Selasa, 11 September 2012

Tugas 4 - Solusi Untuk Kemanusiaan


PARADOKS PRISMA

                Jika kita mengangkat sebuah prisma transparan, menaruhnya tepat terkena sinar matahari, cahaya matahari tersebut akan terurai menjadi tujuh warna yang berbeda. Sebenarnya warna-warna ini hanya tampak putih pada kasat mata biasa—tapi dibantu dengan sebuah alat yang bisa disebut sebagai alat optik, warna-warna tersebut terurai menjadi warna mereka yang sebenarnya; tujuh warna yang berbeda. Tujuh warna itu sendiri hanya tujuh warna yang paling mudah dikenali—meskipun sebenarnya ada berjuta-juta warna yang masih tidak bisa terlihat bahkan ketika sudah dibantu dengan prisma tersebut.
                Saya, ketika mengetahui hal ini untuk pertama kalinya, memutuskan bahwa prisma tersebut hanya seperti manusia. Sebenarnya warna itu merupakan satu kesatuan; putih. Tapi, ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sebenarnya ada banyak warna yang tidak terlihat. Dilihat dari sudut pandang orang yang menyukai perbedaan, warna-warna tersebut menciptakan sebuah gabungan yang unik. Sedangkan, dilihat dari sudut pandang orang yang tidak menyukai salah satu warnanya, ia akan menyesali dan mengutuki warna tersebut. Sistem yang sama mau tak mau ditetapkan oleh sebagian orang atas manusia; yaitu sistem rasial berdasarkan warna.
                Ras, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik, atau rumpun bangsa. Berbeda dengan binatang, bila ras binatang berarti ada perbedaan antar spesies, sedangkan ras pada manusia masih tergolong dalam satu spesies—Homo sapiens sapiens. Ras yang dimaksudkan sebagai ras dalam manusia ini mengacu pada warna kulit, rumpun bangsa, yang biasanya masih juga berkaitan dengan keterampilan dan sifat-sifat dasar.
                Sayangnya, dengan berbagai macam perbedaan atas ras ini, dimana seharusnya kita bisa berbangga hati menjadi seorang manusia, ada beberapa orang yang menetapkan suatu doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu; bahwa suatu ras lebih superior dari ras yang lainnya. Rasisme secara umum didefinisikan sebagai tindakan, praktek, sikap, atau keyakinan yang mencerminkan atau mendukung pandangan rasial.
                Praktik rasisme sendiri, mau tidak mau, telah berakar sejak zaman dahulu kala. Rasisme yang pertama kali dikenal dan diketahui dalam sejarah adalah rasisme yang dimulai oleh bangsa Yunani Kuno—yang menyebutkan bahwa bangsa barbar (orang-orang yang tidak berasal dari Yunani) adalah budak untuk para orang-orang bebas, yaitu orang-orang Yunani sendiri. Ketika mulai memasuki abad pertengahan, rasisme mulai menyebar ke daerah Timur Tengah—dibuktikan oleh orang-orang Arab yang memperkerjakan para budak-budak hitam dari Afrika Timur.
                Mulai menginjak abad ke-19, rasisme mulai meluas ke seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kapal-kapal dari Timur yang merupakan kapal pedagang budak, yang secara tidak langsung mendistribusikan perbudakan berdasarkan ras ke seluruh dunia. Teori rasial juga mulai menyebar. Hal ini diawali oleh eksplorasi Eropa ke daerah Afrika, dan mereka menciptakan teori Hamite; yang digunakan untuk berbagai macam populasi di Afrika, yang merupakan campuran antara populasi orang Afrika dan Timur. Mereka  memutuskan bahwa orang-orang Hamite ini merupakan orang yang lebih beradab dari orang-orang hitam Afrika.  Rasisme menyebar dengan cepat di Dunia Baru sekitar akhir abad 19 hingga awal abad 20. Pengelompokkan ras ini, yang dimulai di Indiana, dengan cepat menyebar di seluruh Amerika Utara, menyebabkan para buruh-buruh Afrika yang bekerja untuk pergi dan mencari tempat lain untuk tinggal. Di kampanye-kampanye legislatif, poster dan sebaran yang mengandung unsur rasisme disebarkan; biasanya dengan menggunakan kata-kata ‘orang kulit putih’ di dalamnya. Di Amerika sendiri, rasisme mulai berangsur-angsur hilang di awal abad ke-20, ketika Martin Luther King, Jr melihat apa yang terjadi dengan orang-orang sebangsanya di seluruh dunia. Peraturan-peraturan yang melarang orang kulit hitam menikmati fasilitas yang sama dengan orang kulit putih bertebaran dimana-mana. Gerakannya yang paling terkenal adalah ketika ia dan orang-orang kulit hitam lainnya memboikot untuk menaiki bus ketika seorang kulit hitam diusir dari bus karena menolak memberikan kursi untuk orang kulit putih. Contoh tindak rasisme yang terkenal lainnya adalah Holocaust. Nazi, sebuah partai yang dipimpin oleh Hitler, menyatakan bahwa orang-orang non-Aria seperti Yahudi, gipsi, orang-orang Slavic dan yang lainnya, tidak termasuk dari ras manusia superior dan berhak untuk dieliminasi dari kehidupan.  
                Politik apartheid sendiri, yaitu politik yang mendiskriminasi antara kulit putih dan kulit hitam, masih berlaku di Afrika Selatan hingga tahun 1960. Hingga tahun ini, para orang kulit hitam tidak memiliki hak suara atas pemilihan legislatif ataupun eksekutif. Di Indonesia, kerusuhan Mei 1998 ditargetkan kepada para orang Cina yang tinggal di Indonesia, yang menewaskan banyak orang dan membuat negara kita berada dalam krisis moneter.
                Bentuk rasisme dikatagorikan sebagai xenophobia, supremasisme, dang segregasi rasial. Xenophobia adalah ketakutan, atau ketidak sukaan seseorang atas ras tertentu. Supremasisme, yang berasal dari supremasi, merujuk kepada supremasi kulit putih—yaitu kekuasaan tertinggi berada di tangan para kulit putih. Segregasi rasial adalah pemisahan manusia ke dalam kelompok ras dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemisahan tempat kulit puih dan kulit hitam di tempat umum, juga yang lainnya.
                Pada tahun 1919, proposal untuk persamaan ras dikeluarkan dan didukung oleh mayoritas, tapi tidak digubris pada Konferensi Perdamaian Paris. Tahun 2001, Uni Eropa mengeluarkan larangan untuk rasisme, disertai dengan berbagai macam bentuk diskriminasi sosial lainnya.
                Dilihat dari sudut pandak akademisi, ras merupakan sebuah poin penting untuk pengelompokkan rumpun bangsa manusia. Secara garis besar ada lima jenis ras besar—ras Kaukasoid, Mongoloid, Negroid, Melayu, dan Indian. Ras ini dikelompokkan berdasarkan ciri fisik masing-masing, serta rumpun bangsanya. Sayangnya, penemuan para akademisi ini disalah gunakan menjadi lapisan-lapisan sosial yang diskriminatif, sebagaimana yang dicontohkan di atas.
                Rasisme merupakan tindaka diskriminatif yang kejam dan merusak moral. Ya, itu benar.
                Menurut saya sendiri, masalah kemanusiaan rasisme ini seperti bawang bombay. Ketika kita mengira satu lapisan masalah sudah selesai, masih banyak lapisan-lapisan lainnya. Meskipun PBB sudah memboikot adanya perbudakan, rasisme, serta segala macam bentuk diskriminasi sosial lainnya, masih ada saja orang-orang yang menggunakan perbedaan biologis sebagai dasar pengklaiman superioritas. Memang sudah jarang terdengar pembantaian orang-orang kulit hitam lainnya, tapi para pembenci ras lain masih ada diantara kita. Para Neo-Nazi, contohnya. Mereka mengklaim diri mereka sebagai ‘Nazi generasi baru’, yang akan melanjutkan tindakan-tindakan yang mereka anggap benar dari Nazi yang sesungguhnya. Mereka membenci ras lain selain Aria, dan mereka membenci orang-orang kulit hitam.
                Paham rasisme adalah paham indoktrinasi. Seseorang tidak lahir begitu saja  dengan kebencian atas suatu bangsa atau ras. Bila ia lahir dan mengalami sebuah trauma batin yang fatal, ya, hal itu mungkin saja terjadi. Tapi, mayoritas penanaman paham rasisme ini terjadi ketika masih berada dalam masa remaja, ketika banyak sekali informasi atau arus pergaulan yang masuk dengan bebas. Mungkin saja orang-orang terdekat kitalah yang sebenarnya menanamkan paham rasisme ini kepada diri kita sendiri.
                Menurut saya, ras itu perlu untuk pengelompokkan perbedaan manusia. Ras itu perlu, sebagai kebanggaan orang-orang yang tergolong ras itu sendiri. Tetapi ras itu tidak diperlukan untuk tindak kejahatan sosial seperti rasisme, yang bisa berujung pada kejahatan genosida, atau kejahatan pembantaian suatu ras atau suku tertentu, seperti yang terjadi pada Nazi bertahun-tahun yang lalu.
                Hal ini mungkin tidak bisa diatasi, karena sudah berakar sejak dahulu kala. Tapi hal ini bisa dicegah dengan memberikan pemahaman yang berbeda sejak kecil. Tidak ada kebencian atar ras, tidak ada perbedaan yang signifikan antar ras. Tenggang rasa antar manusia harus lebih ditingkatkan—jangan hanya karena masalah kecil, kita menjadi benci dengan satu kelompok manusia. Pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah juga harus menjunjung tinggi perbedaan dan meniadakan hal-hal yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia, seperti pengucilan berdasarkan ras dan yang lainnya. Bila terjadi pelanggaran, pelanggarnya harus ditindak tegas.
                Bagi saya, ras itu hanya sebuah bentuk pengelompokkan budaya-budaya yang berbeda. Tidak perlu ada diskriminasi diantaranya, tidak perlua ada perbedaan sikap kepada orang-orangnya. Kita semua terlahir dengan jumlah kromosom yang sama, yaitu 42 kromosom atau 21 pasang kromosom. Kita semua terlahir dengan jumlah sel otak yang sama, yaitu sekitar 1.000.000.000.000 (1 triliun) neuron. Kita lahir di atas bumi yang sama. Dan mungkin saja, sebenarnya kita berasal dari satu ras yang sama, karena dulu kita berada di satu tanah yang sama, yaitu Pangea. Apa yang bisa kita banggakan dari semua persamaan yang kita miliki; hanya bentuk fisik seperti warna kulit saja yang berbeda? Memang, sekilas, kulit putih terlihat lebih cantik daripada kulit cokelat atau hitam. Tapi kulit putih memiliki resiko terkena kanker kulit yang lebih tinggi, dikarenakan pigmen melanin yang tidak sebanding dengan pigmen melanin di kulit hitam, apalagi melihat fakta bahwa sinar ultraviolet semakin menembus bumi. Memang, mata berwarna cerah terlihat lebih indah dari mata berwarna gelap. Tapi mata yang memiliki iris gelap lebih memiliki ketahanan terhadap cahaya matahari. Dan memang, orang-orang di negeri Barat sana terkesan lebih pandai daripada orang-orang Timur atau yang lainnya. Tapi itu hanya dikarenakan fasilitas yang belum memadai dari negaranya masing-masing.
                Seperti yang sudah saya katakan, manusia itu seperti prisma. Tergantung bagaimana kita melihatnya, tergantung dari sudut pandang mana yang kita ambil. Manusia itu beragam; berbagai macam warna; tapi sebenarnya kita satu warna; putih—satu kata; manusia. Sesungguhnya kita harus berada dalam satu kelompok yang terdiri dari beragam jenis, tetapi tetap menyatu; membentuk warna putih tersebut. Dan prisma tersebut; prisma yang sedari tadi saya sebutkan, adalah bagaimana kacamata kita melihat permasalahan tersebut.


Jakarta, 11 September 2012



sumber:
www.wikipedia.com
www.wordpress.com
www.google.com
Dokumen pribadi penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar