Minggu, 23 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


MORAL MASYARAKAT YANG MEMUDAR

Pendidikan memang penting, tapi apakah keunggulan akademik saja sudah cukup? Untuk  apa kita pintar tapi memiliki hati batu dan sifat yang buruk? Melihat kenyataan yang ada, banyak orang-orang berpendidikan tinggi melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Mengapa moral bangsa menjadi rusak? Apakah itu memberikan dampak yang baik bagi generasi penerus?   Bagaimana bisa mengharapkan penerus yang berkualitas kalau contoh yang ada sekarang salah? Hal tersebut terjadi karena hilangnya rasa hormat, kejujuran, santun, dan disiplin.
Seiring perputaran waktu yang semakin mendorong orang-orang berlomba mengejar arus globalisasi, seringkali mereka mengabaikan hal-hal yang mendasar dalam hidup. Bahkan tidak kurang dari mereka lebih memilih hidup bebas ketimbang berjalan di alur kehidupan yang seharusnya menjadi pedoman hidup. Orang orang cenderung tidak peduli lagi dan memilih hidup semaunya sendiri, mereka menganggap mereka lebih modern di bandingkan dengan yang lain. Melupakan kodratnya dan kehilangan rasa malu.

Respect. Mungkin sebagain orang menganggap remeh. Tetapi bagi saya, itu adalah sebuah kata yang penuh makna dan bisa merubah segalanya.  Rasa hormat adalah sikap menghormati diri sendiri dan satu sama lain. Tanpa adanya rasa hormat, tak akan tumbuh rasa saling menyayangi dan yang ada hanyalah selalu menngaggap kecil atau remeh orang lain. Love is respect. Hilangnya rasa hormat dan kasih sayang anak kepada orang tua atau yang muda kepada yang lebih tua, merupakan bencana yang harus dijauhi. Hilangnya rasa hormat memungkinkan adanya perpecahan. Hal kecil yang tidak kita sadari seperti tidak melakukan eye contact dengan orang yang sedang berbicara atau sedang bersalaman dengan kita tetapi kita fokus ke hal yang lain, itu adalah penggambaran tidak hormat. Arti hormat sangat luas. Menjadi pendengar merupakan suatu sikap hormat. Mulailah dari diri kita sendiri. Jika kita menghormati orang lain, pasti kita juga akan dihormati. Layaknya melihat diri di cermin, apa yang ada didepannya maka itu yang di pantulkan.
 
Mengapa kita harus saling menghormati?

1. Saling Membutuhkan
Pernahkah Anda membayangkan jika segala sesuatu harus dilakukan sendiri, menanam padi sendiri untuk mendapatkan beras,menanam tumbuhan untuk membuat pakaian dan menjahitpakaian sendiri,membangun rumah sendiri dari awal,membuatkendaraan sendiri; mencuci baju sendir, memasak sendiri,membersihkan rumah sendir, dan mengambil keputusan sendiri? Kita semua saling membutuhkan.

2. Saling Menguntungkan
Kita merasa beruntung karena bisa berbagi dengan orang lain, kita mendapat pemasukan uang dan mendapatkepuasan karena ada orang lain yang mau menggunakan hasil karya kita. Orang lain juga merasa diuntungkan dengan kebaradaan kita karena mereka bisa mendapatkan apa yang mereka perlukan dari kita.

3. Saling Mengisi 
Tidak ada satu orang pun yang benar-benar serupa denganorang lain. Anak kembar sekalipun memiliki perbedaan. Kita memiliki perbedaan dalam kepribadian, talenta, kemampuan, gaya hidup, kebiasaan, dan kebutuhan. Namun perbedaan inilah yang membuat hidup menjadi lebih kaya, bervariasi, dan menyenangkan karena kitabisa saling mengisi. Banyak restoran muncul karena banyak orang tidak bisamemasak masakan seperti masakan yang disa jikan restoran itu, atau karena tidak ada waktu untuk melakukan aktivitas memasak.

4. Saling Menguatkan
Selain perbedaan, persamaan pun bisa menguntungkan. Orang-orang yang memiliki persamaan bisa saling bekerja sama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, begitu kata pepatah. Rupanya pepatah ini muncul dari kesadaran bahwa dengan bekerjasama, segala sesuatu akan terasa lebih mudah.

Kalau kita tidak saling menghormati, mungkinkah hal-hal tersebut terasa manfaatnya?

 Budaya nggak sabaran nyata-nyata terjadi di jalan raya di lingkungan kita (terutama Jakarta). Jalan raya adalah interaksi bersama di sebuah barang publik milik bersama. Kenyataannya, barang publik membuat setiap orang ingin mendapatkan kepuasan semaksimal mungkin tanpa menghiraukan yang lain. Alih-alih memanfaatkannya dengan maksimal, justru manfaat yang didapatkan sangat sedikit karena perilaku egois, atau bahkan malah jadi musibah. Inilah yang sering terjadi.

Pagi di Perempatan
Pagi di sebuah perempatan, angkot yang ngetem, motor yang ugal-ugalan dan menumpuknya kendaraan membuat macet. Pak ogah mencoba mengatur mereka, memberhentikan kendaraan dari satu jalur dan membiarkan yang lain lewat. Klakson berbunyi keras membuat suasana makin tidak nyaman.
Pagi itu jadi pagi yang hiruk pikuk, semua orang tidak sabar segera sampai ke tujuan, ke sekolah, ke tempat kerja. Semua orang ingin mendahului, ingin sampai. Jadilah mereka menyelonong seakan hanya ada mereka sendiri. Pak ogah tidak kuasa membendung kendaraan yang sudah tidak sabar, akhirnya mobil dan motor menumpuk di tengah. Tidak ada yang bisa lewat.
Sebenarnya solusinya sederhana, mengalah baru kemudian lewat. Tetapi tidak ada yang berpikir sejauh itu, yang penting semau gue, yang lain biarin aja. Padahal dengan mengalah kita bukannya jadi kalah, kita malah memenangkan setiap pihak.
Solusi lain, berangkat lebih pagi ketika jalan masih sepi. Sebuah hal mudah yang tampaknya begitu sulit dilakukan, karena terbiasa terlambat dan menunda-nunda.
Menerobos Lampu Merah
Ada lagi kejadian serupa di lampu merah di sudut Jakarta. Entah mengapa orang-orang ini begitu kesetanan ingin menginjak gas dalam-dalam sebelum hijau menyala. Mereka Ingin tiba lebih dulu. Padahal lampu merah masih menyala 25 detik lagi. 25 detik begitu berharga bagi mereka. Mungkin sama harganya dengan luka-luka dan kecelakaan yang bisa menimpa mereka.
Kelalaian kecil bisa menghasilkan tabrakan yang bukan cuma merugikan diri kita saja, melainkan juga merugikan yang lain. Kerugiannya bisa saja luka-luka, kendaraan yang rusak dan penyok, kematian, juga potensi kemacetan. Akibat kelalaian kecil, semua orang harus mendapatkan dampak buruk.
Menerobos Palang Pintu Kereta yang Tertutup
Yang ini lebih berbahaya lagi, menerobos palang pintu kereta yang sudah tertutup. Sudah jelas palangnya tertutup, tetapi nafsu kesetanan tetap mendorongnya untuk menerobos. Satu terobosan nekat bisa dibayar dengan hilangnya nyawa. Padahal
menunggu sebentar dan bersabar mudah dilakukan. Tapi mungkin sulit untuk mereka. Mumpung kereta belum lewat, mungkin itu alasan mereka yang menyerobot. Sebuah nyawa menjadi tidak berharga dibandingkan waktu sebentar untuk menunggu.
Apakah ini Budaya?
Entah kapan “budaya” ini dilestarikan, baik secara sadar ataupun tidak sadar. Faktor penyebabnya, mungkin karena semakin sedikitnya waktu dan tuntutan serba cepat di era modern sehingga harus terburu-buru, atau faktor lain kelalaian, deadline, ataupun tidak bisa mengontrol diri, mendisiplinkan diri.
Yang jelas budaya disiplin masih jauh diterapkan. Terutama disiplin di jalan raya, jalan raya adalah cerminan disiplin sebuah masyarakat. Selain hilangnya budaya disiplin, perasaan untuk saling menghargai sesama pengguna jalan juga musnah. Belum ada kesadaran win-win solution. Belum ada kesadaran untuk membuat setiap orang selamat dan nyaman.


 
"MINTALAH BON STRUK PEMBAYARAN TRANSAKSI ANDA DI KASIR KAMI. Tanpa bon struk, pembayaran belanja Anda dianggap gratis." Tulisan tersebut tidak jarang terpasang di atas counter kasir. Tulisan di atas terasa sedikit berlebihan karena pemilik kelihatannya tidak bisa mengendalikan operasional salonnya, terutama dalam mengatur arus uang kas yang masuk. Jadi pemilik salon minta bantuan konsumen untuk melaporkan karyawannya yang melakukan kecurangan.
Bila ada orang asing yang mengerti Bahasa Indonesia membaca tulisan itu, pasti dia akan sedikit menggerutu. Konsumen yang membeli seharusnya memang berhak mendapatkan bon struk pembelian layanan tanpa diminta. Struk adalah hak konsumen sebagai tanda bukti pembelian yang sah. Mengapa konsumen harus meminta? Apakah kasirnya malas mencetak struk? Apakah printer struknya sering rusak? Atau gerai yang mau menghemat kertas (go-green) sehingga tidak mencetak struk bila tidak diminta?

Mahalnya Sebuah Kejujuran
Bagi konsumen yang mengerti, tulisan di atas sebenarnya berbicara tentang masalah kejujuran. Kejujuran siapa? Tentunya kejujuran kasir dalam melakukan transaksi. Maksudnya? Ada oknum kasir yang enggan memasukkan transaksi konsumen ke dalam mesin kasir sehingga transaksi ini tidak tercatat dalam sistem kasir. Dengan demikian pada tutup kasir nanti akan ada kelebihan uang kas di dalam laci atau di dalam kantong oknum kasir itu. Kemana larinya uang ini? Tergantung kesepakatan antara oknum kasir tadi dan karyawan lain; misalnya dibagi rata sesama karyawan sehingga semua karyawan akan tutup mulut dan tidak melaporkan praktik curang oknum kasir itu pada atasan atau pemilik. 

 Seiring dengan globalisasi, budaya-budaya negara asing telah masuk dan memberikan dampak terhadap budaya dan nilai-nilai tradisional di negeri ini. Dampak tersebut dapat berupa pengaruh positif, namun dapat juga pengaruh negatif. Tidak sedikit nilai-nilai tradisional yang telah dilupakan oleh masyarakat asli negeri ini, khususnya kalangan remaja. Banyak dari mereka yang telah melupakan tentang pentingnya sopan santun.

Salah satu contoh kurangnya norma sopan santun dari kalangan remaja adalah tidak menyapa orang yang berusia lebih tua dari mereka. Ketika mereka bertemu guru-guru di sekolah, banyak dari mereka yang hanya jalan berlalu, tanpa memanggil. Selain itu, hal yang seringkali kita lihat adalah para remaja yang memanggil orang yang lebih tua bagaikan memanggil teman sekelas. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa-bahasa gaul yang mungkin tidak cocok dengan orang yang lebih berusia, sehingga konflik dari kedua pihak pun terjadi dan hubungan mereka pun semakin buruk.

Sopan santun sebenarnya sangatlah penting untuk diterapkan bagi para remaja. Remaja merupakan generasi penerus bangsa, dimana nasib tanah air kita tercinta ada di dalam tangan mereka. Tidak sedikit dari para remaja yang menilai bahwa sopan santun bukanlah sesuatu yang penting, dan bahkan meremehkannya karena mereka merasa tidak keren dan tidak sesuai dengan budaya barat yang masuk ke Indonesia. Para remaja seharusnya mengetahui bahwa sikap mereka yang sopan santun justru akan dihargai banyak orang. Dengan merasa dihargai juga, orang-orang pun akan memberikan kesan yang sangat baik terhadap kita. Apabila para remaja sebagai penerus bangsa gagal menyadarinya, dan mereka terus tidak menerapkannya ketika berhubungan dengan masyarakat asing, maka bangsa Indonesia akan membawa kesan yang buruk dan akan martabat negeri ini pun akan turun dalam dunia internasional.

Supaya lebih merasa dihargai dan martabat negeri ini tidak menurun, maka yang harus kita lakukan adalah belajar untuk menjadi orang yang penuh dengan sopan santun. Namun, ini bukanlah berarti bahwa kita harus meninggalkan budaya-budaya asing yang mempengaruhi budaya sopan santun negeri kita ini. Mulailah dari hal-hal yang kecil, seperti menyaring perilaku yang dianggap sopan atau tidak sopan. Sapalah ketika bertemu dengan orang-orang yang lebih tua dan meminta maaf jika melakukan kesalahan yang membuat orang lain tidak senang. Sopan santun sebenarnya malah akan membawa kesan dan dampak positif, dan juga tidak usah mengorbankan sesuatu untuk melakukannya.
SOLUSI
·         Mari kita meningkatkan kualitas diri, yakni bagaimana cara kita untuk mencitrakan diri sebagai seorang pelajar: berupaya terus menguatkan iman dan kepercayaan masing-masing.
·         Menjadi cerdas dan bijak dalam menghadapi problem-problem besar.
·         Memperbaiki sistem pendidikan yang ada di Indonesia agar menjadi sistem pendidikan yang lebih baik lagi dengan mengutamakan penanaman pendidikan moral.
·         Menyaring setiap budaya yang akan masuk kedalam kehidupan para remaja.
·         Pentingnya peranan orang tua dalam hal mengikuti perkembangan kemajuan dan juga perkembangan keinginan anak tersebut.
·         Tetap menjaga pergaulan anak agar anak tersebut tidak bergaul terhadap orang-orang yang salah.
·         Membentuk sistem keluarga yang kuat, membangun karakter building dan pengokohan ajaran moral atau ajaran agama.



SUMBER:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar