Sabtu, 22 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan

“Perbedaan pada Penyandang Cacat” 


Masalah 


      Maraknya penelantaran anak dan penitipan di panti asuhan membuat hal ini semakin meluas. Penyandang cacat selalu dibedakan dengan orang lain dan dijauhi dari masyarakat umum. Terkadang, caci maki pun di lontarkan depan publik. Berdasarkan penelitian sejumlah 6% bayi terlahir dalam keadaan cacat bawaan sejak lahir. Walaupun beberapa dari mereka dapat diobati namun hampir 50% bayi yang tidak beruntuk mengalami cacat bawaan sejak lahir seumur hidupnya. Pada kenyataannya 50% bayi yang mengalami cacat sejak lahir tersebut ternyata disebabkan karena ibu hamil mengalami gangguan kesehatan pada masa hamil. 

   Cacat yang dialami oleh bayi sejak lahir dapat berupa apa saja mulai dari anggota badan, organ gerak (kaki dan tangan), sumsum tulang belakang, mental anak hingga cacat lain yang mempengaruhi fisik secara langsung seperti bibir sumbing, kinerja usus tidak sempurna dll. 

    Berdasarkan penelitian diatas memang salah satu penyebab terjadinya cacat pada bayi adalah ketika ibu mengalami gangguan kesehatan pada masa hamil. Hal ini bisa terjadi karena sebab genetik, lingkungan maupun faktor lain yang belum diketahui sebabnya. 

Faktor Genetik 

    Perlu diketahui bahwa 25% bayi yang mengalami cacat lahir disebabkan karena faktor genetik. Pasangan yang memiliki riwayat cacat pada keluarganya memiliki lebih besar untuk memiliki bayi lahir cacat. Untuk itulah mereka seharusnya memberikan informasi tersebut kepada dokter kandungan sehingga dokter dapat mengambil perawatan medis untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. 

    Cacat yang disebabkan karena faktor gen inilah yang mengharuskan pemahaman di masyarakat kita untuk melihat riwayat pasangan sebelum menikah seperti bebet bibit bobot dalam adat jawa. 

Faktor Lingkungan 

     Lebih kecil dari faktor genetik, 10% dari bayi cacat lahir disebabkan karena faktor lingkungan. Penyebab bayi cacat sejak lahir dari faktor lingkungan meliputi penggunaan obat-obatan,radiasi,rokok,alkohol maupun penyakit. Untuk menghindari bayi cacat lahir ibu harus menghindar seluruh penyebab ditas. Satu hal penting yang perlu ibu lakukan adalah memastikan seluruh obat yang dikonsumsi aman bagi ibu hamil. Ibu bisa memberikan informasi kepada dokter umum maupun dokter spesialis mengenai kehamilan ibu agar mereka memberikan obat yang aman. Tetapi, tetap harus menanyakan kepada apoteker apakah obat yang diberikan oleh dokter aman atau tidak. 

Faktor Lain 

     Berdasarkan sebaran angka statistik, sebanyak 65% bayi yang lahir dalam keadaan cacat belum ditahui sebabnya. Ada kemungkinan orang tua bayi yang kecewa tidak memberikan informasi lengkap bagi petugas medis sehingga faktor lain hingga sekarang masih menjadi penyebab tertinggi terjadinya cacat bawaan sejak lahir pada bayi. 

   Respon-respon dari para orang tua berbeda dalam hal ketika anaknya mengalami cacat fisik (yang langsung terlihat) dan psikis (tidak langsung terlihat). Rasa kekecewaan ada ketika penerus keturunan mengalami hal tersebut. Respon yang berbeda menentukan jangka waktu rasa penerimaan seorang ibu dan ayah. 

    Lembaga pendidikan juga berpengaruh kepada anak cacat atau autisme. Tidak hanya sebagai wahana untuk sistem bekal ilmu pengetahuan, namun juga sebagai lembaga yang dapat memberi skill atau bekal untuk hidup yang nanti diharapkan dapat bermanfaat didalam masyarakat. 

    Mereka dianggap sosok yang tidak berdaya, sehingga perlu di bantu dan di kasihani untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu di sediakan berbagai bentuk layanan pendidikan atau sekolah bagi mereka. Pada dasarnya pendidikan untuk berkebutuhan khusus sama dengan pendidikan anak- anak pada umumnya. Disamping itu pendidikan luar biasa, tidak hanya bagi anak – anak yang berkebutuhan khusus, tetapi juga di tujukan kepada anak-anak normal yang lainnya. Beberapa sekolah telah dibuka bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. Sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan siswa menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan sekolah – sekolah ini. 

   Pendidikan luar biasa adalah merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional, mental sosial, tetapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Selain itu pendidikan luar biasa juga berarti pembelajaran yang dirancang khususnya untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari anak kelainan fisik. Pendidikan luar biasa akan sesuai apabila kebutuhan siswa tidak dapat diakomodasikan dalam program pendidikan umum. Secara singkat pendidikan luar biasa adalah program pembelajaran yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan unik dari individu siswa. 

      Para ahli sejarah pendidikan biasanya menggambarkan mulainya pendidikan luar biasa pada akhir abad ke 18 atau awal abad ke 19. Di indonesia sejarah perkembangan luar biasa dimulai ketika belanda masuk ke indonesia,( 1596 – 1942 ) meraka memperkenalkan system persekolahan dengan orientasi barat. untuk pendidikan bagi anak–anak penyandang cacat di buka lembaga-lembaga khusus.lembaga pertama untuk pendidikan anak tuna netra,tuna grahita tahun 1927 dan untuk tuna rungu tahn 1930. Ketiganya terletak di kota Bandung. 

   Tujuh tahun setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah RI mengundang-undangkan yang pertama mengenai pendidikan. Mengenai anak- anak yang mempunyai kelainan fisik atau mental , undang – undang itu menyebutkan pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan ( pasal 6 ayat 2 ) dan untuk itu anak –anak tersebut ( pasal 8) yang mengatakan semua anak – anak yang sudah berumur 6 tahun dan 8 tahun berhak dan diwajibkan belajar disekolah sedikitnya 6 tahun dengan ini berlakunya undang – undang tersebut maka sekolah – sekolah baru yang khusus bagi anak – anak penyandang cacat. Termasuk untuk anak tuna daksa dan tuna laras, sekolah ini disebut sekolah luar biasa. 

Berdasarkan urutan sejarah berdirinya SLB pertama untuk masing – masing katagori kecacatan SLB itu dikelompokan menjadi : 

a. SLB bagian A untuk anak tuna netra 

b. SLB bagian B untuk anak tuna rungu 

c. SLB bagian C untuk anak tuna Grahta 

d. SLB bagian D untuk anak tuna daksa 

e. SLB bagian E untuk anak tuna laras 

f. SLB bagian F untuk anak tuna ganda 

Konsep pendidikan terpadu diperkenalkan di indonesia pada tahun 1978 yang bertujuan khusus untuk anak tuna netra. 

     Seluruh warga negara tanpa terkecuali apakah dia mempunyai kelainan atau tidak mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Hal ini dijamin oeh UUD 1945 pasal 31 ayat1 yang mengumumkan. Bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Pada tahun 2003 pemerintah mengeluarkan undang- undang no 20 tentang systempendidikan nasional ( UUSPN ). Dalam undang – undang tersebut dikemukakan hal- hal yang erat hubungan dengan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus sebagai berikut ; 

Bab I( pasal 1 ayat 18 ) Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus di ikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah 

Bab II ( pasal 4 ayat 1 ) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis berdasarkan HAM,agama,kultural, dan kemajemukan bangsa. 

Bab IV ( pasal 5 ayat 1 ) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu baik yang memiliki kelainan fisik,emosional,mental,intelektual atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. 

Bab V bagian 11 Pendidikan khusus (pasal 32 ayat 1 ) Pendidikan khusus bagi pesertayang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional,mental,sosial atau memiliki potensi kecerdasan. 

    Dari perbedaan yang dimiliki anak tersebut, para orang tua terkadang malu dengan anaknya sendiri, orang tua cenderung menyembunyikan anaknya untuk menutupi rasa malu dan dianggap sebagai aib keluarga, sehingga menelantarkan adalah satu-satunya jalan singkat untuk menghindari rasa malu tersebut. Kejadian ini juga dapat berakibat buruk lainnya. Salah satu dari orang tua menghindari rasa malunya dengan bercerai, dan menikah dengan orang lain yang dapat memberi keturunan yang lebih baik. Keluarga yang ditinggalkan akan dilupakan dan membuat mental anak semakin turun. Orang tua yang ditinggalkan harus bekerja sendiri dan mengasuh anaknya yang kesusahan dalam mengerjakan pekerjaan biasa tersebut. Masalah kedua, bisa juga terjadi jika anak cacat tersebut telah dewasa dan mempunyai keturunan normal. Ia tidak bisa mengajari anaknya jika dia tidak mengerti tentang pekerjaan sehari-hari atau pun pelajaran-pelajaran dasar. Kasus seperti itu akan di tindak lanjuti oleh pemerintah jika terjadi di Amerika. Anak dan orang tua akan dipisahkan dalam jangka waktu yang panjang hingga anak masuk ke tahap dewasa dan dapat bekerja. 

    Lain halnya dengan orang-orang di Saudi Arabia, sebagai contoh seorang anak cacat lahir dan beberapa saudaranya bukan penyandang cacat. Ayahnya mempunyai istri dua, yang salah satunya adalah ibunya. Saudara dari lain ibu mempunyai rupa yang lebih menawan dan fisik yang lebih sempurna. Tetapi hal tersebut tidak menjadi perbedaan dalam hal apapun dalam keluarga mereka. Semua mendapatkan jatah yang sama. Tidak ada rasa malu yang dirasakan oleh orang tua maupun saudaranya. 

Solusi 

    Menurut saya anak cacat atau autisme tidak perlu dibedakan. Semua mahluk ciptaan Tuhan yang diberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tujuan hidup ialah mengimani Tuhan dan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Hak yang mereka miliki tidak boleh ditindas dan sebaiknya mereka diberi dukungan besar sehingga kelebihan mereka dapat berkembang dan berguna baginya di masa depan. Orang yang memiliki rasa malu memiliki anak ataupun saudara penyandang cacat tidak pernah bercermin bahwa ia sendiri memiliki kekurangan dalam hal lain. Berbuat baiklah pada semua orang dan jangan menindas orang lain karena kekurangannya. 









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar