Senin, 17 September 2012

Tugas 4 - Solusi untuk Kemanusiaan


PENYIMPANGAN SOSIAL DI KALANGAN REMAJA PELAJAR


Di era yang segalanya sudah benar-benar bebas ini, di era yang identik dengan kata liberalitas ini, penyalahgunaan kata-kata dan tujuan awal malah sering disalah gunakan. Contohnya adalah kata liberalitas tadi. Sekarang, orang-orang menganggap bahwa kata liberalitas identik dengan anarkisme tiada batas, kebebasan berpendapat sebebas-bebasnya—tanpa memperhatikan adanya hukum, nilai, ataupun norma yang berlaku. Hal ini sebenarnya merupakan pengertian dari neo-liberal, sebuah aliran liberal baru yang benar-benar menjunjung tinggi kebebasan tanpa batas. Tujuan awal dari pembuatan kata liberal adalah untuk menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, dan kebebasan untuk meraih hak-hak asasi. Hal ini yang sering disalah gunakan oleh orang-orang. Neo-liberalitas pada masa kini identik dengan demo yang rusuh, kerusuhan, hingga tindak kejahatan karena menganggap bahwa kita bebas sebebas-bebasnya; apapun yang diinginkan boleh dilakukan. Tindak kejahatan ini pada awalnya bermula dari penyimpangan sosial. 

Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.

Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok sosial.

     Menurut James Vander Zenden, penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Sedangkan, menurut Robert M.Z. Lawang, penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang. Para ahli lain juga mengemukakan pendapat yang tidak terlalu berbeda dengan dua ahli terkemuka di atas. Secara garis besar, mereka menyatakan bahwa penyimpangan sosial termasuk ke dalam usaha untuk beradaptasi dengan lingkungan yang menjurus ke arah yang berlawanan dengan norma dan tidak sesuai dengan pandangan masyarakat.

    Sayangnya, sebagian besar dari generasi muda penerus bangsa, telah terjerumus ke dalam lubarng tak berdasar dari penyimpangan sosial ini. Banyak anak-anak yang masih duduk di usia sekolah, terutama pada usia remaja, telah melakukan penyimpangan sosial yang terkadang lebih parah dari orang-orang dewasa. Hal ini dipengaruhi oleh dua faktor; yaitu faktor subjektif (yang berasal dari dalam diri sendiri) dan faktor objektif (yang berasal dari lingkungan). Sebagian besar dari remaja di Indonesia bukanlah remaja yang memiliki kekurangan baik secara fisik atau gen, dan memang, hampir seluruh penyimpangan sosial remaja pada awalnya karena dipengaruhi oleh lingkungannya. Berikut adalah beberapa penyebab terjadinya penyimpangan oleh faktor objektif:

1. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Hal ini disebabkan oleh proses sosialisasi yang tidak sempurna. Contohnya apabila seorang anak tumbuh di keluarga yang broken home, dikarenakan orangtuanya terlalu sibuk bertengkar, maka anak itu tidak mendapatkan kasih sayang serta sosialisasi yang seharusnya ia terima dari kedua belah pihak.
2. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. 
3. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. 
4. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.
5. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang. Biasanya hal ini dikarenakan budaya asli yang sudah tertutup oleh budaya menyimpang, contohnya adalah sogok-menyogok dengan polisi di jalanan.

Bentuk penyimpangan sosial berdasarkan sifat adalah sebagai berikut:
Penyimpangan bersifat positif
Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif ter-hadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya wawasan seseorang. Penyimpangan seperti ini biasanya diterima masyarakat karena sesuai perkembangan zaman. Misalnya emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan wanita karier. Dalam kalangan remaja, terutama yang masih pelajar, penyimpangan bersifat positif ini bisa menjurus kepada anak remaja yang bekerja untuk menghidupi sekolahnya.
Penyimpangan bersifat negatif
Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk seperti pencurian, perampokan, pelacuran, dan pemerkosaan.
Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut:
Penyimpangan primer (primary deviation)
Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. Orang-orang tidak merasa terganggu bila berada dekat dengan para penyimpang ini. Misalnya, murid yang suka datang terlambat, pelanggar peraturan, serta murid yang selalu membawa contekan.
Penyimpangan sekunder (secondary deviation)
Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Orang-orang bisa merasa terganggu bila mengadakan kontak dengan pelaku penyimpang. Misalnya orang yang terbiasa minum-minuman, pelaku narkoba, dan pelaku kekerasan di sekolah seperti bullying dan yang lainnya.

Sedangkan, berdasarkan pelakunya, penyimpangan sosial terbagi tiga. Satu, penyimpangan individual atau individual deviation, yaitu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang menyimpang dari norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Misalnya, seseorang bertindak sendiri tanpa rencana melaksanakan suatu kejahatan. Penyimpangan individu berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut.
1. Pembandel, yaitu penyimpangan karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik.
2. Pembangkang, yaitu penyimpangan karena tidak taat pada peringatan orang-orang.
3. Pelanggar, yaitu penyimpangan karena melanggar norma-norma umum yang berlaku. Misalnya orang yang melanggar rambu-rambu lalu lintas pada saat di jalan raya.
4. Perusuh atau penjahat, yaitu penyimpangan karena mengabaikan norma-norma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya. Misalnya pencuri, penjambret, penodong, dan lain-lain.
5. Munafik, yaitu penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong, berkhianat, dan berlagak membela.

Selain itu, ada pula penyimpangan kelompok (group deviation) dan penyimpangan campuran (combined deviation). Penyimpangan kelompok adalah tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompok yang bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Misalnya, sekelompok murid beramai-ramai ikut tawuran. Sedangkan, penyimpangan campuran adalah penyimpangan yang dilakukan oleh suatu golongan sosial yang memiliki organisasi yang rapi, sehingga individu ataupun kelompok didalamnya taat dan tunduk kepada norma golongan dan mengabaikan norma masyarakat yang berlaku. Misalnya, remaja yang putus sekolah dan pengangguran yang frustasi dari kehidupan masyarakat, dengan di bawah pimpinan seorang tokoh mereka mengelompok ke dalam organisasi rahasia yang menyimpang dari norma umum (geng). 

Di kalangan remaja pelajar sendiri, penyimpangan sosial sekarang dianggap hal yang biasa. Di beberapa sekolah, anak-anak yang baru masuk sekolah tersebut dipaksa ikut tawuran melawan musuh sekolahan tersebut. Telah banyak anak-anak yang menjadi korban dari penyimpangan sosial ini. Yang sedang marak adalah penyimpangan sosial yang berbau kekerasan. Kekerasan tersebut biasanya dilakukan oleh senior mereka di acara kegiatan seperti MOS (Masa Orientasi Siswa) dan yang lainnya. Secara tidak langsung, ini bisa disebabkan karena sub-kebudayaan yang menyimpang. Misalnya, dari tahun ke tahun, anak-anak baru selalu dipukuli seniornya. Hal ini seperti sudah menjadi tradisi, meskipun ini adalah hal yang menyimpang.

Lebih baik mencegah daripada menghapus atau menghukum. Bila penyimpangan sosial yang dilakukan remaja secara individual saja sudah cukup parah, bagaimana dengan penyipangan sosial yang dilakukan secara bersama-sama, misalnya tawuran antar sekolah atau antar geng? Menurut saya, hal ini dapat diatasi dengan pemberian perhatian yang lebih intensif, tapi tidak posesif dan mengekang. Misalnya, bila terjadi tindak kekerasan di sekolah ataupun bentuk penyimpangan sosial lainnya, pihak sekolah seharusnya bisa langsung memberi tindakan tegas dan tidak diam saja. Tindakan tegas ini disesuaikan dengan muridnya. Bila teguran sudah tidak bisa berfungsi lagi, mau tidak mau harus diberi tindakan seperti skorsing, tapi tanpa menggunakan kekerasan seperti memukul atau yang lainnya. Sekolah juga harus lebih mensosialisasikan pentingnya hidup dalam keharmonisan dan tanpa kekerasan antar pelajar, dan bagaimana menjauhi penyimpangan sosial.

Orangtua juga memegang peran yang sangat penting dalam hal ini. Keharmonisan di rumah sangat mempengaruhi apa yang ada di sekolah. Penelitian para ahli membuktikan bahwa anak-anak yang mendapat kekerasan di rumah, atau mendapat masalah di rumah, lebih cenderung melakukan penyimpangan sosial seperti mabuk, tindak kekerasan di sekolah, bahkan sampai menggunakan narkoba. Kita sebagai generasi penerus bangsa, harus lebih bisa memilih mana yang baik untuk kita, dan mana yang buruk untuk kita. Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin kelangsungan dan kemajuan bangsa kita sendiri, Indonesia.


Sumber:
www.id.wikipedia.com
www.wordpress.com
Dokumen penulis
www.google.com



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar