Minggu, 23 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan



Islamofobia di dunia



Masalah
Akhir akhir ini, kita sering mendengar berita di televise atau di radio, banyak orang muslim di berbagai Negara di dunia dijauhi oleh masyarakatnya karena mereka telah didoktrinasi bahwa orang – orang islam adalah teroris. Saya akan membahas masalah kemanusiaan di dunia ini. Sebagai contoh, ada seorang ibu beragama Islam di Jerman ditusuk beserta suaminya karena dia mengandung anak yang ditakuti akan menjadi teroris. Mungkin ada yang belum tahu tentang islamofobia.
Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim.  Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an,  tapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001.  Pada tahun 1997Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim," dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama. Langkah-langkah telah diambil untuk peresmian istilah ini dalam bulan Januari 2001 di "Stockholm International Forum on Combating Intolerance". Di sana Islamofobia dikenal sebagai bentuk intoleransi seperti Xenofobia dan Antisemitisme . Berbagai sumber telah mensugestikan adanya kecenderungan peningkatan dalam Islamofobia, sebagian diakibatkan serangan 11 September, sementara yang lainnya berhubungan dengan semakin banyaknya Muslim di dunia barat. Dalam bulan Mei 2002European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) mengeluarkan laporan berjudul "Summary report on Islamophobia in the EU after 11 September 2001", yang menggambarkan peningkatan Islamofobia di Eropa setelah 11 September.
Para penyanggah mengkritik konsep itu, diduga ada penyalahgunaan saat menggali kritik Islam yang sah, dan menyebutnya sebagai "mitos". Penulis novel Salman Rushdie dan teman-temannya menandatangani manifesto berjudul Together facing the new totalitarianism di bulan Maret 2006 menyebut Islamofobia a "konsep yang buruk yang mencampurkan kritik terhadap Islam sebagai agama dengan stigmatisasi terhadap para penganutnya."
            Kita semua tahu peristiwa WTC di Amerika. Sebuah pesawat menabrak menara kembar di amerika. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa ground zero. Menara tersebut rata dengan tanah dan Banyak korban berjatuhan di sana. Banyak orang yang mengatakan bahwa yang melakukan itu adalah orang – orang yahudi, ada juga yang mengatakan teroris orang muslim. Bahkan ada yang mengatakan bahwa tragedy WTC adalah sebuah inside job atau yang melakukannya adalah orang Amerika sendiri.
Kini, 11 tahun berlalu pasca peristiwa 11 September 2001. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, AS dan sekutunya menjadikan peringatan ini sebagai upaya untuk mempropagandakan Islamophobia di seluruh dunia. Lebih dari satu dekade berlalu, namun hingga kini peristiwa itu masih menyisakan sejumlah pertanyaan besar. Pemerintah AS tidak memberikan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan terkait peristiwa besar itu.
            Selama itu pula dinas intelijen Amerika (CIA) berusaha keras menutupi fakta sebenarnya yang terjadi terkait peristiwa 11 September. Salah satu upaya CIA untuk menutupi fakta di balik peristiwa ini adalah sensor terhadap sebagian buku memoar Ali Soufan, seorang mantan polisi federal AS (FBI).  Ali Soufan menulis buku memoarnya berjudul "The Black Banners: The inside story of 9/11 and the war against al-Qaeda" atau "Spanduk Hitam: Cerita di Balik Peristiwa 11 September dan Perang Melawan al-Qaeda". Dalam bukunya, Soufan mengetengahkan fakta-fakta akurat mengenai ketidakpedulian CIA terhadap ancaman keamanan dari para pelaku peristiwa itu.
            Contohnya, sebelum terjadinya serangan ke gedung kembar WTC, CIA sebenarnya telah memiliki data dua orang penyandera pesawat yang tinggal di San Diego, tapi informasi ini tidak diserahkan kepada FBI. Kelalaian ini berakibat peristiwa yang sebenarnya dapat dicegah harus terjadi. Tampaknya, bukan pertamakalinya CIA meremehkan bahkan tidak mampu mengambil langkah preventif atas terjadinya peristiwa 11 september. Laporan resmi pemerintah Amerika tentang peristiwa 11 september menunjukkan peran kuat al-Qaeda. Tapi mereka tidak pernah mampu menjelaskan bagaimana 19 warga asing dari timur tengah mampu menyandera 4 pesawat dan lolos dari pengawasan CIA. kenyataan ini masih menyisakan keraguan mendalam terkait siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa tersebut.
            Ada analisa yang menyebutkan bahwa para pejabat Amerika waktu itu bekerjasama dengan kelompok teroris al-Qaeda guna menciptakan peristiwa 11 september. Tewasnya 3000 orang dalam peristiwa itu dimanfaatkan oleh Washington untuk menyerang Afghanistan dan Irak dan menduduki kedua negara ini. Namun ada analisa lain yang menyebut kecerobohan dan persaingan di tubuh lembaga-lembaga intelijen AS sebagai celah yang dimanfaatkan oleh para perancang peristiwa 11 september. Apabila informasi yang dimiliki CIA diserahkan kepada FBI, sangat mungkin sekali sebelum aksi penyanderaan pesawat terjadi, para pelakunya telah ditangkap. pertanyaannya, mengapa CIA tidak menyerahkan data dua tersangka utama kepada FBI, sampai saat ini masih belum ada kejelasannya.
            Sebagian meyakini persaingan lama CIA dan FBI menyebabkan informasi vital yang harus berputar di tubuh lembaga-lembaga intelijen AS tidak berjalan normal. sebagian lainnya menyebut ada unsur kesengajaan dalam peristiwa itu. mereka percaya pemerintah as waktu itu sengaja mengeluarkan perintah penghentian pengejaran terhadap para anasir al-Qaeda di dalam Amerika.
            Terlepas dari analisa tersebut, harus diakui ada upaya pemerintah AS ketika itu hingga sekarang untuk menutupi fakta sebenarnya mengenai peristiwa 11 september. Itulah sebabnya lebih dari 30 halaman laporan komite independen pencari fakta peristiwa 11 September diumumkan sebagai dokumen rahasia. publikasi buku memoar anggota FBI "The Black Banners: The Inside Story of 9/11 and the war against al-Qaeda" juga harus disensor oleh CIA. Tampaknya peristiwa teroris terbesar dalam sejarah akan tetap dipetieskan dalam dokumen rahasia CIA hingga beberapa dekade ke depan.Di luar sejumlah keganjilan itu, ironisnya AS justru menggunakan peristiwa 11 September sebagai sarana untuk menyebarkan Islamophobia di seluruh dunia.
            Runtuhnya Uni Soviet, menyebabkan terjadinya sebuah kekosongan besar bagi AS yang melancarkan kebijakan haus perang di dunia selama lebih dari setengah abad. Sebab, Komunisme sebagai musuh besarnya telah tumbang. Untuk itu bagi Washington perlu membuat sebuah musuh baru guna membuktikan kepada dunia bahwa dirinya lebih unggul dari yang lain menjadi kekeuatan tunggal. Setelah kerah merah kini ancaman diarahkan ke kubu hijau. AS memandang Islam sebagai ancaman bagi kepentingan hegemoninya di dunia.
            Pasalnya, kemenangan revolusi Islam Iran mengancam kepentingan AS di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu kawasan strategis dunia. Iran baru di bawah Revolusi Islam telah mengubah negara itu dari sekutu utama AS menjadi musuh utama Washington. Selama lebih dari tiga dekade AS melakukan berbagai cara untuk menaklukan Iran. Tapi, alih-alih tunduk dan menyerah Republik Islam u semakin kuat dan melebarkan pengaruhnya di dunia. Salah satu yang dilakukan AS adalah melancarkan gerakan Islamophobia di seluruh dunia.
            Di ranah teoritis, Samuel Huntington mengemukakan teori "The Clash of Civilizations" yang memandang peradaban Islam sebagai ancaman terbesar bagi peradaban Barat. Pandangan itu diikuti oleh pusat pengambilan keputusan AS yang meniali dunia Islam adalah ancaman bagi dunia Barat. Dampaknya, Barat membentuk infrastruktur penyebaran Islamophobia di seluruh dunia. Lewat propaganda itu, muncul wajah-wajah Islam ciptaan Barat yang tidak mewakili kebenaran sejati agama ilahi itu.
            Gelombang Islamophobia mengalami bentuk baru pasca peristiwa 11 September. Media mainstream berupaya mengubah prinsip hubungan dunia Islam dan Barat. Dua hari pasca peristiwa 11 September, John Vinocur dalam artikelnya di koran AS Herald Tribune mengungkapkan bahwa  peristiwa 11 September memperjelas tumbukan peradaban antara Islam dan Barat. Tidak hanya itu, Silvio Berlusconi, perdana menteri Italia ketika itu dalam statemennya menyebutkan bahwa peradaban Barat lebih utama dan orsinil dari Islam.
            Sebulan pasca peristiwa 11 September, Fukuyama dalam wawancara dengan koran The Guardian menyebut Islam merupakan satu-satunya sistem yang mengancam peradaban Barat. Penulis "The End of History and the Last Men" itu menegaskan bawah kekuatan militer bisa digunakan Barat untuk mengalahkan muqawama Islam menghadapi modernisme. Di kalangan para pejabat teras AS, Mantan Menteri Pertahanan AS, William Cohen terang-terangan mengatakan bahwa perang AS dan sekutunya menghadapi Islam merupakan perang dunia keempat.
            Sejatinya Barat berupaya menampilkan wajah Islam yang bengis dan garang ke seluruh penjuru dunia untuk menjegal penyebaran agama damai yang semakin meluas itu.Tapi realitas yang terjadi justru sebaliknya. Seiring meningkatnya propaganda Islamophobia, penganut Islam kian hari semakin meningkat melebihi sebelumnya.
            Akhir ini kita juga mendengar sebuah film controversial yang melecehkan nabi besar Muhammad SAW yang dibuat oleh orang Amerika. Film controversial ini mengundang masalah bagi umat muslim di dunia. Film itu berjudul “Innocence of Muslims”.
Film kontroversial “Innocence Of Muslims” saat ini mungkin menjadi film yang paling banyak diperbincangkan di seluruh dunia. Selain isinya yang menyinggung SARA, yakni pelecehan terhadap sosok Nabi Muhammad SAW, juga film ini disebut-sebut sebagai pemicu utama dari peristiwa “berdarah” di Libya yang menewaskan 4 diplomat Amerika Serikat (AS), yang salah satunya adalah Dubes AS untuk Libya, Christhoper Stevens.
Film berdurasi sekitar dua jam ini dibuka oleh adegan seorang wanita yang dikejar-kejar oleh sekelompok orang yang bersenjata. Wanita itu kemudian dilindungi oleh seseorang yang menceritakan “mengapa muslim bisa sekejam itu”. Setelah itu, isi film yang disutradarai oleh sosok anonim Sam Bacile, yang diduga seorang Yahudi penganut agama Kristen Koptik, menceritakan latar belakang sosok Nabi Muhammad SAW.
Kekurangajaran film ini, alih-alih “flash back” ke belakang, pada masa Nabi Muhammad SAW, yang didukung oleh fakta sejarah, film ini justru menggambarkan sosok Nabi yang menyimpang jauh dari “rel sejarah” yang dikenal oleh para Sejarawan, baik muslim atau pun non muslim.
Nabi Muhammad SAW, pada film tersebut, digambarkan sebagai sosok yang sangat keji. Nabu Muhammad SAW dituduh sebagai sosok pria yang haus darah, penganut pedofilia, -maaf- gila seks, dan seorang homo seksual. Bahkan film itu dengan beraninya menggambarkan sosok Nabi SAW sedang berhubungan intim.
Sejatinya, film yang mulai dibuat pada musim panas 2011 ini pernah dirilis di AS pada bulan Juli lalu. Namun karena dirilis secara terbatas, maka tak banyak yang mengetahui film “sampah” itu. Film ini mulai mengundang polemik ketika didubbing dan “trailer”-nya mulai ditayangkan pada situs “Youtube”, di awal pekan ini dan sempat ditayangkan di sebuah stasiun televisi di Mesir.
Film “Innocence Of Muslims” sendiri mulai menarik perhatian di dunia Arab setelah ditulis oleh seorang blogger Kristen Koptik asal Mesir bernama Morris Sadek. Morris sendiri adalah salah satu pendiri grup anti Islam bernama National American Coptic Assembly. Saat ini, Morris tinggal di California, Amerika Serikat, setelah kewarganegaraannya dicabur oleh Mesir saat menyerukan agar Negaranya diserang.
Kontroversi film ini tak berhenti di masalah pelecehan terhadap Nabi Muhammad Saww saja, melainkan merembet kepada fakta mengejutkan bahwa para pemeran film, yang berjumlah sekitar 59 pemain dan 45 kru, mengaku tak tahu menahu tentang film tersebut. Mereka merasa ditipu oleh sutradara yang membesut film “Innocence Of Muslims”.
Cindy Lee Garcia, misalnya, yang terlihat muncul sebentar dalam potongan adegan dalam film itu, mengaku tahun lalu dipanggil ikut serta dalam film itu. Sepengetahuannya, film itu berjudul “Desert Warrior” alias “Ksatria Padang Pasir”, yang menceritakan karakter seorang bernama “Master George”, dan bukan Muhammad.
Tak pelak, Cindy meras ditipu mentah-mentah oleh sutradara film itu. Ia, di beberapa media asing, mengaku tak tahu bahwa film yang dibintanginya adalah film propaganda anti Islam. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur, adegan di mana Cindy dipaksa menyerahkan anak perempuannya ke sosok bernama “Master George” sebenarnya ialah film yang melecehkan umat Islam di seluruh dunia.
Cindy memberikan bukti yaitu di menit ke 9:03, di mana Cindy ,dalam kisah film itu, bertengkar dengan suaminya yang ingin memberikan anaknya kepada seseorang (Ibunda Aisyah?). “Apakah Muhammad seorang penyiksa,” ujar tokoh yang diperankan cindy pada dialog pasca produksi. Sebelumnya, menurut Cindy, percakapan yang terjadi saat syuting ialah, “Apakah tuanmu adalah penyiksa.”
Satu lagi fakta yang masih tersembunyi adalah sosok Sam Bacile, sang sutradara film. Menurut hasil investigasi Associated Press (AP) nama Sam Bacile adalah nama samaran bagi sang sutradara. Ada dugaan bahwa nama sebenarnya ialah Nakoula Basseley Nakoula, seorang penganut Kristen Koptik, yang saat ini tinggal di California, AS. Namun Nakoula menolak kalau dialah sang sutradara film kontroversi itu, walau ia mengakui mengenal sosok Sam Bacile.
Terlepas dari siapa sebenarnya sosok Sam Bacile, film yang disutradarainya kini telah memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Tidak hanya umat Islam, Presiden Barrack Obama, mantan Presiden Bill Clinton, bahkan Vatikan-pun mengutuk isi film itu dan menganggapnya sebagai film “sampah” yang memancing perseteruan baru antara Islam dan Barat, Kristen -khususnya.
Lalu, bagaimana umat Islam Indonesia menyikapinya?. Mengutip artikel Bambang W Pranowo, pada saat hebohnya film “Fitna” yang berisi kurang lebih sama dengan “Innocence Of Islam”, bahwa sebaiknya kita bersikap seperti Abdul Muthalib, yang tetap tenang -walau marah- ketika Ka’bah diserang oleh pasukan Abraha dengan artileri gajah-nya. Walhasil, Tuhan menghukumnya langsung hingga habis tak tersisa.
Siapapun pembuat film itu adalah Abraha masa kini. Kita, sebagai yang dilecehkan, harus bersikap tenang, walau kemarahan itu ada, dan tidak boleh bersikap reaktif yang berlebihan, apalagi anarkis, yang akan merusak tatanan bernegara dan menambah stigma negatif tentang Islam.

            Dengan hadirnya masalah masalah seperti itu, saya aan meluruskan bahwa apa yang disebut Islamofobia itu sebenarnya tidaklah seharusnya ada. Mungkin ada beberapa orang Islam yang menjadi teroris di berbagai Negara, tetapi bukan berarti semua orang muslim itu keji. Teroris tersebutlah yang harusnya kita tiadakan dan hapuskan.

            Solusi
         Solusi untuk kita semua adalah dengan menganggap Islam sebagai agama yang baik, dan janganlah berburuk sangka dengan agama Islam, karena berburuk sangka tidak baik. Lalu, kita janganlah merendahkan agama selain kita, karena rasisme sendiri dilarang semua agama, dan jangan menjelek - jelekan agama lain.





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar