Kamis, 27 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Kesenjangan Sosial: Keadilan Yang Semakin Memudar


Pengertian Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan dimana terjadinya ketidak seimbangan sosial di masyarakat yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok. Dalam hal kesenjangan sosia, masalah keadilan adalah masalah yang paling sering terjadi. Antara orang kaya dan orang miskin sangatlah dibedakan dalam aspek apapun.
         kesenjangan sosial ini umumnya terjadi akibat adanya ketidakpedulian antar sesama. Kalimat “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” menjadi sebuah fakta. Banyak orang kaya yang memandang rendah golongan bawah, dan dengan segala kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki, mereka mampu bertindak seenaknya.
            kemiskian memang bukan hanya menjadi masalah di negara Indonesia, bahkan negara maju pun masih sibuk mengentaskan masalah yang satu ini. Kemiskinan memang selayaknya tidak diperdebatkan tetapi diselesaikan. Akan tetapi saya yakin dengan benturan sebuah opini maka akan munculah suatu kebenaran. Dengan kebenaran maka keadilan ditegakkan, dan apabila keadilan ditegakkan kesejahteraan bukan lagi menjadi sebuah impian akan tetapi akan menjadi sebuah kenyataan.






Menurut Robert Chambers bahwa inti kemiskinan terletak pada kondisi yang disebut deprivation trap atau perangkap kemiskinan. Perangkap itu terdiri dari :
1.    Kemiskinan itu sendiri
2.    Kelemahan fisik
3.    Keterasingan atau kadar isolasi
4.    Kerentaan
5.    Ketidak berdayaan

Fator - Faktor Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia diakibatkan beberapa hal, diantaranya:

A.    Kemiskinan
            Menurut lewis (1983), budaya kemiskinan dapat terwujud dalam berbagai konteks sejarah, namun lebih cendrung untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang memiliki seperangkat kondisi:

1.       Sistem ekonomi uang, buruh upahan dan sistem produksi untuk keuntungan
2.       Tetap tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran bagi tenaga tak terampil
3.       Rendahnya upah buruh 
4.       Tidak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisiasi sosial, ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah
5.        Sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral, dan
6.     Kuatnya seperangkat nilai-nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertical, dan sikap hemat, serta adanya anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidak sanggupan pribadi atau memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya.

Budaya kemiskinan bukanlah hanya merupakan adaptasi terhadap seperangkat syarat-syarat obyektif dari masyarakat yang lebih luas, sekali budaya tersebut sudah tumbuh, ia cendrung melanggengkan dirinya dari generasi ke generasi melaui pengaruhnya terhadap anak-anak. Budaya kemiskinan cendrung berkembang bila sistem-sistem ekonomi dan sosial yang berlapis-lapis rusak atau berganti, seperti masa pergantian feodalis ke kapitalis atau pada masa pesatnya perubahan teknologi. Budaya kemiskinan juga merupakan akibat penjajahan yakni struktur ekonomi dan sosial pribumi diobrak, sedangkan atatus golongan pribumi tetap dipertahankan rendah, juga dapat tumbuh dalam proses penghapusan suku. Budaya kemiskinan cendrung dimiliki oleh masyarakat strata sosial yang lebih rendah, masyarakat terasing, dan warga urban yang berasal dari buruh tani yang tidak memiliki tanah.

Menurut parker seymour dan robert j. Kleiner (1983) formulasi kebudayaan kemiskinan mencakup pengertian bahwa semua orang yang terlibat dalam situasi tersebut memiliki aspirasi-aspirasi yang rendah sebagai salah satu bentuk adaptasi yang realistis. Beberapa ciri kebudyaan kemiskinan adalah :

1.           Fatalisme, 
2.           Rendahnya tingkat aspirasi,
3.           Rendahnya kemauan mengejar sasaran, 
4.           Kurang melihat kemajuan pribadi , 
5.           Perasaan ketidak berdayaan/ketidakmampuan,
6.           Perasaan untuk selalu gagal,
7.           Perasaan menilai diri sendiri negatif,
8.           Pilihan sebagai posisi pekerja kasar,
9.           Tingkat kompromis yang menyedihkan. 



Berkaitan dengan budaya sebagai fungsi adaptasi, maka suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk mengubah nilai-nilai yang tidak diinginkan ini menuju ke arah yang sesuai dengan nilai-nilai golongan kelas menengah, dengan menggunakan metode-metodre psikiatri kesejahteraan sosial-pendidikan tanpa lebih dahulu (ataupun secara bersamaan) berusaha untuk secara berarti mengubah kenyataan kenyataan struktur sosial (pendapatan, pekerjaan, perumahan, dan pola-pola kebudayaan membatasi lingkup partisipasi sosial dan peyaluran kekuatan sosial) akan cendrung gagal. Budaya kemiskinan bukannya berasal dari kebodohan, melainkan justru berfungsi bagi penyesuaian diri.

Kemiskinan struktural menurut selo sumarjan (1980) adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan strukturl adalah suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber pada struktur sosial, dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri. Golongan kaum miskin ini terdiri dari :
1.    Para petani yang tidak memiliki tanah sendiri,
2.    Petani yang tanah miliknya begitu kecil sehingga hasilnya tidak cukup untuk memberi makan kepada dirinya sendiri dan keluargamnya,
3.    Kaum buruh yang tidak terpelajar dan tidak terlatih (unskilled labourerds), dan
4.    Para pengusaha tanpa modal dan tanpa fasilitas dari pemerintah (golongan ekonomi lemah).
Kemiskinan struktural tidak sekedar terwujud dengan kekurangan sandang dan pangan saja, kemiskinan juga meliputi kekurangan fasilitas pemukiman yang sehat, kekurangan pendidikan, kekurangan komunikasi dengan dunia sekitarnya, sosial yang mantap.
Beberapa ciri kemiskinan struktural, menurut alpian (1980) adalah :
1.    Tidak ada atau lambannya mobilitas sosial (yang miskin akan tetap hidup dengan kemelaratanya dan yang kaya akan tetap menikmati kemewahannya),
2.    Mereka terletak dalam kungkungan struktur sosial yang menyebabkan mereka kekurangan hasrat untuk meningkatkan taraf hidupnya,
3.    Struktur sosial yang berlaku telah melahirkan berbagai corak rintangan yang menghalangi mereka untuk maju. Pemecahan permasalahan kemiskinan akan bisa dilakukan bilamana struktur sosial yang berlaku itu dirubah secara mendasar.

Soedjatmoko (1984) memberikan contoh kemiskinan structural :
1.    Pola stratifikasi (seperti dasar pemilikan dan penguasaan tanah) di desa mengurangi atau merusak pola kerukukan dan ikatan timbal-balik tradisional,
2.    Struktur desa nelayan, yang sangat tergantung pada juragan di desanya sebagai pemilik kapal,
3.    Golongan pengrajin di kota kecil atau pedesaan yang tergantung pada orang kota yang menguasai bahan dan pasarnya.

Hal-hal tersebut memiliki implikasi tentang kemiskinan structural:
a.  Kebijakan ekonomi saja tidak mencukupi dalam usaha mengatasi ketimpangan-ketimpangan struktural, dimensi struktural perlu dihadapi juga terutama di pedesaan
b.  Perlunya pola organisasi institusi masyarakat pedesan yang disesuaikan dengan keperluannya, sebaga sarana untuk mengurangi ketimpangan dan meningkatkan bargaining power, dan perlunya proses sosial learning yang spesifik dengan kondisi setempat.
Adam malik (1980) mengemukakan bahwa untuk mencari jalan agar struktur masyarakat indonesia dapat diubah sedemikian rupa sehingga tidak terdapat lagi di dalamnya kemelaratan structural. Bantuan yang terpenting bagi golongan masyarakat yang menderita kemiskinan struktural adalah bantuan agar mereka kemudian mampu membantu dirinya sendiri. Bagaimanapun kegiatan pembangunan yang berorientasi pertumbuhan maupun pemerataan tidak dapat mengihilangkan adanya kemiskinan struktural.

Pada hakekatnya perbedaan antara si kaya dengan si miskin tetap akan ada, dalam sistem sosial ekonomi manapun. Yang lebih diperlukan adalah bagaimana lebih memperkecil kesenjangan sehingga lebih mendekati perasaan keadilan sosial. Sudjatmoko (1984) berpendapat bahwa, pembangunan yang semata-mata mengutamakan pertumbuhan ekonomi akan melanggengkan ketimpangan struktural. Pola netes ke bawah memungkinkan berkembangnya perbedaan ekonomi, dan prilaku pola mencari nafkah dari pertanian ke non pertanian, tetapi proses ini akan lamban dan harus diikuti dengan pertumbuhan yang tinggi. Kemiskinan tidak dapat diatasi hanya dengan membantu golongan miskin saja, tanpa menghadapi dimensi-dimensi struktural seperti ketergntungan, dan eksploitasi. Permasalahannya adalah dimensi-dimensi struktural manakah yang mempengarhui secara langsung terjadinya kemiskinan, bagaimana ketepatan dimensi untuk kondisi sosial budaya setempat.

           b.    Lapangan pekerjaan
Lapangan pekerjaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian masyarakat, sedangan perekonomian menjadi fartor terjadinya kesenjangan sosial. Sempitnya lapangan pekerjaan di Indonesia menjadikan pengangguran yang sangat besar di Indonesia
Pemecahan dan Solusi Kesenjangan Sosial di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang besar dan salah satu negara yang memiliki kepulauan yang banyak serta letaknya berjauhan. Kesenjangan sosial sangatlah mungkin terjadi di indonesia karena banyak daerah-daerah terpencil yang terisolir dari keramaian. Dan indonesia adalah suatu negara yang tingkat korupsinya sangat tinggi, di dunia indonesia masuk dalam 5 besar negara terkorup. Sebenarnya indonesia mampu menjadi negara yang maju dan menjadi negara yang mampu menyejahterakan masyarakatnya. Karena indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya dan melimpah tetapi kenapa masih terjadi kesenjangan sosial yang sangat mencolok. Ini menjadi pertanyakan besar yang perlu adanya jawaban dan titik terang. Dalam hal ini merupakan tugas bagi pemerintah sekarang,bagaimana lebih menyejahterakan masyarakat serta meminimalis kesenjangan sosisal. Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemecahan kesenjangan sosial yang terjadidi masyarakat.
Upaya-upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk pemecahan masalah kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia:
1.   Memberantas korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) dan dalam upaya meningkatan kesejahteraan masyarakat. Lembaga pemberantasan korupsi seperti KPK harus meningkatkan kinerjanya dalam menyelesaikan kasus korupsi, karena dalam beberapa kasus soal korupsi, KPK dinilai masih tebang pilih dalam menindak masalah korupsi.
2.   Meningkatkan system keadilan di Indonesia serta melakukan pengawasan yang ketat terhadap mafia hukum. Masih banyak mafia hukum merajarela di indonesia itu yang semakin membuat kesenjangan sosial di Indonesia makin mencolok. Keadilan saat ini sangatlah sulit untuk ditegagakkan, contohnya dalam pemberian hukuman kepada para koruptor. Koruptor ditahan namun semua fasilitas sudah tercukupi di dalam ruang tahanan yang sangat nyaman dan mewah. Sedangkan nasib seorang masyarakat kecil yang hanya mencuri ayam misalnya, mereka ditahan dalam keadaan yang tidak layak, padahal kesalahannya lebih sepele dibanding para koruptor. Hukuman yang seperti itu tidak akan membuat jera, bahkan membuat para koruptor semakin ingin mengulangi kesalahannya.
3.   Menanamkan pendidikan sejak dini kepada anak-anak calon penerus bangsa menyangkut masalah kemanusiaan dan keadilan dalam hal apapun untuk masa depan yang lebih baik.
Penjara mewah


SUMBER:
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090115143119AAMICyu
http://elangbudi.wordpress.com/2011/11/12/kesenjangan-sosial-di-sekitar-kita/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar