Kamis, 20 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan

" Agama : Pedoman Berubah Menjadi Permasalahan "





Agama diturunkan ke dunia untuk dijadikan pedoman hidup manusia. Memang benar, di dunia ini agama bukan hanya ada 1, melainkan banyak.Untuk itu, Setiap manusia bebas untuk memilih agamanya masing – masing untuk dijadikan pegangan dalam meluruskan jalan hidupnya. Tetapi, apakah dengan adanya perbedaan agama tersebut adalah suatu masalah besar di dunia ini? Apakah perlu adanya diskriminasi karena perbedaan agama? Apakah perlu ada agama yang dipojokkan?Agama seakan malah menimbulkan masalah baru bagi kehidupan di dunia ini. Untuk itu, saya ingin sedikit memaparkan masalah – masalah apa saja yang telah timbul terkait agama.

Beberapa waktu terakhir, dunia kita diwarnai dengan berbagai informasi penting seputar pertikaian antar pemeluk agama. Pengalaman buruk masa silam terulang lagi. Beberapa orang menjadi korban, mati hanya karena berjuang untuk keyakinan yang dianutnya. Indonesia punya catatan panjang tentang ini dan selalu bermula dari tempat yang paling damai. Tanah Ambon yang kuat dengan filosofi Pela Gandong pernah porak-poranda tak tentu arah tahun 1999 silam,  karena konflik saudara sedarah beda agama. Peristiwa tragis ini menyebar dengan mudah ke bergulir ke berbagai wilayah lain di negara ini. Sikap yang kemudian muncul adalah curiga, fitnah dan prasangka buruk atas kehadiran orang lain yang beda agama, meski sebenarnya memiliki pertalian darah. Dan lebih parahnya ternyata permasalahan soal agama bukan hanya terjadi di Negara kita saja, Melainkan juga di dunia.Banyak Negara – Negara yang kerap tidak menerima adanya agama tertentu di Negara mereka bahkan di dunia.

Konflik yang Ada dalam Agama

sejak kepercayaan animisme dan dinamisme sampai monotheisme menjadi agama yang paling banyak dianut di muka bumi ini agama hampir selalu menciptakan perpecahan. Sebagai contoh, dalam agama India, khususnya Hindu-Budha, agama yang dibawa Sidharta Gautama ini merupakan rekasi dari ekses negative yang di bawa oleh agama Hindu. Walaupun agama Budha disebarkan dengan damai namun dapat dengan jelas terlihat bahwa masalah pembagian kasta dalam bingkai caturvarna menjadi masalah utama. Pada awalnya memang pembagian kasta ini merupakan spesialisasi pekerjaan, ada yang menjadi pemimpin agama, penguasa dan prajurit, dan rakyat biasa. Namun, dalam perjalannya terjadi penghisapan terutama dari pemimpin agama, prajurit, dan penguasa terhadap rakyat jelata. Implementasi yang salah dari caturvarna inilah yang diprotes dengan halus oleh Budha yang pada awalnya tidak menyebut diri mereka sebagai agama, tetapi berfungsi menebarkan cinta kasih terhadap sesama mahluk hidup, bukan saja manusia, tetapi juga hewan, dan tumbuhan. Sebagai reaksi dari meluasnya pengaruh Budha, Otoritas Hindu kemudian mengadakan pembersihan terhadap pengaruh Budha ini. Namun demikian, karena ajaran Budha lebih bersifat egaliter, usaha otoritas hindu ini menemui jalan buntu, bahkan agama Bundha sendiri dapat berkembang jauh lebih pesat dari pada agama Hindu, dan mendapat banyak pemeluk di Negara Tiongkok di kemudian hari.

Selain itu unsur konflik yang terbesar terjadi pula pada pengikut agama terbesar di dunia yaitu Abraham Religions, atau agama yang diturungkan oleh Abraham, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Tulisan ini hanya membatasi pada penggambaran konflik di antara ketiga agama tersebut, bukan pada konflik intern dalam masing-masing agama tersebut. Inti dari agama-agama Abraham ini adalah akan datang nabi terakhir yang akan menyelamatkan dunia ini. Hal yang menjadi masalah utama adalah tidak ada kesepakatan diantara ketiga agama tersebut tentang siapa nabi yang akan datang tersebut. Pihak Yahudi menyatakan belum datang nabi terakhir itu, sedangkan pihak Nasrani mengatakan Nabi Isa (Yesus Kristus) adalah nabi terakhir, lalu Islam mengklaim Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. Keadaan ini kemudian semakin diperparah ketika tidak ada pengakuan dari masing-masing agama yang masih bersaudara tersebut. Ketika berbagai unsure non-theologis, khususnya politik, ekonomi, dan budaya, menyusup ke dalam masalah ini, konflik memang tidak dapat dielakkan.

Untuk masa sekarang, banyak kasus – kasus kekerasan yang terjadi seperti di Poso, Ambon, Maluku dan beberapa daerah lainya yang bisa di provokatori dengan alasan perbedaan agama. Begitu juga dengan kasus terorisme yang terjadi mereka menggunakan alasan agam yaitu berjihad. Fakta yang terjadi para penganut agama di Era ini seakan semakin kehilangan pegangan dan norma hidup sehingga cenderung mempraktekkan kehidupan yang bebas tanpa batas, lebih menonjolkan kekerasan dan mengembangkan nafsu menghancurkan orang lain yang dianggap sebagai lawan demi kepentingan sesaat mereka dan juga dikarenakan kesenjangan sosial yang terjadi. Hal inilah yang menjadi permasalahan yang sangat besar di masa kini, berupa masalah kedamaian dan kerukunan antara umat beragama saat ini. Agama malah menjadi pemicu konflik di peradaban ini.

Peran agama sebagai perekat heterogenitas dan pereda konflik sudah sepatutnya dipertanyakan. Milyaran manusia yang menghuni muka bumi ini begitu heterogen dalam pelbagai suku, etnis, ras, agama, kultur, peradaban dan sebagainya. Namun sayangnya, perbedaan-perbedaan tersebut seringkali berakhir dengan konflik. Dan konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, atau antar golongan kaya dengan golongan miskin, ataupun juga antara kelompok-kelompok ekonomi lainnya; melainkan konflik antara orang-orang yang memiliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda. Namun, selama berabad-abad, perbedaan entitas agama justru telah menimbulkan konflik yang paling keras, paling lama, paling luas, dan paling banyak memakan korban. Dalam citranya yang negatif, agama telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya konflik, penindasan dan kekerasan. Agama telah menjadi tirani, di mana atas nama Tuhan orang melakukan kekerasan, menindas, melakukan ketidakadilan dan pembunuhan.

Dalam konteks masa kini, bentuk-bentuk konflik, kekerasan dan perang agama itu acapkali dihubungkan dengan bangkitnya fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama mengekspresikan cita-cita sosial-politiknya dalam bentuk ekstrimisme dan kekerasan sebagai reaksi terhadap kondisi kehidupan manusia yang dianggapnya tidak ideal. Fundamentalisme,

Ciri-ciri umum yang dapat memberi beberapa penjelasan tentang makna fundamentalisme adalah sebagai berikut :

          A.Mereka meyakini agama (ajaran, dogma, dan kitab sucinya) adalah yang paling benar.

B.Mereka meyakini agama mereka saja yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan    dunia.

C.Mereka menentang penafsiran, pendekatan, dan kritik yang dilancarkan oleh arus modern      kepada agama mereka

D.Mereka menekankan pentingnya untuk menjadi penganut agama yang sejati    dengan pengamalan doktrin yang paling murni. 

E.Mereka memimpikan terciptanya masyarakat ideal yang dibangun berdasarkan              ajaran agama mereka  

F.Mereka adalah orang-orang yang dangkal dan superfisial, anti intelektual, dan pemikirannya sebenarnya tidak bersumberkan Kitab Suci dan budaya intelektual tradisional agama mereka.

Agama juga sering dikaitkan dengan fenomena kekerasan terorisme. Ini jelas kontras dengan nilai-nilai agama yang mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan. Meskipun faktanya, ada sekelompok orang yang jelas-jelas mengatasnamakan tindakan kekerasannya dengan mengatasnamakan agama. Orang juga menyaksikan bahwa agama sering digunakan sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi kekerasan. Apalagi bila diyakini, bukan agamanya yang “bermasalah”, tetapi manusia pelaku teror itu yang “bermasalah” karena menyalahgunakan pemahaman agamanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok sehingga menyulut kekerasan. Tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama cenderung dilakukan oleh individu yang memiliki pemahaman agama yang dangkal. Beberapa figur yang melakukan kegiatan teror, diketahui sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan sekular, seperti Osama bin Laden, Aiman Al-Zawahry, Azhari, Noordin M. Top. Dorongan internal yang merasa nilai-nilai di masyarakat sudah tidak sesuai dengan nuraninya dan dorongan eksternal yang melihat ketidakadilan dari para pemegang kekuasaan di “dunia”, memicunya memiliki semangat keberagamaan yang berlebihan. Di sinilah individu itu mencari tokoh panutan yang bisa memenuhi rasa dahaga semangat keberagamaannya yang meletup-letup. Ciri-ciri tokoh seperti itu biasanya terdapat pada figur panutan yang berpandangan keras dan berhaluan radikal. Lalu, terjadilah proses pendangkalan paham keagamaan karena biasanya tokoh seperti itu tidak memberikan alternatif pemahaman, tetapi hanya memberikan sudut pandang berdasarkan pada versi pemahaman yang diyakininya. Pada titik inilah, klaim kebenaran tunggal biasanya terjadi. 

 
Klaim kebenaran tunggal itu lalu membuatnya mengidentifikasi tentang siapa “kami” (inner group) dan siapa “mereka” (outer group). Setelah identifikasi terselesaikan, barulah pelaku teror itu menentukan target dan terjadilah tindakan teror.

Konflik Antar 2 Umat Agama yang Kerap Eksis di Dunia

1. konflik antara Yahudi dan Nasrani. Walaupun sumber konflik ini didasarkan atas kitab suci namun justru unsur dogmatis agama ini sangat mendukung pengambaran konflik yang terjadi. Menurut versi Yahudi, Nasrani adalah agama yang sesat karena menganggap Yesus sebagai mesias (juru selamat). Dalam pandangan Yahudi sendiri Yesus adalah penista agama yang paling berbahaya karena menganggap dirinya adalah anak Allah, sampai akhirnya otoritas Yahudi sendiri menghukum mati Yesus dengan cara disalibkan, sebuah jenis hukuman bagi penjahat kelas kakap pada waktu itu. Sedangkan menurut pandangan Kristen, umat Yahudi adalah umat pilihan Allah yang justru menghianati Allah itu sendiri. Untuk itu Yesus datang ke dunia demi menyelamatkan umat tersebut dari murka Allah. Dalam beberapa kesempatan, misalnya, ketika Yesus mengamuk di bait Allah karena dipakai sebagai tempat berjualan, atau dalam kasus lain yaitu penolakan orang Israel terhadap ajaran Yesus.

2. konflik Islam-Kristen. Konflik ini pada awalnya diilhami oleh kepercayaan bahwa Islam memandang Nasrani sebagai agama kafir karena mempercayai Yesus sebagai anak Allah, padahal dalam ajaran Islam Nabi Isa (Yesus) merupakan nabi biasa yang pamornya kalah dari nabi utama mereka Muhammad S.A.W. Konflik ini pada awalnya hanya pada tataran kepercayaan saja, namun ketika unsur politis, ekonomi, dan budaya masuk, maka konflik yang bermuara pada pecahnya Perang Salib selama beberapa abad menegaskan rivalitas Islam-Kristen sampai sekarang. Konflik itu sendiri muncul ketika Agama Kristen dan Islam mencapai puncak kejayaannya berusaha menunjukkan dominasinya. Ketika itu Islam yang berusaha meluaskan pengaruhnya ke Eropa, mendapat tantangan dari Nasrani yang terlebih dahulu ada dan telah mapan. Puncak pertempuran itu sebenarnya terjadi ketika perebutan Kota Suci Jerusalem yang akhirnya dimenangkan tentara salib. Sebagai balasan, Islam kemudian berhasil merebut Konstatinopel yang merupakan poros dagang Eropa-Asia pada saat itu.

3. konflik antara Yahudi-Islam yang masih hangat dalam ingatan kita. Konflik ini berawal dari kepercayaan orang Yahudi akan tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang dipercayai terletak di daerah Israel, termasuk Yerusalem, sekarang. Pasca perbudakan Mesir, ketika orang Yahudi melakukan eksodus ke Mesir namun kemudian malah diperbudak sampai akhirnya diselamatkan oleh Musa, orang Yahudi kemudian kembali ke tanah mereka yang lama, yaitu Israel. Akan tetapi, pada saat itu orang Arab telah bermukim di daerah itu. Didasarkan atas kepercayaan itu, kemudian orang Yahudi mulai mengusir Orang Arab yang beragama Islam itu. Inilah sebenarnya yang menjadi akar konflik Israel dan Palestina dalam rangka memperebutkan Jerusalem. Konflik ini semakin panas ketika unsur politis mulai masuk.

      Solusi Dari Konflik Antar Umat Beragama

     -Dialog Antar Agama

Hubungan yang tidak harmonis antar umat beragama dan untuk mencari jalan keluar bagi pemecahan masalahnya, H.A. Mukti Ali, yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Agama, pada tahun 1971 melontarkan gagasan untuk dilakukannya dialog agama. Dalam dialog kita tidak hanya saling beradu argumen dan mempertahankan pendapat kita masing-masing yang dianggap benar. Karena pada dasarnya  dialog agama ini adalah suatu percakapan bebas,terus terang dan bertanggung jawab yang didasari rasa saling pengertian dalam menanggulangi masalah kehidupan bangsa baik berupa materil maupun spiritual. Diharapkan dengan adanya dialog agama ini tidak terjadi kesalahpahaman yang nantinya dapat memicu terjadinya konflik. Didalam artikel tersebut juga dikatakan bahwa dialog antar umat beragama digunakan sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara umat Muslim dan umat Protestan

-Pendidikan Multikultural

Perlu ditanamkannya pemahaman mengenai pentingnya toleransi antar umat beragama sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan. Sebagai Negara yang memiliki keanekaragaman kita harus saling menghormati dan menghargai antar sesama. Apalagi di Indonesia yang memiliki keanekaragaman dalam hal adat-istiadat,suku,ras/etnis,bahasa dan agama. Perbedaan yang ada tersebut jangan sampai membuat kita tercerai berai. Namun sebaliknya perbedaan yang ada tersebut kita anggap sebagai kekayaan bangsa yang menjadi ciri khas bangsa kita. Perlunya ditanamkannya rasa nasionalisme dan cinta tanah air dalam diri generasi penerus bangsa sejak dapat membuat mereka semakin memahami dan akhirnya dapat saling menghargai setiap perbedaan yang ada.

- Menonjolkan segi-segi persamaan dalam agama,tidak memperdebatkan segi-segi perbedaan   dalam agama.

- Melakukan kegiatan sosial yang melibatkan para pemeluk agama yang berbeda.

- Meningkatkan pembinaan individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang memiliki budi pekerti luhur dan akhlakul karimah.

Proses Menuju Perdamaian Konflik Agama

Sekarang dunia dapat berharap perpecahan yang terjadi karena masalah agama dapat diminimalisirkan, bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk disudahi. Hal ini terjadi karena munculnya dialog yang diadakan oleh 24 tokoh agama Islam, Kristen dan Yahudi yang tergabung dalam “Interfaith Mission for Peace and Understanding” .

Menurut ke-24 tokoh agama , agama bukanlah masalah utama dari konflik yang terjadi antar umat beragama. Seperti yang sering terjadi di Indonesia, kebanyakan kasus konflik antar umat beragama yang berujung kepada bentrokan massa bukan dipimpin oleh orang yang paham akan agama tersebut. Biasanya orang-orang yang ingin menciptkan 'pengalih perhatian dari isu terbaru/penting' atau orang yang hanya ingin membuat umat beragama saling berselisih.

Karena jika diperhatikan, tidak ada suatu agama yang menyuruh umatnya untuk memulai perselisihan dengan umat beragama lainnya, kecuali jika umat beragama lain (atau oknum yang tidak bertanggung jawab) mulai mengusik keberadaan, keamanan dan kenyamanan mereka dalam melakukan kegiatan ibadahnya baru pantas untuk diperangi. Terkadang terasa miris melihat ada oknum-oknum tertentu yang menjelek-jelekkan atau mendeskritkan umat beragama yang sedang beribadah, meskipun tindakan ibadah mereka tidak menganggunya. Semoga tindakan awal yang digalangkan oleh 24 tokoh agama yang tergabung dalam “Interfaith Mission for Peace and Understanding” ini menjadi jembatan awal yang bisa menyambungkan pendapat dan opini antar umat beragama. Supaya tercipta masa depan yang lebih baik dimana setiap orang menghormati perbedaan yang dimiliki (khususnya perbedaan agama) dan lebih memilih untuk berdialog dibanding melakukan tindakan anarkis jika memiliki pendapat maupun pandangan tertentu.

                        KONVERENSI PERDAMAIAN AGAMA

di Yordania

di Indonesia






SUMBER :
http://id.wikipedia.org/wiki/Persekutuan_Gereja-gereja_di_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Konferensi_Waligereja_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Majelis_Buddhayana_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Majelis_Tinggi_Agama_Konghucu_Indonesia
http://taadeers.blogspot.com/2011/01/artikel-pelembagaan-agama.html
http://rafiqamalyah.blogspot.com/2011/01/hubungan-agama-dengan-masyarakat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar