Kamis, 20 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Perokok dibawah umur
A. Apa itu Rokok ?
      Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Berdasarkan survei yang dilakukan Global Youth Tobacco Survey indonesia yang dilakukan terhadap remaja berusia 13 - 15 tahun, sebanyak 24,5% remaja laki - laki dan 2,3% remaja perempuan merupakan perokok, 3,2% di antaranya sudah kecanduan. Menurut survet Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan menyebutkan 13,63% perokok di Indonesia mulai merokok sejak usia 7 tahun. Berdasarkan survey Departemen Kesehatan, sekitar 141,44 juta jiwa, artinya terdapat sekitar 1,92 juta anak usia 7 hingga 18 tahun yang menjadi perokok.
Hal ini tentu saja merupakan kenyataan pahit bagi indonesia karena rokok sudah masuk ke dalam paru - paru remaja yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Hal yang lebih memprihatinkan lagi adalah usia mulai merokok yang setiap tahun semakin muda, Bila dulu orang mulai berani merokok biasanya mulai SMP maka sekarang dapat dijumpai anak-anak SD kelas 5 sudah mulai banyak yang merokok secara diam-diam. Apabila mengingat bahaya - bahaya yang bisa ditimbulkan akibat merokok dan bagian - bagian dari rokok yang setiap bagiannya merupakan racun bagi remaja itu sendiri dan juga merupakan racun bagi orang yang ada di sekitar kita, sebenarnya rokok adalah hal yang tidak bagus untuk digunakan oleh seorang remaja. Selain bagian - bagian dari rokok, kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan. Tapi sayangnya masih saja banyak orang yang memilih untuk menikmatinya.
B. Faktor Seorang remaja merokok
1.     Pengaruh Orangtua
Salah satu temuan tentang remaja perokok aalah bahwa anak muda yang berasalah dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak - anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras makan lebih mudah remaja tersebut untuk menjadi perokok dibanding anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (baer & Corado dalam Atkinson, 1999). Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekan nilai - nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terkibat dengan rokok/tembakau/narkoba dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada remaja untuk mengerjakan urusannya sendiri, dan yang paling kuat perngaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yang sesuai yaitu sebagai perokok berat, maka anak - anaknya akan mungkin sesekali mencoba untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak di dapati pad ameraka yang tinggal dengan satu orangtua (single parent). Remaja akan lebih cepat berperilaku sebagai perokok bila ibu mereka merokok lebih berat daripada ayahnya yang merokok, hal ini lebih terlihat pada reamaha putri (Al Bachri, Buletin RSKO, 1991) 
2.     Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman - temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta trsebut ada kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman - temannya yang merupakan perokok berat. Dianatara ramja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang- kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, Buletin RSKO, 1991)

3.     Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok kareana alasan ingin tahu atau ingin melepsakan diri dari rasa sakit fisik ataupun jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun sifat kepribadian yang berisfat prediktif pada pengguna rokok ialah konformitas sosial. Orang yang memilik skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson, 1999)
Di dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, 2 diantarannya adalah nikotin dan tar yang bersifat karsionogenik (Asril Bahar, 2002). Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker. Pada awalnya rokok mengandung 8 - 20 mg nikotin dan setelah di bakar nikotin yang masuk ke dalam sirkulasi darah hanya 25%. Walau demikian jumlah kecil tersebut memiliki waktu hanya 15 detik untuk sampai ke otak manusia.
Nikotin itu di terima oleh reseptor asetilkolin - nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasa rasa nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mempu menekan rasa lapar. Sementara di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan sorotonin. Meningkatnya sorotonin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi (Agnes Tineke, 2002). Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok, karena sudah ketergantungan pada nikotin. Ketika ia berhenti merokok rasa nikmat yang diperolehnya akan berkurang.
Efek dari rokok/tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkan, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laky dan fungsi psikomotor. Jika dibandingkan zat - zat adiktif lainnya rokok sangatlah rendah pengaruhnya, maka ketergantungan pada rokok tidak begitu dianggap gawat (Roan, ilmu kedokteran jiwa, 1979)
Mereka yang dikatakan perokok sangat berat adalah bila mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit setelah bangun pagi. Perokok berat merokok sekitar 21 - 30 batang sehari dengan selakng waktu sejak bangun pagi sekitar 6 - 30 menit. Perokok sedang menghabiskan 11 - 21 batang dalam selang waktu 31 - 60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan menghabiskan rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.
C. Penyakit yang bisa terjadi pada masa mendatang akibat rokok
1.     Emphysema
Paru-paru adalah organ utama yang bertanggung jawab atas penarikan dan pengeluaran udara yang kita hirup. Paru-paru terdiri dari anggur seperti cluster disebut alveoli, yang membantu dalam bergabung dengan saluran udara yang disebut bronchioles. Struktur yang unik ini membuat paru-paru sangat elastis dan karena itu membantu proses pernapasan, di mana oksigen masih dipertahankan dalam tubuh dan diberikan ke darah, sedangkan karbon dioksida dikeluarkan.
Emphysema adalah salah satu penyakit paru - paru kronis yang berbahaya dan tiap tahunnya telah membunuh lebih dari 80.000 orang. Merokok menyumbang 80% kematianyang disebebkan penykit ini. Emphysema, penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian, yang terkait sepenuhnya dengan kebiasaan merokok, telah membunuh lebih dari 30.000 orang tiap tahunnya.
Emphysema menyebabkan pembengkakan dan kerusakan jaringan paru. Akibat fisiologisnya: merokok berarti “menipiskan” udara yang dihirup karena paru - paru tidak mampu menyaring oksigen dari udara dan menyalurkannya ke dalam darah. Itu sama saja dengan berusaha bernafas di puncak Gunung Everest.
Paru - paru yang terserang Emphysema akhirnya kehilangan kelenturannya. Setiap kali bernafas, penderita akan menanggung rasa sakit. Jika sudah begitu, tipis harapan untuk bisa sembuh. Jaringan paru - paru yang dirusak Emphysema tak mungkin bisa digantikan. Perlahan penyakit ini berkembang dan menggerogoti penderita hingga mengalami cacat pernafasan hingga harus menghirup nafas yang menyakitkan selama bertahun - tahun. Kematian biasanya disebabkan karena jantung penderita mengalami kelebihan beban.
Orang dewasa yang tidak merokok tetapi berasal dari rumah tangga dengan dua atau lebih perokok akan memiliki keterlibatan emphysema 2,8%  lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa dari rumah tangga yang tidak ada perokok. Perbedaan yang signifikan muncul setelah penyesuaian melalui demografi, antropometrik, pada orangtua, dan karakteristik, serta lingkungan kumulatif pada masa dewasa, seperti polusi udara pada pemukiman dan orang dewasa yang terekspose asap tembakau.
Emphysema bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam seperti pilek atau flu, tetapi berkembang selama bertahun-tahun dan tidak ada permanen obat untuk kondisi ini. Namun, jika pasien berhenti merokok, maka ia dapat menghentikan kerusakan lebih lanjut paru-paru, sehingga mengurangi ketidaknyamanan yang ia alami. Oleh karena itu, saat ketika seseorang merasa sesak napas dan jika ia memiliki kebiasaan merokok, ia harus benar-benar mendapatkan tes yang relevan yang diperlukan untuk diagnosis dan menyelamatkan emfisema paru-parunya.
Polusi udara juga sama bertanggung jawab terhadap jumlah zat-zat beracun di lingkungan yang memasuki tubuh kita dan mengganggu fungsi normal paru-paru. Faktor-faktor lain termasuk debu, alergen.
2.     Kelainan jantung
Merokok meningkatkan risiko kematian kereana serangan jantung dan stroke. Paling tidak 180.000 orang amerika meninggal tiap tahun karena penyakit cardiovascular (jantung dan pembuluh darah) yang disebabkan merokok. Dan penyakit ini adalah pembunuh nomor satu.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejumlah penyakit kardiovaskular memiliki risiko tinggi terhadap kematian. Penyakit jantung koroner (PJK) menyebabkan 7,2 juta kematian di dunia pada tahun 1996, dan merupakan 14 persen dari total kematian keseluruhan atau satu dari tiga kematian di negara-negara industri. Sementara stroke menyebabkan 4,6 juta kematian. Hipertensi diderita lebih dari 690 juta orang di dunia. Di negara berkembang, kematian karena penyakit kardiovaskular diperkirakan meningkat 28 persen per tahun.
Pria yang merokok menganggung terkena serangan jantung dua kali lipat dibandingkan yang bukan perokok. Perempuan yang mengisap rokok sebungkus setiap hari menghadapi risiko serangan jantung lima kali lipat.
Laki - laki perokok yang berusia antara 45 - 54 tahun memiliki tingkat kematian akibat serangan jantung tiga kali lebih besar dibandingkan laki - laki sebaya yang tidak merokok. Jika usianya 40 - 59 tahun, risiko terkena stroke dua kali lebih besar ketimbang yang tidak merokok. Perempuan perokok usia tersebut kemungkinan meninggalnya empat kali lebih tinggi daripada laki - laki. Penelitian lain menunjukkan bahwa angka kematian perokok akibat serangan jantung berkisar 50 sampai dengan 100 persen lebih besar dibanding yang tidak merokok, tergantung usia dan jumlah rokok yang dikonsumsi.
D. Solusi
Solusi dari sekian masalah untuk diatas yang paling penting adalah pengendalian diri sendiri, apabila kita memiliki masalah lebih baik di bicarakan dengan orangtua dan jangan pernah jadikan rokok sebagai solusi saat stress.  Yang kedua faktor orangtua, orangtua harus lebih memantau lingkungan bermain anaknya agar tidak terjerumus di pergaulan yang salah, orangtua juga harus bisa menjadi teman disaat seorang anak sedang stress. Dan yang terakhir adalah peran pemerintah dalam penggunaan rokok ini, pemerintah harus lebih memantau penjualan - penjualan rokok dan penggunaan rokok di kalangan remaja ini.



    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar