Sabtu, 08 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan

Adanya Senioritas dan Tawuran Antar Sekolah


Rasa kemanusiaan sangat dibutuhkan di organisasi manapun, dari yang kecil seperti keluarga sampai yang besar seperti disuatu Negara. Bahkan di Negara kita, kemanusiaan sangat dijunjung tinggi. Buktinya dapat dilihat dari bunyi Pancasila nomor 2 yaitu “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”. Di dunia ini khususnya di Indonesia menurut saya rasa kemanusiaan sudah agak dilupakan.

Senioritas

Secara etimologis senioritas berasal dari kata senior yang artinya lebih tua sedangkan pengertian bebasnya sering diartikan pemberian keistimewaan pada yang lebih tua dalam berbagai hal dikarenakan karakter orang yang lebih tua biasanya lebih bijak, lebih berpengalaman, dan berwawasan luas. Walaupun sebenarnya kondisi yang ideal mengenai senioritas terjadi ketika yang muda (Junior) menghormati yang tua (senior). Sistem senioritas ini terkait dengan “hierarki komando” yang biasanya digunakan oleh militer, karena kebutuhan organisasi militer akan adanya suatu kepatuhan tanpa pertanyaan dari bawahan atau junior pada atasannya atau senior. Sayangnya sistem senioritas yang ideal hanya untuk militer, ternyata diadopsi secara sengaja maupun tidak ke berbegai institusi non-militer oleh penguasa orde baru diantaranya institusi pendidikan non-apatur.

Pengaruh teman sebagai anggota kelompok referensi bisa sebagai pisau bermata dua karena teman bisa mempengaruhi orang lain untuk bertindak negatif. Misalnya Geng atau perkumpulan remaja yang cenderung mengarah pada aspek negatif. Geng atau kelompok ini merupakan kelompok tidak formal dan di luar struktur sekolah yang biasanya melakukan sesuatu tidak pada konteks kurikulum sekolah. Geng ini cenderung mengawali kegiatan dengan tindakan fisik antara lain membawa minuman keras, senjata tajam, narkoba, bahkan hal-hal yang berkaitan dengan pornografi. Apabila pengaruh teman yang tergabung dalam suatu geng ini cukup kuat dan bisa membentuk pengaruh normatif, maka setiap individu yang berinteraksi dengan geng ini memiliki kewajiban untuk mengikuti tindakan dalam geng tersebut. Konsekuensinya, apabila anak sekolah tidak mengikuti ini, anak akan dikucilkan atau konsekuensi ekstrim lainnya anak menjadi korban kekerasan pada geng itu. Senioritas yang terjadi pada salah satu sekolah saja, bisa saja jadi ditiru oleh sekolah-sekolah lain. Sehingga membentuk sebuah budaya ke senioritasan. Kemudian, sebagian pendidik juga belum mampu mengelola emosi negatif sehinga memperlakukan peserta didik dengan kasar. Lebih jauh lagi, pemegang kebijakan pendidikan di negeri ini harus sadar bahwa ketidakadilan kebijakan dan perundang-undangan pendidikan yang diskriminatif dapat menanam benih kekerasan di benak anak didik. Karena secara substansif, akses pendidikan yang tidak adil dan merata dapat menyebabkan kesejangan, sehingga akan sangat mudah memicu konflik sosial yang lebih luas.

Akibat yang muncul  yaitu siswa-siswa yang terlebih dahulu belajar di sekolah tersebut menumpahkan rasa kekesalannya kepada adik kelasnya karena mereka  merasa adik kelasnya tidak akan berani melawannya. Melalui tindakan itulah para senior merasa puas dan rasa kesal yang dipendam akan tersalurkan. Mereka memulai kekerasan pada adik kelas (junior) dengan penyebab yang di rasa kurang masuk akal. Seharusnya hal ini tidak menjadi masalah yang harus dipermasalahkan sehingga menimbulkan kekerasan diantara mereka. Ini adalah faktor sampingan agar mereka mendapat aktor yang digunakan untuk pelampiasan para senior tersebut.  Lingkungan sosial yang dapat menyebabkan munculnya kekerasan di sekolah adalah adanya pengurus, pemimpin dan guru-guru di sekolah yang tidak terlalu memperhatikan pola pertemanan yang dilakukan oleh siswa-siswanya antar generasi. Menurut mereka hal seperti ini tidak terlalu penting untuk diperhatikan karena mulai awal sekolah didirikan sampai saat ini pola perteman antar siswa seperti itu saja, tidak ada perubahan yang mencolok, padahal jika di telik lebih dalam lagi ada maslah-masalah yang tertutup yang hanya diketahui oleh siswa.

Tawuran

Tawuran merupakan salah satu contoh dari hilangnya rasa kemanusiaan antar manusia. Tawuran adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia. Tawuran memiliki arti sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Ada yang mengatakan bahwa tawuran itu wajar, ada juga yang bilang mereka yang mengikuti tawuran sudah kehilangan akal sehatnya.  Anak-anak sma banyak yang sudah menganggap tawuran merupakan sebuah tradisi yang harus dilakukan. Dimana rasa kemanusiaan itu jika antar siswa sma terdapat peperangan dan baku hantam. Bukan hanya siswa sma, sekarang di smp pun sudah mulai ada kasus tawuran. Tawuran bagi beberapa pelajar berartikan kuat dan menjadikan mereka terkenal. Saat tawuran mereka merasa kalau mereka dapat melakukan apapun. Dan dengan menyerang lawan sampai lawan kalah ataupun meninggal dunia, mereka merasa bahwa mereka telah menang dan dalam hatinya terasa rasa yang sangat bangga akan dirinya. Bagaimana dengan orang tua yang mengetahui anaknya tadi pagi pergi kesekolah untuk mencari ilmu dan tiba-tiba pulang tanpa nyawa? Kaget pastinya ketika mengetahui bahwa anaknya merupakan salah satu anak yang mengikuti tawuran. Bagi beberapa sekolah, guru dan kepala sekolah sudah tidak dapat lagi melarang murid-murid mereka untuk tidak melakukan tawuran. Mungkin karena murid-murid tersebut melakukan tawuran secara diam-diam atau mereka sudah tidak lagi hormat dan mendegarkan guru mereka lagi. Tawuran lebih sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya.

 Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat jumlah kasus tawuran antarpelajar pada semester pertama tahun 2012 meningkat dibandingkan dengan kurun yang sama tahun lalu. Ketua Umum Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait menyatakan sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar, lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu yang jumlahnya 128 kasus. Menurut data yang diperoleh dari layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak tersebut, dari 139 kasus tawuran yang kebanyakan berupa kekerasan antarpelajar tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas itu 12 diantaranya menyebabkan kematian. Dan bukan hanya mereka yang melakukan tawuran yang nyawanya terancam, para korban yang berada di lingkungan sekita tawuran yang tidak tau apa-apa mendapatkan serangan dari anak-anak yang melakukan tawuran. Polisi yang bertugas untuk menghentikan perkelahian pun sering menjadi korban. Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.

Solusi

Menurut saya, untuk kasus seperti senioritas seharusnya harus ada satu angkatan atas yang rela untuk tidak melakukan aksi kekerasan terhadap adik kelasnya. Memang pasti susah, karena angkatan mereka ketika menjadi junior telah melalui masa-masa gelap dan ketika sudah menjadi senior tidak dapat membalas dendam. Tapi jika saja ada satu angkatan yang berhenti melakukan aksi kekerasan tersebut, saya yakin senioritas pasti akan berhenti. Dan untuk juniornya juga sebaiknya jangan melakukan hal-hal yang dapat mencetus pertengkaran dengan seniornya. Adik kelas juga harus tetap hormat ke kakak kelasnya dan sebaliknya juga kakak kelas harus sayang dan melindungi adik kelasnya. Dan untuk junior yang masih mendapatkan aksi kekerasan dari kakak kelasnya, apabila sudah keterlaluan sebaiknya diceritkan ke guru dan orang tua. Dan sekolah seharusnya mengeluarkan senior yang melakukan tindak kekerasan seperti itu, kalau tidak siswa yang melapor ke guru dan orang tua akan berkemungkinan disiksa lebih parah dari sebelumnya. Dan untuk kasus tawuran sebaiknya polisi yang bertugas di jalan raya seharusnya lebih sedikit banyak. Dan mereka juga seharusnya diberikan proteksi yang baik saat bertugas karena tawuran terjadi begitu saja tanpa orang-orang tau. Dan polisi atau penjaga keamanan yang sedang bertugas jangan malah menganggur seperti tidur. Dan untuk anak-anaknya harus lebih di tanamkan cara berpikir yang lebih matang. Dan diajari bahwa lebih baik menjalin pertemanan dari pada mempunyai lawan. Lebih baik bersaing dengan siapa yang lebih pintar daripada siapa yang lebih kuat. Sekolah-sekolah juga seharusnya lebih ketat dalam melakukan absensi siswa. Jika ada yang tidak masuk segera ditanya ke orang tuanya mengapa anaknya tidak masuk sekolah. Dan sekolah juga harus mempunyai keamanan yang ketat agar tidak ada siswa yang dapat keluar dari sekolah ketika jam pelajaran tanpa surat izin. Tas murid-murid juga setidaknya dapat diperiksa agar siswa-siswa tidak membawa barang berbahaya untuk tawuran seperti gir sepeda, golok, pisau, dan barang-barang lainnya.

Sumber
-          www.antaranews.com
-          www.wikipedia.com
-          www.kpai.go.id
-          www.diahpermatasari19.blogspot.com
-          www.antikekerasananakmuda.blogdetik.com





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar