Senin, 24 September 2012

tugas 4- solusi labsky untuk kemanusiaan


rasisme yang bermetamorfosis 

 Kita di lahirkan dengan beragam rupa, dengan fisik yang berbeda-beda pula. Itulah yang anugrah yang tuhan berikan kepada kita semua. Tidak ada yang lebih di bandingkan dengan yang lainnya. Kita semua sama, ada yang berkulit hitam ada juga yang berkulit putih. Tapi ada sebuah kasus unik yang masih terjadi sampai sekarang, yaitu kasus rasisme
Manusia sebagai makhluk sosial, terkadang dalam memandang hubungannya dengan manusia lain serasa dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan secara fisik. Hal ini wajar karena manusia dilahirkan dengan membawa gen bawaannya masing-masing. Namun apabila dari perbedaan ini sampai memunculkan prasangka, walhasil bisa mengakibatkan fungsi bermasyarakat kita menjadi terganggu. Apapun nama dan bentuk dari prasangka ini, kesemuanya bermuara pada apa yang disebut rasisme.
Istilah “rasisme” sering kali kita gunakan untuk melukiskan permusuhan dan perasaan negatif suatu kelompok etnis terhadap kelompok etnis lain. Kenyataannya, dalam kehidupan kita sehari-hari, rasisme justru berkembang luas berikut implikasinya. Sikap antipati (dislike) terhadap suatu kelompok, tidak lagi sekedar wacana, tetapi sudah menjurus pada sikap dan pola perilaku destruktif, melebihi prasangka awalnya. Yang terakhir ini, bagaimanapun bentuk dan polanya, boleh dikatakan merupakan cacat kemanusiaan paling universal.
Hitler tanpa merasa bersalah, telah menggunakan teori-teori rasis untuk membenarkan pembantaian massal yang ia lakukan terhadap orang-orang Yahudi Eropa, demi alasan menjaga kesucian bangsa, tepatnya perempuan-perempuan Jerman dari pengaruh kooptasi dan pencampuran Yahudi. Pun hal ini juga dilakukan para penguasa di Amerika Selatan dengan menerapkan hukum Jim Crow yang membatasi pergerakan kulit hitam demi menjaga kemurnian supremasi kulit putih. Dan belakangan politik Apartheid di Afrika Selatan adalah contoh sejenis bagaimana rasisme berkembang hingga sekarang dan bisa terjadi dimanapun.
Konsep modern tentang rasisme sebagai pembedaan manusia berdasar klasifikasi ciri-ciri fisik (terutama warna kulit) tidaklah ditemukan sampai abad kedelapan belas. Istilah untuk ”ras” dalam bahasa-bahasa Eropa Barat berkaitan dengan peternakan hewan dan hubungan-hubungan aristokratis. Pada tahun 1611, sebuah kamus Spanyol menyertakan definisi-definisi atas raza, suatu penggunaan sebutan yang bersifat menghormati “suatu kasta atau kualitas kuda-kuda asli” dan penggunaan yang bersifat merendahkan, yang mengacu pada silsilah yang meliputi nenek moyang bangsa Yahudi atau Moor.
Rasisme secara harfiah untuk pertama kalinya digunakan secara umum pada tahun 1930-an, ketika doktrinasi ilmiah adalah penting untuk menggambarkan teori-teori yang digunakan Nazi sebagai dasar holocaust-nya terhadap orang Yahudi. Sejak saat itu istilah rasisme begitu populer untuk mewakili sikap tidak menyukai terhadap kelompok lain. Namun, fenomena rasis sebenarnya sudah ada jauh jauh hari sebelum istilah rasisme digunakan. Dan pengertian yang ada, tidak melebihi daripada sejenis prasangka kelompok yang didasarkan pada kebudayaan, agama, atau ranah kekerabatan dan kekeluargaan semata.
Dalam buku –Rasisme: Sejarah Singkat- ini yang merupakan alihbahasa dari buku Racism: A Short History, George M. Fredrickson, sang penulis, menyadari betul bahwa rasisme bukan sekadar suatu sikap atau sekumpulan kepercayaan yang terpatri dalam masyarakat. Rasisme mengungkapkan diri pada praktik-praktik, lembaga, dan struktur yang dibenarkan dan diakui oleh suatu perasaan berbeda yang mendalam. Lebih jauh rasisme bisa membentuk suatu tatanan


rasial, tidak sekadar berkubang dalam teori tentang perbedaan manusia. Inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa rasisme selalu beriringan dengan apa yang disebut kekuasaan.
Dengan merunut perspektif historis, Fredrickson berusaha menggambarkan secara ringkas kisah pasang surut rasisme (meskipun, sayang, belum keruntuhannya) sejak Abad Pertengahan hingga sekarang. Dalam uraian ilmiahnya ini, Ia meletakkan posisi rasisme melebihi konsepsi awalnya, dan begitu jelas perbedaanya dengan bahasan kulturalisme. Menurutnya mengkonstruksi kebudayaan secara historis, yang bisa berubah seiring ruang dan waktu, sama saja menciptakan antitesis konsep ras itu sendiri.
Kekuasaan sebagai legitimasi legal para penguasa, acapkali dijadikan ”pembenar” penyusupan ideologi dan penanaman hegemoni rasis dalam struktur masyarakat. Tidak sekadar pembedaan pada unsur dominan yang ada, seperti ras, agama, dan budaya, tetapi sudah menjangkau pada ranah yang sebenarnya tidak bisa diutak-atik lagi karena merupakan kodrati dari Tuhan, seperti gender. Pembedaan gender hingga sekarang masih bisa kita temukan di dalam masyarakat kita. Perempuan lebih dipandang sebelah mata sebagai makhluk yang secara fisik dan sosial lebih tidak dominan dibanding kaum laki-laki.
Ketika perlakuan yang timpang terhadap rakyat yang didasarkan pada ras dibirokratisasikan dan “dirasionalisasikan” dalam pengertian Weberian, orang dapat mengatakan bahwa rasisme telah dimodernisasikan. Hasil rezim rasis yang paling mematikan, Holocaust, memerlukan lebih dari sekedar ideologi dan sentimen antisemit. Holocaust tergantung sepenuhnya pada metode-metode birokrasi modern dan teknologi maju.
Dan setidaknya rasisme modern dengan kekuasaan sebagai tangannya selalu ditunjang adanya ideologi resmi yang jelas-jelas rasis yang dipraktikkan melalui hukum-hukum yang melarang perkawinan antar-ras. Kemudian segregasi sosial telah dilegalkan dan jika pemerintahan itu secara formal bersifat demokratis, anggota-anggota kelompok luar disingkirkan dari pemangkuan jabatan publik atau pelaksanaan hak suara. Pada akhirnya, akses yang dimiliki terhadap berbagai sumber daya dan peluang ekonomi begitu terbatas sehingga sebagian besar tetap berada dalam kemiskian atau sengaja dimiskinkan.
Pada bulan September 2001, Perserikatan Bangsa-Bangsa mensponsori suatu Konferensi Dunia mengenai Rasisme, Diskriminasi Rasial, Xenofobia, dan Intoleransi yang terkait di Durban, Afrika Selatan. Penggunaan istilah yang begitu banyak ini apakah petanda adanya semacam keraguan untuk memaknai atau mewakili semua permusuhan dan penindasan yang memprihatinkan yang sering terjadi. Menyadari bahwa rasisme yang telah mundur pada paruh abad silam sebagai akibat dari Holocaust dan penumbangan Jim Crow di Amerika Serikat dan Apartheid di Afrika Selatan-- apakah ini berarti konferensi PBB tersebut dapat dipandang sebagai sejenis pidato perpisahan kepada suatu “zaman rasisme”.
Semua rezim rasis itu telah ditumbangkan, dan ideologi-ideologi yang menjadi landasannya agaknya telah bangrut. Tetapi persolan terakhir yang harus dihadapi didalam epilog ini ialah apakah kematian mereka juga berarti bahwa virus-virus rasisme juga telah dimusnahkan ataukah virus itu hanya bermutasi menjadi bentuk-bentuk baru dan tetap ganas. Sebagai warisan ideologi kolonial, rasisme harus terus diwaspadai, karena ia selalu siap meracuni sendi-sendi bermasyarakat dan melunturkan nilai-nilai kemanusiaan.

 
Rasisme dan “warna” dalam bahasa 

Rasisme adalah sebuah perlakuan diskriminatif terhadap seseorang berdasarkan warna kulit. Amerika adalah sebuah negara yang mempunyai catatan kelam mengenai rasisme. Imigran asal Afrika, Asia dll adalah objek-objek langganan rasisme di Amerika pada masa lampau. Amerika yang menobatkan dirinya sebagai role model demokrasi memgklaim rasisme adalah bagian yang kelam dari masa lalu yang mereka miliki. Saya ingin berbagi pengalaman saya selama berkuliah di Amerika, tepatnya di Pierce College, Lakewood, Washington State. Pengalaman ini bukanlah sebuah generalisasi melainkan pengalaman pribadi yang bisa kita jadikan sebagai bahan berfikir untuk melihat dan memahami apa dan bagaimana rasisme itu.
Tesis awal rasisme adalah perlakuan tidak adil berdasarkan warna kulit. Diskriminasi berdasarkan warna kulit adalah sebuah bentuk diskriminasi primitif yang menurut saya semua orang jika melihatnya akan otomatis bisa mengklaim bahwa itu adalah sebuah bentuk disrkiminasi. Di Amerika diskriminasi sdh tdk begitu nampak sebagaimana pada waktu yang lampau. Seseorang jika melakukan tindakan rasisme berdasarkan warna kulit maka akan berhadapan dengan hukum. Jadi bentuk discriminasi seperti itu bisa dibilang sudah tidak nampak dipermukaan.
Bagaimanapun juga secara pribadi rasisme adalah sebuah penyaki yang kompleks yang lahir dari proses yang kompleks pula. Ada faktor warna kulit (privilege), budaya (etnosentrisme) , psikologi, dan masih banyak faktor-faktor lainnya. Karena kerumitan proses terbentuknya tersebut maka rasisme juga hadir sebagai penyakit yang kebal. Kebal bukan dalam artian tidak bisa dimatikan, melainkan pandai mencari celah dimana ia bisa bersemi. Jika ia tidak merasa “aman” dalam atribut warna kulit akibat adanya hukum, maka tentuanya ia akan selalu mencari
tempat baru. Atau jika saya katakan rasisme juga melakukan sebuah metamorphosis.
Bahasa adalah satu tempat tujuan metamorphosis dari tindakan rasisme setelah kurang merasa nyaman dalam atribut warna kulit. Orang Amerika itu terkenal dengan sikap individualisnya tapi pada sisi lain mereka sangat doyan ngobrol. Tidak mudah untuk mereka memulai ngobrol dengan orang baru tapi ketika kita mengambil inisiatif membuka percakapan dengan mereka maka yakin dan percaya mereka itu sangat doyan berbicara. Tapi ketika kita berbicara dengan “warna” bahasa kita, sebagai orang Indonesia maka mereka seakan menjauh, ilfeel. Dugaan akan diskriminasi atas “warna” bahasa makin kuat setelah pengalaman yang di ceritakan ini. “Saat itu setelah tahun baruan di Times Square New York, tepat pukul 3 pagi aku dan teman-teman mencari tempat untuk nbgobrol. Maka kita memutuskan untuk “hang out” di salah satu restoran fast-food. Waktu itu tempat itu sangat full dan akhirnya setelah menunggu beberapa saat kami menemukan meja kosong. Maka kesanalah kami berempat. Disamping kami ada dua orang orang Asia yang tertidur di meja. Kami pun berbincang-bincang dan tak lama berselang datang seorang yang berperawakan Meksiko menyuruh kami untuk pergi karena dia

juga lagi mencari meja kosong. Segera salah seorang diantara kami berkata, kami juga kostumer dan masih menikmati makan disini so kamu cari tempat lain saja. Di dalam ruangan itu semua meja diisini oleh orang “bule” dan hanya dua meja yang diisi oleh orang non”bule”, yaitu meja kami dan meja yang ditempati kedua anak Asia yang sedang tidur dimeja itu. Sang menejernya pun datang bukannya membela kami yang masih menikmati makanan malah seolah-olah membela si orang perawakan meksiko itu.
Jelas mengapa dia memilih untuk menganggu kenyamanan kami karena “warna” bahasa kami yang berbeda. Kedua orang yang sedang tidur itu juga Asia, cuman karena tidak berbicara (tidak menunjukkan warna bahasa mereka) maka si pengganggu itu memilih untuk mengganggu meja kami”  Di Amerika sangat sulit untuk mengetahui nasionalisme orang hanya dengan cirri-ciri fisik karena kehidupan yang multikultur. Kadang fisiknya Asia tapi ternyata dia “native born” Amerika .Kesimpulan berdasarkan  pengalaman pribadi orang tersebut tersebut bahwa warna bahasa adalah wahana baru yang menjadi tempat bersemayamnya bentuk dikriminasi baru. Rasisme sangat sulit untuk dihilangkan, meskipun sekilas nampak hilang besar kemungkinan diwaktu akan datang muncul lagi dengan bentuk-bentuk yang baru dan “inovatif”.
Dan seperti yang kita tahu bahwa rasisme juga masih berkembang dan merajela di dunia sepakbola. Sebut saja kasus Patrice Evra dengan striker andalan “
klub bola dengan 18 piala liga inggris” luiz suarez. Atau masih segar dalam ingatan ketika bek andalan chelsea john terry dibebaskan dari tuduhan rasis  dengan anton Ferdinand bek dari klub satu kota Chelsea, London.
Menurut saya solusi untuk mengatasi rasis itu sangat sulit, apalagi dengan berkembang dan berubahnya rasis itu sendiri. rasisme memang sudah bukan seperti dahulu lagi yang di laksanakan secara terang-terangan, mungkin beberapa cara di bawah ini merupakan solusi untuk mengahadapi rasis itu
Pertama, usaha mengubah kondisi masyarakat di masa itu dan memanfaatkan faktor-faktor politik untuk mempersiapkan kondisi yang diinginkan
Kedua, perencanaan yang bersifat kultural dalam rangka membuat ilustrasi “umat bersatu” dan menciptakan ruang bagi perkembangan pikiran dan pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab mereka
Ketiga, menerapkan solusi-solusi yang ditawarkan oleh pemerintah sebagai sarana untuk mewujudkan persatuan.
Memang rasisme sangat sulit di hilangkan, apalagi jika mereka para “bule” mengaggap dirinya lebih baik atau di atas golongan lainnya. Tidak seperti makan cabai yang lagsung terasa pedasnya kasih rasisme tergolong lambat jika untuk di musnahkan.  Oleh karena itu marilah kita bangun rasa persaudaraan yang kuat antar golongan dan antar umat beragama yang ada di dunia ini.



sumber: id.wikipedia.org
                                                                                                                                                                                                   kompas.com
                                                                                                                                                                                                 replubika.co.id




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar