan dengan asap lampu minyak. Untuk memutar rekaman itu sendiri, pada masa ini para ahli membuat alat pemindai digital beresolusi sangat tinggi. Dengan pemindai digital itu para ahli akhirnya dapat membaca gelombang suara yang dihasilkan Edouard-Leon Scott de Martinville tersebut. Hasilnya, terdengarlah rekaman seseorang bernyanyi: ‘Au clair de la lune, Pierrot repondit‘. Pada zaman dahulu, Edouard-Leon Scott de Martinville sendiri tidak bisa memutar ulang rekaman yang ia buat tersebut, baru setelah itu Thomas Alpha Edison dapat membuat alat yang dapat merekam sekaligus dapat memutar kembali suara yang direkam.



Phonograph

Thomas Edison dan Phonograph.
         Tonggak penemuan teknologi perekam berawal dari ditemukannya alat phonograph oleh Thomas Edison pada tahun 1877. Alat ini merupakan ujung tombak dimana suara dapat direkam ke dalam suatu alat sekaligus dapat memutarkan ulang suara yang sudah direkam. Dengan tabung silinder (wax cylinder) yang dibungkus oleh material yang halus, seperti lilin, yang merupakan media untuk dapat merekam suara ke dalam satu media. Untuk melakukan play back, diperlukan alat menyerupai jarum pada phonograph yang diguratkan pada silinder tadi, dan akan menghasilkan getaran yang secara mekanik akan menghasilkan suara pada corong phonograph.

Gramophone
Emir Berliner dan Gramophone.

Pada tahun 1894, Emir Berliner mengembangkan phonograph menjadi gramophone. Dengan bentuk yang tidak begitu berubah, hanya sistem rekam yang dahulu vertikal, pada saat itu diubah menjadi horizontal, yang membuat kedalaman alur silinder menjadi lebih konstan. Hingga bentuknya menyerupai CD yaitu flat, tidak lagi silinder, dan dinamakan Gramophone record. Emir Berliner mencetuskan ide untuk mencetak suara di atas piringan dan bukan silinder dengan alasan lebih mudah dihasilkan. Ide piringan inilah yang berkembang menjadi disc (CD) yang kita kenal sekarang ini. Lonjakan terbesar terjadi pada tahun 1924. Dengan Victor Orthophonic Phonoautograph, peningkatan kualitas dari proses rekaman yang sudah menggunakan tenaga listrik serta perubahan pada corong yang menghasilkan respons frekuensi yang flat.

Telegraphone

Valdemar Poulsen dan Telegraphone.
        Tahun 1898, untuk pertama kalinya Valdemar Poulsen menemukan teknik perekam tegak lurus (perpendicular recording). Ia memperkenalkan magnetic recording dengan menggunakan perangkat telegraphone. Dengan menggunakan kekuatan magnet, media yang bergerak secara konstan dengan kecepatan yang konstan pula melewati “head” perekam. Sinyal elektrik, yang secara analog menjadi suara yang ingin direkam, melewati head tadi dan menghasilkan suara lebih baik dari teknologi sebelumnya.
Valdemar Pulsen (1896-1942) adalah insinyur asal Denmark. Selain menemukan dan mengembangkan teknologi perekam, pada tahun 1903 ia juga mengembangkan peralatan yang dapat menghasilkan gelombang-gelombang radio secara terus menerus.

      Penemuan ini membantu pengembangan penyiaran radio. Pemancar lengkungnya dapat menghasilkan jangkauan frekuensi alat Singing Arc yang dikembangkan Duddell pada 1900. Alat itu meningkatkan frekuensi dari jangkauan gelombang audio menjadi gelombang radio, memungkinkan pembicaraan dapat dikirim dalam jarak lebih dari 241 kilometer. Pada 1920, alat Poulsen memiliki kekuatan 1.000 kilowatt dengan jangkauan 4.020 kilometer.


Phonograph, graphophone dan alat perekam lainnya adalah alat mekanik yang biasa digunakan pada zaman dahulu. Sampai pada akhirnya tahun 1920 dikembangkan player dengan built in speaker yang mengizinkan pemutaran hasil rekaman dapat lebih keras suaranya. Hingga akhir perang dunia II, phonograph atau dikenal juga dengan gramophone adalah satu-satunya alat perekam dan playback yang umum digunakan, tetapi zaman terus  mengalami perubahan. Hollywood mulai mengambil peranan dalam perkembangan rekaman dengan menggunakan suara di film.”


Tape Recording

Pada akhirnya, pengembangan tape recording yang menggantikan phonograph dan recording optical, karena lebih mudah digunakan dan biayanya yang lebih terjangkau. Tape mulai populer tahun 1950-an. Perkembangan tape recorder ini membawa perubahan yang pesat dalam pembuatan musik. Karena dengan tape, proses edit menjadi lebih mudah, pemberian efek fade in dan fade out juga dapat dilakukan. Jika sebelumnya seorang artis harus membawakan lagu dengan sempurna saat direkam, dengan adanya tape recording, proses penambalan dan edit yang lebih mudah menyebabkan berbagai kesalahan dapat diperbaiki dengan mudah.

Multitrack Recording

Pada tahun 1940-an mulainya eksperimen dengan menggunakan multitrack recording yang terus berkembang menjadi lebih rumit hingga tahun 1960-an. Dengan adanya multitrack recording, teknik merekam dengan memisahkan grup artis dapat dilakukan. Efek lain yang ditimbulkan oleh multitrack recording ini adalah munculnya suara stereo. Para insiyur suara pada tahun 1930-an mulai bereksperimen dengan merekam menggunakan 2 microphone, 2 amplifier, dan 2 speaker yang menyebabkan efek aural yang menyenangkan. Pada tahun 1960-an, 8 track player yang biasa diasosiasikan dengan player untuk mobil menjadi sangat popler namun segera mati dan digantikan oleh kaset.
Tahun 1963 Philips mengenalkan Compact audio cassette atau yang lebih kita kenal sebagai kaset sebagi media penimpan audio baru. Perusahaan yang berbasis di Eindoven Belanda ini baru menjual massal penemuan mereka ini pada tahun 1965, kemudian pada tahun 1971, Advent Corporation memperkenalkan Model 201 tape deck yang merupakan ibu dari tape yang selama ini kita kenal. Dalam perkembangan berikutnya pada awal dekade 1980-an lahirlah Walkman yang dibuat oleh perusahaan elektronik dari Jepang yaitu Sony. Perusahaan ini membuat alat pemutar kaset portable yang ukurannya tak lebih dari ukuran kotak makan.

Digital Recording

Mulai tahun 1980-an teknologi digital recording mulai berkembang. Tahun 1984 Sony memperkenalkan Compact Disk CD yang berbentuk seperti cakram kecil dengan lubang ditengahnya. Ide dari pembuatan CD ini adalah merampingkan bentuk media penyimpan musik populer selama ini yaitu kaset yang dirasa terlalu besar. Disamping itu pengenalan CD ini juga bertujuan untuk membuat kualitas audio yang dihasilkan menjadi lebih baik selain kepraktisan dalam penyimpanan.

Lahirnya CD kemudian diikuti oleh lahirnya VCD dan DVD yang dapat menyimpan bentuk visual bergerak selain dapat menyimpan bentuk audio. Lahirnya CD dan perkembangannya tidak dapat dipungkiri merupakan awal dari revolusi musik digital karena data-data yang disimpan dalam CD adalah data-data audio dalam format digital. Dan pada tahun 1990-an, budaya rekaman sudah mencapai era yang sangat berubah dari budaya awal. Denagn segala kemudahan menggunakan peralatan multimedia, dengan semuanya sudah berupa file digital, hobbyist dan pemakai komputer biasa sudah bisa merekam dan mengedit materi digital dan me-mixingnya. Musical Instrument Digital Interface (MIDI) juga mengubah bagaimana musik dibuat. Format Audio Digital sendiri banyak sekali macamnya, seperti WAV, AAC, WMA, Ogg Vorbis, Real Audio, MIDI dan tentu saja yang paling populer adalah MP3.

MP3 yang secara teknis disebut MPEG 1 Audio Layer3 lahir dari kerjasama antara tim dari Fraunhofer Institute Jerman dan Digital Audio Broadcasting (DBA). Proyek mereka ini diberi nama EUREKA EU147. Kerjasama yang dimulai pada tahun 1985 ini ide besarnya adalah membuat format audio yang serealistik mungkin dengan ukuran file yang sekecil mungkin. Tim yang diketuai oleh Profesor Dieter Seitzer dan Profesor Heinz Gerhauser akhirnya menemukan algoritma yang dapat menangkap berkas suara yang tidak tertangkap telinga. Berkas suara ini sendiri dapat dimampatkan sebesar 1/10 dari ukuran semula. Algoritma yang bernama ISO-MPEG Audio Layer-3 (IS 11172-3 dan IS13818-3) ini kemudian distandarisasi secara global dengan Moving Picture Experts Group (MPEG) agar dapat diterima secara internasional.

Ditahun 1995 tim dari Fraunhofer Institute Jerman membuat Wimplay yang merupakan pemutar musik versi Windows yang bisa memecah algoritma MP3 sehingga dapat dinikmati secara reltime. Wimplay inilah yang menjadi cikal bakal Media player yang terdapat di Personal Computer.Dalam perkembangannya berikutnya lahirlah iPOD yang merupakan pemutar MP3 portable yang digagas oleh Steve Jobs yang merupakan CEO Apple inc.

Perkembangan Industri Rekaman di Indonesia
Di Indonesia sendiri pada mulanya musik yang terkenal adalah klasik dan jazz, lalu gramafon Columbia buatan USA dan peralatan studio rekaman dibawa ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20, seratus tahun silam. Setelah itu baru tercatat berdirinya perusahaan rekaman ODEON, CANARY, dan HIS MASTER VOICE di Surabaya, yang memproduksi piringan hitam untuk orang-orang kaya perkotaan yang jumlahnya tidak seberapa.



Pada perkembangannya, sejarah industri rekaman di Indonesia bisa ditelusuri dari dua tempat: Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta. Lokananta milik pemerintah, dan banyak melahirkan lagu-lagu daerah, sementara Irama milik Suyoso Karsono alias Mas Yos, banyak melahirkan lagu-lagu hiburan, sebutan untuk lagu pop sekarang. Nama seperti Rachmat Kartolo, Nien Lesmana, sampai Patty Sisters pernah rekaman di Irama, yang awalnya hanya studio kecil di sebuah garasi di Menteng, Jakarta Pusat. Peristiwa rekaman itu terjadi di ujung tahun 1950-an hingga memasuki tahun 1960-an.


Lalu, memasuki awal tahun 1970-an, berdiri studio rekaman Dimita, yang dikomandani Dick Tamimi di Bandengan Selatan. Studio rekaman ini juga menjadi pioner rekaman lagu-lagu pop, karena di tempat ini nama-nama tenar Koes Bersaudara, Panbers, Dara Puspita, Rasela, lahir. Setelah itu muncul raja studio rekaman Indonesia, dan kelak dianggap sebagai produser legendaris yang menguasai pangsa pasar terbesar di Indonesia, yakni Amin Widjaja atau biasa disebut Amin Cengli yang memiliki studio rekaman Metropolitan kini Musica Studio’s dan satunya, sang raja adalah Eugene Timothy, mengomandani perusahaan rekaman Remaco. Remaco pernah menjad perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, dengan akses kuat ke pergaulan di dunia rekaman Internasional, karena pada saat membuat piringan hitam (PH), seperti Irama, Lokananta, dan Dimita, Remaco masih memakai perusahan pembuat matris pencetak PH di Singapura.
Di Remaco, lahir nama-nama besar Bimbo, D’Lloyds, The Mercy’s dan kelak Koes Bersaudara yang pada tahun 1967 berubah nama menjadi Koes Plus pun pindah ke tempat ini. Tatkala Remaco ambruk pada awal tahun 80-an dan Eugene tinggal mengandalkan sejumlah master rekaman yang masih dimilikinya, baik sejak di era rekaman PH maupun kaset rekaman, Musica ganti menunjukkan dominasinya.
Hingga tahun 1964, perusahaan pemroduksi piringan hitam ini tidak mengalami hambatan berarti kecuali pasar yang lambat berkembang. Apalagi, secara bersamaan industri rekaman Indonesia memasuki era kaset. Teknologi kaset dinilai lebih praktis dan murah, ketimbang piringan hitam yang terbilang mahal dan lebih rumit.
Seperti yang dialami Lokananta. Pada awalnya, Lokananta diresmikan sebagai pabrik piringan hitam (PH) pada 1956. Semua PH hasil rekamannya kemudian disebarkan ke seluruh RRI untuk disiarkan. Perkembangan kemudian, masyarakat meliriknya dan ingin memiliki PHnya. Jadilah Lokananta melayani kebutuhan masyarakat.
Belum lama menikmati keuntungan sebagai perusahaan PH, muncul pita kaset menjadi pesaing dalam usahanya. Sejak 1972 produksi PH dihentikan, karena permintaan pasar menurun. Sejak saat itu hanya memproduksi audio kaset. Pada 1983, usahanya diperluas dengan penggandaan kaset video. Justru ketika ditunjuk sebagai perusahaan pengganda video itulah, perjalanan Lokananta mulai terpuruk. Usia kejayaan kaset video sebagai sarana rekaman ternyata tidak lama.

Usaha tersebut tidak mampu mengangkat Lokananta, bahkan sebaliknya. Kaset video mendadak hilang dari peredaran setelah muncul era compact disk (CD). Sejak saat itu, BUMN tersebut tidak mampu berkutik. Kondisi seperti itu semakin diperparah dengan pembubaran Departemen Penerangan sebagai induk. Teknologi rekaman kaset yang sederhana ternyata menumbuhkan den gan subur industri pembajakan. Sedemikian mengkhawatirkan, sehingga sejumlah pelaku industri musik bersepakat mendirikan organisasi anti pembajakan. Tercatat ada GIRI (Gabungan Industri Rekaman Indonesia), Asiri (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), ataupun APNI (Asosiasi Perekam Nasional Indonesia)

Studio-studio musik yang merekam lagu-lagu barat pun mengalami pasang surut. PT Gema Nada Pertiwi (GNP), misalnya, memproduksi kaset berisi lagu-lagu barat, karena khawatir piringan hitamnya rusak tergores. Oleh Hendarmin Susilo, Presiden Direktur, lagu-lagu yang disenanginya direkam ke pita seperempat inci dengan tape recorder Aiwa M8, yang saat itu, tahun 1969 termasuk paling canggih. Hasilnya ternyata mengesankan. Namun, perusahaan rekaman Hins Collection yang didirikannya tahun 1970 terpaksa ditutup karena tidak memiliki lisensi produksi lagu barat. Hendarmin mulai mengaktifkan GNP tahun 1984 dan produksi pertamanya adalah lagu keroncong yang dinyanyikan Gesang. Bekerja sama dengan Log Zhelebour, Iwan Sutadi Sudarta, perekam lagu barat lainnya, mendirikan Logiss Records tahun 1986. Tetapi baru merasa menikmati sukses bersama kaset Jamrud. Meski demikian, kini Iwan paling berani menerbitkan satu judul kaset untuk setiap label perusahaannya. Satu hal yang sama dilakukan Musica Studio’s. Awal tahun 1970-an Bali Record menjadi Metropolitan dan kemudian Musica Studio’s hingga sekarang. Indrawati Widjaja, anak Amin Widjaja, juga, keponakan nyonya Tjandra Herawati Wijaya, yang mendirikani perusahaan rekaman Atlantic Records (1977), perekam video: Trio Tara (1978), toko kaset dan CD Disctara (1986) dan, pabrik CD pertama di Indonesia Dynamitra Tara (1992).


Ketika industri musik sedang menikmati masa, keemasannya tahun 1997, hampir semua orang tak menyadari kehadiran seorang pelaku industri musik yang baru, Sutanto Hartono, Managing Director Sony Music Indonesia. Hingga grup-grup musik yang ditanganinya berhasil mencetak rekor penjualan kaset jutaan copy. Seperti grup asal Yogyakarta. Sheila On 7, grup asal Bandung /rif, dan 20 grup dan penyanyi Indonesia yang direkrutnya kemudian. Semula, yang ditangani Sutanto adalah lagu-lagu barat. Namun, dia lebih senang bila bisa mengorbitkan penyanyi atau grup musik Indonesia. Kini, bagai sebuah labirin (bangunan berlorong dan gang-gang ruwet), industri budaya sekarang semakin menyesakkan. Hak-cipta dilanggar dimana-mana dan semena-mena. Kepastian hukum nyaris nihil dalam bidang usahanya. 

Industri musik rekaman di Indonesia kini memasuki periode terburuk sejak bisnis ini dimulai pada 1954. Penjualan album fisik terus merosot. Penyebabnya selain karena perkembangan teknologi dunia maya, pembajakan memang masih terus merajalela. Meski gerakan anti-pembajakan terus dikobarkan, namun tidak dapat dipungkiri apabila pembajak tetap merajalela. Bahkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tingkat pembajakan di Indonesia berada dalam kondisi sangat parah.


REFERENSI





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar