Kamis, 20 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


KONY 2012



MASALAH

Di dunia terdapat banyak kejahatan pada kemanusiaan, saat ini yang termasuk kasus yang cukup tenar adalah KONY 2012. Video yang sedang tenar beberapa waktu yang lalu, KONY 2012 adalah kampanye yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Invisible Children dalam rangka memprotes prilaku Joseph Kony,  seseorang penjahat perang  yang berasal dari Uganda, yang selama kurang lebih 20 tahun telah melalukan kejahatan kemanusiaan dengan menculik anak-anak dan menjadikan mereka sebagai kaki tangan dan pengikutnya.









Anak-anak tersebut yang laki-laki- diajari menggunakan senjata dan melakukan kekerasan, bahkan membunuh orang tuanya, dan yang perempuan dijadikan sebagai objek kepuasan seksual Kony. Hal ini dilakukan dengan motif untuk memperkuat kekuasaannya di daerah tertentu di Uganda. Namun, anehnya tidak seorang pun yang dapat melacak dimana keberadaannya. Bahkan polisi dan pihak pemerintah Uganda juga angkat tangan dalam hal ini. Beberapa korban yang berhasil selamat, salah satunya Jason Russel, akhirnya menceritakan pengalaman pahitnya dipaksa sama kelompok Kony untuk membunuh orang tuanya dan dalam usaha pelariannya, saudara Jason tertembak dan tewas. Mereka merasa sudah tidak punya harapan untuk hidup.

Upaya untuk menyeret Kony ke pengadilan internasional dengan tuduhan penjahat kemanusiaan digalang dengan mengusahakan supaya Kony menjadi populer, agar semua orang tahu dan kenal dengan penjahat ini. Dan kemudian akan membentuk opini publik bahwa prilaku Kony sangat biadab dan mesti dihentikan. Menjadikan Kony sebagai tokoh terkenal di seluruh penjuru dunia akan kejahatannya.


Dan tujuan Invisible children adalah untuk menghentikan KONY. Untuk membawanya ke International Criminal Court (ICC). Dan dalam website ICC, saya melihat bahwa tuduhan yang diarahkan ke Kony dan beberapa rekannya menyangkut dua isu:
         Twelve counts of crimes against humanity (murder – article 7(1)(a);
enslavement – article 7(1)(c); sexual enslavement – article 7(1)(g); rape – article 7(1)(g); inhumane acts of inflicting serious bodily injury and suffering – article 7(1)(k)); and,
         Twenty-one counts of war crimes (murder – article 8(2)(c)(i); cruel
treatment of civilians – article 8(2)(c)(i); intentionally directing an attack against a civilian population – article 8(2)(e)(i); pillaging – article 8(2) (e)(v); inducing rape – article 8(2)(e)(vi); forced enlistment of children – 8(2)(e)(vii))

Invisible Children (IC) sendiri fokus pada kejahatan Kony yang menyebabkan banyak anak (lebih dari 30,000 anak menurut IC) di Uganda hilang, karena diculik org LRA (Lord’s Resistance Army)-sebuah organisasi yang dibentuk Kony di tahun 80′an. Anak-anak laki-laki dijadikan sebagai tentara LRA dan yang perempuan dijadikan “istri” – even sex slaves of Joseph Kony dan para senior leaders LRA. Sebagian anak yang dianggap membangkang mengalami kekerasan fisik yang mengerikan. Ada beberapa artikel yang mengkritik isi dari video advokasi Invisible Children tersebut. Seperti yang misalnya diungkap dalam tulisan di telegraph.co.uk:
statement 1:
“It is totally misleading to suggest that the war is still in Uganda,” said Fred Opolot, spokesman for the Ugandan government.
“I suspect that if that’s the impression they are making, they are doing it only to garner increasing financial resources for their own agenda.”
statement 2:
“Suggesting that the answer is more military action is just wrong,” said Javie Ssozi, an influential Ugandan blogger.

“Have they thought of the consequences? Making Kony ‘famous’ could make him stronger. Arguing for more US troops could make him scared, and make him abduct more children, or go on the offensive.”
statement 3:
Rosebell Kagumire, a Ugandan journalist specialising in peace and conflict reporting, said: “This paints a picture of Uganda six or seven years ago, that is totally not how it is today. It’s highly irresponsible”.
Di sisi lain, dukungan terhadap upaya IC menghentikan pergerakan Kony / LRA dengan memanfaatkan advokasi via dunia maya benar-benar tak terbendung. Sebagian artis ternama menyatakan dukungannya via twitter, seperti Rihanna, Zooey Deschanel dsb.

Presiden Obama pun menyatakan bahwa Amerika akan mengirimkan special forces dalam jumlah kecil ke Afrika untuk membantu upaya penghentian Joseph Kony. Meski demikian, IC menyadari bahwa upaya penangkapan Kony harus dilakukan sesegera mungkin karena Kony sudah tahu bahwa beberapa pihak yang kuat yang berusaha menghentikan dirinya


Salah satu korban penculikan Joseph Kony saat dia masih anak-anak menuntut keadilan. Dia yang kini sudah dewasa itu menyatakan waktunya untuk menuntut keadilan telah tiba. 



Yakub Acaye, sekarang 21 tahun, kembali mengunjungi desa tempat ia diculik oleh Lord''s Resistance Army (LRA) yang dipimpin Kony. Ia menyatakan, kejahatan Kony tidak boleh dilupakan.

Kisahnya telah menyentuh jutaan sejak itu ditampilkan dalam Kony 2012,  sebuah video dari lembaga nirlaba Invisible Children. Video yang diunggah ke Internet itu dengan cepat menjadi populer, kendati banyak yang mempertanyakan akurasi film itu.

Sepak terjang Kony di Afrika timur lebih dari dua dekade lalu masih membuat amarah orang mendidih hingga kini. Ia dicari untuk kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Pengadilan Kriminal Internasional.



LRA meneror Uganda dalam kampanye brutal terhadap pemerintah dan penduduk sipil. Sejak tahun 2006, ketika terdesak dan keluar dari Uganda utara, sebagian besar pasukan LRA beroperasi di Republik Demokratik Kongo dan Republik Afrika Tengah.

Kony menculik anak-anak untuk dijadikan tentara dan mengajari mereka untuk memperlakukan korbannya secara sadis, termasuk memperkosanya. Anak-anak korban Kony kini menggalang dukungan global untuk mengakhiri pembunuhan, perkosaan, penculikan, dan pelanggaran lainnya yang dilakukan oleh LRA.

Acaye yang berasal dari Koro, sebuah desa kecil berdebu - ingat betul malam kejadian ia diculik. Pemberontak LRA menyerbu Koro di tengah malam, menghancurkan pintu di gubuk tempat ia tidur. Dia mengatakan mereka membawa 40 anak malam itu.



Acaye menyatakan saudaranya mencoba melarikan diri LRA tetapi menangkap dan mengeksekusinya di depan mata Acaye. Ia berhasil mencapai kota Gulu, sekitar 11 kilometer dari desanya, dan berlindung di tempat penampungan.

Acaye sekarang mengejar ambisi masa kecilnya yang  ia pikir telah hilang selamanya: belajar hukum di ibukota Uganda, Kampala. Dia mengatakan LRA telah meninggalkan desanya tetapi keadilan harus tetap ditegakkan.


Solusi

 Lalu bagaimana pandangan saya sendiri mengenai hal ini?
Setelah menyaksikan videonya secara lengkap, saya menyatakan diri untuk join dalam movement ini. Kekerasan kepada anak yang dilakukan Kony sudah benar-benar keterlaluan         sulit bagi saya untuk tidak setuju kepada pergerakan-pergerakan yang berusaha menghentikan kekerasan pada anak.
Selain itu setelah saya memperhatikan beberapa kritik yang ada menyangkut “project” ini, saya menangkap kesan yang tidak menyambung terhadap isu yang diperjuangkan. Isunya adalah soal penghentian seorang penjahat perang dalam melakukan aksi-aksinya, khususnya kekerasan terhadap anak. Kenapa kritiknya berisi hal-hal seperti:
1.  sekarang Uganda sudah damai, sudah tidak ada perang. Semua penderitaan itu terjadi enam atau tujuh tahun yang lalu (kalaupun udah damai, apakah Kony tidak perlu dimintai pertanggungjawaban atas semua tindakannya di masa lampau? Lagipula, apa ada jaminan 100% Kony benar-benar tidak lagi melakukan penculikan anak sekarang atau di masa mendatang?)
2.  asumsi bahwa IC cuma sekedar cari duit dan memanfaatkan isu Kony untuk meraup dollar demi dollar. Sejauh ini saya tidak menemukan satu fakta pun yang bisa membuktikan hal tersebut. Ada yang bilang bahwa keuangan IC belum pernah di audit oleh external auditor. Again, no prove about this yet. Namun, jikapun tuduhan ini benar, saya tetap merasa tidak ada kaitannya secara langsung dengan GOAL dari project ini. This is not about making IC rich, this is about stopping Kony.
Organisasi IC ini harus menghadapi gempuran media. Beberapa cara yang dilakukan organisasi ini adalah
1. Komunikasi dengan Cepat
Dalam krisis, semakin lama organisasi diam semakin mereka dianggap bersembunyi. Tidak lama setelah video Kony 2012 disebarkan secara viral, kritik pun langsung berdatangan. Pada hari yang sama, Jedediah Jenkins, Direktur Pengembangan Ide Invisible Children langsung mendatangi media. Berselang tiga hari setelah krisis terjadi para pendiri Invisible Children berbicara di televisi untuk mempromosikan video dan menjelaskan kepedulian mereka.
2. Berkomentar Secara Spesifik
Setelah videonya muncul, situs Invisible Children kebanjiran pengunjung. Hal ini menyebabkan situs tersebut sempat crash. Tidak sampai satu hari situs tersebut telah berhasil diperbaiki dan kali ini dilengkapi dengan respon organisasi secara terperinci terhadap kritik yang dianggap “keliru”.
Pos tersebut tidak mengabaikan setiap tuduhan yang dialamatkan kepada organisasi. Mereka justru secara spesifik menjelaskannya dengan mengungkapkan fakta yang tetap sesuai dengan konteks para stakeholdernya. Penjelasan ini juga memasukan informasi terperinci seputar keuangan dan pengeluaran perusahaan.
3. Memasukan Media Sosial dalam Respon Organisasi
Sejak awal Invisible Children menggunakan media sosial dan film untuk membangun awareness. Karenanya tidak mengejutkan saat mereka dengan cepat merespon kritik melalui Twitter dan Facebook. Dengan media ini juga mereka terkadang menjawab langsung kritik atau pertanyaan orang-orang.
4. Biarkan Orang Lain yang Bicara untuk Organisasi
Ketika krisis datang, kredibilitas organisasi secara otomatis akan melemah. Tak peduli apapun kebenarannya, yang penting kebenaran yang diyakini oleh masyarakat. Jadi, bagaimana caranya memperoleh kembali kredibilitas tersebut? Dengan membiarkan sumber luar yang kredibel berbicara untuk organisasi.
Dalam tempo 24 jam setelah mengalami protes, Invisible Children berhasil mendapat dukungan dari orang-orang yang cukup dipandang. Misalnya saja, Bill Gates dan Senator Patrick Leahy. Mereka juga mendapat dukungan dari orang-orang yang pernah menjadi korban kekerasan Kony di Uganda.
Ketika krisis terjadi, seringkali perusahaan ragu-ragu bertindak dan terlalu lama merespon kritik. Invisible Children mengingatkan kita pentingnya menangani krisis dengan cepat.
LINK VIDEO :
http://www.youtube.com/watch?v=Y4MnpzG5Sqc

 source: 
www.kaskus.co.id
www.el-lopes.com
www.bit2t.com
www.buttiamnot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar