Jumat, 21 September 2012

Tugas 4- Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Perlunya Pengawasan Perdagangan Organ Tubuh Manusia


Seiring perkembangan jaman, terdapat berbagai kejahatan transnasional yang perlu ditangani secara bersama dalam kerangka multilateral, seperti kejahatan pencurian dan penyelundupan objek-objek budaya, perdagangan organ tubuh manusia, environmental crime (seperti illegal logging dan illegal fishing), cyber crime dan identity related crime. Meskipun belum terdapat kesepakatan mengenai konsep dan definisi atas beberapa kejahatan tersebut, secara umum merujuk kepada non-violent crme yang pada umumnya mengakibatkan kerugian finansial. Semakin beragam dan meluasnya tindak kejahatan lintas negara tersebut telah menarik perhatian dan mendorong negara-negara di dunia melakukan kerjasama untuk menanggulangi kejahatan tersebut di tingkat bilateral, regional, dan multilateral.
          Pada tulisan ini saya ingin membahas kejahatan transnasional perdagangan organ tubuh manusia lebih luas lagi. Perdagangan organ tubuh adalah  perdagangan yang melibatkan organ dalam tubuh manusia (jantung, hati, ginjal, paru-paru, dan lain-lain) untuk transplantasi. Disini saya ingin membahas tentang perdagangan organ tubuh illegal. Kemiskinan dan celah dalam undang-undang berkontribusi untuk perdagangan organ tubuh illegal. Kemiskinan yang terjadi di negara-negara dapat dilihat dengan besarnya pasar gelap untuk organ yang ada. Bagaimanapun juga, kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor penyebab adanya perdagangan organ illegal, negara termiskin di dunia belum tentu mempunyai pasar gelap untuk perdagangan organ tubuh manusia. Legislasi merupakan salah satu faktor lain yang menyebabkan adanya pasar gelap untuk organ. Di Yordania, perdagangan organ tubuh adalah illegal, tetapi ditemukan kasus, banyak organ tubuh yang diselundupkan ke Iran. India’s Transplantation of Human Act (THOA) memiliki syarat bahwa organ yang boleh diperjual belikan harus relatif dan memiliki tujuan untuk pendonoran. Saat ini di India, tidak ada perdangan organ tubuh yang legal, tetapi di lain sisi juga tidak ada hukum tentang perdagangan organ tubuh.
korban perdagangan organ di India

            Di dalam pasar gelap, barang illegal cenderung memiliki harga yang sangat tinggi dan tidak stabil. Jumlah uang yang akan diterima pendonor bergantung kepada lokasi dan pasokan yang tersedia. Hasil laporan di seluruh dunia melaporkan bahwa harga rata-rata yang diterima pendonor untuk ginjalnya adalah $5000, sedangkan di dalam pasar gelap, oknum yang membutuhkan organ dalam membayar sekitar $150.000. Pada bulan Februari tahun 2007 The Observer into India’s cash-for-organs melakukan invertigasi dan mengungkapkan bahwa transplantasi menghasilkan keuntungan dari laki-laki separuh baya yang bangkrut dan depresi dan dari korban-korban tsunami yang putus asa yang kemudian rela untuk menjual organ bagian dalam tubuh mereka dalam pasar gelap.
            Pasar gelap perdagangan organ manusia meluas di Eropa sejak terjadinya krisis ekonomi yang melanda sejumlah negara di kawasan itu. Melalui internet, para penjual serta pedagang organ tubuh tersebut bertemu, dan perdagangan itu kerap dilakukan secara illegal.
            Payle Mircoy dan pasangannya, Daniella, memasang iklan untu menjual ginjal mereka lewat situs lokal. Mircoy, 50 tahun, wagra Serbia, kehilangan pekerjaannya di pabrik pengolahan daging, dan sejak itu tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Pasangan ini harus menghidupi anak-anak mereka yang mulai menginjak usia remaja. Saking beratnya hidup, Mircoy bahkan tidak mampu untuk membeli batu nisan untuk mendiang ayahnya yang baru saja meninggal. Pasangan itu menjual ginjal mereka seharga US$40 ribu per satu ginjal. “Ketika kamu butuh makanan terhidang di atas meja, menjual ginjal bukanlah pergorbanan yang amat besar,” ujar Mircoy kepada New York Times. (TEMPO.COM)
            Pada tahun 2007di Inggris, seorang pria terbukti oleh Human Tissue Act berusaha menjual ginjalnya dengan harga $24.000 demi dapat membayar hutang yang disebabkan oleh judi yang dilakukannya.
            Pada tanggal 27 Juni 2008, orang Indonesia bernama Sulaiman Dumanik, mengaku bersalah pada pengadilan di Singapura untuk penjualan organ yang dilakukannya dengan harga 150 juta rupiah. Perdagangan organ dilarang di Singapura dan di banyak negara lainnya untuk mencegah eksploitasi terhadap pendonor yang miskin yang tidak mampu untuk membuat pilihan dan memiliki resiko medis yang tinggi.
            Pada bulan April tahun 2010, enam orang berkewarganegaraan Israel, didakwa karena melakukan penyelundupan organ internasional dan melanggar janji kepada pendonor untuk membayar ginjal yang telah mereka donorkan. Menurut polisi, satu dari enam orang tersangka adalah mantan jendral militer Israel. Penyelundup menawarkan hingga $100.000 per ginjal, tetapi setelah operasi dijalankan mereka tidak membayar hal yang dijanjikan kepada pendonor.
            Kelompok pelaku criminal yang terorganisasi ini memangsa dua pihak dalam rantai perdagangan organ manusia, yakni orang yang melarat akibat kemiskinan yang kronis dan pasien yang putus asa ataupun sehat yang ingin bertahan hidup.
            Meski angka perdagangan organ tubuh manusia meningkat, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hanya 10 persen dari permintaan global untuk transplantasi organ tubuh yang sesuai dengan permintaan.
            Kelompok hak asasi manusia Amerika Serikat untuk pengawasan perdagangan organ manusia mengatakan, sebanyak 15-20 ribu buah ginjal dijual secara illegal di seluruh dunia setiap tahunnya.
            Di Serbia, penjualan organ tubuh secara illegal bisa dijatuhi hukuman penjara. Tetapi orang-orang di kota miskin Doljevac yang dihuni oleh 19 ribu jiwa tidak peduli. Bahkan para warga mendaftarkan diri mereka ke sebuah agen lokal penjual organ tubuh manusia dan darah di luar negeri untuk mendapatkan uang. Namun pemerintah menolaknya.
            Lebih dari 3.000 orang ingin ikut mendaftar di satu agen lokal untuk menjual organ dan darah mereka ke luar negeri. Bahkan ada yang menjajakannya langsung ke Bulgaria atau Kosovo.
            Meski pemerintah tidak menyetujuinya, Violeta Cavac, seorang ibu rumah tangga, punya alasan menjual organ tubuhnya suatu saat nanti. Ia mencemaskan angka pengangguran di kotanya di Serboa yang sudah mencapai 50 persen.
            Sejumlah ahli mengatakan perdagangan organ tubuh manusia secara illegal terjadi karena jarang ada tuntutan hukum dan biasanya terjadi di dunia ketiga. Hasilnya, sulit untuk melacak aksi yang dilakukan oleh penyelundup organ tubuh manusia.
            Terdapat perdebatan tentang penjualan organ tubuh manusia. Martin Wilkinson, seorang professor tamu di Universitas Keele dan mantan ketua Dewan Bioetika Selandia Baru, mengatakan bahwa menjual organ tubuh manusia seharusnya tidak lagi menjadi tindak pidana, dengan alasan bahwa menghukum orang untuk menjual organ tubuh mereka melanggar hak untuk memutuskan apa yang harus dilakukan mereka dengan tubuh sendiri. Dia mengatakan bahwa sementara orang-orang yang putus asa berbaring sendiri terbuka untuk eksploitasi dan kebohongan, penjual organ dieksploitasi dan tertipu di pasar gelap. Ia mengatakan bahwa jawaban untuk semua permasalahan ini adalah dengan mengatur pasar, bukan mengemudi di bawah tanah.
            Status illegal perdagangan organ menciptakan harga untuk organ di nol dolar. Harga mempengaruhi pasokan dan permintaan menciptakan kekurangan. Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Institut Cato, penghapusan plafon harga akan menghilangkan kekurangan tersebut. Diperkirakan bahwa di Amerika, jika 0,06% dari individu berusia 18-65 tahun menyumbangkan ginjal daftar tunggu untuk organ akan terpenuhi. Saat ini dengan sedikit insentif untuk menyumbangkan organ sekitar 6.000 orang meninggal setiap tahun untuk menunggu transplantasi organ. Telah dikemukakan oleh David Holcberg bahwa regulasi perdagangan organ bisa mengatasi kekurangan organ dan membuat praktek lebih aman dan adil bagi para donor. Namun, gagasan organ “kelangkaan” telah ditentang oleh Ivan Illich dan penulis lain yang berpendapat bahwa “kelangkaan” adalah kebutuhan artifisial yang diciptakan. Tidak ada kekurangan yang nyata dari organ, tetapi “berlebih dan terbuang”. Kelangkaan hanya ada beberapa kelompok orang-orang yang ditolak organ, dan mereka yang tidak mampu membelinya.  Jadi apa yang perlu diatur, menurut para penulis adalah organ pengadaan dan praktik distribusi. Legalisasi perdagangan organ manusia telah ditentang oleh berbagai kelompok hak asasi manusia, termasuk Tonton Organ, sebuah kelompok yang didirikn oleh antropolog medis Nancy Scheperhughes yang juga berperan dalam mengungkapkan cincin penjualan organ illegal internasional.
        


SOLUSI

         Di satu sisi ancaman kejahatan lintas negara seperti penyenludupan organ tubuh manusia meningkat namun di sisi lain kemampuan negara untuk mengatasinya masih terbatas. Untuk itu, sangat penting bagi negara-negara untuk meningkatkan kerjasama internasional untuk secara kolektif menanggulangi meningkatnya ancaman kejahatan lintas negara tersebut. Kerjasama antar negara-negara sangat dibutuhkan untuk memberantas penjualan organ tubuh manusia. Harus ada perundang-undangan yang jelas yang melarang penjualan organ tubuh manusia. Pemerintah perlu memiliki badan yang mengurus dan mengawasi perdagangan organ tubuh manusia jangan sampai terdapat oknum-oknum yang hanya mendapat keuntungan dengan menjual organ tubuh manusia di pasar gelap.
         Regulasi perdagangan organ bisa mengatasi kekurangan organ dan membuat praktek lebih aman dan adil bagi para donor. Gagasan organ “kelangkaan” adalah kebutuhan artifisial yang diciptakan. Tidak ada kekurangan yang nyata dari organ, tetapi “berlebih dan terbuang”. Kelangkaan hanya ada beberapa kelompok orang-orang yang ditolak organ, dan mereka yang tidak mampu membelinya.  Jadi apa yang perlu diatur, menurut para penulis adalah organ pengadaan dan praktik distribusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar