Jumat, 21 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


            Anak itu masa depan bangsa, bukan dijadikan sebagai produk perdagangan.

MASALAH
            Perdagangan anak atau child trafficking dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan dan percobaan tindakan yang melibatan rekruitmen, transportasi, baik di dalam maupun antar negara, pembelian, penjualan, pengiriman, dan penerimaan orang yang dalam hal ini adalah seorang anak, dengan menggunakan tipu daya, kekerasan, atau pelibatan hutang, untuk tujuan-tujuan seperti pemaksaan pekerjaan domestik, pelayanan seksual, perbudakan, atau segala kondisi perbudakan yang lain, baik anak tersebut mendapatkan bayaran ataupun tidak, di dalam sebuah komunitas yang berbeda dengan komunitas di mana anak tersebut tadinya tinggal.  Menurut ODCCP (Office for Drug Control and Crime Prevention), perdagangan anak didefinisikan sebagai perekrutan, pemindahan, pengiriman, penempatan atau menerima anak-anak di bawah umur untuk tujuan eksploitasi dan hal ini menggunakan ancaman, kekerasan, ataupun pemaksaan lainnya seperti penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan wewenang, juga memberi atau menerima uang atau bantuan untuk mendapatkan persetujuan dari orang yang menguasai penuh atas anak itu. Yang dimaksud anak di sini adalah manusia yang berusia di bawah 18 tahun. Beberapa bentuk child trafficking yang dilakukan adalah mereka dijadikan kerja paksa seks atau eksploitasi seks dan menjadi Pembantu Rumah Tangga yang terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
            Tetapi sebenarnya, apa sih penyebab dari perdagangan anak atau child trafficking ini? Mengapa ada orang yang dengan tega melakukan hal seperti perdagangan anak? Pada masyarakat yang mengalami kondisi ekonomi yang lemah dan kurang serta memiliki pendidikan baik moral dan karakter maupun pendidikan akademis, permasalahan yang terjadi pada anak-anak mereka adalah mereka dijadikan buruh anak; mereka harus bekerja dengan porsi kerja orang dewasa yang pastinya berat untuk anak-anak demi membantu perekonomian keluarga. Anak-anak bekerja mencari nafkah karena memang paksaan dari kondisi ekonomi mereka yang kurang, atau malah mereka sengaja dipekerjakan oleh orang tua mereka sendiri demi mencukupi kebutuhan. Dan yang lebih teganya lagi, bahkan sampai ada anak-anak yang dengan segaja tega dijual oleh orang tua mereka sendiri! Transaksi jual-menjual ini sudah masuk ke dalam permasalahan dalam perdagangan anak. Terdapat banyak faktor, tentang apa yang menimbulkan permasalahan tentang perdagangan anak atau child trafficking ini. Salah satu faktor penyebab perdagangan anak adalah kemiskinan atau permasalahan ekonomi. Kemiskinan merupakan kondisi ketidakmampuan seseorang atau kelompok untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar atau pokoknya seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan dapat terjadi karena sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya tersebut. Apalagi semenjak terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997. Krisis ini memberikan dampak yang sangat besar bagi seluruh masyarakat. Perekonomian jadi semakin sulit, apalagi untuk mereka yang memang keadaan ekonominya sudah berada di bawah. Kalangan masyarakat tersebut yang biasanya memiliki anak yang banyak pun mengalami kesulitan, apalagi biaya yang harus ditanggung sangat besar untuk membesarkan banyak anak. Akhirnya, anak mereka terpaksa untuk membantu memanggul beratnya mencari nafkah, yang sebenarnya itu untuk mereka sendiri; untuk pendidikan mereka, dan lain-lain. Tetapi ada juga orangtua dari kalangan masyarakat yang kurang tersebut yang termakan rayuan dan iming-iming dari agen atau pelaku perdagangan anak. Rayuan mereka adalah anak mereka akan diberikan fasilitas yang baik, pekerjaan yang baik dengan gaji yang baik pula.  Padahal, mereka tidak tahu apa yang dilakukan para agen itu terhadap anak mereka.
            Faktor lain yang berhubungan dengan kemiskinan adalah mereka adalah dari keluarga yang terjerat oleh hutang. Penjeratan hutang terkadang dijadikan sebagai salah satu senjata untuk membuat orang menjadi penghambaan, sehingga kadang orangtua dari keluarga kurang mampu yang terbelit hutang akan memberikan jaminan berupa anaknya untuk bekerja, atau diperistri orang, dan hal lain yang dapat mereka lakukan agar dapat melunasi hutang-hutang tersebut. Selain hutang, kurangnya pendidikan dan informasi merupakan faktor besar lainnya dalam terjadinya child trafficking. Kekurangtahuannya masyarakat-masyarakat yang kurang mampu akan informasi mengenai perdaganan anak atau child trafficking ini membuat orang-orang seperti mereka menjadi mudah terjebak menjadi korban dalam perdagangan anak ini, khususnya pada masyarakat di pedesaan, yang kadang tanpa disadari oleh pelaku bahwa ini telah melanggar hukum. Terbatasnya kesempatan kerja dan ketidakjelasan akan pekerjaan juga salah satu faktornya. Terbatasnya kesempatan kerja ini akan membuat masyarakat yang kurang mampu akan menjadi pasrah dan rela melakukan pekerjaan apa saja demi mendapatkan uang. Mereka pun rela untuk melakukan dan dipekerjakan sebagai apa saja. Keluarga dengan keterbelakangan ekonomi biasanya anak mereka akan membantu untuk mencari nafkah misalnya dengan cara menjadi loper koran, jadi pedagang asongan, jasa semir sepatu, kuli, atau pengamen. Hal ini tentu saja yang membuat para oknum pelaku child trafficking untuk menargetkan anak sebagai korban.
            Peristiwa child trafficking dan human trafficking di Indonesia sedang mendapat sorotan yang cukup banyak akhir-akhir ini. Hal ini mendapatkan sorotan yang banyak terutama setelah Indonesia dan beberapa negara lain di kawasan Asia dinyatakan menempati urutan terburuk di dunia  dalam hal perdagangan anak dan perempuan Karena hal ini, sampai-sampai beberapa lembaga donor internasional pun telah memberikan pernyataan untuk menghentikan bantuannya bila Indonesia tidak segera memperbaiki hal perdagangan anak dan perempuan ini. Sudah ada beberapa langkah yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia, salah satunya adalah yang saat ini tengah sering dilakukan yaitu dengan melakukan kerjasama lintas sektor dengan Lembaga Swadaya Masyarakat atau LSM yang peduli terhadap masalah child trafficking dan human trafficking ini.
            Dari berbagai hasil penelitian, didapatkan bahwa dalam Hukum Internasional, perlindungan manusia terhadap praktek perdagangan sendiri telah dimulai sejak tahun 1904 melalui perjanjian Internasional untuk perdagangan budak kulit putih (International Agreement for the Suppression of White Slave Traffic). Selain perjanjian ini, LBB juga memiliki konvensi-konvensi produk yang lainnya seperti konvensi Penghapusan Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pelacuran oleh Pihak Lain (Convention of the Suppression of Traffic in Persons and the Exploitation of the Prostituation of Others) pada tahun 1949, lalu Protokol tentang Perdagangan Manusia (Protocol to Prevent Supression of and Punish Trafficking in Persons especially Women and Children), dan konvensi internasional yang paling utama dan paling komprehensif dalam melindungi hak-hak anak adalah tentang Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) pada tahun 1989.
            Sebagai anggota International Labour Organization atau yang disingkat ILO, Indonesia sebagai negara memiliki kewajiban untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang ada dalam konstitusi ILO dan konvensi-konvensi ILO yang telah diratifikasi, atau palint tidak berdasarkan Deklarasi ILO tahun 1998. Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu negara anggota ILO yang telah menerapkan program IPEC (International Programme on the Elimination of Child Labour)dan telah menandatangani MOU dengan IPEC, yang merupakan salah satu wujud komitmen Indonesia dalam menangani masalah pekerja anak ini.
            Salah satu undang-undang yang telah dibuat Indonesia, yaitu Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang dalamnya berisi tentang mengatur dengan jelas tentang hak anak untuk dilindungi dari segala bentuk eksploitasi dan perdagangan, serta sanksi pidana bagi pelanggaran terhadap hak tersebut. Secara aturan legal, terdapat banyak sekali jaminan perlindungan bagi anak dari perdagangan. Selain dalam Konvensi Hak Anak (CRC) yang telah diratifikasi Indoneesia, terdapat 4 instrumen internasional lain (selain yang sudah saya sebutkan di atas) yang mengatur tentang child trafficking atau perdagangan anak ini, yaitu adalah UU Kesejahteraan Anak, UU Hak Asasi Manusia, UU Perlindungan Anak, dan UU Hukum Pidana. Tetapi, masalah dan hambatan yang dihadapi untuk dapat menangani child trafficking ini bukan cuma budaya hukum kita yang sangat tidak mendukung, tapi karena sistem sosial dan sistem kultur atau budaya kita yang masih sangat diskriminatif terhadap anak.

SOLUSI
            Perdagangan anak atau child trafficking bukanlah suatu masalah kemanusiaan yang mudah untuk diselesaikan dan dibereskan. Kengerian peristiwa perdagangan anak ini harus segera dihentikan, karena tentu saja telah melanggar Hak Asasi Manusia. Tetapi bukan hanya tugas Pemerintah negara untuk menyelesaikan masalah ini, tapi juga dimulai dari kita sendiri.
            Apa yang dapat kita lakukan? Pertama, yang kita dapat lakukan adaalh yang dimulai dari diri kita sendiri, yaitu dengan cara berperan aktif dalam mencegah. Berperan aktif di sini bisa dilakukan dengan cara melaporkan kasus yang misalnya kita ketahui kepada pihak yang berwajib. Lalu, kita bisa memberi tahu kepada keluarga, sepupu, atau anak muda lain yang suka beraktivitas dalam situs jejaring sosial (social network) untuk makin berhati-hati dalam berteman. Membangun sebuah kampanye juga dapat juga merupakan salah satu solusi yang melibatkan penyebaran informasi secara gencar, sehingga banyak orang yang semakin tahu tentang masalah ini dan semakin banyak orang yang aware terhadap masalah ini. Lalu, memberikan sebuah pengetahuan dalam bentuk penyuluhan atau sosialisasi tentang masalah ini terhadap masyarakat.
Sama seperti kampanye, dengan penyuluhan masyarakat jadi tahu betapa bahayanya masalah ini dan bagaimana cara mengatasi solusinya. Tidak cuma kalangan atas, tapi masyarakat yang kurang mampu juga harus diberikan pendidikan ini karena child trafficking banyak terjadi pada masyarakat yang memiliki pendidikan rendah seperti ini. Selain itu,  undang-undang dalam konvensi Internasional yang telah dibuat oleh lembaga-lembaga Internasional tentang hak asasi dan perdagangan anak harus ditaati. Semua warga negara bahkan seluruh warga dunia harus saling mengingatkan tentang hal ini. Negara sendiri, sebaiknya pemerintah membuat ketegasan lebih tegas lagi tentang undang-undang perlindungan anak.
            Segala langkah kecil yang kita ambil, bila kita dapat mensosialisasi kepada orang banyak, pastinya akan menjadi sebuah langkah yang sangat besar. Karena kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Maka dari itu, mari kita bersama-sama menumpas masalah kemanusiaan berupa child trafficking ini.

sumber:
http://www.researchgate.net/ 
http://female.kompas.com/
http://rumahkita2010.wordpress.com/
http://www.hukumonline.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar