Kamis, 27 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri”

Pernah mendengar akan kesetaraan gender? Kesetaraan gender adalah keadaan setara antara pria dan wanita dalam hak (hukum) dan kondisi (kualitas hidup). Sekarang ini, sudah banyak menuai isu tentang kesetaraan gender di dunia. Terutama kesatuan gender yang dapat menjadi titik tolak perempuan. Sering terjadi hal-hal atau kejadian-kejadian tertentu yang mendiskriminasi hak perempuan.

Misalkan saja contoh mudahnya adalah di sekolah. “Ketua kelompok harus merupakan laki-laki karena terlalu berat bagi perempuan”. Memang, sebenarnya bermaksud baik agar perempuan tidak harus mengerjakan pekerjaan yang melelahkan. Namun, dalam konteks contoh di atas, terkesan bahwa perempuan itu lemah. Kekuatan perempuan pasti di bawah laki-laki, itu merupakan fakta. Tapi bukan berarti kemampuan perempuan di bawah laki-laki.

Contoh tadi merupakan hal dari sisi perempuan. Sekarang, mari kita lihat dari sisi laki-laki nya. Kadang, banyak orang-orang yang menganggap pekerjaan memasak hanya untuk perempuan. Padahal tidak hanya perempuan yang bisa memasak, laki-laki juga. Tetapi laki-laki yang gemar memasak malah di anggap aneh dan kasarnya banci. Itu sungguh tidak adil. Sekarang lihat. Di Indonesia, di acara-acara tv, lebih banyak chef adalah seorang laki-laki.

Gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan.

Gender hanyalah pembeda. Dari 3 peran yang tersebut di atas, yang jelas merupakan pembeda antara perempuan dan laki-laki hanyalah peran reproduksi. Tetapi untuk 2 peran lainnya, peran produktif dan peran sosial kemasyarakatan, antara perempuan dan laki-laki tidak berbeda.

Mungkin sekarang, saya akan lebih membahas dari sisi perempuan. Banyak perempuan yang hidup sendiri, bekerja sendiri, berjuang sendiri. Perempuan memang butuh perlindungan, tapi terbukti banyak perempuan yang bisa “selamat” tanpa perlindungan itu.

Menurut Undang-Undang Dasar, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama di depan hukum. Mengapa hanya di depan hukum? Seharusnya apabila hukum saja menyetarakan, terjadi juga keadilan dalam kehidupan sehari-hari nya juga.

Seorang perempuan memang secara awam di anggap sebagai makhluk yang lembut, dan tidak bisa melakukan pekerjaan kasar. Kenyataannya, perempuan juga bisa melakukan pekerjaan kasar, dan bahkan kadang lebih baik dari laki-laki itu sendiri. Contohnya di Bali. Perempuan bekerja ssebagai pengangkut batu, sementara laki-laki nya sebagai penyabung ayam.

Saat ini kesenjangan antar gender sangat nyata, dalam hal akses, manfaat, partisipasi dalam pembangunan serta penugasan terhadap sumber daya. Tingkat kekerasan terhadap perempuan terus meningkat, padahal sudah banyak peran perempuan dalam berbagai bidang, seperti politik, jabatan publik serta di bidang pembangunan dan konstruksi. Aspek - aspek ini masih banyak diskriminasi terhadap kaum perempuan. Dan atas dasar itulah isu kesetaraan gender terus bergulir, menunggu realisasinya.

Pertanyaannya adalah, apakah kesetaraan gender bisa membuat kaum perempuan yang seharusnya sejajar dengan kaum laki-laki? Tentu bisa. Tapi kesetaran gender yang seperti apa?

Dari 3 peran yang tadi sudah di jabarkan, jelas peran reproduksi pasti secara absolut di pegang oleh perempuan. Seorang perempuan, seorang ibu, harus bisa paling tidak mengatur keadaan di rumahnya itu sendiri. Keadaan rumah tangga. Walaupun bekerja, seorang ibu harus tetap mengurus anaknya, harus tetap bisa bermain dan merangkul anaknya dalam kasih sayang.

Selain itu, dalam peran produktif dan peran sosial kemasyarakatan pun seorang perempuan tetap dapat menjalaninya. Tidak mudah memang, memegang peranan ganda sebagai perempuan. Dengan itu, harus ditunjang dengan semangat hidup yang lebih baik. .

Bahwa Tuhan sudah menciptakan peran masing-masing antara laki-laki dan perempuan. Dan Tuhan juga sudah mengijinkan kesetaraan gender di abad modern ini. Jadi, alangkah bijaksananya jika kaum perempuan benar-benar bisa berbagi peran tanpa lupa akan kodratnya.

Dahulu, derajat perempuan sangat dianggap rendah. Perempuan dilarang sekolah. Perempuan hanya menjadi “pemuas” para laki-laki. Banyak kasus “pelecehan” terhadap perempuan pada masa-masa itu. Dan pelecehan-pelecehan seperti itu pun masih terbawa sampai sekarang. Sampai dahulu, tokoh emansipasi perempuan, Ibu Kartini yang menjadi titik balik kaum perempuan.

Dewasa ini sudah banyak kemajuan yang dicapai perempuan Indonesia. Tidak seperti dahulu kala, ketika perempuan tidak diizinkan untuk sekolah. Ketika perempuan hanya tinggal di rumah untuk belajar menjadi wanita anggun dan lembut. Lambat laun, memang, dunia makin menyadari peranan perempuan yang semakin besar.

Namun, adanya budaya patriarki menyebabkan pencapaian perempuan dibandingkan dengan laki-laki masih rendah” - Linda Amalia Sari Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ada 3 aspek yang digunakan dalam mengukur kesetaraan gender. Yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Dari aspek angka harapan hidup, usia perempuan masih lebih tinggi dibadingkan dengan laki-laki, yaitu 71,74 berbanding 67,51 tahun. Tapi dari aspek lain capaian perempuan masih rendah. Misalnya angka bisa membaca laki-laki pada 2010 mencapai 95,65, lebih baik dari perempuan yang berada pada angka 90,52.

Sekarang, sudah mulai banyak gerakan-gerakan untuk mengangkat derajat perempuan. Mulai banyak program dari pemerintah yang berusaha untuk menyetarakan gender antara laki-laki dan perempuan. Linda Amalia Sari Gumelar menuturkan salah satu strategi yang digunakan oleh pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan gender, adalah melalui pendekatan pengarusutamaan gender.

Pengarusutamaan Gender merupakan salah satu strategi yang mengintegrasikan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi seluruh bidang pembangunan. Penerapan strategi PUG akan menghasilkan kebijakan publik yang lebih efektif dan tepat sasaran, dalam rangka mewujudkan pembangunan yang lebih adil dan merata bagi seluruh masyarakat, baik laki-laki dan perempuan

Keluarga merupakan salah satu kunci berhasil-tidaknya program itu. Karena, kesetaraan gender mustahil terwujud jika kaum laki-laki tidak ikut berperan aktif mendukungnya. Diharapkan tercipta kesepahaman antara suami dan isteri dalam membangun keluarga yang harmonis, mampu menghadirkan nilai-nilai kesetaraan pada seluruh anggota keluarganya.

Pengarusutamaan Gender ini dilakukan di dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan nasional, peningkatan partisipasi perempuan dalam kehidupan politik dan ekonomi, penyusunan anggaran pembangunan yang responsif jender, dan peningkatan kapasitas penegak hukum dalam memerangi diskriminasi terhadap perempuan

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memperlihatkan apresiasi nya terhadap usaha pemerintah Indonesia dalam menyetarakan gender di negara nya itu. Komite juga memperlihatkan penghargaan atas upaya Indonesia dalam menggalang kerja sama dengan para pemangku kepentingan, termasuk Komnas HAM dan Komnas Perempuan, serta organisasi masyarakat sipil guna kemajuan dan perlindungan hak-hak perempuan di Indonesia.

Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan PBB (CEDAW) mengharapkan Indonesia untuk melanjutkan upaya dan program yang telah dilakukan, merevisi berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak responsif jender, meningkatkan usia minimum perkawinan dan kesetaraan hak dan kewajiban dalam perkawinan, meningkatkan perlindungan perempuan dari tindak kekerasan. Selain itu, juga meningkatkan pemenuhan hak-hak perempuan di bidang kesehatan reproduksi.

CEDAW merupakan komite yang dibentuk untuk mengkaji pelaksanaan konvensi CEDAW oleh negara-negara pihak, dan beranggotakan 23 pakar di bidang hak asasi manusia dan jender yang bekerja dalam kapasitas pribadi dan independen.

Yang telah dibahas tadi adalah, usaha dari pemerintah. Usaha dari dunia. Solusi dari masalah kesetaraan gender ini sebenarnya sudah ada sekian lama di depan mata. Tapi kita saja yang kadang tidak menyadari dan malah terus mempersalahkan kodrat alam di mana perempuan di anggap di bawah laki-laki. Sekarang, kita sebagai perempuan muda, tentu belum merasakan segala bentuk peranan yang tadi telah dijabarkan. Maupun mengerti tentang Pengarusutamaan Gender.

Perasaan diskriminasi, datang dari dalam diri perempuan sendiri. Sebagai generasi perempuan muda, kita harus dapat membuktikan bahwa perempuan juga bisa. Bahwa perempuan memiliki kemampuan lebih dari yang selama ini diketahui oleh dunia. Sudah banyak omongan-omongan tentang perempuan harus ini, perempuan harus itu. Bahkan sudah banyak lagu yang berisikan lirik bagaiman seorang perempuan sebenarnya bisa melakukan lebih dari yang selama ini.

This song is for the girls all around the world
Girls I know what you got deep inside
And I just wanna say something, so listen

Hello hello - just follow your heart
Your feelings are right
Wherever you want, wherever you hoped for - yeah

I couldn't do it because I had no courage
I used to always hesitate because of my pride but I say

Girls girls I'm a wonder girl
Can be the only one in the world
Speak your heart right now
And I say you can be the best girl in the end
However you feel like - it will come true

I'll be honest - because of my fear,
My days were always repeats of ordinary days but I say

Don't you think you're worth too much to spend plain days like this?
You have things you want to do - you have things you want
If so, then right now, go for it
Hesitation, no - you'll be fine
Today might be hard but imagine tomorrow
Everyone will claps toward you

Wonder Girls: Girls Girls

Lagu di atas ditujukan untuk seluruh perempuan. Perempuan yang memiliki hal-hal dan pikiran serta perasaan yang selalu dipendamnya. Lagu ini menyatakan bahwa apapun yang berada di dalam hatinya, apapun yang diharapkannya, untuk terus dikejar. Sebelum ini, para perempuan tidak bisa mengutarakan pikiran dan pendapatnya karena tidak punya keberanian. Dan karena itu, Ia merasa kehidupannya dalam keseharian hanya berulang dan biasa saja.

Sesungguhnya, hal yang digambarkan dalam lagu itu memang sesuai dengan kenyataan para perempuan yang kadang takut untuk stand out. Takut untuk speak up her mind. Ketakutan ini disebabkan oleh ketidakadilan lagi dan lagi.

Pada akhirnya, solusi yang dapat disimpulkan, selain dari program yang dibawakan pemerintah, adalah para perempuan harus berani untuk berdiri sendiri. Berani untuk menunjukkan kalau kaum perempuan itu berharga lebih dari yang selama ini di anggap. Dengan begitu, semua orang akan tahu bahwa bukan laki-laki yang kuat, perempuan juga. Dan dengan dukungan pengakuan pula dari kaum laki-laki, maka kesetaraan gender yang sesungguhnya pun akan terbentuk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar