Kamis, 27 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


"Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat yang Aman"



"Rumahku, surgaku" katanya. Kalimat yang tak asing lagi di telinga masyarakat. Memang, tak diragukan lagi rumah adalah sebuah tempat di mana kita merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Tempat kita dicintai oleh orangtua dan keluarga.
Namun, bagaimana bila kalimat tersebut tak lagi benar? Saat rumah bukan lagi surga untuk seorang anak, melainkan kebalikannya. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang mengatur kewajiban orangtua terhadap anak, yaitu dinyatakan dalam pasal 26 mengatakan bahwa orangtua berkewajiban dan bertanggungjawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak; serta menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya. Tetapi, apa yang terjadi bila Undang-Undang tersebut tidak terwujud dan berujung kepada penganiayaan terhadap anak?
Berdasarkan data-data statistik yang saya temukan mengenai masalah ini, pada tahun 2006, lebih dari 1,25 juta atau 1 dari setiap 58 anak di Amerika Serikat adalah korban penganiayaan. Selain itu, lebih dari 61 persen anak-anak merupakan korban penelantaran, yaitu orang tua atau walinya gagal dalam menyediakan kebutuhan sehari-hari untuk anak. Bentuk-bentuk dari penelantaran tersebut adalah penelantaran edukasi yang korbannya mencapai 360 ribu anak, penelantaran anak secara fisik yang korbannya mencapai 295 ribu anak, serta korban penelantaran secara emosional sebanyak 193 ribu anak. Rata-rata 4 anak meninggal setiap harinya dikarenakan penganiayaan terhadap anak ini. Hal yang sangat memprihatinkan, mengingat anak-anak adalah para penerus bangsa yang seharusnya dilindungi dan dibesarkan dengan baik, bukannya menjadi korban penganiayaan seperti ini.



Apakah definisi dari penganiayaan terhadap anak itu sendiri? Penganiayaan terhadap anak adalah penelantaran ataupun memperlakukan secara salah yang dapat berbentuk fisik, seksual, ataupun emosional terhadap seorang anak. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Department for Children and Families (DCF) mendefinisikannya sebagai perlakuan yang salah terhadap anak sebagai tindakan atau rangkaian tindakan kelalaian orangtua yang berakibat bahaya bagi anak.
Terdapat beberapa macam bentuk dari penganiayaan terhadap anak, diantaranya adalah: secara fisik, psikologis, dan penelantaran.
Penganiayaan secara fisik adalah bentuk penganiayaan yang menyebabkan luka fisik atau cedera terhadap anak. Hal ini dapat terjadi karena disengaja, namun tidak selalu. Ini juga dapat terjadi karena penerapan kedisiplinan yang terlalu parah oleh pihak orangtua, seperti memukul anak menggunakan ikat pinggang, atau bentuk hukuman secara fisik lainnya yang tidak pantas dan melewati batas. Banyak orangtua yang menganiaya anaknya secara fisik bersikeras bahwa tindakan yang mereka lakukan tersebut hanyalah bentuk-bentuk dari kedisiplinan, sebuah cara untuk membuat anak mereka berperilaku dengan baik. Namun, terdapat perbedaan yang besar dari menggunakan hukuman fisik hanya sebatas untuk kedisiplinan anak dan melakukannya sehingga dapat dibilang sebuah tindakan penganiayaan. Inti dari mendisiplinkan anak adalah dengan mengajari mereka apa yang benar dan salah, bukan untuk membuat mereka hidup dalam ketakutan.
Selain itu, dalam penganiayaan secara fisik, terdapat elemen-elemen sebagai berikut ini:
Ketidakpastian. Anak tidak pernah tau apa yang membuat orang tua mereka marah dan kapan orangtua akan menganiaya mereka. Tidak ada batasan-batasan atau aturan yang jelas.
Kemarahan. Orang tua yang menganiaya anaknya secara fisik bertindak berdasarkan kemarahan dan keinginan untuk mengontrol, bukan karena motivasi untuk mendisiplinkan anak dengan cara yang baik dan benar. Semakin marah orangtua tersebut, maka penganiayaannya akan bertambah intens.
Menggunakan rasa takut untuk mengontrol perilaku. Orang tua yang menganiaya anaknya secara fisik mungkin mempercayai bahwa anaknya perlu takut terhadap mereka agar mereka dapat berperilaku sesuai keinginan orangtua, sehingga mereka menggunakan metode penganiayaan secara fisik untuk tetap "menjaga perilaku" anak. Namun, hal ini justru membuat anak belajar cara menghindar dari pukulan orangtua, bukannya belajar cara berperilaku yang baik atau tumbuh sebagai seorang individu.



Penganiayaan tidak selalu berbentuk luka dan pukulan. Mungkin bentuk penganiayaan secara fisik adalah bentuk yang paling terlihat dampaknya dalam hal luka fisik, namun penganiayaan secara emosional dapat melukai mental atau perkembangan sosial anak dan meninggalkan luka psikologis yang dalam. Penganiayaan secara emosional mencakup: meremehkan dan mempermalukan anak, memanggil anak dengan nama panggilan yang tidak baik dan membanding-bandingkan secara negatif terhadap orang lain, memberitahu anak bahwa mereka "buruk", "tidak berharga", atau sebuah "kesalahan", keseringan meneriaki dan mengancam anak, mengabaikan anak, kontak fisik yang terbatas seperti tidak mau memeluk atau menunjukkan afeksi terhadap anak, mengekspos anak terhadap kekerasan, serta beragam hal lainnya.
Bentuk penganiayaan terhadap anak yang lainnya adalah penelantaran. Penelantaran terhadap anak adalah bentuk penganiayaan yang sudah tidak jarang lagi, yaitu kegagalan dalam menyediakan anak kebutuhan pokoknya seperti makanan, pakaian, atau pengawasan. Bentuk penganiayaan ini cukup sulit untuk dilihat, karena terkadang ada orangtua yang memang karena keadaan fisik atau mentalnya tidak dapat mengurus anaknya. Anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda ditelantarkan karena sudah terbiasa hidup mandiri dan bahkan mengambil peran orangtua. Namun, tetap saja, pada akhirnya anak-anak yang ditelantarkan tidak terpenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya.
Salah satu contoh kasus penganiayaan terhadap anak adalah kasus David Pelzer. David Pelzer adalah pengarang buku non fiksi "A Child Called It" yang didasarkan pada cerita hidupnya. Ia menghabiskan masa kecilnya dianiaya oleh ibunya sementara ayah dan saudaranya hanya melihat saja. Ibu David menyayangi dan mencintai saudara-saudara David, namun mempunyai dendam dan rasa benci yang dalam yang tak dapat dimengerti kenapa terhadap David yang akhirnya berujung kepada penyiksaan dan pemberian hukuman kepada David. David akhirnya diselamatkan oleh pihak-pihak sekolah yang prihatin.
Kasus lainnya adalah penganiayaan oleh Ashley Buckman dan James Edwards, yang menyebabkan kematian seorang anak perempuan berumur 4 tahun. Menurut polisi, anak tersebut ternyata buang air kecil di tempat tidurnya dan Buckman langsung memukulinya. Hari berikutnya, ia melanjutkan menampari anak tersebut dan pada saat itu, sang anak berhenti bernafas. Terdapat luka-luka dan memar di tubuhnya dari kepala hingga kaki. Luka-luka tersebut terdiri dari luka cambukkan dan luka bakar.
Pertanyaannya adalah, apa sebenarnya yang menyebabkan hal yang menyedihkan ini terjadi? Terdapat beberapa faktor penyebabnya yang perlu ditinjau kembali. Faktor yang pertama adalah faktor orangtua.



Cukup sering dikatakan bahwa orang tua yang melakukan penganiayaan terhadap anaknya seringkali mengalami penganiayaan yang sama saat masa kecil mereka oleh orang tua mereka. Ini semua hanyalah semacam lingkaran yang tak berujung, dimana orang tua menganiaya anaknya kemudian anak tersebut melanjutkan menganiaya anaknya sendiri di masa depan dan anak tersebut kembali menganiaya anaknya saat ia menjadi orangtua, dan seterusnya. Meskipun hal ini seringkali benar, namun terdapat pula orang tua yang meskipun tidak dianiaya semasa kecilnya namun tetap menganiaya anak mereka. Karakteristiknya adalah: rasa percaya diri rendah, tingkat intelektual rendah, ketidak ramahan, rasa kesepian, ketidakpercayaan, dan penggunaan alkohol atau narkoba. Selain itu, kurangnya pengetahuan orangtua mengenai perkembangan anak dan cara menjadi orangtua yang baik dan benar juga mungkin menyebabkan hal ini.
Faktor yang kedua adalah faktor anak. Beberapa anak lebih rapuh terhadap tindakan-tindakan aniaya. Umur dan keadaan fisik, mental, serta emosional dan perkembangan sosialnya dapat berpengaruh besar terhadap kemungkinannya dianiaya oleh orangtua atau tidak. Perilaku anak, misalnya menangis dan respon yang kurang dapat meningkatkan kemungkinan ia dianiaya bila orangtuanya memiliki kemampuan yang kurang dalam berempati dan tidak sabar, serta tidak dapat mengontrol emosinya.
Faktor ketiga adalah faktor lingkungan yang seringkali ditemukan dalam kombinasi kedua faktor sebelumnya. Masalah penganiayaan terhadap anak dalam beberapa budaya masyarakat lebih tinggi daripada masyarakat lainnya. Apa yang didefinisikan oleh suatu masyarakat sebagai penganiayaan terhadap anak mungkin hanya merupakan hal yang masih dapat diterima di beberapa budaya masyarakat lainnya.
Faktor-faktor penganiayaan terhadap anak tersebut mengakibatkan berbagai dampak. Efek-efek dari penganiayaan terhadap anak meninggalkan luka yang dalam secara fisik maupun emosional, bahkan luka-luka emosional memiliki dampak yang lebih lama sepanjang hidupnya, yang merusak kepribadian anak, kemampuan untuk mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain, rasa trauma serta kemampuan bekerja dengan baik. Penganiayaan juga menyebabkan berkurangnya rasa kepercayaan dan kesulitan berhubungan dengan orang lain. Hal yang sangat wajar, karena bila seorang anak tidak dapat mempercayai orang tuanya sendiri, lalu siapa yang dapat ia percaya? Ini dapat menyebabkan kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain karena rasa takut akan dianiaya dan hubungan yang tidak sehat karena individu yang dianiaya tidak mengetahui seperti apa hubungan yang baik itu. Perasaan "tidak berguna" dan terluka juga dapat muncul. Saat anak dewasa, mereka dapat mengalami kesulitan dalam pekerjaan dan tidak berambisi tinggi dikarenakan perasaan tidak berguna tersebut. Emosi-emosi lainnya pun dapat diekspresikan dengan cara yang tak dapat diprediksi dan berbahaya.


Untuk mencegah agar dampak-dampak buruk tersebut tidak terjadi dan menghilangkan penganiayaan terhadap anak, tindakan-tindakan untuk memecahkan masalah ini perlu segera dilakukan. Hal yang pertama dapat dilakukan adalah melakukan edukasi terhadap para orangtua untuk mengajarkan mereka bagaimana cara membesarkan anak dengan baik dan meningkatkan kemampuan parentingnya dengan cara seminar, buku-buku dan melalui film. Selain itu, anak-anak yang teraniaya juga perlu diberikan edukasi dan program-program untuk mengatasi luka emosional mereka agar kelak saat mereka menjadi orang tua hal yang sama tidak akan terulang. Kesadaran masyarakat akan masalah ini juga perlu ditingkatkan melalui iklan-iklan dan poster mengenai penganiayaan terhadap anak. Selain itu, saat ini para musisi juga ada yang menulis lagu mengenai masalah ini dan telah ada beberapa film yang mengangkat tema ini untuk membuka mata masyarakat dan mencegah pengulangan kejadian ini. Pembatasan akan apa yang ditonton anak juga perlu dilakukan, karena acara-acara TV yang menunjukkan kekerasan dapat mengakibatkan proses imitasi akan perilaku tersebut. Selain itu, pertolongan profesional seperti terapi juga diperlukan untuk membantu orang tua yang menganiaya anaknya belajar mengetahui bahwa tindakan mereka salah dan akan belajar untuk menjadi orang tua yang baik serta mengendalikan emosi dan tidak melampiaskannya pada anak. Hal lain yang perlu diingat adalah kita dapat membuat perubahan besar dalam hidup anak yang teraniaya. Hal terbaik yang dapat dilakukan bila mengenal seorang anak yang teraniaya adalah memberikan dukungan dan membuatnya tenang dan memberikan bantuan. Mari kita buat rumah menjadi tempat yang aman kembali untuk seorang anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar