Selasa, 18 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Katakan Tidak pada Bullying

Masalah

Bullying adalah masalah yang sering terjadi dimana saja. Baik di rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Bullying dapat dialami oleh anak-anak, remaja, juga orang dewasa. Akan tetapi, isu ini paling sering terjadi di lingkungan remaja. Bullying bisa mengakibatkan banyak hal negatif, khususnya bagi si korban.

Menurut Wikipedia, Bullying merupakan bentuk perilaku agresif yang terbentuk oleh penggunaan kekerasan atau paksaan untuk mempengaruhi orang lain, khususnya ketika perilaku adalah kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan. Menurut Robert W. Fuller, bullying termasuk rankisme. Rankisme adalah "perilaku kasar, diskriminatif, atau eksploitatif terhadap orang karena peringkat mereka dalam hierarki tertentu".


Hal ini dapat mencakup pelecehan verbal atau ancaman, serangan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. "Ketidakseimbangan kekuasaan" bisa dalam bentuk kekuasaan sosial dan atau kekuatan fisik. Korban bullying kadang-kadang disebut sebagai "target".

Ada tiga jenis bentuk bullying menurut tindakannya, yaitu pelecehan - emosional, verbal, dan fisik. Ini biasanya melibatkan metode pemaksaan seperti intimidasi. Bullying dapat didefinisikan dalam berbagai cara. Saat ini, di Inggris masih belum ada hukum tentang kasus bullying. Sementara itu, di beberapa negara bagian AS sudah memiliki hukum yang menentangnya.


Ada dua jenis bullying menurut jumlah orangnya, yaitu one-on-one bullying dan tipe bullying dimana ada lebih dari satu orang, yaitu ketika sang pengganggu utama memiliki beberapa teman yang ingin membantunya mem-bully seseorang atau lebih. Kasus bullying pada kantor dan sekolah biasanya disebut peer-abuse.
Maraknya bullying yang tidak dihentikan hingga sekarang sudah keterlaluan. Bullying bisa terjadi dimana saja. Bahkan, pada skala internasional,  ketidakseimbangan kekuasaan yang ada  diantara bangsa-bangsa, baik dalam sistem ekonomi dan sistem perjanjian, sering disebut-sebut sebagai beberapa penyebab utama dari kedua Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Bullying sendiri telah mucul sejak dulu, sekitar tahun 1834. Bertahun-tahun kemudian Virginia Woolf menganggap fasisme menjadi bentuk bullying, dan menulis tentang Hitler dan Nazi pada tahun 1934 sebagai  "Pengganggu yang brutal." Sebenarnya, bullying bukanlah hal yang asing bagi orang-orang. Akan tetapi, baru beberapa tahun ini bullying menjadi perhatian publik dan diliput oleh media massa.

Indonesia tidak luput dari masalah ini, pada tahun 2012, sudah ada 5 kasus bullying di berbagai SMA di Jakarta yang menjadi perhatian. Mungkin hanya lima kasus yang diketahui oleh masyarakat luas, tapi pasti masih ada lebih banyak lagi kasus diluar sana. Rata-rata, bullying ini dialami oleh para siswa baru, dimana mereka menjadi korban para senior. Hal ini biasanya disebut dengan senioritas.

Bullying adalah sebuah aktivitas berulang dalam bentuk perilaku agresif yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain, secara fisik maupun mental. Bullying ditandai oleh individu berperilaku dengan cara tertentu untuk mendapatkan kekuasaan atas orang lain.

Peneliti dari Norwegia, Dan Olweus mendefinisikan bullying sebagai perilaku ketika seseorang terserang, berulang kali dan dari waktu ke waktu, dan mengalami tindakan negatif dari satu atau lebih. Beliau mendefinisikan tindakan negatif sebagai, ketika seseorang dengan sengaja menimbulkan cedera atau ketidaknyamanan bagi orang lain, melalui kontak fisik, kata-kata atau dengan cara lain.

Menurut U.S. National Center for Education Statistics, ada dua jenis bullying, yaitu bullying secara langsung dan tidak langsung. Bullying secara tidak langsung juga dikenal sebagai agresi sosial.
Ross menyatakan bahwa bullying secara langsung melibatkan banyak agresi fisik, seperti mendorong dan menusuk, melempar sesuatu, menampar, mencekik, memukul dan menendang, menarik rambut, menyakar, menggigit, menggores, dan mencubit.

Beliau juga menyatakan bahwa agresi sosial atau bullying secara tidak langsung  ditandai dengan mencoba untuk mengisolasi sosial korban. Isolasi ini dapat diperoleh dengan berbagai teknik, termasuk menyebarkan gosip, menolak untuk bersosialisasi dengan korban, mem-bully orang lain yang ingin bersosialisasi dengan korban, dan mengkritik cara korban dari pakaian dan penanda sosial penting lainnya (termasuk ras, agama, kecacatan, jenis kelamin, atau preferensi seksual, dll).

Ross  menjabarkan berbagai perilaku kekerasan yang dapat dianggap sebagai bullying secara tidak langsung, seperti memanggil nama, bersikap cuek, berdebat hingga orang tersebut setuju, memanipulasi, gosip / gosip palsu, kebohongan, rumor / desas-desus palsu, menatap, cekikikan, menertawakan korban, mengucapkan kata-kata tertentu yang memicu reaksi dari peristiwa masa lalu, dan mengejek.

Membuat kita Merasa Terisolasi
Reaksi dari bullying ini berbeda. Laki-laki cenderung untuk bersikap agresif secara fisik sedangkan perempuan cenderung diam saja, meskipun sekarang ini dapat dilihat bahwa perempuan menjadi lebih  kasar dalam tindakan bullying mereka. Biasanya, si pengganggu memilih target yang kelihatannya lebih lemah daripada dia.
Reaksi Laki-Laki
Dampak dari bullying ada banyak. Percaya atau tidak, jika seorang “target” dapa membela diri sendiri dari si penyerang, orang tersebut mentalnya dapat menjadi lebih kuat dan lebih baik. Orang itu dapat belajar untuk lebih dewasa, dan menyaring hal-hal negatif dari lingkungan sekitarnya.

Sayangnya, bullying cenderung memberikan dampak negatif. Menurut Mona O’Moore of the Anti-Bullying Centre at Trinity College in Dublin, “dari sebuah penelitian yang sedang berlangsung, dapat dilihat  bahwa seorang individu, baik anak atau orang dewasa, yang terus-menerus mengalami perilaku kasar beresiko untuk menderita stres dan kadang-kadang dapat menyebabkan bunuh diri. "

Bullying dapat menyebabkan kesepian, depresi, kecemasan, menyebabkan rendah diri dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, khususnya Posttraumatic Stress Disorder dan ketidakmampuan untuk membentuk sebuah hubungan. Telah dibuktikan bahwa 15 dari 25 anak yang mengalami bullying melakukan tindakan bunuh diri.

Ada berbagai macam bentuk bullying. Berikut adalah penjelasannya:

1. Bullying di tempat kerja

Bullying di tempat kerja adalah sebuah tindakan yang terjadi secara berulang, penganiayaan pada kesehatan, pelecehan verbal, atau tindakan yang mengancam, menghina, mengintimidasi, atau sabotase yang mengganggu pekerjaan, atau beberapa kombinasi dari ketiganya.

Statistik menunjukkan bahwa bullying adalah kasus yang 3 kali lebih banyak terjadi daripada  diskriminasi ilegal dan setidaknya 1.600 kali lebih lazim sebagai kekerasan di tempat kerja. Statistik juga menunjukkan bahwa hanya satu karyawan dari 10.000 menjadi korban kekerasan di tempat kerja, satu dari enam pengalaman bullying terjadi di tempat kerja. Tindakan bullying ini tidak selalu ilegal dan bahkan mungkin tidak bertentangan dengan peraturan perusahaan, namun kerusakan pada karyawan yang ditargetkan dan penurunan semangat kerja jelas.
Hasil Survey


2. Cyber Bulliying

Adalah segala bentuk intimidasi dilakukan melalui penggunaan teknologi. Bentuk bullying ini dapat dengan mudah tidak terdeteksi karena kurangnya pengawasan orangtua. Karena pengganggu dapat berpura-pura menjadi orang lain, disebut juga sebagai bullying anonim. Cyber bullying termasuk penyalahgunaan menggunakan email, pesan instan, pesan teks, website, situs jejaring sosial, dll.
Salah Satu Contoh Cyber Bullying

3. Bullying di Sekolah

Bullying ini sudah sering terjadi sehingga sering terabaikan. Biasanya dalam bentuk senioritas. Tentu saja, akibat bullying di tempat ini sangat fatal, karena terjadi di masa perkembangan dimana si target dalam masa rentannya, dan masih belum bisa berpikir secara dewasa. Terjadi dari tahun ke tahun sehingga menjadi sebuah ritual. Tindakannya biasanya kecil-kecil, akan tetapi membuat para siswa tidak nyaman dan menjadi malas sekolah.

Bullying di Sekolah
4. Bullying bagi yang cacat

Bullying ini sering terjadi pada orang-orang yang dianggap cacat karena berbeda dengan orang lain. Kasus ini sangat menyedihkan karena orang-orang yang cacat biasanya tidak bisa mengutarakan perasaannya dengan baik.



Masih banya jenis bullying lainnya, tetapi yang disebutkan merupakan yang paling banyak terjadi.

Solusi




Solusi dari masalah ini adalah rasa menghargai. Kita harus menghargai satu sama lain dan juga diri sendiri sehingga kasus bullying akan berkurang. Jika kita belajar untuk saling menghargai, tentu saja tidak akan mucul rasa superior dan tidak akan terlihat sebuah perbedaan, sehingga bullying dapat dihindari.

Orang yang paling terpukul oleh bullying adalah orang-orang yang kurang menyayangi diri sendiri. Jika dia menyayangi diri sendiri, dia pasti bisa menyaring hal-hal negatif disekitarnya. Daripada memikirkan akan kekurangannya, dia akan berpikir secara dewasa dan akan berusaha menjadi orang yang lebih baik.

Orang yang di bully harus belajar untuk melawan si penyerang. Jangan biarkan orang itu terus mengganggu, tapi kita harus menunjukan kalau kita tidak bisa diinjak-injak. Sehingga kedepannya, dia tidak akan menargetkan kita lagi.

Selain itu, kita juga harus saling mengingatkan. Kita boleh saling bercanda, tapi jangan sampai menyakiti seorang teman sehingga menimbulkan sebuah salah-paham. Kita harus pikirkan tindakan dan omongan kita. Juga, menjaga kelakuan kita.

Orangtua, guru, wali, serta orang-orang yang berada dilingkungan harus selalu mengawasi. Tidak perlu sampai menjadi overprotective, tapi yang penting terus mengawasi, dan memberi dukungan. Hal ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada si korban, dan membuat dia merasa kalau dia tidak sendiri.

Pemerintah juga harus membuat peraturan resmi tentang tindakan bullying. Dan juga, terus mengawasi lingkungan dan Negara. Jangan sampai hanya membuat peraturan, tapi tidak ada tindakan. Bullying harus diberikan konsekuensi yang keras, sehingga si penyerang bisa jera, dan yang tadinya sudah berniat untuk melakukan tindakan bullying akan berpikir dua kali sebelum bertindak.

Bullying mungkin tidak dapat dihilangkan selamanya. Tapi, tentu saja dapat dikurangi seminimal mungkin. Jika kita memberikan respect terhadap orang lain, mereka pasti akan respect kembali. Mari kita kurangi bullying.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Bullying
https://www.google.com
http://news.detik.com/read/2012/07/31/105747/1979089/10/5-kasus-bullying-sma-di-jakarta
http://www.google.com/imghp?hl=en&tab=wi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar