Minggu, 23 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Mengatasi Berbagai Masalah di Indonesia dengan Pendidikan

Indonesia, sebuah negara yang indah, sebuah negara yang kaya raya akan sumber daya alam, negara yang seharusnya berisikan orang-orang yang sukses dan kaya raya seperti negaranya. Namun, pada kenyataannya, masyarakat Indonesia masih belum mampu memanfaatkan segala yang mereka miliki untuk menjadikan Indonesia sebuah negara yang maju.

Di jalanan, pengemis bertebaran dimana-mana. Seharian mereka tak henti-hentinya memasang wajah yang memelas, mengharapkan orang akan merasa iba karena melihat keadaan mereka yang seperti itu. Orang-orang yang menganggur juga sering terlihat asyik sendiri di pinggiran jalan, entah apa yang mereka lakukan.

Sementara itu, para pemuda yang seharusnya bisa mengubah negara menjadi lebih baik malah sangat antusias dalam mengadakan tawuran dengan pemuda-pemuda lainnya. Padahal sebenarnya ada jutaan hal yang lebih baik yang dapat mereka lakukan, hal yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kalau saja orang-orang tersebut melakukan hal tersebut, pasti Indonesia tidak akan menjadi terpuruk seperti ini.

Hal itu disebabkan akan kurangnya kesadaran bahwa merekalah yang harus membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Tentu saja yang menyebabkan ini adalah rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia ini—orang-orang yang berpendidikan pastinya akan mengerti bahwa Indonesia tidak akan bergerak dengan sendirinya, namun merekalah yang harus menggerakkannya.

Bagi sebagian golongan masyarakat, pendidikan yang baik dan berkualitas membutuhkan biaya yang banyak, sementara biaya yang banyak itu tidaklah mudah untuk didapatkan. Bahkan, bagi beberapa orang dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah, mendapatkan pendidikan yang tidak terlalu berkualitas sudah menjadi hal yang sulit untuk dicapai.

Memang, tingkat kemiskinan di Indonesia masih tergolong tinggi, dan hal ini sangat berpengaruh pada pendidikan. Untuk mendapatkan kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal saja tidaklah mudah, tentu saja pendidikan tidak menjadi prioritas utama bagi mereka.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup, dibutuhkan suatu pekerjaan yang layak. Dan tentu, pekerjaan yang layak tidak bisa didapat oleh sembarang orang—hanya orang-orang yang telah berjuang dalam menempuh pendidikan sajalah yang bisa mendapat pekerjaan yang layak.

Kalau kedua masalah ini saling dihubungkan satu sama lain, sebenarnya masalah ini tidak memiliki ujung dan akan terjadi terus-menerus selama perubahan tidak terjadi. Lalu bagaimana caranya supaya kemiskinan bisa dihapuskan dan memajukan Indonesia ini?

Menurut saya, yang harus ditingkatkan di Indonesia ini adalah pendidikannya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas, contohnya. Anak-anak yang hidup di daerah pedalaman harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk mencapai sekolah. Kalau saja ada sekolah yang lebih dekat dari rumah mereka, tentu saja mereka tidak harus menempuh perjalanan berat itu untuk ke sekolah.

Kualitas pendidikan ini mencakup banyak hal. Pertama, dari segi tempat dimana proses mendidik ini dilaksanakan. Masalah yang sekarang sering terdengar adalah buruknya fasilitas beberapa sekolah negeri dimana sekolah dalam kondisi yang sangat buruk seakan mau rubuh. Hal ini dikarenakan karena tidak adanya perawatan yang serius terhadap bangunan tersebut, padahal kondisi sekolah yang seperti itu sangat membahayakan murid yang menimba ilmu di dalamnya. Dan kalau dipikirkan secara baik-baik, pantaskah tempat yang seperti itu digunakan untuk belajar? Menimba ilmu adalah suatu pekerjaan yang mulia, lalu mengapa pemerintah seperti tidak peduli kepada sekolah-sekolah tersebut? Tidakkah mereka peduli kepada nasib anak-anak yang bersekolah di dalamnya? Padahal anak-anak tersebutlah yang nantinya akan mengambil alih negara ini.

Selain bangunan, yang harus ditingkatkan adalah kualitas dari pendidikan itu sendiri. Bila dibandingkan dengan pendidikan yang ada di negara-negara maju, tentu pendidikan di Indonesia jauh berbeda dengan pendidikan di sana. Kebanyakan sekolah di luar negeri lebih mengarahkan pelajaran terhadap minat dan bakat yang dimiliki oleh murid, sehingga murid dapat mengasah kemampuannya untuk menggapai cita-citanya sejak dini.

Sementara di Indonesia, semua pelajaran dipelajari, dan pada SMA hanya dipecah menjadi dua pilihan, yaitu IPA dan IPS, walau terkadang ada jurusan lain, yaitu bahasa. Pembagian baru benar-benar dilakukan ketika masa kuliah. Maka dari itu banyak bakat yang sudah ada dari masa kecil yang terbuang sia-sia begitu saja karena fokus ada pada pelajaran yang harus dikejar di sekolah, sehingga bakat menjadi tidak terasah.

Pendidikan yang seperti ini, saya rasa, tidak begitu efektif. Walaupun pendidikan yang bersifat akademis memang lebih penting dibandingkan dengan pendidikan yang bersifat non-akademis, tidak seharusnya pendidikan non-akademis ditinggalkan begitu saja. Indonesia membutuhkan lebih dari sekedar orang-orang yang pintar dalam hal akademis.

Namun, ada hal yang lebih penting yang harus ditanamkan pada pelajar-pelajar di Indonesia—sebuah pendidikan yang seringkali dianggap sesuatu yang tidak penting, walaupun sebenarnya berpengaruh besar, yaitu pendidikan moral. Pendidikan moral sangat terlupakan di Indonesia, sehingga nilai-nilai tidak tertanam dengan baik pada jiwa anak-anak di Indonesia. Saya pikir hal ini penting dalam rangka memajukan Indonesia tidak hanya dari segi pendidikan, namun dari moralnya. Lagipula, kalau misalkan pendidikan di Indonesia sudah baik namun masyarakat Indonesia masih belum memiliki sikap yang baik, negara ini juga tidak akan berkembang ke arah yang baik.

Untuk contoh, sebenarnya tidak perlu mengarah ke hal yang jauh terlebih dahulu. Kebiasaan buruk yang tertanam pada diri masyarakat Indonesia dari ujung Sumatera ke ujung Papua adalah hal yang biasa kita lihat sehari-hari—contohnya adalah kebiasaan seperti membuang sampah sembarangan. Negara Indonesia adalah negara indah yang kotor, karena orang-orang dapat dengan mudahnya membuang sampah sembarangan tanpa merasa bersalah sama sekali, mulai dari ‘membuang sampah sembarangan tingkat rendah’, contohnya adalah bungkus bekas makanan yang dibuang begitu saja setelah makanan tersebut selesai dimakan, atau pun ‘membuang sampah sembarangan tingkat tinggi’, seperti sampah-sampah dari sebuah rumah dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah plastik, dan kemudian plastik tersebut dibuang begitu saja di sebuah areal yang kosong (dan sebenarnya sampah-sampah lain juga sudah bertebaran disana). Bukan sesuatu yang menjadi kejutan ketika hujan turun dan tak lama setelah itu terjadi banjir, terutama di daerah Jakarta yang padat dengan penduduk. Sebenarnya ini bukan salah siapa-siapa melainkan penduduk kota Jakarta sendiri.

Padahal, seringkali kita lihat tempat sampah di pinggiran jalan. Sebenarnya, membuang sampah pada tempatnya bukanlah hal yang sulit dilakukan. Hanya saja, membuang sampah sembarangan sudah menjadi sebuah kebiasaan yang turun temurun bagi masyarakat Indonesia.

Yang kedua, orang-orang Indonesia kebanyakan tidak sabaran dan lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan orang lain, menyelip dalam antrian adalah salah satu dari contohnya. Orang-orang yang sudah mengantri sebelumnya diserobot begitu saja. Begitu juga dengan berdesak-desakan yang terjadi di berbagai macam situasi, misalkan ketika akan keluar dari sebuah tempat dimana hanya ada satu pintu. Yang menjadi permasalahan dari berdesak-desakan ini adalah jatuhnya korban—bahkan hingga ada korban tewas—karena desakan tersebut.

Kemudian, melaksanakan sesuatu tepat pada jadwalnya adalah hal yang sangat langka di Indonesia ini. Acara yang dimulai setengah sampai satu jam lebih lama dari waktu yang telah ditentukan adalah hal yang hampir selalu terjadi. Jam karet, istilahnya.

Sebenarnya, masih ada banyak contoh-contoh lain yang sangat terlihat nyata di kehidupan sehari-hari, dan inilah masalah-masalah serius yang membuat Indonesia tidak maju-maju. Setinggi apapun tingkat intelegensi orang, jika memiliki sifat yang seperti ini, tentu tidak akan berpengaruh untuk memajukan Indonesia ini. Dan untuk mengubah hal ini, tentu saja harus dimulai dari diri kita sendiri.

Selain masalah moral, mental orang-orang Indonesia masih belum bisa diandalkan. Yang saya maksud adalah, jika mental orang Indonesia tetap saja begini, Indonesia juga tidak akan mengalami perubahan positif. Indonesia masih dicap sebagai negara yang kurang kreatif, kurang inovatif, dan terlalu santai.

Semua hal tersebut sebenarnya bisa diatasi untuk kedepannya. Akan menjadi lebih baik jika hal-hal yang sepertinya sepele ini dibiasakan pada anak-anak yang sekarang masih berada di jenjang sekolah dasar atau yang lebih rendah. Anak-anak tersebut harus diajarkan kebiasaan-kebiasaan baik supaya kebiasaan buruk yang tadi sudah saya sebutkan tidak terus turun ke generasi yang akan datang. Saya melihat hal ini memang diajarkan di beberapa sekolah, namun hanya sekedar diajarkan. Setiap sekolah tentu saja mengajarkan kalau kita harus membuang sampah pada tempatnya, harus mengantri, dan harus tepat waktu. Namus, tidak ada pengaplikasian terhadap hal positif itu. Yang menurut saya menyebabkan ajaran tersebut tidak memberikan dampak kepada anak adalah keluarga.

Keluarga, sebagai media sosialisasi primer, seharusnya dapat mengajarkan nilai-nilai tersebut. Ketika keluarga tidak memberikan contoh yang baik kepada anak, maka anak akan mengikuti contoh yang tidak baik itu. Hal ini terbukti dengan jelas karena yang melakukan tindakan yang kurang beretika tersebut kebanyakan orang dewasa, bukan anak-anak. Anak-anak memandang orang dewasa sebagai contoh, maka dari itu hal tersebut terus menurun tanpa ada henti.

Membiasakan diri untuk melakukan tindakan yang baik bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun, bila sudah ada tekad yang kuat untuk berubah, melakukan tindakan baikpun akan menjadi sebuah kebiasaan yang nantinya akan terus turun ke generasi yang berikutnya.

Pengasahan mental juga sangat dibutuhkan supaya Indonesia dapat menjadi negara yang lebih mandiri. Pola pikir orang-orang Indonesia harus diubah agar bisa memanfaatkan segala yang ada di negara ini, supaya sumber daya alam di negara ini termanfaatkan semaksimal mungkin, dan tidak terus-menerus dicuri oleh negara lain (sementara rakyat Indonesia setuju-setuju saja kekayaannya dimanfaatkan 'selama menguntungkan').

Jadi menurut saya, solusi untuk semua masalah ini adalah, pemerintah tidak perlu mengharuskan para pelajar untuk mempelajari banyak hal, tapi harus mengajarkan perilaku dan di sekolah. Mental orang-orang Indonesia yang begini juga perlu diasah di sekolah. Perlu disadari bahwa yang membuat negara ini maju bukan hanya tingginya tingkat pendidikan, tapi juga baiknya perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membaiknya moral, perilaku dan mental kita semua, Indonesia akan menjadi sebuah negara yang maju, dan berbagai macam masalah, mulai dari masalah alam sampai masalah kemanusiaan seperti kemiskinan dapat dihapuskan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar