Sabtu, 22 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Isu Rohingya di Myanmar; Bukan Sekedar Isu Agama, Melainkan Masalah Kemanusiaan

Masalah
            Seperti yang telah kita ketahui, baru- baru ini di negara tetangga, Myanmar telah terjadi kasur yang menggemparkan dunia. Etnis minoritas di Myanmar, yaitu etnis Rohingya mendapat tindak kejahatan.
            Konflik bermula saat ketegangan yang dulu pernah terjadi antara suku Rakhine yang beragama Buddha dan orang muslim Rohingya kembali terjadi di Negara Bagian Rakhine di Myanmar. Ketegangan tersebut terjadi pada bulan Juli tahun 2012. Ketegangan tersebut mengakibatkan serangkaian peristiwa pembakaran dan serangan yang menggunakan golok sebagai senjata. Peristiwa mengerikan tersebut mengakibatkan 5000 rumah terbakar, dan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Tidak hanya harta benda yang hangus terbakar, 77 orang juga kehilangan nyawa serta lebih dari 100 orang mengalami cedera.
            Kelompok hak asasi manusia menuduh polisi dan tentara menggunakan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki secara tidak seimbang atau semena- mena dan menangkapi orang muslim Rohingya pasca kerusuhan tersebut. Pemerintah Myanmar menganggap 800.000 orang muslim rohingya adalah pendatang gelap. Hal sebaliknya dikatan oleh orang muslim Rohingnya. Mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka telah menetap di daerah tersebut selama berabad- abad.
            Majelis Ulama Indonesia atau biasa disebut MUI, sebagai wadah musyawarah para ulama di Indonesia telah melakukan kajian mengenai latar belakang peristiwa pembakaran dan serangan yang terjadi kepada orang muslim Rohingya. MUI menyimpulkan pasukan militer yang memiliki dukungan penuh dari pemerintah Myanmar telah melakukan hal yang dapat dikatakan adalah tindakan diskriminatif. Selain itu, MUI juga menilai tindakan yang dilakukan pemerintah militer Myanmar terhadap orang muslim Rohingya sebagai perbuatan biadab dan anti kemanusiaan serta memicu rasa benci, juga salah paham tentang masalah SARA (suku, agama, ras, antargolongan).
“MUI melihat masalah Muslim Rohingya bukan semata- mata isu agama, melainkan sebagai masalah kemanusiaan” Ilham Syam, Sekretaris Jenderal MUI
            Hasil lain dari kajian yang telah dilakukan MUI adalah bahwa pokok permasalahan yang menimpa orang muslim Rohingyapun menyangkut banyak masalah yang telah lebih dahulu terjadi, seperti masalah pembagian tanah, diskriminasi etnis minoritas dimana terdapat lebih dari 100 etnis di Myanmar, yang keberadaannya diakui atas dasar rasa suka dan rasa tidak suka pemerintah, serta politis yang dibawa ke banyak bidang lain. Satu masalah yang utama adalah masalah penggelapan sejarah etnis muslim Rohingya.
            Saat ini, status orang muslim Rohingya tidak punya negara(stateless). Pemerintah Myanmar membatasi gerak- gerik mereka dan tidak memberikan hak atas tanah, pendidikan dan fasilitas serta layanan publik. Karena tidak diakui keberadaannya, banyak orang muslim Rohingya yang bermigrasi. Beberapa negara yang dijadikan tujuan migrasi adalah Thailand dan Malaysia. Sekitar 300 ribu orang muslim Rohingya tinggal di dua negara tersebut. 700 ribu orang muslim Rohignya lainnya juga diperkirakan hidup di luar Myanmar. Namun, belum ada negara ketiga yang bersedia menerima kedatangan orang muslim Rohingya dan menolak kedatangan mereka. Salah satu contoh negara yang menolak kedatangan orang muslim Rohingya adalah Bangladesh. Bangladesh menolak kedatangan perahu- perahu yang berisi orang Muslim Rohingya yang tiba di perairan Bangladesh pasca peristiwa pembakaran dan serangan di Myanmar.
Menyusul pembakaran dan serangan yang terjadi di bulan Juli 2012, terjadi juga peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita pemeluk agama Buddha yang diduga dilakukan oleh salah satu orang muslim Rohingya. Serangan pembalasan pun dilakukan oleh masyarakat Rakhine. 10 orang muslim Rohingya tewas terbunuh. Sampai saat ini, keadaan darurat masih berlaku di beberapa daerah di Myanmar.
Tekanan terhadap orang muslim Rohingya masih belum berakhir. Ratusan Biksi Buddha Myanmar menggelar demonstrasi yang menyuarakan suara mereka melawan dan menentang keberadaan orang muslim Rohingya di Myanmar. Para Biksu Buddha tersebut mendukung rencana Presiden Myanmar, Thein Sein untuk mengusir orang muslim Rohingya keluar dari Myanmar. Para Biksu Buddha juga mengecam utusan PBB Tomas Ojea Quintana yang dituding lebih membela orang musllim Rohingya.

Solusi
            Masalah kemanusiaan seperti yang terjadi pada orang Muslim Rohingya harus segera diakhiri. Untuk mengakhiri masalah kemanusiaan seperti ini, kita harus mengetahui apa akar dari permasalahan yang terjadi. Dalam kasus yang terjadi di Myanmar ini, tidak adanya rasa toleransi dan tenggang rasa antar umat beragama menjadi awal yang memicu timbulnya pembakaran dan serangan.
            Sebelum mengetahui solusi untuk meredakan dan menghilangkan tindakan diskriminatif terhadap etnis minoritas, khususnya orang muslim Rohingya, kita harus terlebih dahulu mengetahui solusi untuk mengembangkan rasa toleransi dan tenggang rasa. Rasa toleransi dan tenggang rasa dapat dimulai sejak dini, dengan dan kepada hal kecil sekalipun. Seperti, menghormati teman yang berbeda agama ketika ingin beribadah, tidak menjelek- jelekkan dan menghormati hari raya agama lain, dan masih banyak hal kecil lainnya yang dapat dilakukan. Meskipun kecil, hal- hal tersebut dapat meningkatkan rasa toleransi dan tenggang rasa sejak kecil yang nantinya akan berpengaruh di masa depan.
            Jika sudah mengetahui solusi dari awal permasalahan, saatnya mengetahui dan mencari solusi dari permasalahan itu sendiri.
            Masalah pasti akan selalu menghampiri masyarakat yang berbeda keyakinan. Namun, masalah apapun itu tidak seharusnya diselesaikan dengan kekerasan. Musyawarah adalah hal yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya masalah terhadap perbedaan keyakinan. Musyawarah dapat menyelesaikan masalah tanpa merugikan satu pihakpun.
            Lebih khusus dalam peristiwa pembakaran di Myanmar ini, dukungan dari negara lain juga sangat dibutuhkan khususnya negara- negara mayoritas penduduk islam. Setiap negara seharusnya menyadari pentingnya perlindungan hak asasi manusia dan memberikan jaminan kepada penduduknya. Tidak seharusnya membeda- bedakan agama ataupun keyakinan, baik mayoritas maupun minoritas. Bentuk perlindungan terhadap hak asasi manusia dalam hal beragama adalah memberikan kebebasan dalam memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut tanpa membeda- bedakan. Jika setiap negara sudah menerapkan hal seperti itu, diskriminasi terhadap etnis, agama, atau kaum minoritas pasti berkurang.
            Hal lain yang dapat dilakukan adalah memperbaharui peraturan negara, dalam hal ini Myanmar. Pengakuan terhadap suatu etnis, agama, atau kaum dalam hal ini orang muslim Rohingya harus diikutsertakan dalam peraturan di Myanmar. Selain diakui, etnis, agama, atau kaum minoritas juga harus mendapat jaminan hak atas tanah, pendidikan, dan fasilitas serta pelayanan umum, agar cara seperti mengungsi ke negara lain tidak lagi harus dilakukan oleh etnis, agama, atau kaum minoritas. Lagipula, tidak selamanya negara lain dapat menampung kedatangan etnis, agama, atau kaum yang mengungsi.
            Di era globalisasi dan demokrasi seperti sekarang ini, sangat disayangkan apabila terjadi peristiwa yang mengancam kebebasan hak asasi manusia seperti yang terjadi di Myanmar. Indonesia, dan 8 negara lain sebagai negara anggota ASEAN, sama halnya seperi Myanmar memiliki peran besar untuk menekan perlakuan pemerintah di Myanmar.
            Intinya, masalah kemanusiaan seperti yang terjadi kepada orang muslim Rohingya di Myanmar ini harus dapat diselesaikan sebelum timbulnya masalah lain yang mengakibatkan masalah ini tertutup dan terlupakan. Masalah kemanusiaan bukanlah masalah sepele dan boleh dilupakan saja seiring berjalannya waktu. Melainkan masalah besar yang dapat mengakibatkan pertumpahan nyawa, juga perpecahan. Ketegasan pemerintah sangat diperlukan dalam memerangi masalah kemanusiaan ini. Masalah kemanusiaan harus segera diselesaikan demi kesejahteraan dan keamaan seluruh masyarakat, terutama etnis, agama, atau kaum minoritas yang selama ini mendapatkan perlakuan diskriminatif dari etnis, agama, atau kaum mayoritas.
           
           
Sumber
politik.kompasiana.com
republika.co.id
*tidak disertai dengan gambar dikarenakan gambar yang ditemukan terlalu seram

Tidak ada komentar:

Posting Komentar