Sabtu, 22 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Hitam = Putih

"But, if you're thinkin' about my Baby, it don't matter if you're black or white."
Michael Jackson

            Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.
Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antarras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe).
Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosidaPolitisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.
Kasus rasisme terjadi hampir di seluruh belahan bumi.  Mulai dari Afrika, Amerika, Eropa, Asia, hingga Australia.  Kasus-kasus rasisme yang sudah menjadi rahasia umum contohnya seperti Politik Apartheid yang di terapkan di Afrika Selatan, perbedaan perlakuan antara orang kulit putih & orang kulit hitam di Amerika Serikat, hingga yang masih segar dalam ingatan yaitu kasus rasisme para pemain sepak bola di Eropa.

1.       Rasisme di Afrika
Nelson Mandela
Hukum apartheid dicanangkan pertama kali di Afrika Selatan, yang pada tahun 1930-an dikuasai oleh dua bangsa kulit putih, koloni Inggris di Cape Town dan Namibia dan para Afrikaner Boer(Petani Afrikaner) yang mencari emas/keberuntungan di tanah kosong Arika Selatan bagian timur atau disebut Transvaal (sekarang kota Pretoria dan Johannesburg).
Setelah Perang Boer selesai, penemuan emas terjadi di beberapa daerah di Afrika Selatan, para penambang ini tiba-tiba menjadi sangat kaya, dan kemudian sepakat untuk mengakhiri perang di antara mereka, dan membentuk Persatuan Afrika Selatan.
Perdana Menteri Hendrik Verwoerd pada tahun 1950-an mulai mencanangkan sistem pemisahan di antara bangsa berkulit hitam, dan bangsa berkulit putih, yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1913 yaitu "Land Act" dimana para bangsa kulit hitam tidak boleh memiliki tanah semeter pun di luar batas "Homeland" mereka, yang sangat kotor dan tidak terawat. Dari banyak sekaliHomeland (bahasa Afrikaans: Tuisland) yang dibentuk/ dipisahkan dari Afrika Selatan yang "putih". Empat menyatakan kemerdekaannya; yaitu negara yang dikelompokkan menjadi TBVC (Transkei, Bophutatswana, Venda, dan Ciskei) dari suku bahasanya.
Frederik Willem de Klerk adalah orang yang mengakhiri masa suram ini dengan pidato-pidatonya yang reformatif. Negara Republik Afrika Selatan setelahnya ini akan berdiri dengan pimpinan demokratis Nelson Mandela yang mempunyai nama alias "Rolitlatla" (Pengambil Ranting/pencari gara-gara)

2.       Rasisme di Amerika
Rasisme di Amerika Serikat telah menjadi isu utama sejak zaman kolonial dan zaman budak. Beban berat dari rasisme di negara ini telah menimpa penduduk asli Amerika , Afrika Amerika, Asia Amerika, Meksiko Amerika ,Yahudi Amerika ,Irlandia Amerika ,dan beberapa lainnya kelompok imigran dan keturunan mereka.
Mungkin yang lebih menonjol dan bentuk yang paling penting dari rasisme Amerika (selain imperialisme terhadap penduduk asli Amerika) dimulai dengan lembaga perbudakan, di mana Afrika diperbudak dan diperlakukan sebagai properti. Sebelum lembaga perbudakan, imigran Afrika dan non-putih dini kepada Koloni telah dipandang dengan status yang sama, menjabat sebagai petani bagi hasil bersama kulit putih. Setelah lembaga perbudakan status Afrika adalah stigma, dan stigma ini adalah dasar untuk lebih ganas - Afrika anti rasisme yang berlangsung sampai kepada akhir abad 20.
Dari tahun 1981 sampai 1997, Amerika Serikat Departemen Pertanian didiskriminasi puluhan ribu petani African American, menyangkal kredit yang diberikan kepada petani putih di kondisi yang sama. Diskriminasi itu subjek Pigford ay Glickman gugatan yang dibawa oleh anggota Asosiasi Petani Hitam Nasional , yang mengakibatkan dua perjanjian penyelesaian 1250000000 $ pada tahun 1999 dan 1150000000 $ pada tahun 2009.
Salah satu tokoh yang berperan penting adalah Martin Luther King Jr. King adalah seorang pendeta di Gereja Baptis Montgomery, Alabama yang berjuang melawan diskriminasi rasial. Pada tahun 1963, King memimpin demonstrasi pemboikotan bus di Birmingham. Pemboikotan itu dilakukannya tanpa menggunakan kekerasan. Ia mengikuti prinsip-prinsip Mahatma Gandhi yang melakukan perlawanan dengan menghindari kekerasan. Untuk beberapa tahun, ia membuat kesuksesan besar, tetapi secara berangsur-angsur orang-orang kulit hitam muda menjauhinya karena mereka tidak dapat menerima antikekerasannya. Sebaliknya, King tidak pernah berhenti dan meluaskan programnya.


"I have a dream that one day little black boys and girls will be holding hands with little white boys and girls." 

3.       Rasisme di Australia
Sebagai negara jajahan, Australia mempunyai sejarah yang diwarisi oleh rasisme yang sangat kental, baik terhadap bangsa Aborigin atau kepada imigran (kaum pendatang) ke Australia. Populasi mayoritas di Australia berlatar belakang Anglo-celtic (Inggris atau Irlandia). Mayoritas yang menjadi korban rasisme di Australia adalah masyarakat Aborigin, Asia, Arab dan Yahudi.
Wajah Australia secara umum terkesan santai, meskipun di dalamnya masih saja menyimpan persoalan-persoalan ekonomi, politik dan rasisme. Sekarang ini pemerintah yang berkuasa adalah Partai liberal kanan konservativ yang “membeo” habis Amerika dan sangat neolib juga phobi terhadap “Non Putih”, terutama sejak isu anti terorisme diangkat-angkat. Bahkan dengan isu anti terorisme ini, persoalan rasisme acapkali muncul. Kaum hitam masih menjadi warga kelas dua. Meskipun para penguasa negeri-negeri itu menolak mengakui masih ada persoalan Rasisme. Tetapi Rasisme nyatanya selalu terjadi, di mana ada ketidak adilan berlangsung.

4.       Rasisme di Asia
Belakangan ini beredar sebuah video buatan warga Korea Selatan yang mengandung unsur rasisme. Video ini dibuat dengan unsur kesengajaan. Ada dua orang turis yang sedang berada tepat di depan Stasiun Kereta (MRT) Kangnam, Seoul meminta kepada warga Korea untuk menunjukkan arah dimana Coex Mall berada. Dua turis tersebut yaitu Lee (tidak disebutkan berasal dari negara mana, kemungkinan dari Amerika) dan Gunawan (dari Asia Tenggara).

Dengan beredarnya video tersebut, masyarakat mengambil kesimpulan bahwa Korea masih mengenal rasis. Dalam pikiran mereka menganggap bahwa orang asal Asia Tenggara berada di bawah level orang Korea sehingga mereka tidak mau membantu. Dan ini memang benar apa yang terjadi di sana. Orang Asia Tenggara menurut mereka itu bodoh, pendek-pendek dan levelnya jauh dari orang-orang Korea.
Lain halnya dengan tanggapan kepada Lee. Dia dengan mudah mendapat petunjuk. Ini karena orang Korea menanggap Lee berderajat sama atau lebih baik dengan penduduk Korea.
Begitulah pandangan penduduk Korea terhadap orang Asia Tenggara, rasisme di Korea masih sangat pekat. Sempat emosi juga setelah melihat video tersebut. Makanya mulai sekarang cintailah produk dalam negeri. Jangan pernah menggunakan produk-produk dari Korea. Baik itu komputer, barang elektronik, handphone bahkan serial tv nya.

5.       Rasisme di Eropa
Patrice Evra
Isu rasisme di Eropa yang sekarang sedang menjadi perbincangan dunia adalah dalam dunia sepak bola.
Rasisme menjadi "masalah signifikan" dalam sepakbola Inggris meski sudah ada sejumlah kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, menurut laporan komite parlemen Inggris.
Pemerintah Inggris juga mengatakan bahwa homofobia kini menjadi salah satu bentuk diskriminasi terbanyak.
Laporan itu adalah reaksi atas "kekhawatiran panjang" menyusul kasus yang melibatkan Patrice Evra-Luis Suarez dan John Terry.
Anggota Parlemen John Whittingdale yang mengepalai penyelidikan itu mengatakan, "Insiden-insiden pelecehan rasisme di Inggris menegaskan adanya masalah yang signifikan."
Desember lalu, Suarez dari Liverpool dikenakan larangan delapan kali bertanding dan denda £40.000 (Rp618 juta) oleh Asosiasi Sepakbola Inggris setelah dinyatakan bersalah karena melakukan pelecehan rasisme terhadap Evra.
Di luar Inggris, pada ajang Piala Eropa 2012, Federasi Sepakbola Kroasia didenda 80.000 euro (Rp993 juta) setelah para pendukung Kroasia meneriakkan ejekan-ejekan bernada rasis pada penyerang Mario Balotelli.
Laporan komite Budaya, Media dan Olahraga mengatakan bahwa perilaku dan atmosfer di berbagai pertandingan sepakbola telah "sangat berubah" sejak 1970 dan 80an "ketika rasisme dan bentuk-bentuk pelecehan lainnya adalah hal yang biasa."
John Terry
Laporan itu juga memasukan sejumlah inisiatif dan amal seperti Show Racism Red Card (Tunjukkan Kartu Merah pada Rasisme) untuk mengurangi tindakan semacam itu di jalan raya, di lapangan dan online, tetapi masih banyak hal yang harus dilakukan.
"Ketika tingkat kemajuan dalam mengurangi pelecehan rasisme di Inggris menunjukkan hasil positif, masih ada banyak hal yang harus dan bisa dilakukan," kata Whittingdale.
"Kami yakin bahwa ini adalah tanggung jawab FA untuk memimpin dan memberikan contoh untuk semua orang, dari otoritas sepakbola di semua tingkat hingga kelompok akar rumput."
Dalam pernyataan bersama, FA, Liga Primer dan Liga Sepakbola mengakui pentingnya membahas diskriminasi dalam sepakbola.


­SOLUSI 
         Rasisme jelas adalah hal yang sangat tidak baik.  Ketika seseorang dengan warna kulit tertentu merasa lebih baik dari orang lain dengan warna kulit yang lain juga.  Karena pada hakikatnya, tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan adalah sama.  Manusia yang hidup di dunia harus bisa menerima perbedaan.  Karena perbedaan itulah dapat tercipta kebersamaan.
              Orang-orang yang merasa rasnya lebih baik dari ras lain, harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME.  Dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, individu akan lebih bisa menerima kenyataan bahwa semua ras manusia adalah sama.  Individu akan merasa lebih bersyukur dengan adanya perbedaan, tapi bukan dalam arti yang negatif.
             Solusi lain yang dapat saya berikan adalah untuk kasus rasisme di dunia sepak bola, baik itu di Eropa yang sedang ramai diperbincangkan, maupun untuk sepak bola di benua lain.  Federasi sepak bola dunia yang bersangkutan telah membuat aturan bahwa wasit dapat menghentikan pertandingan jika terjadi kasus rasisme, baik itu oleh pemain maupun suporter.  Aturan tersebut sudah mulai diberlakukan sejak berlangsungnya pesta sepak bola terbesar Eropa, Euro 2012, pada pertengahan tahun ini.

Di Indonesia, rasisme dapat dicegah dengan penerapan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.  Sila pertama yang merajuk pada Ketuhanan dapat diterapkan dengan sikap toleransi antar umat beragama, baik itu agama maupun kepercayaan.  Sila kedua "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" tentunya harus diterapkan dengan perilaku yang sama dan adil kepada seluruh lapisan masyarakat, dalam hal ini khususnya ras. Penerapan sila pertama dan kedua bertujuan untuk sila ketiga, Persatuan Indonesia.  Sila kelima adalah titik puncak bahwa keadilan haruslah diterapkan: Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Rasisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Apartheid
http://artikelmisteri.wordpress.com/2010/09/26/rasisme-di-amerika-afrika-amerika/
http://id.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther_King,_Jr.
http://neetatakky.blogspot.com/2011/07/isu-rasisme-dalam-politik-australia.html
http://syntaxerror.web.id/personal/rasisme-di-korea.htm
http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2012/09/120919_footballracism.shtml

1 komentar: