Sabtu, 22 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

KEMISKINAN

Setiap orang pasti membutuhkan rizki berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Untuk itu, manusia harus mencari nafkah dengan berbagai usaha yang halal. Bagi seorang muslim, mencari rizki secara halal adalah salah satu prinsip hidup yang sangat mendasar. Kita tentu menghendaki dalam upaya mencari rizki, banyak yang bisa kita peroleh, mudah mendapatkannya dan halal status hukumnya. Namun seandainya sedikit yang kita dapat dan susah pula mendapatkannya, selama status hukumnya halal jauh lebih baik daripada mudah mendapatkannya, banyak perolehannya namun status hukumnya tidak halal. Yang lebih tragis lagi adalah bila seseorang mencari dengan susah payah, sedikit mendapatkannya, staus hukumnya juga tidak halal, bahkan resikonya sangat berat, inilah sekarang yang banyak terjadi. Kita dapati di masyarakat kita ada orang yang mencuri sandal atau sepatu di mesjid, mencopet di bus kota dan sebagainya. Korban penganiayaan dari masyarakat sudah banyak yang berjatuhan akibat pencurian semacam itu. Salah satu cara mencari harta yang tidak terhormat adalah dengan meminta-minta atau mengemis kepada orang lain.

Mengemis adalah hal yang dilakukan oleh seseorang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal atau hal lainnya dari orang yang mereka temui dengan meminta. Umumnya di kota besar sering terlihat pengemis meminta uang, makanan atau benda lainnya. Pengemis sering meminta dengan menggunakan gelas, kotak kecil, topi atau benda lainnya yang dapat dimasukan uang dan kadang-kadang menggunakan pesan seperti, "Tolong, aku tidak punya rumah" atau "Tolonglah korban bencana alam ini".

Pengemis jaman dulu  adalah orang orang  yang meminta uang seikhlasnya dari orang lain yang dijumpainya. Wajah mereka sangat memelas , kadang dengan tubuh tak sempurna. Mereka benar benar orang miskin yang tak mungkin cari kerja.  Jaman dulu di perempatan Tomang sering terlihat seorang ayah yang menggendong anak gadisnya yang sudah remaja, namun tubuh sigadis kurang sempurna. Ada juga anak kecil yang menuntun ayahnya yang buta. Mereka meminta minta dari kendaraan yang berhenti di lampu merah.
Pengemis jaman sekarang sungguh berbeda. Mereka jadikan mengemis itu sebagai pekerjaan. Tak heran kebanyakan dari mereka memiliki rumah dikampung halaman. Sebut saja mas Jon, yang berasal dari keluarga pengemis. Ketika kecil hingga dewasa ia sering diajak mengemis oleh ibu dan ayahnya.  Kadang uang yang mereka hasilkan dirampok preman, namun Mas Jon berani melawan. Walau berbadan kecil, ia sering berkelahi melawan preman. Keberaniannya membuat ia disegani dikalangan pengemis.
Pengalaman Mas Jon  mengemis  bertahun tahun membuat ilmu mengemisnya makin tinggi. Iapun menjadi mentor bagi para pengemis lain. Ia memberi pelatihan bagaimana menjadi pengemis yang baik. Misalnya cara berdandan, bicara dan cara menghadapi aparat. Pelajaran lain, ketika berangkat dari rumah  para pengemis berpakaian rapi. Setelah tiba di pos pengemis, mereka harus berganti pakaian compang camping agar orang iba dan mau memberi uang.
Setelah menikah  kehidupan mas Jon semakin meninggkat dan sejak tahun 2000, ia tak lagi mengemis tapi naik jabatan menjadi   boss yang  membawahi 54 orang pengemis. Mas Jon  tak pernah memasang target setoran pada anak buahnya, melainkan setoran suka rela.  Penghasilan yang ia dapat  kurang lebih  300 ribu rupiah perhari. Sebulan  kira kira 9 juta rupiah.   Kini  Mas Jon  sudah memiliki empat  buah rumah, dua sepeda motor dan mobil Honda CR-V.  Salah satu rumahnya diberikan kepada kedua orang tuanya yang sudah renta.
Walau banyak orang mencibir dengan profesinya  mas Jon  tak peduli, yang penting halal katanya.  Iapun tercatat sebagai donatur tetap sebuah masjid di Jatim dan cita cita yang belum tercapai adalah menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
Kisah lain disebuah jalan di Tangerang Selatan. Disana ada dua orang pengemis remaja dan seorang ibu separuh baya yang meminta minta  di depan sebuah bank. Mereka bukan ibu dan anak.  Setiap selesai mengemis, si remaja langsung ke internet cafe untuk bermain games, sedang si ibu langsung masuk kebank tsb untuk menabung.
Pengemis jaman sekarang juga pasang tarif. Pengalaman seorang teman ketika memberi uang 500 rupiah. Uang tersebut langsung dilempar katanya menghina sipengemis yang hanya menerima minimal 2000 rupiah.
Peraturan daerah (perda) mengenai ketertiban umum di mana adanya larangan untuk memberi sedekah kepada pengemis di jalanan dirasa tidak berjalan efektif untuk mengurangi pengemis. Fenomena pengemis kambuhan muncul pada saat bulan Ramadan tiba. bahkan meningkat dibandingkan bulan-bulan lainnya.

"Ini merupakan kacamata ekonomi yang membuat mereka berpikir bahwa ini kesempatan untuk mencari penghasilan," kata Pengamat Tata Kota, Yayat. Yayat menyebut, mengemis saat ini sudah menjadi sebuah profesi dan berjalan secara musiman. Disebutnya sebagai profesi karena tuna karya ini berpikir tentang keuntungan dan kemudahannya mencari uang.

Namun, tambahnya, ini bukan berarti cerminan kehidupan ekonomi Ibu Kota semata. "Ini merupakan kewenangan yang sulit diatasi oleh DKI Jakarta karena sebagian besar pengemis pun datang dari luar Jakarta,"tambahnya.

Selain Perda yang tidak efektif, kata Yayat, seharusnya lebih diperhatikan bagaimana cara menjalankannya di lapangan.
 Berdasarkan hasil penelitian, perolehan hasil dari mengemis bisa mencapai Rp100-150 ribu per hari. Ini yang menyebabkan profesi untuk mengemis ini akan semakin bertambah.

Yayat pun menyarankan, sebaiknya masyarakat memberikan sumbangan untuk kaum dhuafa melalui lembaga resmi. Tapi, Yayat menambahkan, masyarakat cenderung memiliki kekhawatiran apakah sumbangan itu sampai atau tidak kepada yang membutuhkan.

"Harus diperhatikan akuntabilitas dari lembaga-lembaga apakah lembaga tersebut dapat dipertanggungjawabkan atau tidak," jelasnya.



Demi memantik rasa iba, banyak pengemis menggunakan bayi sewaan. Juga kerap ditemui anak usia sekolah yang dipekerjakan. Berapakah sewa bayi atau anak balita untuk keperluan ini? Seharian, biasanya mereka menyewa antara Rp 5.000 sampai Rp.10.000, sudah termasuk memberikan makan pada anak-anak yang disewa.
Pertanyaannya, kenapa mereka berani sewa semahal itu? Berapakah pendapatan dari seorang pengemis? Menurut Sukinah (bukan nama sebenarnya) yang selalu mangkal di “setopan bangjo” perempatan jalan arteri utara, tepat di tengah-tengah perumahan elite Puri Anjasmoro, Semarang, Jawa Tengah, menuturkan, pendapatan per-hari dari mengemis, rata-rata sekitar Rp.50.000. Nah, kalau untuk sewa Rp.5.000 sampai Rp10.000, masih untung kan?
Keterangannya itu juga dibenarkan oleh teman-teman seprofesinya. Menurut penuturan mereka, masalah “dunia per-ngemisan” ini, persis seperti diungkapkan dalam film-film mandarin dalam kisah “Raja Pengemis”. Jadi meski dianggap remeh oleh masyarakat, ternyata mengemis dapat dijadikan bisnis besar dengan omset ratusan juta rupiah per-bulannya. Jadi ada “Raja” nya, yaitu Boss para pengemis.
Tugas Boss ini mengkoordinir para pengemis, membagi wilayah, menyediakan tempat penampungan, memberikan pakaian “dinas” harian, menghidupi mereka setiap harinya. Para pengemis itu, setiap malam lapor ke Boss, berapa pendapatannya. Setelah dipotong sewa bayi atau anak balita, untuk jajan dan minum, pendapatan bersih harus segera disetorkan. Perbulannya, mereka dapat pembagian dari Boss, tergantung senioritas dan besarnya pendapatan. Dengan perputaran uang seperti itu, banyak pengemis yang di desa asalnya, hidup layak seperti para pegawai pada umumnya.
Setiap Boss, minimal punya anak buah sampai 50 orang. Setiap pagi, dengan mobil bak terbuka, diam-diam mereka mengedropnya di tempat-tempat strategis. Setelah sebulan penuh, mereka berpindah kota. Jadi kerjanya dari kota yang satu ke kota yang lain.
Sedangkan bayi atau balita yang disewakan, oleh orang tuanya, dianggap tidak disewakan, tapi dikaryakan. Meski bayi atau balita, sudah dapat menghasilkan uang bagi orang tuanya. Sekaligus dikader sebagai pengemis, untuk memasuki dunia “bisnis belas kasihan” Jangan bicara soal moral, pendidikan atau masa depan si anak. Dalam dunia per-ngemisan, semua itu tidak terlalu diperhitungkan ataupun dirisaukan.
Demi memantik rasa iba, banyak pengemis di Kota Semarang menggunakan bayi sewaan. Juga kerap ditemui anak usia sekolah yang dipekerjakan. Berapakah sewa bayi atau anak balita untuk keperluan ini? Seharian, biasanya mereka menyewa antara Rp 5.000 sampai Rp.10.000, sudah termasuk memberikan makan pada anak-anak yang disewa.
Pertanyaannya, kenapa mereka berani sewa semahal itu? Berapakah pendapatan dari seorang pengemis? Menurut Sukinah (bukan nama sebenarnya) yang selalu mangkal di “setopan bangjo” perempatan jalan arteri utara, tepat di tengah-tengah perumahan elite Puri Anjasmoro, Semarang, Jawa Tengah, menuturkan, pendapatan per-hari dari mengemis, rata-rata sekitar Rp.50.000. Nah, kalau untuk sewa Rp.5.000 sampai Rp10.000, masih untung kan?
Keterangannya itu juga dibenarkan oleh teman-teman seprofesinya. Menurut penuturan mereka, masalah “dunia per-ngemisan” ini, persis seperti diungkapkan dalam film-film mandarin dalam kisah “Raja Pengemis”. Jadi meski dianggap remeh oleh masyarakat, ternyata mengemis dapat dijadikan bisnis besar dengan omset ratusan juta rupiah per-bulannya. Jadi ada “Raja” nya, yaitu Boss para pengemis.
Tugas Boss ini mengkoordinir para pengemis, membagi wilayah, menyediakan tempat penampungan, memberikan pakaian “dinas” harian, menghidupi mereka setiap harinya. Para pengemis itu, setiap malam lapor ke Boss, berapa pendapatannya. Setelah dipotong sewa bayi atau anak balita, untuk jajan dan minum, pendapatan bersih harus segera disetorkan. Perbulannya, mereka dapat pembagian dari Boss, tergantung senioritas dan besarnya pendapatan. Dengan perputaran uang seperti itu, banyak pengemis yang di desa asalnya, hidup layak seperti para pegawai pada umumnya.
Setiap Boss, minimal punya anak buah sampai 50 orang. Setiap pagi, dengan mobil bak terbuka, diam-diam mereka mengedropnya di tempat-tempat strategis. Setelah sebulan penuh, mereka berpindah kota. Jadi kerjanya dari kota yang satu ke kota yang lain.
Sedangkan bayi atau balita yang disewakan, oleh orang tuanya, dianggap tidak disewakan, tapi dikaryakan. Meski bayi atau balita, sudah dapat menghasilkan uang bagi orang tuanya. Sekaligus dikader sebagai pengemis, untuk memasuki dunia “bisnis belas kasihan” Jangan bicara soal moral, pendidikan atau masa depan si anak. Dalam dunia per-ngemisan, semua itu tidak terlalu diperhitungkan ataupun dirisaukan.


 
-->
Memberantas pengemis dan anak jalanan memeng tidak mudah. Terkadang mereka yang sudah ditangkap, begitu kembali kejalanan akan melakukan rutinitas yang sama seperi sebelum ditangkap (meminta-minta). Dengan adanya keputusan pemerintah yang melarang kita memberi kepada mereka sebenarnya sudah merupakan langkah yang tepat. Perlu adanya kekompakan dari masyarakat, jika kita kompak tidak member maka mereka pun tidak akan meminta-minta. Namun jangan hanya berhenti sampai disitu. Harus dipirkan bagaiman memberikan pekerjaan bagi mereka (pengemis). Menurut saya, solusinya dengan membuatkan lapangan pekerjaan yang tepat untuk mereka, agar mereka tidak mengangur dan mendapat penghasilan. kemudian bagi anak-anak yang masih usia sekolah dibuatka sekolah gratis untuk mereka. Dengan demikian pengetahuan mereka akan bertambah dan mereka akan bias menjadi anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar