Sabtu, 22 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan

 Mengatasi Kesenjangan Sosial dan Ekonomi


Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat Jakarta dan Indonesia pada umumnya adalah semakin besarnya kesenjangan sosial dan ekonomi.
Kesenjangan itu tak obahnya hukum kehidupan (sunnatullah), di mana manusia seolah-olah tidak bisa keluar dari lingkaran itu, sehingga makin lama semakin besar kesenjangan.
Pada hal manusia diberi tenaga, fikiran dan akal sehat untuk mengatasi dan memecahkan kesenjangan. Bukan menyerah apalagi pasrah terhadap kesenjangan yang terjadi.
Kesenjangan berasal dari kata senjang, yang padanan maknanya ialah ketimpangan, kontradiktif, gap, divergen, jurang, ketidakseimbangan, dan ketidaksimetrian.
Kesenjangan  banyak sekali macamnya seperti kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, kesenjangan budaya, kesenjangan gender, kesenjangan pendapatan, kesenjangan informasi, kesenjangan harga  dan lain sebagainya.
Pembangunan sejatinya untuk mengurangi dan bahkan untuk menghilangkan kesenjangan. Akan tetapi dalam banyak hal, justeru pembangunan melahirkan kesenjangan antar orang dan kelompok masyarakat, antar golongan, kesenjangan antar kota dan desa, kesenjangan antar kawasan atau wilayah dan lain sebagainya.
Pembangunan Ekonomi

Pembangunan di masa Orde Baru telah menciptakan kemajuan dan  ketidakadilan.  Melalui UU Penanaman Modal Asing (PMA) dan UU Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), ekonomi Indonesia dibangun.
Dengan menggunakan teori “membangun kue besar” untuk mewujudkan  “trickle down” (menetes ke bawah)  ke masyarakat luas hasil-hasil  pembangunan, pemerintah membangun ekonomi Indonesia dengan menggunakan paling tidak lima strategi.
Pertama, investasi asing. Pemerintah mengundang para penanam modal asing (investors) untuk menanamkan modalnya di  Indonesia dengan memberi kemudahan serta berbagai fasilitas dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Kedua,  investasi dalam negeri. Pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya kepada pengusaha di dalam negeri dengan berbagai  kemudahan dan  fasilitas untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.
Penanaman modal asing dan dalam negeri digenjot habis-habisan  untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.  Konsekuensinya, pembangunan ekonomi semacam itu, hanya  semakin memperkaya orang yang sudah kaya dengan memberi  tetesan ekonomi sedikit kepada masyarakat bawah yang pada umumnya pribumi.
Sebabnya karena yang bisa berpartisipasi (ikut serta) dalam pembangunan, hanya mereka yang sudah siap. Siapa mereka itu? Ialah orang-orang China yang sejak zaman penjajahan sudah digolongkan sebagai “Timur Asing” yang diberi peluang bergerak di dunia bisnis.  Selain itu, para penjajah yang diundang ke Indonesia untuk menanamkan modalnya.
Ketiga, berutang.  Strategi ketiga yang dipergunakan untuk bisa membangun ialah dengan berutang. Sejak Orde Baru mulai berkuasa tahun 1967, Indonesia sudah mulai berutang.  Utang itu terus berlanjut hingga sekarang di era Orde Reformasi. Maka tidak heran jika utang Indonesia, sampai saat ini telah mencapai sekitar  Rp 1.837 triliun.
Keempat, stabilitas.  Untuk mengamankan jalannya pembangunan ekonomi, maka stabilitas nasional dijadikan sebagai salah satu trilogi pembangunan. Dengan strategi semacam itu, maka TNI mengamalkan dwifungsi yaitu selain mengabdi dikesatuannya di TNI, juga dikaryakan di birokrasi dan BUMN. Keamanan mendapat prioritas utama dan siapa yang menciptakan instabilitas, maka akan dihadapi TNI.  Setelah reformasi, stabilitas keamanan  diserahkan kepada polisi.
Kelima, pemerataan. Strategi lain yang dipergunakan rezim Orde Baru ialah memberi perhatian pada pemerataan pembangunan, disamping pertumbuhan dan stabilitas.  Akan tetapi,  strategi ini gagal diwujudkan karena yang dapat  maju dan bisa menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi,  adalah mereka yang berpartispasi dalam pembangunan (golongan asing (investor asing) golongan China (investors dalam negeri), serta mereka  mempunyai pendidikan menjadi pegawai swasta dan pemerintah,  memiliki skill (kepakaran), modal, jaringan dan ketrampilan berusaha.
Golongan masyarakat bawah yang mayoritas pribumi tidak dapat memanfaatkan momentum pembangunan karena tidak memiliki berbagai persyaratan yang diperlukan untuk bisa berpartisipasi dalam pembangunan. Akibatnya mereka terus terpuruk, seolah Tuhan telah menakdirkan mereka menjadi bodoh, miskin dan terkebelakang (tertinggal).
Dampak Pembangunan
Pembangunan yang dilaksanakan di masa Orde Baru  mempunyai sisi positif dan sisi negatif.   Adapun sisi positif telah membawa  kemajuan ekonomi  dan melahirkan orang-orang yang luar biasa, yang pada umumnya orang-orang China.
Sebagai contoh aktual  ialah Lim Sioe Liong,  yang meninggal 10 Juni 2012 di Singapura. Wartawan  memberitakan bahwa rumah tempat tinggalnya seluas 8.000 meter persegi dengan nilai Rp 1 triliun rupiah. Peti mati untuk Lim Sioe Liong seharga 9.000 dollar Singapura atau 67,5 juta.
Sedangkan untuk menjamu para politisi, pengusaha serta diplomat dan handai tolan yang datang dari China dan Jakarta, untuk memberi penghormatan terakhir kepada beliau, perhari Rp 1,2 milyar perhari
Para konglomerat yang dibesarkan Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru, setelah terjadi reformasi mereka lari keluar negeri dengan membawa uang dan harta yang dimiliki serta hasil jarahan dari BLBI sekitar 650 trilun.
Pemerintah Indonesia kemudian menyehatkan perbankan dan perusahaan yang dijarah uangnya  dan ditinggal  lari  pemiliknya serta  pemimpinnya  keluar negeri.   Setelah bank dan perusahaan  itu sehat, pemerintah menjualnya dengan harga murah kepada pihak asing yang tidak jarang adalah bekas pemilik lama yang masuk ke Indonesia dengan memakai bendera asing (investor asing).
Krisis ekonomi yang dialami Indonesia tahun 1997 telah memberi berkah kepada orang-orang kaya dari keturunan China karena uang mereka dibawa lari ke Singapura dan mereka tinggal di negeri itu. Pelanggaran  hukum yang mereka lakukan  tidak tersentuh sedikitpun, begitu juga perbuatan  korupsi,  karena pemerintah Singapura melindungi mereka.
Dampaknya setelah terjadi reformasi, mereka semakin kaya, sementara Indonesia harus menanggung beban utang yang luar biasa besar, dan  masyarakat bawah Indonesia  terus terpuruk.
Kiat Bangkit
Masyarakat Indonesia yang selama ini masih terpuruk, tidak ada pilihan lain kecuali bangkit dan maju.  Untuk bisa bangkit dan maju, maka kiatnya.
Pertama, menumbuhkan harapan. Harapan itu masih ada walaupun kesulitan menghimpit.
Kedua,  harus ada kemauan keras untuk berubah dan maju.
Ketiga, beri beasiswa penuh kepada anak-anak miskin supaya bisa melanjutkan pendidikan.   Mereka yang diberi beasiswa harus berhijrah ke provinsi lain dan memasuki pendidikan berasrama. Ini penting untuk merubah budaya miskin yang dihinggapi orang-orang miskin. Ini adalah strategi untuk memotong pewarisan kemiskinan.
Keempat, bentuk komisi beasiswa. Pembentukan komisi beasiswa di tiap provinsi sangat penting karena untuk memutus lingkaran kemiskinan yang sudah seperti lingkaran setan, hanya mungkin melalui pendidikan. Untuk itu perlu ada komisi beasiswa yang dipimpin para tokoh dari kalangan pendidikan, sosiolog, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sumber dananya dari APBD, CSR dari perusahaan BUMN, BUMD dan perusahaan swasta, , donatur dalam dan luar negeri.
Kelima, beri special treatment (perlakuan istimewa)  kepada masyarakat bawah dalam pembangunan ekonomi. ini kiat untuk memecahkan masalah kesenjangan ekonomi yang luar biasa antara orang kaya dan miskin.  Mereka harus diberi tempat berusaha di mal-mal, ditempat berusaha yang strategis, diberi izin usaha,  dilatih berbisnis dan mengelola bisnis,, diberi dorongan dan harapan,  diberi modal usaha dan modal kerja, dibina manajemen, dan dikontrol perkembangan usaha mereka.
Kesimpulan
Kesenjangan adalah persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. Tidak boleh dibiarkan karena akan membawa negeri ini menjadi negara gagal.
Pemecahan masalah kesenjangan harus dipelopori oleh diseluruh jajaran pemerintah  dan partisipasi seluruh masyarakat.  Partispasi sangat penting karena pada akhirnya yang menentukan berhasil tidaknya mengatasi kesenjangan  adalah masyarakat sebagai subyek pembangunan.
Kiat untuk bangkit mengatasi kesenjangan harus bermula dari masyarakat yang memiliki harapan. Pemerintah kemudian mengapresiasi harapan itu dengan menyediakan sarana dan prasana.  Pemberian beasiswa penuh kepada anak-anak miskin merupakan kiat untuk memecahkan kesenjangan pendidikan dan sosial.
Kiat untuk mengatasi kesenjangan ekonomi harus ada special treatment (perlakuan istimewa) terhadap masyakarat bawah yang berprofesi usaha kecil dan mikro. Mereka harus diberi tempat berusaha yang strategis seperti di mal, digedung-gedung  atau jalan yang ramai didatangi pembeli, mereka dibina, diberi modal kerja dan modal usaha, izin usaha, dilatih kepakaran berusaha  dan dilakukan kontrol secara rutin mengetahui perkembangan usaha mereka. Jangan seperti sekarang dilepas untuk bersaing bebas dengan para konglomerat dan perusahaan asing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar