Sabtu, 22 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Waspada Virus Pita Merah


 Sebagian besar orang pasti akan terkejut dan seketika akan ada banyak pikiran di dalam otak jika orang tersebut divonis oleh dokter mengidap penyakit menular seksual HIV/AIDS. Tidak hanya dialami sang penderita, keluarga, teman, dan orang-orang dalam lingkungan tempat tinggal orang yang bersangkutanpun juga akan terkejut jika orang dekatnya diberitakan terjangkit penyakit ini.

Ketika orang mendengar penderita yang mengidap penyakit HIV/AIDS ini, mereka pasti akan beranggapan bahwa orang tersebut tertular melalui hubungan seksual yang dilakukan dengan cara yang tidak benar. Memang tidak salah jika dikatakan penyakit ini tertular melalui hubungan seksual, tetapi itu bukanlah satu-satunya metode penyebaran penyakit ini. Selain melalui hubungan seksual, penyakit ini dapat tertular melalui jarum suntik, melalui kelahiran, ataupun transfusi darah dari orang yang sudah terinfeksi oleh virus HIV/AIDS.

Orang-orang yang terlibat bergaul dengan orang yang salah merupakan pihak yang paling beresiko terjangkit penyakit seksual menular HIV/AIDS. Meskipun begitu, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang yang bergaul dengan orang yang baik di masyarakat tidak akan tertular penyakit yang serupa.

Penyakit menular seksual HIV/AIDS sudah menjadi masalah yang tergolong umum dan sudah mendunia, hampir setiap negara di dunia ini memiliki masalah dengan penyakit seksual menular ini. Yang jadi masalah adalah, penyakit ini tidak hanya memberikan dampak berbahaya bagi sang penderita. Dampaknya juga dapat mengenai orang lain, seperti misalnya, jika seorang ibu hamil menderita penyakit ini, maka calon bayi kemungkinan akan menderita penyakit yang sama.

Sekarang ini, mungkin sudah hampir setiap orang setidaknya pernah mendengar mengenai penyakit mematikan ini. Penyakit menular seksual HIV/AIDS ini sudah menjadi biang kerok dan salah satu penyakit yang ditakuti oleh masyarakat luas. Tidak sedikit penderita HIV/AIDS ini yang akhirnya diasingkan dari masyarakat karena dinilai takut menular. Padahal kenyataannya, penyakit ini tidak akan menular melalui kontak non-seksual atau sekedar mengobrol, makan bersama, bermain, bersin, batuk, dan sebagainya.

HIV/AIDS ini dianggap masyarakat sebagai penyakit seksual yang paling berbahaya, sementara masih banyak penyakit menular seksual lainnya yang tidak kalah berbahayanya dengan HIV/AIDS ini. Oleh karena itu, ada perlunya diadakan penyuluhan di dalam masyarakat secara lebih mendalam mengenai bahaya penyakit menular HIV/AIDS ini dan penyakit kelamin lainnya. Sejauh ini setidaknya ada 5 jenis penyakit kelamin seksual yang diketahui masyarakat. Dan yang lebih parah adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya pemahaman mengenai bahaya penyakit kelamin, pencegahan dan penanganannya masih sangat minim.
Saat ada seseorang yang terjangkit virus HIV/AIDS, orang–orang sekitar tidak perlu menarik diri dari penderita HIV/AIDS karena penyakit ini akan menular melalui hubungan seksual langsung, oral seks, darah, dan jarum suntik. Jika hanya berdekatan saja itu tidak akan membuat orang lain tertular. Tidak perlu terlalu khawatir dengan hal ini.

Secara umum, penyakit menular seksual HIV/AIDS dapat dihindari dengan selalu berpedoman pada pola hidup yang baik dan benar. Kendalanya adalah, tidak semua instansi pemerintahan di setiap negara memberikan himbauan yang efektif guna mencegah tersebarnya penyakit menular seksual HIV/AIDS ini. Terlebih lagi, masyarakat itu sendiri yang masih menganggap penyakit ini sangat tabu untuk dibicarakan. Justru jika masyarakat enggan mengenali tentang penyakit menular seksual HIV/AIDS lebih lanjut, hal ini dikhawatirkan akan membuat pemahaman masyarakat terhadap penyakit–penyakit ini sangat kurang dan akhirnya berdampak dengan semakin banyaknya masyarakat yang terjangkit penyakit mematikan ini.
 
Diantara sekian banyak penyakit kelamin yang ada, penyakit menular seksual HIV/AIDS lah yang paling ditakuti oleh masyarakat sehingga pihak berwenang pun hanya memberikan penyuluhan–penyuluhan terkait penyakit HIV/AIDS dan mengabaikan penyakit kelamin lain yang sebenarnya juga sangat berbahaya. Dengan tidak diberitahukannya penyakit menular seksual yang lain, masyarakat beranggapan bahwa penyakit kelamin yang lain tidak berbahaya dan semakin tidak dikenal. Akibatnya, penyakit kelamin lainnya akan semakin menyebar dan menyerang tanpa diketahui masyarakat.
 
HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Perlu dilakukan penyuluhan secara berkala mengenai edukasi tentang bahaya HIV/AIDS. Masa remaja adalah masa dimana manusia lebih mudah untuk dipengaruhi oleh lingkungan karena emosi seseorang masih labil di fase ini. oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat khususnya para remaja sebelum virus HIV/AIDS merenggut masa depan mereka. Jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap bahaya HIV/AIDS ini.

Golongan masyarakat yang paling mudah terjangkit virus HIV/AIDS adalah para pengguna obat-obatan terlarang seperti narkotika, orang yang gemar berhubungan seks dengan banyak pasangan, orang yang mengabaikan nilai-nilai agama, dan remaja usia 13 sampai 25 tahun. Nilai moral dan etika seringkali diabaikan sejalan dengan perkembangan pola dan gaya hidup barat atau yang biasa disebut modernisasi. Bahaya HIV/AIDS sangat kentara bagi tubuh manusia, karena penyakit ini akan menyerang kekebalan tubuh manusia secara perlahan sehingga akan banyak penyakit lain yang serius mudah menyerang tubuh orang tersebut. HIV/AIDS dapat menyerang siapa tidak peduli usia, jenis kelamin, dan kondisi fisik. Masa inkubasi virus HIV/AIDS bisa sangat lama yaitu 5 sampai 7 tahun.

Saat orang terjangkit virus HIV/AIDS, mungkin mereka tidak akan sadar secara langsung. Mereka biasanya akan sadar ketika sistem pertahanan tubuh mereka sudah sangat lemah dan sering sekali terjangkit penyakit inilah bahaya HIV/AIDS. HIV/AIDS tidak sama seperti penyakit menular seksual seperti kencing nanah, sipilis, dan lainnya. HIV/AIDS lebih berbahaya daripada itu. Ada beberapa gejala jika orang terjangkit HIV/AIDS seperti mudah lelah dan rasa lelahnya berlangsung lama, sering mengalami demam tinggi lebih dari 38 derajat Celcius, mengalami diare selama lebih dari satu bulan dengan sebab yang pasti, berat badan turun drastis, dan lain-lain.

Setiap orang berpotensi tertular bahaya HIV/AIDS. Orang yang paling beresiko terjangkit HIV/AIDS adalah orang yang berhubungan seksual dengan orang yang positif terjangkit virus HIV/AIDS tanpa menggunakan pengaman, orang yang mendapat donor darah yang sudah terinfeksi oleh virus HIV/AIDS, menggunakan alat suntikan tanpa mensterilkannya terlebih dahulu, orang yang bekerja di tempat yang berhubungan dekat dengan penderita HIV/AIDS atau yang berhubungan dengan itu sendiri, misalnya petugas donor darah, perawat rumah sakit, dan lain-lain. Jika pembaca sering menemui kondisi seperti yang sudah penulis sebutkan, lebih baik pembaca berhati-hati karena bahaya HIV/AIDS bisa memasuki tubuh manusia melalui luka. Oleh karena itu, segera tutup luka dan sterilkan luka supaya virus dan kuman tidak bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka.
 
Selain melalui darah, sperma, dan cairan vagina, bahaya HIV/AIDS tidak dapat menulari orang lain. Jadi pada intinya, HIV/AIDS akan menular hanya jika penderitanya melakukan hubungan atau kontak langsung dengan orang lain. Membuat tattoo juga bisa menjadi salah satu cara penularan HIV/AIDS. Bisa saja alat tattoo yang digunakan, sebelumnya pernah digunakan untuk membuat tattoo di tubuh orang yang mengidap HIV/AIDS tanpa diserilkan terlebih dahulu. Jika penderita HIV/AIDS batuk atau bersin di dekat kita, kita tidak perlu khawatir akan tertular karena HIV/AIDS tidak menular melalui perantara udara.

Walaupun begitu, tetap harus waspada jika ada bagian tubuh yang terluka dan senantiasa menjaga kesehatan badan. Tidak perlu menghindari dan mengasingkan penderita HIV/AIDS secara semena-mena karena mereka memerlukan dukungan masyarakat sekitar untuk bisa tetap mempunyai semangat hidup walaupun cepat atau lambat keganasan bahaya HIV/AIDS akan semakin meningkat.

Pencegahan HIV/AIDS sama beratnya dengan larangan merokok. Sepertinya pernyataan tersebut tidak terlalu berlebihan. Cobalah dipikirkan kembali, penularan virus HIV/AIDS berasal dari hal-hal yang dilarang agama. Tapi, tetap saja banyak yang melakukan. Setan begitu hebat merekrut dan membisikkan telinga orang sehingga akhirnya banyak yang terjerumus. Sama halnya dengan merokok.

Walaupun pencegahan sudah dilakukan dengan memperlihatkan gambar atau penjelasan tentang bahayanya merokok pun tak bisa membuat orang serta merta berhenti merokok. Begitupun dengan pencegahan HIV/AIDS. Berita tentang kengerian korban penyakit HIV/AIDS belum dapat mencegah banyak orang untuk berhenti melakukan tindakan yang mendukung penyebaran virus ini. Berikut beberapa jalur dan peran yang dapat dilakukan untuk membantu pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS:

1. Jalur Agama
Mungkin hanya para pengikutnya yang belum tahu atau tidak mau tahu. Pencegahan HIV/AIDS lewat jalur agama ternyata masih kurang bisa menghentikan laju peningkatan angka penderita virus HIV/AIDS. Para Ustadz, Ustadzah, Kyai, dan Para guru agama lainnya sudah sering kali berbicara tentang bahaya HIV/AIDS. Perjuangan bagi pencegahan HIV/AIDS ini masih panjang.
 
Dulu, masuknya virus HIV/AIDS lebih banyak karena jarum suntik sehingga pencegahan HIV/AIDS dengan cara kampanye ‘betapa mengerikannya penggunaan jarum suntik bagi pemakai narkoba’ gencar dilakukan. Hasilnya cukup bagus. Jumlah penderita penyakit HIV/AIDS karena jarum suntik menjadi berkurang.

Tapi kini ternyata penyebaran HIV/AIDS lebih banyak karena hubungan seksual. Jalur agama semakin gencar dilakukan demi pencegahan HIV/AIDS, salah satunya berdakwah bahwa mendekati zina saja haram apalagi melakukannya. Hasilnya tidak memuaskan. Bukan karena ada yang salah dengan agama. Pasti para pelaku seks bebas itu tahu bahwa apa yang dilakukannya salah dan berdosa. Tapi, godaan demi godaan, baik karena faktor ekonomi maupun tekanan hidup lainnya yang menyebabkan stres, ternyata membuat orang gelap mata dan buta hati.

2. Jalur Hukum
Secara langsung maupun tidak langsung, jalur hukum sudah bertindak dengan benar. Misalnya, menutup lokalisasi pelacuran ilegal dan merazia beberapa hotel yang terkenal sebagai tempat pelampiasan nafsu bagi pasangan yang bukan suami istri. Tapi, cara ini juga belum bisa berbuat banyak dalam hal pencegahan HIV/AIDS. Rangsangan untuk melakukan hubungan seksual tidak sehat itu terus-menerus menggoda para pelakunya. Bisa dikatakan bahwa pencegahan HIV/AIDS ini sama sulitnya dengan melarang merokok. Sehebat apapun gambaran tentang bahaya seks bebas, para pelakunya tetap tidak peduli.

3. Peran Keluarga
Ini adalah dasar dari pencegahan HIV/AIDS. Perhatian yang cukup dalam keluarga diharapkan dapat menghindarkan orang dari tertular penyakit menular yang sangat mengerikan ini. Pembiasaan berdiskusi dengan anak dan pasangan, diharapkan pencegahan HIV/AIDS bisa maksimal.

Kasih sayang dalam keluarga akan membuat batin dan jiwa tenang sehingga pikiran waras dan logika yang jernih bisa membuat orang berpikir positif untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat bagi hidupnya kini dan hidupnya di akhirat nanti. Dengan cara ini, diharapkan semua anggota keluarga bisa secara aktif berperan serta dalam pencegahan HIV/AIDS. Pada akhirnya keluarga itu diharapkan menjadi keluarga pejuang melawan penyakit HIV/AIDS dan merupakan benteng awal dalam pencegahan HIV/AIDS.