Jumat, 21 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


Globalisasi vs Westernisasi

                Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

                Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

                Globalisasi sendiri sudah mulai marak sejak tahun 1000 Masehi, sejak mulai adanya perdangangan lintas negara seperti dari daerah Turki ke daerah-daerah lainnya. Pedagang dari Tiongkok dan India juga sudah mulai menggunakan jalur sutera untuk menjual dagangannya ke seluruh pelosok negeri. Fenomena yang paling terlihat adalah persebaran restoran swasta McDonald’s yang sangat mendunia, hingga tampaknya kini tak ada kota tanpa McDonald’s.

                Terlihat pula dari eksplorasi besar-besaran bangsa Eropa. Negara-negara di Eropa Barat seperti Inggris, Belanda, dan lain-lain merupakan pelopor dari eksplorasi ini. Lalu, dengan runtuhnya kerajaan komunisme terbesar yang sewaktu itu dipegang oleh Rusia dengan kapitalisme Amerika Serikat, seakan memberikan pertanda bahwa kapitalisme merupakan solusi yang lebih baik. Sejak saat itu, sekat-sekat antar negara mulai kabur; dan kaburnya sekat antar negara merupakan salah satu ciri-ciri globalisasi.

                Westernisasi sendiri merupakan salah satu bagian dari globalisasi. Westernisasi adalah proses universal dimana pikiran dan budaya Barat menyebar dengan luas dan tanpa batas. Secara harfiah sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) westernisasi berarti pemujaan terhadap budaya yang kebarat-baratan; pembaratan.

                Dewasa ini, terlihat bahwa globalisasi dan westernisasi sering salah dipergunakan. Perbedaan yang jelas antara globalisasi dan westernisasi adalah; globalisasi mutlak terjadi, karena negara-negara di dunia semakin menjalin hubungan timbal-balik, baik dalam ekonomi, sosial, atau yang lainnya. Sedangkan, westernisasi, meskipun masih termasuk dalam satu bentuk globalisasi, merupakan suatu pilihan. Biasanya, westernisasi terkait dengan modernisasi—dengan acuan bahwa negara-negara di Barat merupakan negara yang paling modernis terkait dengan perkembangan ilmu teknologi, sosial, dan budaya. Modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk tetap hidup di dunia masa kini. Karena negara-negara di Barat dianggap sebagai negara yang paling modern untuk saat ini, semua kiblat tertuju ke dunia Barat. Banyak orang yang mencoba mengaplikasikan modernisasi di negaranya sendiri dengan meniru orang Barat, tapi yang terjadi malah westernisasi, dimana ia meniru segala macam budaya Barat yang tidak sesuai dengan budayanya sendiri.

                Pemasalahannya di negara-negara Timur seperti Indonesia yang sarat akan nilai-nilai tradisional negaranya sendiri adalah, ketika westernisasi itu sendiri bertabrakan dengan nilai-nilainya. Begitu banyak sikap orang Barat dan kebudayaan orang-orang Barat, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai negara yang seharusnya. Tetapi, karena budaya Barat menjadi acuan dari modernisasi, mereka beranggapan bahwa budaya-budaya tersebut merupakan budaya yang sebenar-benarnya. Mereka lebih memilih meninggalkan budaya-budaya mereka sendiri.

                Saya mengambil contoh kasus di Indonesia, disebabkan karena saya sendiri yang merupakan warga Indonesia dan saya lebih mengenal negara ini dibanding dengan negara-negara lain. Di sini, lebih banyak dampak negatif daripada dampak positif westernisasi. Yang sering terlihat adalah, maraknya pergaulan bebas di kalangan pelajar, menyebarnya penyakit HIV/AIDS secara luas, peniruan akan budaya-budaya Barat yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia (seperti mengenakan pakaian-pakaian terbuka ke tempat-tempat beribadat), serta banyak hal lainnya. Salah satunya adalah kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap bangsa sendiri, sehingga banyak meninggalkan nilai-nilai pancasila.

                Yang paling kentara adalah, ayat Pancasila yang kedua, yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab. Kini, setelah budaya Barat yang masuk melalui siaran televisi, buku, dan yang lainnya, banyak orang-orang Indonesia yang telah menggeser kata beradab dalam kamus mereka. Mereka berbicara dengan kata-kata kasar dan suara keras di tempat umum, membantah orang yang lebih tua; dimana seharusnya di negara-negara Timur orang yang lebih tua merupakan orang yang harus diperlakukan dengan sangat santun, berbeda dengan di negara Barat dimana kepentingan pribadi atau pendapat pribadi lebih diutamakan dibanding sikap lainnya. Selain itu, nilai-nilai pancasila seperti tenggang rasa antar umat, saling tolong-menolong serta yang lainnya mulai ditinggalkan. Peniruan budaya-budaya barat seperti bergaul dengan bebas tanpa batas, melakukan seks bebas dan yang lainnya lebih sering terdengar. Menurut data statistik, sekitar 70% remaja Indonesia sudah pernah melakukan hubungan seksual di bawah umur, dan sekitar 40% remaja wanita sudah pernah melakukan aborsi.

                Di negara-negara Timur lainnya, kejadian-kejadian seperti ini juga marak terjadi. Meningkatnya kasus-kasus orang yang meninggal karena overdosis (kelebihan dosis obat-obatan, yang biasanya dialami oleh para pecandu narkoba), serta kasus-kasus yang berkaitan dengan penyakit HIV/AIDS. Penyakit HIV/AIDS sendiri merupakan penyakit yang menular lewat darah atau hubungan seksual, sehingga penyakit ini seringkali tertular karena adanya hubungan seksual bebas. Peniruan akan budaya-budaya Barat yang tidak sesuai, seperti minum-minuman keras, mencandu ganja atau narkotika dengan bebas, dan yang lainnya, terlihat dimana-mana. Lebih banyak efek negatifnya daripada efek positif yang didapat dari westernisasi.

                Meskipun begitu, masih ada sedikit efek dari westernisasi yang membawa dampak positif, salah satunya adalah meningkatnya emansipasi wanita serta penyamarataan derajat akan wanita dan pria. Di negara-negara Timur, biasanya, hak-hak wanita sering dilecehkan; berbeda dengan negara-negara di Barat dimana para wanitanya bisa bebas memilih. Setelah terjadi westernisasi, hampir seluruh negara di bagian Timur mendukung emansipasi wanita dan menyamakan derajat akan wanita dan pria.

                Sayangnya, dampak positif dari westernisasi ini tidak sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh westernisasi. Tidak ada solusi mutlak bagi masalah-masalah di atas, karena semuanya kembali pada moral warga negara itu sendiri. Jika mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang diajarkan dan diturunkan secara turun-temurun di negara mereka sendiri, tentunya mereka bisa memilih mana yang tepat dan mana yang ditiru, atau mana yang harus ditinggalkan. Nilai-nilai asli kebudayaan negara di bagian Timur biasanya mirip dengan dasar-dasar negara tersebut. Yang bisa dilakukan pemerintah dan lembaga-lembaga informal lainnya hanya melakukan pencegahan dan atisipasi. Misalnya, lebih menggencarkan razia distribusi narkoba yang berada di luar sana, membatasi distribusi minuman keras, mengawasi adanya tindak pemalsuan identitas oleh anak dibawah umur agar bisa membeli barang-barang yang diperuntukkan oleh orang-orang dewasa, dan yang lainnya. Budaya-budaya Barat seperti itu lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya. Modernisasi, atau pemodernan sikap agar bisa bertahan di dewasa ini merupakan tujuannya, yang meskipun sejalan dengan westernisasi, sangat bertolak belakang. Westernisasi lebih menjurus ke arah peniruan budaya Barat secara mutlak, sedangkan modernisasi adalah pengadaptasian budaya Barat atau budaya lainnya untuk kelangsungan hidup di masa kini tanpa meninggalkan budaya asli. Pemerintah tentu saja tidak bisa melarang modernisasi, karena proses modernisasi itu memang sangat dibutuhkan oleh seluruh manusia di bumi. Pemerintah negara juga tidak bisa melarang globalisasi, karena negara yang tidak mau mengikuti globalisasi adalah negara yang akan hancur dalam waktu cepat. Selain itu, globalisasi adalah sebuah proses alami yang pasti terjadi; dikarenakan mau tidak mau seluruh negara sedang menggencarkan globalisasi karena tuntutan masa kini. Yang bisa menjadi jawaban dari masalah ini adalah, seperti yang sudah dikatakan di atas, merupakan kondisi moral rakyat suatu negara itu sendiri. Apakah mereka lebih memilih westernisasi mutlak, dan menyalahi manfaat dari globalisasi itu sendiri, atau apakah mereka memilih untuk melakukan globalisasi serta modernisasi, tanpa membiarkan nilai-nilai budaya mereka sendiri dirusak oleh dampak negatif dari westernisasi? Karena, sekali lagi, meskipun westernisasi merupakan bagian dari globalisasi, dampak-dampak negatif yang ditimbulkan westernisasi bukan sepenuhnya kesalahan dari globalisasi.

Sumber:
www.id.wikipedia.com
www.google.com
Dokumen Penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar