Rabu, 19 September 2012

Tugas 4: solusi untuk kemanusiaan


Kejahatan Genosida dan Kemanusia

Apa itu kejahatan genosida? Apa itu kejahatan kemanusian? Mari kita bahas di artikel ini.
            Kejahatan genosida adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut. Kata ini pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkin, pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serikat. Kata ini diambil dari bahasa Yunani γένος genos ('ras', 'bangsa' atau 'rakyat') dan bahasa Latin caedere ('pembunuhan'). Genosida merupakan satu dari empat pelanggaran HAM berat yang berada dalam yurisdiksi International Criminal Court. Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.
            Sedangkan kejahatan kemanusian adalah istilah di dalam hukum internasional yang mengacu pada tindakan pembunuhan massal dengan penyiksaan terhadap tubuh dari orang-orang, sebagai suatu kejahatan penyerangan terhadap yang lain. Para sarjana Hubungan internasional telah secara luas menggambarkan "kejahatan terhadap umat manusia" sebagai tindakan yang sangat keji, pada suatu skala yang sangat besar, yang dilaksanakan untuk mengurangi ras manusia secara keseluruhan. Biasanya kejahatan terhadap kemanusian dilakukan atas dasar kepentingan politis, seperti yang terjadi di Jerman oleh pemerintahan Hitler serta yang terjadi di Rwanda dan Yugoslavia
Diatur dalam Statuta Roma dan diadopsi dalam Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang pengadilan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Menurut UU tersebut dan juga sebagaimana diatur dalam pasal 7 Statuta Roma, definisi kejahatan terhadap kemanusiaan ialah Perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terdapat penduduk sipil.
Dari dua pengertian diatasnya tentunya kita sudah paham dengan apa yang dimaksud dengan kejahatan genosida dan kejahatan kemanusian. Kedua hal tersebut merupakan suatu tindakan yang tidak dapat ditolerir dari segi manapun. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki hak yang sama. Yaitu hak untuk hidup dan diakui keberadaannya. Hampir setiap negara yang merdeka mencatumkan hak untuk hidup untuk warganya dalam undang-undang dasar mereka. Dunia internasional juga telah membuktikan ingin terciptanya dunia tanpa pelanggaran HAM tersebut. Hal ini dibuktikan dengan dengan terbentuknya Universal Declaration of Human Right pada tanggal 10 Desember 1948. Di Indonesia, peraturan mengenai HAM tersebut tercantum pada pasal 28A-J. Poin yang paling penting dan berkaitan dengan tema artikel ini adalah pasal 28A yaitu
“Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”
Tetapi walaupun sudah terciptanya setumpuk aturan mengenai HAM ini, tetap saja masih banyak kejahatan genosida dan kejahatan kemanusian yang terjadi di dunia. Baru-baru ini kita dengar di negara sendiri terjadi sebuah pembantain suatu umat di daerah Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang. Kasus ini terjadi karena terjadi pertikaian antara umat Syiah dan Sunni. Kejadian ini mengakibatkan 3 orang meninggal dan 60 orang luka-luka. Sedangkan untuk kerugaan materi, semua rumah diperkirakan habis terbakar. Beruntung saja aparat penegak hukum dapat bertindak cepat dan segera melakukan evakuasi sebelum korban lainnya berjatuhan. Kemudian beberapa tahun lalu terjadi pembantaian umat muslim di daerah Poso, Sulawesi. Mungkin banyak pembaca yang belum mengetahui mengenai berita ini. Hal ini dikarenakan pemerintah yang berusaha untuk menutup-nutupi mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi. Korban yang jatuh dalam pertikaian ini tidak dapat dipastikan. Tetapi diperkiran korban yang meninggal mencapai 200 hingga 400 orang. Di Indonesia kasus seperti dapat dikatakan adalah sebuah hal untuk membelokan perhatian masyarakat terhadap berita yang terkait dengan pejabat negara. Maksudnya begini, setiap ada berita mengenai salah satu pejabat negara yang tersandung berbagai macam jenis kasus, maka pihak hitam di negara ini akan segera mencari cara agar perhatian masyarakat teralihkan. Salah satu usaha pengalihan tersebut dengan membuat kasus semacam ini. Tetapi opini diatas murni opini penulis dan tidak ingin mendoktrin para pembaca sekalian.
            Di luar negeri pembantaian sebuah kaum juga sering terjadi. Masih hangat di ingatan kita yaitu pembantian umat Islam di Rohingya, Myanmar (Burma).  Penulis akan menjelaskan secara singkat mengenai kronlogis terjadinya kasus ini. Kasus ini diawali dengan pembunuhan seorang wanita Rakhine oleh tiga orang pria dari kaum Muslim. Setelah itu warga Rakhine tidak terima dengan apa yang telah terjadi. Kemudian warga Rakhine mengawali pembantaian dengan membunuh 10 muslim yang berada dalam satu bis. Hingga saat ini sudah 6.000 warga Rohingya yang terbunuh akibat insiden ini. Yang patut disesali adalah belum adanya tindakan jelas dari dunia Internasional akibat insiden ini. Pihak negara Myanmar juga terlihat tidak serius dalam menyelesaikan kasus ini.
            Kasus genosida tidak selamanya harus bertumpahan darah. Tetapi di era modern ini ada sebuah kejahatan yang disebut dengan kejahatan genosida linguistic. Kejahatan genosida linguistic adalah pemusnahan bahasa telah terjadi dan dilakukan guna memusnahkan kebudayaan tertentu. Beberapa bertujuan untuk mengasimiliasikan kaum minoritas. Dampak nyata gonesida linguistik adalah memusnahkan bahasa serta kebudayaan lokal ataupun kaum minoritas. Beberapa genosida linguistik yang tercatat dalam sejarah :
            1. Kampanye Bahasa Mandarin
Pemerintahan Singapura memulai kampanye bahasa Mandarin pada tahun 1979 untuk sebuah promosi , secara terselubung, diantara para orang Tionghoa-Singapura pengguna bahasa mandarin. Kebijakan ini mendapatkan kecaman keras terutama dari mereka yang berasal dari China Selatan, yang tidak menggunakan bahasa mandarin. Sebagai salah satu kampanyenya, pemerintah Singapura melarang penggunaan selain bahasa Mandarin di setiap media penyiaran, dan penyiaran asing pun dibatasi. Kampanye ini berhasil, setidaknya dengan meningkatnya pengguna bahasa Mandarin, dan mengurangi penggunaan bahasa asing lain, yang dapat menyebabkan gangguan komunikasi antar generasi muda dengan tua.
            2. Russianisasi
            Rusianisasi merujuk pada sebuah kebijakan terhadap kedudukan baik Negara Rusia maupun Uni Soyet, untuk memaksakan pengadopsian bahasa Rusia.  Secara berkala hal ini dilakukan oleh Pemerintah Rusia guna memasukan pengaruh mereka terhadap kaum minoritas yang mereka kuasai, dalam rangka menumpas gerakan separatis dan ancaman pemberontak. Seperti halnya yang terjadi di Ukraina dan Finlad, Rusianisasi digunakan sebagai sarana untuk menonjolkan sebuah dominasi politik. Salah satu Rusianisasi terjadi pada abad 19, ketika orang-orang Ukraina, Polandia, Lithuania, dan Belarusia, dijajah bangsa Rusia. Penggunaan bahasa lokal baik di tempat umum dan sekolahan dilarang, dan lebih diintensifkan lagi ketika banyak terjadi peristiwa pemberontakan. Pada pemerintahan Uni Sovyet, huruf dan bahasa arab, dihapus dan diganti menjadi bahasa Rusia dan huruf Cyrillic (huruf Rusia). Akibatnya hingga sekarang di berbagai negara  bekas jajahan Rusia dan uni sovyet masih banyak yang memakan bahasa dan alfabet Rusia.
            3. Meng-Indonesia-kan Orang Tionghoa
            Dalam pemerintahan era rezim orde baru yang dipimpin oleh Presiden M. Soeharto, dari tahun 1967-1998. Orang-orang etnis Tionghoa mengalami banyak diskriminasi di berbagai sektor kehidupan. Semua kebudayaan yang berbau Tionghoa dihapus ataupun dilarang. Mulai dari tulisan, hingga perayaan agama nenek moyang mereka. Bahkan mereka pun diharuskan mengganti namanya dengan nama berbau Indonesia. Akibat dari genosida bahasa ini, maka putuslah rantai komunikasi bahasa Tionghoa antara generasi tua dengan generasi mudanya. Namun, setelah rezim orde baru berakhir, pemerintahan Abdurrahman Wahid, kembali memperbolehkan orang-orang Tionghoa untuk mengkespresikan kebudayaannya termasuk diruang publik.

Solusi
            Hingga saat ini sudah banyak usaha yang dilakukan oleh berbagai oihak. Mulai dari tingkat nasional hingga Internasional. Tetapi menurut penulis itu semua masih tergolong dalam perjanjian semata dan belum terealisasikan. Diperlukannya sebuah tindakan nyata dalam memerangi kejahatan ini. Diberlakukannya hokum yang jelas serta tegas dan tak pandang bulu adalah solusi yang terbaik. Terkadang dunia ini masih dibawah kontrol dari negara adidaya seperti Amerika. Anda bisa lihat dunia ini terlihat seperti sebuah drama dan Amerika bertindak sebagai dalangnya. Perlunya Indonesia pemimpin seperti Soekarno yang berani melawan Amerika sekalipun.
Dunia perlu bersatu juga dalam usaha penghilangan kejahatan genosida ini. Mahkamah Pengadilan harus diisi dengan orang-orang yang kompeten dan berani memutuskan apa yang benar dan yang salah. Untuk Indonesia, penegakkan hokum juga masih menjadi kendala. Karena banyak elit-elit politik yang berusaha mencegah  itu terjadi. Tetapi penulis yakin apabila di pemilihan presiden berikutnya Indonesia mendapatkan seorang sosok presiden non partai dan mandiri serta berintelektual dan berjiwa besi, maka Indonesia dapat menegakkan hokum ini.
Untuk dari diri kita sendiri mulailah untuk mematuhi segala peraturan yang ada. Jangan hanya mematuhi peraturan karena ada sosok yang menakutkan di belakang itu. Tetapi patuhilah peraturan karena hati nurani kita masing-masing.

Sumber            :
http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/penjabaran-hak-azasi-manusia-dalam-uud-1945/
http://id.wikipedia.org/wiki/Genosida
http://id.wikipedia.org/wiki/Kejahatan_kemanusiaan
http://media.isnet.org/poso/Kelelawar.html
            http://www.uniknya.com/2011/04/17/5-kasus-genosida-linguistik-era-modern/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar