Minggu, 16 September 2012

Tugas 4-Solusi Labsky untuk Kemanusiaan



“Tawuran Pelajar: Makin Parah Saja”

Pelajar siap "tempur"
Akhir-akhir ini sudah sering sekali kita mendengar kata tersebut. Yap. Tawuran Pelajar, suatu fenomena yang memprihatinkan ini sudah beberapa tahun ini selalu menghiasi kehidupan kita, terutama bagi warga Ibukota. Terlebih sekarang tawuran sudah meliputi banyak generasi, dari Mahasiswa hingga anak SMP(!)

Oleh karenanya, Penulis yang juga turut Prihatin menjadi tertarik untuk membahas masalah ini.

Untuk lebih jelas, topic pembahasan yang Penulis akan cakup kali ini mengerucut ke Tawuran yang melibatkan anak SMP dan SMA. Tidak sampai mencakup Mahasiswa.

Benar saja. Hanya 8 hari setelah Penulis memposting entri ini, ternyata Tawuran terjadi lagi antara dua SMA populer di Bulungan. Tragisnya, Tawuran tersebut kali ini meminta nyawa! Sungguh tidak bisa dibiarkan

Apa Itu Tawuran?

Tawuran, secara Etimologis berasal dari kata dasar Tawur, yang menurut KBBI adalah perkelahian beramai-ramai; perkelahian missal, yang indentik dengan kericuhan dan kerusuhan. Sedangkan Tawuran Pelajar, dengan sedikit mengembangkan definisi Tawuran dari KBBI adalah suatu perkelahian massal yang melibatkan para pelajar.

Tawuran merupakan salah satu wujud dari penyimpangan sosial yang bersifat negative dan merupakan suatu wujud kenakalan remaja. Namun, seiring berjalannya waktu, tawuran sudah menjadi jauh lebih brutal, dan kadang-kadang sampai menyebabkan hilangnya nyawa, sehingga sudah tidak layak lagi disebut sebagai suatu kenakalan, tetapi suatu tindak kriminal.

Sudah tidak bisa dianggap sebagai sekadar kenakalan kalau sudah sampai bersenjata seperti itu
Memang sulit dicari kapan pertama kali terjadinya tawuran. Tapi yang jelas, hal aneh nan fenomenal ini baru mulai ada sejak akhir 1980-an atau awal 1990-an lalu. Namun baru mulai menjadi sering terdengar mulai pertengahan dekade lalu.

Penyebab Tawuran

Seringkali, penyebab Tawuran Pelajar yang terjadi adalah karena perselisihan antar kelompok Pelajar. Yang entah disebabkan oleh ketersinggungan suatu kelompok yang disebabkan oleh tindakan kelompok lain, perselisihan karena suatu kelompok (Atau sekolah) kalah pertandingan, atau karena masalah pribadi yang seringkali sulit dijelaskan seperti misalnya rebutan perempuan, pemalakan, dan sebagainya. Selain itu, sekolah-sekolah yang saling bermusuhan karena suatu hal dan letaknya berdekatan bisa menimbulkan friksi-friksi yang berpotensi menimbulkan tawuran

Pada awalnya biasanya tawuran hanya berkaitan dengan masalah personal, dan dilakukan oleh hanya beberapa orang dari kelompok yang berbeda. Tapi sekarang, peran kelompok menjadi sangat jelas terlihat, dan tawuran sekarang bersifat massal. Tidak hanya 5-6 orang. Mungkin sampai puluhan orang. Atau lebih parah kalau samapi akhirnya melibatkan bukan Cuma 2 kelompok dari suatu sekolah, tapi sampai hampir 2 sekolah yang berbeda

Seringkali, tawuran dipicu oleh seorang provokator yang kemudian menghasut kawan-kawannya untuk menyerang sekolah yang mereka anggap sebagai “musuh”. Celakanya, seringkali Provokator adalah seorang alumni, atau siswa yang kena DO yang dihinggapi rasa dendam dalam hatinya oleh karena suatu hal.

Pandangan Umum Masyarakat Terhadap Tawuran Pelajar

Masyarakat Umum berpersepsi bahwa tawuran pelajar identik dengan anak SMK. Hal Akan tetapi, di DKI misalnya, dari 275 sekolah yang sering tawuran, 77 diantaranya adalah SMA. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sekarang ini tawuran pelajar tidak melulu berhubungan dengan anak SMA dan Mahasiswa saja. Anak SMP pun sudah mulai mengerti tawuran!

Masa' anak SMP pun sudah beginian?!
Selain itu, tidak melulu anak yang berada di ekonomi yang kurang mampu saja yang bertawuran. Justru seringkali pelaku tawuran berasal dari kalangan menengah keatas. Yang tentu saja amat meprihatinkan karena mereka memiliki pendidikan yang lebih baik dan semestinya lebih mengerti bahwa hal tersebut sia-sia

 Dampak Tawuran Antar Pelajar

Tentu saja tawuran antar pelajar menimbulkan dampak yang sama sekali tidak kecil. Bahkan bisa dibilang dampak yang muncul sekarang hanyalah sebagai puncak dari gunung es dari dampak tawuran secara keseluruhan

Pertama, dampak dari tawuran adalah tentu saja adalah cedera yang terjadi pada diri sendiri dan orang lain. Tawuran melibatkan kekuatan fisik dan kekerasan, dan bahkan sudah menggunakan senjata-senjata terimprovisasi dari hanya batu dan kayu sampai malah gir sepeda dan bahkan pedang samurai, yang tentu saja akan melukai siapapun yang terkena. Bukan itu saja, terkadang tawuran antar pelajar malah bisa menimbulkan korban jiwa. Tentu saja hal ini akan menimbulkan masalah bagi keluarga korban.

Tidak hanya itu, korban pun tidak selalu dari para orang-orang yang saling tawuran. Masyarakat sekitar bisa saja terkena serangan tawuran secara tidak sengaja

Kedua, tawuran dapat menimbulkan kerusakan fasilitas umum. Seringkali tawuran diwarnai dengan aksi perusakan fasilitas umum, terutama seperti telepon umum dan kendaraan umum yang dipakai oleh pelajar yang tawuran. Tentu saja hal ini akan sangat mengganggu ketertiban masyarakat dan kepentingan orang banyak, serta menimbulkan kerugian bagi semuanya. Karena kalau fasilitas umum rusak, maka perbaikannya perlu uang pajak, dan uang pajak kita semua tahu dapatnya dari mana…

Ketiga, tawuran pelajar dapat menimbulkan gangguan ketertiban umum. Tentu saja karena dengan suasana bagaikan medan perang, maka kegiatan masyarakat akan menjadi terganggu. Suasana menjadi mencekam, orang menjadi tidak berani untuk keluar, dan tentu saja aktifitas tidak dapat dilaksanakan. Bahkan karena tawuran sering terjadi dilingkungan sekolahnya, maka aktivitas KBM pun akan diliburkan

Keempat, tawuran dapat membuat citra negative bagi institusi pendidikan. Karena pelaku tawuran pelajar tentunya adalah pelajar, maka pandangan masyarakat dapat menjadi negative terhadap institusi pendidikan. Terlebih karena sekolah telah memberikan pendidikan karakter selain pendidikan secara akademis, maka kalau sampai terjadi tawuran, maka sekolah bisa dianggap gagal dalam mendidik. Akibatnya, nama sekolah menjadi tercemar.

Selain itu, kalau siswanya ketauan ikut tawuran bisa kena hukuman paling minimal skorsing dan malah bisa sampai dikeluarkan/DO!!!

Sudah jelas bahwa tawuran tidak akan ada dampak positifnya sama sekali. Hanya buang-buang waktu, luka-luka sendiri, dan akhirnya akan terkena sanksi (Entah dari sekolah dan malah pihak berwajib!)! Tentu saja ujung-ujungnya yang rugi adalah diri kita sendiri. Efeknya bisa panjang bero!

Tinjauan Psikologis

Oleh karena itu, tentu saja kita harus mencari solusi dari masalah ini. Sayang sekali penyebab tawuran pelajar saat ini dapat dikatakan tidak simpel. Banyak sekali pengaruh dari luar yang menyebabkan tawuran, terutama factor psikologis

Ada empat factor psikologis yang dapat menimbulkan tawuran antar pelajar, yaitu
Dari factor internal, biasanya muncul apabila seorang siswa tidak mampu beradaptasi dengan baik dengan lingkungan sekolahnya, dan menerima norma yang berlaku. Sehingga mereka pun cepat menjadi labil

Keluarga yang terlalu melindungi, dan yang terlalu sering melakukan kekerasan pada anak semuanya berdampak negative. Jika terlalu banyak dikerasi, anak akan merasa kekerasan adalah bagian hidupnya. Jika terlalu dilindungi, maka dia akan menjadi tidak percaya diri dan akan dengan mudah ikut-ikutan segala sesuatu yang dilakukan oleh teman kelompoknya

Sekolah yang terlalu otoriter dan monoton, serta tidak memiliki kegiatan yang cukup beragam dan menarik akan membuat siswanya lebih memilih untuk melakukan kegiatan diluar sekolah agar bisa menyalurkan daya kreasinya, yang seringkali akan berujung pada hal yang kurang baik. Selain itu, guru juga seringkali (bagi siswa) hanyalah merupakan pelaksana peraturan dan penghukum. Bukan pendidik yang baik. Oleh karena itu ada kalimat “Guru itu bukan pengajar, tapi pendidik”-Guru tidak hanya mengajarkan materi, tapi juga mendidik muridnya agar menjadi manusia yang seutuhnya

Lingkungan yang didominasi oleh orang-orang yang berperilaku buruk juga bisa jadi membuat siswa menjadi terpengaruh. Kecuali kalau dia memang mampu untuk memfilter apa yang ia terima. Akan tetapi jarang yang mampu seperti itu.

Selain itu, lingkungan yang demikian dapat menimbulkan tumbuhnya jiwa premanisme didalam siswa. Jiwa premanisme adalah jiwa yang dimana seorang tersebut lebih memilih cara penyelesaian masalah dengan kekerasan fisik. Bertolak belakang dari jiwa seorang pelajar yang harus bisa menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, dan dapat mengendalikan emosi.

Jiwa premanisme dapat timbul karena nilai-nilai kekerasan yang dia dapat dari lingkungannya. Seperti misalnya tayangan televise yang sarat akan kekerasan, kekerasan dirumah, dan juga kekerasan yang diakibatkan oleh perploncoan.

Solusi dari Tawuran Pelajar

Tentu saja kita harus bisa mencari solusi dari masalah tawuran pelajar. Sebenarnya solusinya kalau mau ditarik secara umum lebih kepada kesadaran kita akan betapa tidak bermanaatnya kekerasan. Oleh karena itu, kebanyakan dari solusinya akan lebih kepada tindakan preventif.

Tindakan preventif yang bisa diambil diantara lain adalah:

1. Orang tua harus bisa menerapkan pola asuh yang baik pada anak. Jangan sampai terlalu mengerasi anak, tapi jangan juga mengekang dirinya sehingga tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Dan selalu monitor kegiatan anak

2. Kegiatan di Sekolah haruslah dikemas agar menjadi lebih menarik dimata siswa, sehingga siswa mau mengikutinya. Seperti misalnya Ekstrakurikuler, KIR, Pramuka, dan sebagainya.
Kegiatan Pramuka di Sekolah. Sayangnya eksistensinya sudah mulai hilang
3. Guru di Sekolah harus menjadi seorang pendidik yang baik, yang bisa membuat Anak Didikannya tidak hanya memiliki otak yang pintar, tetapi juga akhlak yang mulia dan iman yang kuat, sehingga mereka tidak akan berbuat tindakan tercela. Salah satunya adalah pendidikan karakter

4. Dalam Massa Orientasi, para senior seyogyanya tidak menggunakan unsur perploncoan dan kekerasan yang berpotensi menumbuhkan sitgma bagi para junior bahwa kekerasan adalah bagian dari sekolah tersebut

5. Media Massa dalam menyiarkan media yang mengandung kekerasan (terutama tawuran) jangan secara blak-blakan, namun harus secara hati-hati, dan memiliki unsur informative agar tidak kemudian ditiru oleh orang, terutama remaja

6. Harus diadakan kompetisi-kompetisi yang sifatnya memacu anak untuk lebih giat belajar dan berprestasi, seperti misalnya mulai dari kompetisi olahraga (Yang tentu harus tetap dijaga ketat agar tidak menimbulkan tawuran juga), dan olimpiade sains. Dengan itu, diharapkan citra pelajar dan institusi bisa menjadi lebih baik, dan nantinya orang-orang tidak akan lagi mengidentikkan anak-anak SMA sebagai penawur

Siswa SMAN8 Jakarta sebagai peraih medali keseluruhan terbanyak dan peraih medali emas kedua terbanyak setelah Jawa Tengah dalam ajang OSN 2012. Tentu saja ada kebanggaan tersendiri apabila seorang siswa berhasil menang kompetisi tersebut
 7. Dan yang terakhir, tentu saja diperlukan kesadaran dari kita, para siswa sendiri. Kita jangan sampai mudah terpengaruh dengan nilai-nilai yang tidak sesuai, sehingga kita tidak terjerumus ke perbuatan demikian

Sedang untuk tindakan represif, tentunya adalah  dengan melakukan tindakan hukum yang tegas dan efektif. Jangan ada diskriminasi. Dan juga, tentu saja dalam penindakan polisi boleh tegas, namun jangan sampai melakukan kekerasan yang tidak perlu juga.

Untuk mengamankan situasi polisi ini harus sampai mengeluarkan pistol!
Inilah yang dapat Penulis berikan dalam solusi untuk tawuran. Semoga kedepannya pelajar kita bisa menjadi lebih baik lagi, dan tidak gampang untuk ikut tawuran, tapi justru menjadi seorang manusia seutuhnya yang merupakan harapan bangsa. Wassalam.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar