Minggu, 23 September 2012

Tugas-4: Solusi untuk Kemanusiaan


“Solusi untuk kelaparan dunia”

di dunia ini tidak semua orang seberuntung diri kita yang makan enak setiap hari dan semau kita. Saudara-saudara kita tidak hanya di Indonesia, tetapi di negara-negara didunia ini, terutama yang berada di negara berkembang tidak bisa makan semaunya. Karena mereka sendiri sudah sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan yang memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Keadaan ini disebut kelaparan dunia, atau wabah kelaparan besar.
Kelaparan dapat didefinisikan sebagai kekurangan jumlah (porsi) makanan yang luar biasa dan berlarut-larut sehningga mengakibatkan penderitaan lapar yang meluas dan berlangsung lama di antara penduduk yang tertimpa. Keadaan badan mereka menjadi kurus dan biasa diikuti oleh jumlah angka kematian yang tinggi. Dengan demikian peristiwa kelaparan yang sungguh-sungguh meliputi wilayah yang luas dan menimpa sejumlah besar penduduk. Kekurangan pangan yang akut untuk beberapa minggu sebelum panen yang sering terjadi di antara penduduk di beberapa bagian wilayah di dunia (negara) yang belum maju bukan merupakan peristiwa kelaparan. Kekurangan bahan pangan yang penting seperti gula dan daging bukanlah merupakan peristiwa kelaparan apabila ada bahan pangan lainnya yang beraneka ragam sebagai penggantinya. Kekurangan vitamin atau mineral yang penting dengan berbagai gejala penyakit yang ditimbulkannya bukanlah suatu peristiwa kelaparan. Dalam suatu peristiwa kelaparan, anggota masyarakat yang tertimpa bencana itu secara berangsur-angsur menjadi sangat kurus dan keadaan badan menjadi semakin lemah dan lesu. Bahkan dalam keadaan yang sangat lemah dan lesu juga tidak berdaya mereka berada di rumah-rumah, di jalan-jalan dengan keadaan badan yang sangat kurus dan sering dengan perut yang mengembung menunggu kematian. Di tempat atau daerah yang tertimpa bencana kelaparan terlihat peminta-minta (pengemis) dalam jumlah yang sangat banyak bisa juga terjadi kerusuhan, banyak orang- orang yang berkeliaran tanpa tujuan, dan perpindahan penduduk. Banyak laki-laki, wanita dan anak-anak berkeliaran di tempat-tempat umum, jalan-jalan, lorong-lorong dengan harapan akan memperoleh sesuatu atau sisa makanan yang bisa dimakan.
Jumlah orang yang kelaparan setiap harinya mencapai angka tertinggi dalam sejarah sebanyak 1 milyar, atau tepatnya 1,02 milyar, menurut data World Food Program PBB. Jutaan orang yang berada di tepi jurang kelaparan saat ini masuk dalam kategori ini akibat krisis ekonomi global yang menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan dan banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, pada tahun ini terdapat tambahan sekitar 100 juta orang yang mengalami kelaparan dan kemiskinan kronis dibandingkan tahun lalu. Sementara jumlah orang yang sangat membutuhkan makanan bertambah, agen-agen bantuan juga melaporkan rendahnya jumlah bantuan yang diberikan serta pemangkasan anggaran. Direktur Eksekutif WFP Josette Sheeran mengatakan Rabu lalu bahwa pihak agen bantuan sedang menghadapi situasi yang “gawat dan tidak tidak pernah terjadi sebelumnya” dalam upaya mendanai kekurangan yang dialami tahun ini. “Jumlah anggaran yang diperlukan dan kami tetapkan tahun ini adalah sekitar $6,7 milyar dan kami berharap dari hasil proyek dan kerjasama dengan pemerintah dapat memperoleh pemasukan sebesar $3,7 milyar,” ujar Sheeran saat briefing pers di awal pertemuan yang diadakan di Gedung Putih. Sheeran mengatakan pihak agen berusaha untuk memotong $3 milyar dari programnya dengan cara mengurangi pendistribusian bahan makanan dan beberapa program di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan 108 juta orang di 74 negara pada tahun ini.
Wabah Kelaparan Besar (bahasa Inggris: The Great Famine atau mengacu pada kejadian dramatis di Irlandia: Irish Potato Famine, bahasa Irlandia: an Gorta Mór, IPA: [ənˠ ˈɡɔɾˠtˠə ˈmˠoːɾˠ]) mengacu pada kejadian meluasnya kelaparan di Eropa pada rentang waktu antara tahun 1845-1852. Walaupun melanda banyak negara Eropa saat itu, dampak terparah terjadi di Irlandia dan Skotlandia. Dalam sejarah Irlandia bahkan wabah kelaparan ini menjadi tonggal ikhtisar waktu karena berdampak luas berupa berkurangnya penduduk wilayah ini sebesar 20% sampai 25%, yang awalnya berjumlah limajuta penduduk turun menjadi 3 juta akibat tingginya tingkat kematian dan emigrasi.
Penyebab awal kelaparan ini adalah beruntunnya kegagalan panen kentang akibat hampir semua umbi kentang tidak dapat dikonsumsi karena terserang hawar kentang. Serangan wabah penyakit ini meluas di Eropa akibat tidak tersedianya kultivar kentang yang tahan penyakit ini. Pada waktu itu, di Irlandia sekitar sepertiga penduduk tergantung sepenuhnya pada kentang untuk penghidupannya. Akibatnya, dampak terparah mengenai negara itu. Diperkirakan satu juta orang meninggal dunia dan satu juta lainnya meninggalkan Irlandia. Wabah kelaparan ini di Irlandia kemudian berdampak luas secara politik, sosial dan ekonomi; dan sampai sekarang masih diperdebatkan makna sejarahnya.
Setelah kasus di Irlandia, menyusul lah kasus di Ukraina yang disebut Holdomor. Holodomor (dalam bahasa Ukraina: Голодомор) adalah peristiwa pembunuhan dan kelaparan beramai-ramai pada 1932-1933 di Ukraina. Hampir 7 juta mati kelaparan akibat tirani Uni Soviet yang mengamalkan dasar Josef Stalin dengan tujuan menghapus semangat kebangsaan rakyat Ukraina. Sebanyak 25.000 penduduk kampung meninggal setiap hari atau pada harga 1.000 orang per jam atau 17 orang per menit. Rata-rata umur penduduk Ukraina pada 1933 adalah 7.3 tahun untuk pria dan 10.9 tahun untuk wanita, sedangkan dalam kalangan anak, satu dari setiap tiga orang, meninggal dunia.Kasus ini oleh sebagian warga dunia dianggap sebagai persamaan dengan kasus Holocaust oleh Hitler. Kelaparan di ukraina terjadi karena sistem denda yg diberlakukan stalin dimana denda tersebut berupa gandum dan bahan makanan lain dari kampung yang tidak mematuhi kuota akuisisi sereal dan produk pertanian yang sengaja dikenakan dengan sangat tinggi.
Dilanjutkan pada tahun 1943, adalah kasus Kelaparan di Benggala 1943, yaitu peristiwa kelaparan yang menimpa Benggala (yang saat itu dijajah oleh Britania). Diperkirakan sekitar 3 juta orang tewas akibat kelaparan dan gizi buruk. Pemerintah Benggala bereaksi dengan malas-malasan dan tidak kompeten, menolak untuk menghentikan ekspor makanan dari Benggala.
Britania Raya mengalami kekalahan di Singapura pada tahun 1942. Burma selanjutnya diduduki oleh Jepang. Burma merupakan pengekspor beras terbesar di dunia pada periode antar perang. Pada tahun 1940, sekitar 15% dari beras India berasal dari Burma.
Sementara itu, beras terus diekspor dari India untuk memberi makan tentara perang. Hal ini diperparah dengan tibanya siklon pada 16 Oktober 1942 di Benggala dan Orissa. Banyak daerah penanaman beras yang banjir, sehingga terjadi gagal panen. Akibatnya, petani harus memakan hasil surplus mereka, dan bibit yang seharusnya ditanam pada musim dingin 1942-1943 telah dimakan pada saat cuaca panas tiba pada Mei 1943.
pada tahun 1950, Cina akan melalui Besar nya Leap Forward, upaya untuk mengubah China dari negara agraris ke pembangkit tenaga listrik Marxis berkembang industri. Ini menyapu reformasi, menyentuh hampir setiap segi kehidupan Cina - dan sebagai salah satu episode tertentu dalam poin sejarah Cina keluar, dunia hewan juga jauh dari kekebalan tubuh. Pada tahun 1958, Cina memerintahkan pembasmian hama, termasuk burung pipit - kampanye naas yang akhirnya menyebabkan bencana. Pada April 1960, itu mulai menjadi sangat jelas kepada para pemimpin China bahwa burung pipit, selain makan biji-bijian, makan serangga.
Dan tanpa burung pipit untuk mengekang populasi serangga, tanaman yang semakin hancur dengan cara yang jauh lebih buruk daripada jika burung telah diizinkan untuk berkeliaran. Akibatnya, hasil pertanian saat itu adalah malapetaka rendah. Produksi padi secara khusus terpukul paling keras. Tapi kerusakan sudah terjadi - dan situasi semakin lama semakin memburuk. Populasi belalang menyerbu pedesaan tanpa burung pipit yang terlihat. Hal menjadi sangat buruk bahwa pemerintah Cina mulai mengimpor burung pipit dari Uni Soviet. Overflow serangga, ditambah efek tambahan dari deforestasi luas dan penyalahgunaan racun dan pestisida, adalah kontributor yang signifikan untuk Kelaparan Besar Cina (1958-1961) di mana sekitar 30 juta orang meninggal karena kelaparan.
Kelaparan Korea Utara, yang dikenal sebagai Maret Kelabu ( Chosŏn'gŭl : 고난 행군) di Korea Utara , adalah kelaparan yang terjadi di Korea Utara 1994-1998. Perkiraan jumlah korban tewas bervariasi. Dari total populasi sekitar, 22 juta di suatu tempat antara 240.000 dan 3.500.000 orang meninggal karena kelaparan atau penyakit yang berhubungan dengan kelaparan, dengan kematian mencapai puncaknya pada tahun 1997.
Pada tahun 1993, China memasok Korea Utara dengan 77 persen mengejutkan dari impor bahan bakar dan 68 persen dari yang impor pangan. Dengan demikian, Korea Utara menggantikan ketergantungan pada Uni Soviet dengan ketergantungan terhadap Cina - dengan konsekuensi yang diduga mengerikan. Pada tahun 1993, Cina menghadapi kekurangan sendiri biji-bijian dan kebutuhan untuk mata uang keras, dan tajam memotong bantuan kepada Korea Utara.
Penurunan ekonomi dan kebijakan yang gagal memberikan konteks untuk kelaparan di awal 1990-an, tetapi banjir dan badai dari pertengahan 1990-an disediakan katalis. Secara khusus, banjir pada bulan Juli 1995 yang digambarkan sebagai "proporsi Alkitab"  oleh pengamat independen. Seperti banjir savaged negara pada tahun 1995, tanah yang subur , panen , cadangan biji-bijian, dan infrastruktur sosial dan ekonomi hancur.
Dengan kehancuran luas panen dan cadangan makanan, mayoritas penduduk menjadi putus asa untuk makanan, termasuk daerah mapan dalam produksi pangan. Pada tahun 1996, dilaporkan bahwa orang-orang ini diharapkan mengurangi produksi yang sudah porak-poranda panen sebesar 50%. Orang-orang di mana-mana yang terpengaruh oleh krisis, terlepas dari kelas gender, afiliasi atau sosial. Anak gizi buruk, seperti yang ditunjukkan oleh gizi buruk, ditemukan pada 3,21% pada tahun 1987%, 14 pada tahun 1997 dan 7% pada tahun 2002.
Kelaparan Tanduk Afrika 2011 adalah bencana kelaparan terjadi di beberapa daerah di Tanduk Afrika sebagai hasil dari kekeringan parah yang mempengaruhi seluruh wilayah Afrika Timur. Kekeringan ini, dikatakan "yang terburuk dalam 60 tahun", telah menyebabkan krisis pangan yang parah di Somalia, Etiopia dan Kenya yang mengancam mata pencaharian lebih dari 10 juta orang. Negara-negara lain di dalam dan sekitar Tanduk Afrika, termasuk Djibouti, Sudan, Sudan Selatan dan sebagian dari Uganda, juga dipengaruhi oleh krisis pangan ini.
Pada awal Juli, Sistem Jaringan Peringatan Dini (FEWS-Net) menyatakan keadaan darurat untuk sebagian besar wilayah di Somalia selatan, tenggara Ethiopia, dan timur laut Kenya, yang bisa berujung pada bencana kelaparan meluas jika kondisi saat ini tidak ditangani.[8] Pada tanggal 20 Juli, PBB resmi menunjukkan kurangnya makanan yang nyata di beberapa bagian selatan Somalia, pertama kalinya sejak kelaparan 1984-1985 di Ethiopia, ketika lebih dari satu juta orang meninggal Puluhan ribu orang diyakini telah tewas di Somalia selatan sebelum pengakuan ini. Kurangnya pendanaan bagi parah bantuan internasional yang parah, bersama dengan masalah keamanan di wilayah tersebut, telah menghambat respon kemanusiaan terhadap krisis.
           
Solusi dari masalah pangan ini adalah untuk menyumbang untuk program-program yang mendukung pengakhirannya kelaparan besar ini. Sesedikit apapun yang kita sumbangkan, nanti akan terkumpul menjadi banyak dan akan diberikan kepada orang yang membutuhkan dengan alasan yang tepat.
Selain itu untuk mendukung kampanye-kampanye yang dilakukan oleh Program Pangan Dunia atau WFP (World Food Programme). Program Pangan Dunia didirikan oleh FAO (Food and Agriculture Organization) pada 1960. Bermarkas besar di Kota New York, WFP memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan jangka panjang untuk program pangan di negara-negara berkembang. WFP merupakan agensi yang didanai secara sukarela, oleh karena itu agensi ini bergantung pada sumbangan dari pemerintah dan pribadi. Program-programnya menekanankan pengembangan pelayanan masyarakat untuk mempromosikan program pangan.
Ada juga organisasi yang fokus untuk menyelesaikan kemiskinan dan kelaparan di India bernama Food For Life Organisation. Selain menyelesaikan masalah kelaparan dan kemiskinan, food for life juga mengatasi masalah pendidikan disana.
Dan jika kita sudah ikut serta dalam meringankan beban kelaparan dari orang-orang yang membutuhkan, tidak lupa juga kita harus bersyukur kepada tuhan atas apa yang dia berikan kepada kita.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar