Sabtu, 22 September 2012

Tugas 4: Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


          There is no telling to what extremes of cruelty and ruthlessness a man will go when he is freed from the fears, hesitations, doubts and the vague stirrings of decency that go with individual judgement. When we lose our individual independence in the corporateness of a mass movement, we find a new freedom- freedom to hate, bully, lie, torture, murder and betray without shame and remorse. Herein undoubtedly lies part of the attractiveness of a mass movement. 
- Eric Hoffer

                Penyiksaan. Apa yang anda pikirkan ketika anda membaca sebuah berita di koran tentang seorang TKW yang disiksa oleh majikannya? Atau tentang seorang pria di Arab Saudi yang memukuli istrinya hingga meninggal? Kemungkinan besar, yang anda lakukan saat itu adalah mengelus dada, menarik napas panjang, kemudian menaruh koran tersebut dan beberapa detik kemudian berita itu telah lenyap dari pikiran anda, karena anda sudah kembali tenggelam dalam kegiatan yang sedang dilakukan.
          Cerita-cerita tentang penyiksaan manusia memang sudah begitu sering kita dengar, sehingga hal itu terasa biasa. Padahal tidak. Penyiksaan merupakan suatu tindakan kejahatan, dan harus dihentikan.
          Kata ‘siksaan’ atau ‘penyiksaan’ (dalam bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk mengakibatkan penderitaan kepada seseorang. Segala tindakan kekerasan, baik fisik maupun psikologis, dilakukan dengan sengaja terhadap seseorang dengan tujuan balas dendam, intimidasi, sadisme, hukuman, atau dengan motif apapun dengan judul ‘kekerasan’ akan disebut sebagai penyiksaan. Sepanjang sejarah, siksaan telah digunakan dengan memaksakan untuk berpindah agama atau cuci otak politik.
          Secara universal, penyiksaan telah dianggap sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia, seperti dinyatakan di Deklarasi Hak Asasi Manusia. Negara-negara yang menandatangani UN Convention Against Torture juga telah menyetujui untuk tidak secara sengaja memberikan rasa sakit atau penderitaan pada siapapun untuk mendapatkan informasi atau pengakuan, menghukum, atau memaksakan sesuatu kepada seseorang atau suatu kelompok. Walaupun demikian, organisasi-organisasi seperti Amnesty International memperkirakan bahwa dua dari tiga negara tidak konsisten mematuhi perjanjian-perjanjian tersebut.
Macam-macam Penyiksaan
          Penyiksaan memiliki banyak sekali macamnya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penyiksaan bisa dilakukan berdasarkan berbagai motif, seperti balas dendam, hukuman, dan lain-lain. Macam-macam penyiksaan antara lain:
A.    Penyiksaan terhadap anak
Penyiksaan atau kekerasan anak memiliki tiga kategori utama, antara lain penyiksaan fisik, pelecehan emosional/psikologis/mental, dan pelecehan seksual anak. Menurut Journal of Child Abuse and Neglect, penyiksaan terhadap anak merupakan “setiap tindakan terbaru atau kegagalan untuk bertindak pada bagian dari orang tua atau pengasuh yang menyebabkan kematian, kerusakan fisik serius atau emosional yang membahayakan, pelecehan seksual atau eksploitasi, tindakan atau kegagalan tindakan yang menyajikan resiko besar yang serius”. Sebagian besar penyiksaan anak terjadi di rumah anak itu sendiri, sementara sebagian kecil penyiksaan anak terjadi di sekolah. Seseorang yang melakukan penyiksaan terhadap anak disebut pedopath.
Penyiksaan fisik merupakan penyiksaan yang mudah diidentifikasi karena akibatnya bisa terlihat pada tubuh korban. Persentase penyiksaan fisik (physical abuse) terjadi paling banyak pada anak-anak berusia 0 hingga 5 tahun, yaitu sejumlah 32.3%, dan terendah terjadi pada anak-anak berusia 13 hingga 15 tahun, yaitu sejumlah 16.2%. Bentuk kekerasannya biasanya berupa pukulan, cekikan, atau menempelkan benda panas ke tubuh korban, dan masih banyak lagi yang lebih parah. Sedangkan penyiksaan terhadap mental merupakan penyiksaan yang tidak begitu terlihat sehingga sering diabaikan, padahal bisa menimbulkan dampak yang besar pula. Contoh dari penyiksaan mental berupa teror. Terakhir, pelecehan seksual merupakan bentuk penyiksaan yang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah dikenal oleh anak, seperti keluarga, tetangga, guru sekolahnya, dan lain-lain. Bentuk-bentuknya antara lain pelecehan atau pemerkosaan.
Penyiksaan anak menimbulkan dampak yang sangat serius. Dampak fisik yang ditimbulkan biasanya berupa patah tulang, terutama tulang rusuk dan memiliki resiko terkena kanker lebih tinggi daripada anak-anak normal (Wikipedia). Tidak jarang juga penyiksaan anak menyebabkan kematian. Sementara dampak emosional yang ditimbulkan, anak menjadi frustrasi, apatis, anti-sosial, trauma, dan lain-lain. Seperti sebuah kasus yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2004 lalu, Paul dan Robin Kraft, orang tua dari lima anak tanpa alasan yang jelas menyiksa anak-anaknya. Tidak ada anak-anaknya yang meninggal, tetapi anak-anaknya mengalami trauma dan depresi yang sulit disembuhkan. Paul dan Robin akhirnya divonis hukuman penjara selama 40 tahun.
B.     Penyiksaan terhadap wanita
Terdapat banyak kasus yang terkait dengan penyiksaan wanita. Kasus-kasus yang paling banyak adalah di negara Arab Saudi. Sudah merupakan rahasia umum bahwa tidak sedikit pria-pria di Arab Saudi yang menyiksa istrinya.
Kasus penyiksaan atau kekerasan terhadap wanita biasa dikenal dengan sebutan KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) atau dengan istilah ilmiahnya domestic violence. Pada KDRT, paling banyak ditemukan kasusnya terjadi pada istri-istri, dan kekerasannya biasa dilakukan oleh para suami. Walaupun sebenarnya kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya berarti untuk istri, tapi bisa juga kepada anak perempuan, nenek, dan lain-lain. Kekerasan dalam rumah tangga disebabkan bukan oleh satu sebab, melainkan rangkaian dari berbagai sebab. Biasanya, faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan antara lain:
-       Faktor ekonomi
-       Faktor pendidikan
-       Faktor agama dan keyakinan
-       Faktor cemburu
Dalam Undang-Undang No.23 tahun 2004, dinyatakan dengan jelas pelarangan terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga dengan cara kekerasan fisik, psikis, seksual, atau penelantaran. Lingkup rumah tangga adalah suami, istri, anak, dan hubungan keluarga seperti hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian, dan pembantu rumah tangga.
Penyiksaan wanita banyak yang tidak dapat teridentifikasi dan tidak terungkap publik, karena banyak yang tidak berani melapor atau merasa malu dan sebagainya, padahal ini merupakan hal yang berbahaya dan tidak boleh dibiarkan.
Ada juga sebuah kasus penyiksaan wanita yang bernama Junko Furuta pada tahun 1988. Ia disiksa dengan sangat kejam oleh 4 orang lelaki selama 44 hari. Pada hari ke-41, ia dimutilasi, lalu tetap disiksa, sehingga akhirnya ia meninggal pada hari ke-44. Sampai sekarang, 4 lelaki yang menyiksanya masih bebas dan belum tertangkap.
C.     Penyiksaan seksual
D.    Penyiksaan TKI
Banyak sekali kasus penyiksaan TKI. Sebenarnya, jika pemerintah mau, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah penyiksaan terhadap TKI. Pertama-tama adalah dengan menerbitkan PJTKI, yaitu melakukan pembenahan terhadap para pemilik perusahaan jasa penyedia tenaga kerja. Penerbitan ini misalnya berupa sanksi yang tegas kepada mereka ketika melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku. Pemerintah harus bisa bertindak tegas.
Langkah yang kedua adalah dengan memberikan keterampilan berbahasa kepada TKI-TKI yang akan diberangkatkan. Dengan demikian itu akan mempermudah mereka untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang menggunakan jasa TKI. Dengan begitu itu akan meminimalisir terjadinya penyiksaan yang dilakukan majikan kepada TKI dengan alasan TKI tersebut tidak bisa mengerti dan memahami maksud mereka akibat keterbatasan berbicara.
Selanjutnya adalah dengan memberikan keterampilan/skill kepada TKI, sehingga tenaga kerja-tenaga kerja yang diberangkatkan bukanlah orang-orang tanpa keahlian apa-apa, dan pada akhirnya mereka akan bekerja secara profesional dan dihargai, karena para majikan tidak bisa berbuat seenaknya kepada mereka, karena tenaga kerja yang dikirim merupakan tenaga kerja yang memiliki kualitas.
Penyiksaan merupakan sesuatu yang  sangat kejam dan tidak bisa ditolerir, apapun alasannya dan kepada siapapun, karena penyiksaan sangat bertentangan dengan hak asasi manusia. Walaupun penulis membahas tentang penyiksaan terhadap manusia pada tulisan ini, namun penyiksaan terhadap hewan juga merupakan sesuatu yang salah. Upaya untuk mengatasi penyiksaan atau kekerasan pertama-tama tentunya adalah dengan menegakkan hukum. Tidak bisa dipungkiri bahwa negara bertanggung jawab mengeliminasi kekerasan. Pertama adalah penegakan hukum. Teolog Samuel Rutherford dalam bukunya Lex Rex (1644) menempatkan hukum sebagai raja, hukum berada di atas segala-galanya, termasuk berada di atas pemerintah. Salah satu upaya meredam penggunaan kekerasan oleh masyarakat sipil adalah dengan penegakan hukum yang adil, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam penyelesaian konflik-konflik. Ketidakpercayaan terhadap institusi penegak hukum telah lama menjadi keluhan masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat enggan menyerahkan pencuri atau perampok yang tertangkap tangan karena mereka tahu tidak akan diproses secara adil oleh penegak hukum.
Kedua, negara adalah satu-satunya kelompok dalam masyarakat yang berhak menggunakan kekerasan sesuai hukum dan perundangan yang adil, sebagaimana ditegaskan oleh sosiolog Max Weber, “the state is a human society that (successfully) claims the monopoly of the legitimate use of physical force within a given territory” (1958). Oleh karena itu, negara tidak boleh membiarkan masyarakat sipil menggunakan kekerasan.
Selain itu, hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan program pendidikan anti kekerasan. Orangtua-orangtua yang menyiksa anaknya banyak yang tidak teredukasi dengan baik dan banyak juga yang memiliki gangguan mental. Karena itu, program pendidikan, mediasi, serta terapi merupakan sesuatu yang esensial dan diperlukan.
Hal yang dapat dilakukan sekolah adalah dengan membuat suasana belajar yang kreatif dan tidak monoton, yang membuat murid berpikir dengan lebih kritis, tidak bosan, dan menjadi lebih bahagia, karena kebahagiaan inilah yang melunturkan kekerasan.

P.S.: Jika ada orang yang Anda kenal atau ketahui, atau mungkin Anda mengalami kekerasan itu sendiri, anda bisa menghubungi polisi dan kantor HAM, yang beralamat di Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 6-7 Jakarta Selatan.

Oleh: A. Annisa Zhafira R., XI IPA 4
Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar