Kamis, 20 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Jalan Menuju Keluarga Harmonis
 
Tidak ada keluarga yang tidak memiliki satu masalah pun – begitu juga seluruh hal di dunia ini. Karenanya, dunia ini indah. Karenanya, hidup manusia berwarna. Mungkin tidak sempurna, namun berwarna. Ada saatnya seseorang bahagia, namun ada juga saat ketika mereka sedih. Ada saatnya seseorang sukses, namun kemudian pasti ia pun memiliki kegagalan.
Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas masalah yang terdapat dalam keluarga, kemudian saya akan menyertakan solusi saya.

MASALAH

Menurut Counseling California, masalah keluarga yang sering diatasi  oleh terapis pernikahan dan keluarga adalah sebagai berikut:

1.       Masalah berkomunikasi

Masalah ini merupakan masalah paling dasar dalam keluarga. Tanpa komunikasi, sulit untuk menjadi terbuka di dalam keluarga, sehingga hubungan dapat terasa renggang. Padahal, keluarga merupakan tempat di mana manusia berbagi kasih sayang. 

2.       Ketidaktoleranan atas perbedaan

Meskipun antar anggota keluarga terdapat hubungan darah, tentulah setiap anggotanya memiliki perbedaan. Dalam keluarga, harus ada pengertian terhadap perbedaan, karena jika hal tersebut terjadi, maka akan tercipta kedamaian serta keharmonisan. Jika anggota keluarga tidak toleran atas satu sama lain, dapat terjadi pertengkaran di setiap kejadian, bahkan kejadian kecil sekalipun.

3.       Ketidaksanggupan dalam menyelesaikan konflik

Tidak ada keluarga yang tidak memiliki konflik. Jika konflik-konflik tidak terselesaikan, keluarga tidak akan berjalan dengan semestinya, dan fungsinya dapat hilang. Kepala keluarga merupakan sosok yang memiliki kewajiban untuk menyelesakan tugas yang satu ini, serta meminimalisir konflik dalam keluarga.

4.       Isu remaja

Fase balita pada anak merupakan masa yang merepotkan bagi orangtua, terutama secara fisik. Namun ketika anak memasuki fase remaja, semua rasanya menjadi berantakan. Anak pulang malam, anak mulai berpacaran, dan mencoba hal-hal baru. Sulit rasanya bagi orangtua untuk membiarkan anak beradaptasi dengan dunia barunya, ditambah lagi dengan rasa takut mereka jika anak tersebut disakiti. Namun setiap anak juga membutuhkan kebebasan di masa remaja mereka. Maka orangtua hanya dapat membatasi kebebasan tersebut, dan semuanya dapat berjalan lancar jika terjalin komunikasi yang baik di antara kedua belah pihak.

Sementara menurut Covenant House Toronto, beberapa masalah keluarga adalah:

1.        Kekerasan orangtua terhadap anak

 Hal ini sering terjadi, dan penyebabnya merupakan masalah pribadi yang terjadi kepada orangtua itu sendiri. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak, pada tahun 2007 jumlah pelanggaran hak anak yang terpantau sebanyak 40.398.625 kasus. Jumlah itu melonjak drastis dari tahun 2006 yang hanya mencapai 13.447.921 kasus. Jika dihitung, kenaikan dalam kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2007 tersebut adalah sebesar 300%.

Sepanjang 2007, berdasarkan hasil penghimpunan berbagai berita di 19 koran dalam rentang satu tahun terungkap, terdapat 470 kasus kekerasan pada anak. Dari jumlah itu 67 di antaranya terbunuh, sedangkan 23 kasus lainnya merupakan tindak perkosaan yang umumnya dilakukan pihak keluarga dekat. Dari kasus perdagangan anak, rata-rata 290 ribu anak per tahunnya menjadi buruh migran di luar negeri. Dari jumlah itu, 10% di antaranya umumnya terkait dengan anak-anak.

2.       Orangtua yang mengomel dan mengkritik

Terkadang, sukar bagi orangtua untuk menyadari bahwa anak mereka sedang mengalami masa pertumbuhan dan mencoba untuk menjadi lebih independen. Kesulitan tersebut menyebabkan orangtua mengekang anak mereka, dan mengomel serta mengkritik terlalu sering. Karenanya, anak menjadi merasa tidak nyaman di sekitar orangtuanya, bahkan di rumahnya sendiri. Padahal, rumah merupakan tempat di mana setiap orang patut merasa paling nyaman dibandingkan tempat lainnya.
 
3.       Orangtua yang overprotektif

Orangtua yang overprotektif terhadap anak biasanya membuat banyak aturan karena mereka sayang terhadap anaknya, dan tidak mau anak tersebut tersakiti. Namun sayangnya, jika aturan ini tidak disampaikan dengan cara yang benar, seperti secara halus dan menjelaskan bahwa ini demi kebaikan anak mereka, maka hal ini dapat menimbulkan konflik antara sang anak dan orangtua.

4.       Orangtua yang bertengkar

Pertengkaran dalam pernikahan dapat mengganggu kehidupan anak. Anak dapat mengkhawatirkan keadaan orangtuanya, dan dapat pula merasa sangat tidak nyaman di rumah. Peran orangtua terhadap anak dapat menghilang karena sibuknya bertengkar, dan karena rasa tak nyaman anak terhadap orangtua tersebut.

 
SOLUSI
Semua masalah di atas dapat diatasi jika keluarga berjalan dengan harmonis. Untuk membentuk keluarga harmonis, dibutuhkan awal yang baik. Keluarga dimulai dari pernikahan. Di dunia yang tidak sempurna ini, ada saja pasangan yang menikah karena formalitas. Keharmonisan dapat terbentuk, namun akan jauh lebih sulit dari mereka yang benar-benar menikah didasari perasaan.

Untuk membentuk keluarga yang harmonis, dibutuhkan hubungan yang harmonis pula di antara orangtua. Karenanya, menurut saya, pernikahan patut dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh perasaan. Pernikahan patut dijalankan dengan kesenangan hati, dan tidak dapat dijadikan beban dengan alasan apapun, karena pernikahan merupakan ibadah yang telah diciptakan Tuhan untuk membantu menjalani hidup yang sulit ini. Manusia diciptakan untuk hidup bersama, bukan sendiri. Keluarga merupakan tempat dimana manusia membantu satu sama lain dengan penuh kasih sayang. Dan perasaan ini dimulai dari dua orang yang berperasaan satu sama lain, lebih dari mereka berperasaan terhadap orang lain.

Tentu saja, selain berperasaan satu sama lain, kedua mempelai patut memiliki tanggung jawab dan komitmen atas pernikahan mereka. Meskipun pernikahan didasari dengan perasaan, teknis kekeluargaan seperti pengaturan harta dan pembagian tugas patut didiskusikan dengan matang sebelum keduanya terikat dengan hubungan resmi. Seluruh persetujuan ini patut disahkan dan dipertahankan selamanya, sehidup semati. Bukankah begitu sebagian lafal dari sumpah setia pernikahan pada umumnya? Persetujuan sehidup semati seperti ini dapat dilaksanakan dengan perasaan tadi.

Permulaan dari kehidupan berkeluarga tentulah sulit. Ada saja masalah keuangan ketika kebutuhan untuk membesarkan anak muncul. Ketika karir belum sampai pada puncaknya, kebutuhan sudah mulai melunjak. Namun tidak ada masalah yang mustahil dipecahkan. Asal ada komitmen, asal ada usaha, masalah keluarga dapat terpecahkan. Dibutuhkan kasih sayang untuk peduli satu sama lain, dan hal ini sangatlah dibutuhkan dalam keluarga. Anggota keluarga harus menyemangati satu sama lain untuk membantu memecahkan masalah pribadi masing-masing, serta masalah bersama.

Dengan kasih sayang, akan lebih mudah untuk mendengarkan. Akan lebih mudah untuk bercerita, untuk menjadi terbuka satu sama lain. Akan lebih mudah untuk tertawa, dan untuk semangat hidup. Dengan kasih sayang, hidup akan terasa lebih mudah. Karenanya, dibutuhkan kasih sayang yang tetap dan abadi di dalam keluarga.

Komunikasi juga sangat dibutuhkan dalam keluarga. Sejak kecil, orangtua patut membiasakan anak untuk bercerita kepada mereka tentang hal sepele sekalipun. Dari mulai tersandung ketika sekolah, sampai masuk ke UKS karena sakit. Rincian cerita seperti ini yang mendekatkan satu anggota keluarga dengan yang lainnya. Dan bukan hanya anak, orangtua juga harus menjadi terbuka dengan anaknya. Namun masalah yang diceritakan tentu disesuaikan dengan umur anak.

Masa kecil juga merupakan masa yang tepat bagi orangtua untuk menanamkan hal dasar yang dapat memperkokoh hidup anak. Misalnya, anak mulai diajarkan tentang agama, etika, kasih sayang, dan semangat kerja. Anak juga harus mulai diajarkan tentang keuangan, namun tentu saja tidak secara berat. Misalnya, jika anak menginginkan sebuah mainan pada suatu hari dan permohonannya terkabulkan oleh orangtua, kemudian dikeesokan harinya ia menginginkan mainan baru yang lain, keinginan kali ini tidak dapat dikabulkan, jika tidak anak dapat bersifat boros. Namun cara menolaknya tentu saja secara halus. Bisa dengan tidak membawa anak ke toko-toko mainan, atau dengan secara halus berkata bahwa kemarin sudah membeli mainan, jadi hari ini beli permen saja,  dsm. Sifat hemat dan rajin merupakan beberapa dari banyak ilmu yang harus mulai diajarkan sejak anak masih balita. Berdasarkan pengalaman pribadi, ilmu yang diajarkan sejak kecil biasanya tertanam di dalam diri anak, dan diingat sampai tua.

Selama ini semua terjadi, antar orangtua juga harus menceritakan semua masalah mereka. Pada kasus ini, seberat apapun masalahnya, mereka harus bisa mendengarkan satu sama lain, dan tetap berkomitmen untuk memecahkannya.

Dengan komunikasi yang baik, maka terbentuk hubungan yang baik dalam keluarga. Maka kenyamanan juga akan terbentuk. Jika ada masalah yang ditimbulkan oleh anggota keluarga, maka semua anggota keluarga harus belajar meminta maaf dan memaafkan. Apapun yang terjadi, masalah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Misalnya, anak tidak sengaja menjatuhkan gelas. Kemudian, ibu langsung memarahi anaknya secara reflek. Jika hal ini terjadi, ayah harus mengingatkan sang ibu untuk meminta maaf. Namun yang lebih baik terjadi adalah jika ibu mencoba untuk sabar dan kemudian menasihati anaknya dan memberi hukuman, namun dengan cara yang halus. Misalnya, dengan tenang, sang ibu memberitahu anaknya untuk membeli gelas baru dengan uang sakunya. Kesabaran orangtua akan dikagumi oleh anak, dan secara otomatis anak akan lebih berhati-hati dalam bertindak – bukan karena takut, namun karena sedih jika mengecewakan orangtuanya. Hal inilah yang harusnya terjadi pada anak.

Selain meminta maaf, konflik juga harus ditekan ke tingkat minimalnya di dalam keluarga. Karenanya, antar anggota keluarga harus mencoba memaklumi dan mengerti satu sama lain. Misalnya ibu suka menonton televisi di hari libur, sementara ayah ingin berpergian bersama keluarga di hari tersebut. Menurut saya, salah jika semua anggota keluarga pergi kecuali ibu. Hal ini dapat saja dianggap solusi, namun menurut saya itu hanya akan melanjutkan masalah. Tidak ada kekompakan di dalam keluarga. Maka yang patut dilaksanakan adalah menunggu ibu menonton televisi sampai waktu yang ditetapkan, kemudian semua anggota keluarga berpergian bersama. Menurut saya, antar anggota keluarga harus mengerti serta menerima perbedaan, kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Satu keluarga harus tetap kompak, dan kasih sayang harus tetap mendasari jalannya keluarga tersebut.

Komunikasi yang baik juga bukan hanya terjadi jika terdapat konflik. Berani mengutarakan perasaan kepada seluruh anggota keluarga merupakan bagian dari komunikasi yang dibutuhkan. Berani berkata sayang kepada orangtua merupakan salah satu bukti terbukanya anak di dalam keluarga, begitu juga sebaliknya. Dengan begini, tidak ada beban bagi anak di dalam keluarga. Rumah yang berfungsi dengan baik adalah rumah yang jika didatangi, maka para anggota keluarga merasa senang, nyaman, dan beban dapat hilang di dalamnya – masalah dapat diatasi ketika memasuki rumah tersebut. Rumah yang baik adalah rumah yang dirindukan jika sedang pergi jauh. Rumah merupakan atap berlindung bagi keluarga, dan anggota keluarga merupakan perlindungan bagi satu sama lain. Rumah dan anggota keluarga seharusnya bersifat sama-sama melindungi dan membuat nyaman.

Menginjak masa remaja, anak mulai mencoba hal-hal baru baginya yang juga baru bagi orangtua. Butuh usaha yang keras bagi orangtua untuk benar-benar mengikhlaskan anaknya mencoba hal-hal tersebut, namun itu merupakan sebagian dari kewajiban orangtua. Yang dapat dilakukan orangtua adalah mendiskusikan setiap hal yang diminta oleh remaja sampai keputusan yang dicapai sangat matang. Orangtua harus bisa membiarkan anaknya bergaul dan melaksanakan kegiatan remajanya, namun mereka juga harus tetap bisa membatasi anaknya serta tetap memiliki waktu yang cukup bersama anak.

Masa remaja juga saat ketika anak mulai memikirkan mimpi-mimpinya dengan serius. Banyak kasus yang menceritakan bahwa orangtua menghancurkan mimpi-mimpi anaknya dengan melarang kumpulan mimpi tersebut terjadi. Mungkin terdengar sepele, namun mimpi merupakan hal yang sangatlah fatal jika dihancurkan. Orangtua tidak berhak menghambat pencapaian mimpi anak-anaknya, selama mimpi tersebut pantas. Pantas di sini dapat disetujui setelah diskusi orangtua yang membawa hasil matang. Orangtua tidak patut melarang anaknya menjadi pemusik, hanya karena mereka merupakan dokter. Namun jika anaknya bermimpi menjadi sesuatu yang sangat berlebihan, misalnya jika mimpi tersebut akan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), maka mimpi tersebut patut dilarang dengan menjelaskannya secara perlahan, halus, dan jelas.

Biasanya, ketika anak telah tumbuh menjadi remaja, orangtua mulai mencapai puncak karir mereka. Banyak kasus yang terjadi ketika pekerjaan membuat orangtua sibuk, dan anak-anak mereka ditelantarkan sehingga seluruhnya menjadi hancur berantakan – dari keharmonisan keluarga, sampai suksesnya hidup anak. Apapun yang terjadi, orangtua dan anak tetap harus memiliki waktu untuk bertemu dan bercerita di setiap harinya. Orangtua dan anak tetap harus bercerita, dan keluarga harus menjadi tempat yang paling dipercaya anggota keluarga untuk bercerita. Hal ini dapat dilaksanakan dengan persetujuan seluruh anggota keluarga. Misalnya, setiap malam, keluarga harus berkumpul selama satu jam untuk bercerita tanpa beban dan tanpa paksaan. Namun waktu berkumpul tersebut tetap bersifat santai dan menyenangkan.

Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang dekat dan terbuka satu sama lain. Anggota-anggotanya patut bangga atas keluarganya sendiri. Keluarga dan rumah merupakan tempat yang paling dipercaya setiap anggota untuk bercerita dan merasa nyaman. Keluarga yang baik adalah keluarga yang dapat mengatasi masalah apapun yang terjadi kepada mereka. Dan yang paling penting, keluarga yang sejahtera adalah keluarga kompak yang bangga mengakui bahwa mereka sayang satu sama lain.
 
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar