Rabu, 19 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Mencari Solusi untuk Diskriminasi

Walau pengetahuan manusia sudah berkembang, dan kehidupan pun sudah lebih maju, tetap saja masih ada masalah-masalah yang masih menganggu ketentraman kehidupan. Tidak sedikit jumlah masalah-masalah tersebut, namun pada kesempatan kali ini, saya hanya akan membahas satu dari banyak masalah yang ada, yaitu; diskriminasi.

Memang sudah sifat asli manusia untuk membeda-bedakan, dan mengkategorikan. Namun sifat ini lama-kelamaan berubah menjadi diskriminasi, yaitu dimana ada perlakuan yang tidak adil terhadap individu tertentu dikarenakan karakteristik yang berbeda.

Ada banyak bentuk diskriminasi dalam kehidupan, contohnya diskriminasi ras, diskriminasi jenis kelamin, diskriminasi agama dan diskriminasi orientasi seksual.

Diskriminasi Terhadap Pengidap Penyakit Mental
Dalam masyarakat, masih banyak terjadi diskriminasi terhadap orang-orang yang memiliki kelainan mental ataupun sakit secara mental dan memiliki gangguan jiwa. Masyarakat cenderung menganggap orang yang memiliki gangguan jiwa sebagai sampah masyarakat. Mereka tidak melayani orang-orang tersebut dengan benar, dan lebih memilih untuk menghindar.

Ada juga anggapan bahwa orang yang memiliki gangguan jiwa adalah aib bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Masyarakat akan dengan mudahnya mencemooh dan bahkan mengucilkan orang yang sakit secara mental tersebut, serta keluarganya. Tidak jarang pasien rumah sakit jiwa yang sudah dianggap sembuh oleh dokter tetap dikucilkan oleh masyarakat karena dianggap sudah mengganggu ketertiban umum.

Dalam masyarakat primitif, masih ada anggapan bahwa kegilaan disebabkan oleh roh jahat. Orang hanya akan menjadi gila apabila terkutuk, atau telah melakukan dosa besar dan dihukum. Kepercayaan ini menghambat orang yang sakit untuk mendapat pengobatan karena tidak ada yang mau mendekati orang tersebut.

Selain mengucilkan dan mencemooh orang yang memiliki gangguan jiwa, tidak jarang masyarakat melakukan tidakan drastis seperti membuang orang gila tersebut ke daerah lain agar kegilaannya tidak menular. Mereka mengaggap bahwa keberadaan orang gila tersebut mengganggu ketenangan dan ketentraman tempat tinggal mereka. Anak-anak pun juga sering berperan dalam diskriminasi terhadap orang gila, yaitu dengan melempari orang gila tersebut dengan batu, dan mengejek-ngejeknya. Ada juga beberapa kasus dimana masyarakat meminta pemerintah untuk mengambil tindakan, dan pemerintah segera menyingkirkan orang-orang yang memiliki gangguan jiwa di daerah tersebut secara tidak manusiawi.

Tanpa menyadarinya, kita pun juga sering mendiskriminasi orang-orang yang memiliki gangguan jiwa dengan menggunakan kata ‘orang gila’ sebagai ejekan.

Solusi untuk masalah ini tidaklah mudah, namun masih mungkin untuk diperjuangkan. Contoh-contoh kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi diskriminasi terhadap orang-orang yang mengalami gangguan jiwa adalah sebagai berikut;

  •  Keluarga dan teman-teman kerabat yang dekat dengan orang sakit jiwa yang bersangkutan terus menemani dan mendukung selama masa sakitnya. Sang orang sakit tidak dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa, ataupun institusi rehabilitasi lainnya dan tidak dijenguk. Harus ada dukungan dan kasih sayang untuk orang yang sakit agar cepat sembuh.   
  •  Dokter dan tenaga kerja kesehatan lainnya harus memberi contoh kepada masyarakat bahwa penyakit mental dapat disembuhkan, dan bahwa selama ini telah ada kesalahpahaman terhadap orang yang sakit jiwa.
  •  Pemerintah dan perusahaan suasta perlu memberi kesempatan kerja yang layak kepada orang-orang yang memiliki gangguan jiwa ataupun yang sudah sembuh, namun sesuai dengan kemampuan mereka.

Sebenarnya penyakit gangguan jiwa tidak terlalu berbeda dengan penyakit fisik. Dapat dikatakan bahwa penderita penyakit jiwa lebih menderita dibandingkan penderita penyakit fisik, karena mereka dikucilkan dan tidak banyak orang yang mau membantu mereka. Maka dari itu, diskriminasi terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa harus dihapuskan, karena mereka pun tetap manusia yang memiliki hak untuk direspek.

Diskriminasi Terhadap GLBT

GLBT adalah akronim untuk Gay, Lesbian, Biseksual dan Transeksual. Sampai pada hari ini, masih banyak terjadi diskriminasi terhadap kaum GLBT di seluruh dunia.  Hal ini menunjukan bahwa masih banyak yang belum menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.

Di Indonesia sendiri sudah banyak terjadi kasus-kasus diskriminasi terhadap kaum GLBT, salah satu contohnya adalah kasus pembunuhan seorang waria bernama Elly. Peristiwa ini terjadi di Taman Lawang, Jakarta, pada tahun 2007. Saat razia oleh Satpol PP berlangsung, ada saksi yang berkata bahwa salah satu teman waria-nya yang bernama Elly diceburkan ke Kali Banjir oleh petugas. Ada juga contoh diskriminasi terhadap kaum GLBT di Indonesia lainnya, yaitu pada peristiwa penembakan waria di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat.

Diskriminasi terhadap kaum GLBT juga seringkali diatasnamakan oleh moral. Tidak lepas dari agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah melakukan diskriminasi dengan mendukung langkah Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya untuk tidak mengizinkan Kongres ILGA (International Gay, Lesbian Association) di Surabaya. Tidak hanya MUI, Forum Umat Islam (FUI) pun ikut menolak, dan turun ke lapangan untuk sekaligus menyerbu tempat peserta menginap.

Di Aceh sangat sering terjadi diskriminasi, salah satu contohnya adalah peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian Banda Aceh terhadap pasangan gay pada tahun 2007. Terlebih lagi, di Aceh ada kebijakan hukum cambuk 100 kali bagi kaum gay dan lesbian yang jelas-jelas adalah bentuk diskriminasi.

Menteri Keadilan Indonesia pun pernah mengusulkan untuk mengkriminalisasikan homoseksual di seluruh Indonesia pada tahun 2003, akan tetapi gagal. Ini menunjukan bahwa pemerintah Indonesia pun melakukan diskriminasi terhadap kaum GLBT dan sudah merencanakan untuk mendiskriminasi mereka secara hukum.

Tidak usah jauh-jauh, di sekolah pun masih sering terjadi diskriminasi. Mengejek-ejek siswa ataupun siswi yang sudah terbuka dengan orientasi seksualnya. Seringkali terjadi bullying terhadap siswa-siswi tersebut. Bahkan banyak yang merahasiakan orientasi seksualnya karena takut di­-bully di sekolah.

Agama juga sering dijadikan sebagai dasar atas perlakukan dan tindakan-tidakan diskriminasi terhadap kaum GLBT. Dalam agama Islam, dijelaskan bahwa GLBT adalah perbuatan yang dosa dan haram, namun itu bukanlah sebuah alasan untuk mendiskriminasi kaum GLBT, karena agama adalah sebuah pilihan dan bisa jadi mereka tidak beragama Islam.

Adapun mereka beragama Islam, bukan berarti penganut Islam lainnya dapat mendiskriminasi mereka. Dosa adalah urusan hambanya dengan Allah, bukan urusan orang lain. Karena itu penganut agama Islam lainnya tidak memiliki hak untuk mendiskriminasi.

Pada zaman nabi, orang-orang yang ditemukan melakukan hubungan sesama jenis dibunuh secara kejam. Dengan cara dipenggal, dibakar, dilempar dari ketinggian, dan dilempari batu sampai mati. Perlakukan ini sangatlah tidak manusiawi dan merupakan diskriminasi yang sangat berat.

Hukuman-hukuman berat yang mengambil nyawa seperti yang telah disebutkan diatas pantas untuk dijatuhkan kepada orang-orang yang telah merugikan negara atau melakukan suatu tindakan yang merugikan umat manusia. Sedangkan kaum GLBT tidak merugikan siapapun, mereka bertindak atas pilihan mereka sendiri, dan pilihan mereka tidak merugikan negara maupun umat manusia.

Dalam agama Kristen juga terdapat diskriminasi terhadap kaum GLBT. Alasan mereka adalah karena dalam Alkitab tertulis bahwa hubungan antar sesama jenis tidak diperbolehkan. Namun sama seperti agama Islam, tidak semua pelaku hubungan sesama jenis adalah penganut agama Kristen. Adapun mereka beragama Kristen, sebagai manusia, mereka tetap memiliki hak untuk memilih pasangan, mau itu sesama jenis ataupun tidak.

Agama tidak mengajarkan penganutnya untuk membunuh dan mendiskriminasi orang-orang yang tidak menganut agamanya. Agama juga tidak mengajarkan penganutnya untuk mendiskriminasi ataupun membunuh orang-orang yang termasuk kaum GLBT. Memang di Alkitab dan di Quran tertulis bahwa hal itu haram dan tidak boleh dilakukan, namun melakukan tindakan diskriminasi terhadap kaum GLBT atas nama agama hanya akan merusak citra baik agama tersebut.

Kaum Gay, Lesbian, Biseksual dan Transeksual adalah manusia, sama seperti kaum heteroseksual lainnya. Mereka memiliki hak asasi manusia, sama seperti kaum heteroseksual. Membeda-bedakan mereka hanya karena perbedaan dalam orientasi seksual adalah diskriminasi.

Solusi untuk masalah diskriminasi ini ada banyak, namun keberhasilannya tergantung oleh kemauan dan keberanian orang-orang yang memperjuangkannya, serta keterbukaan pikiran kaum heteroseksual.

Telah diresmikan Hari Melawan Kebencian pada Homophobia, atau dikenal dengan International Day Against Homophobia (IDAHO) yang diperingati setiap tanggal 17 Mei. Namun hari ini tidak bisa membasmi diskriminasi secara efektif karena masih banyak orang yang bertentangan dengan diperingatinya hari ini, khususnya di Indonesia.
Di Indonesia, sudah ada dua organisasi besar yang aktif dalam melindungi hak-hak kaum GLBT, yaitu Gerakan Nusantara dan Arus Pelangi. Adanya organisasi-organisasi seperti ini menunjukan bahwa sudah mulai ada kemauan dari dalam Indonesia untuk menghilangkan diskriminasi terhadap GLBT.

Pemerintah juga seharusnya lebih memperhatikan tindakan-tindakan diskriminasi terhadap GLBT, karena Indonesia (kecuali wilayah Aceh) bukanlah negara yang anti GLBT. Diskriminasi oleh pihak kepolisian, MUI ataupun FUI, dan lembaga-lembaga agama lainnya  seharusnya ditindak dengan serius karena telah melanggar HAM.

Solusi yang dapat saya pikirkan untuk masalah diskriminasi ini adalah untuk menjadi orang yang lebih terbuka. Kaum GLBT juga manusia, dan mereka memiliki hak perlindungan yang sama dengan kita. Tidak ada yang membedakan mereka dengan kita selain dari orientasi seksual, dan hal itupun tidak merugikan negara maupun umat manusia.

Anggapan bahwa GLBT adalah aib dan gangguan jiwa harus dihapuskan dan dibenarkan. Dalam Buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa, Edisi II, Departeme Kesehatan Republik Indonesia, tahun 1983 (PPDGJII) dan (PPDGJ III) 1993 pada point F66 menyebutkan bahwa orientasi seksual jangan dianggap sebagai suatu gangguan.

Anggapan bahwa penyakit AIDS dan HIV selalu dapat ditemukan di orang-orang GLBT juga harus dihapuskan. Penyakit AIDS disebabkan oleh virus HIV yang dapat menular kepada siapa saja yang melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Tidak benar untuk mendiskriminasi orang-orang homoseksual karena dianggap berpenyakit AIDS. Hal itu belum tentu.

Semua usaha dalam mengapuskan diskriminasi tidak akan dapat berhasil apabila kita tidak mau membuka wawasan dan pandangan. Jangan bertindak semena-mena terhadap orang-orang yang berbeda dengan mengatasnamakan agama. Maka dari itu, jadilah orang yang terbuka dan yang memperlakukan semua manusia dengan adil, tidak memandang ras, etnis, agama, orientasi seksual ataupun kesehatan mental.

Source:
http://mantrinews.blogspot.com/2012/06/upaya-merubah-anggapan-yang-salah.html
http://lembagabhinneka.org/2010/05/mempertanyakan-kembali-moral-dn-homoseksualitas/
http://www.gayanusantara.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar