Jumat, 21 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia



“Kebodohan adalah akar kemiskinan.”
“Keterbelakangan dan kebodohan penyebab terorisme.”
“Kebodohan adalah musuh bangsa.”
“Kebodohan dan keterbelakangan adalah bentuk penjajahan yang harus diperangi.”

    Seperti yang dapat dilihat diatas, begitulah pendapat segelintir orang tentang kebodohan dan keterbelakangan. Tak ada hal positif dari keduanya. Kebodohan dan keterbelakangan, adalah hal-hal yang menjadi masalah pada bangsa ini, bangsa Indonesia.

    Apa sebenarnya arti kebodohan itu? Secara bahasa arti kebodohan adalah sifat-sifat bodoh, kekeliruan, ketidaktahuan, atau kesalahan. Menurut Wikipedia Ensiklopedia Bebas, kebodohan adalah keadaan dan situasi disaat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu yang bersifat subjektif.  Kata "bodoh" adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya.

   Sedangkan keterbelakangan secara bahasa dapat diartikan sebagai perihal terbelakang atau kelambatan dari perkembangan. Keterbelakangan merupakan salah satu fenomena social yang menjadi atribut negara-negara dunia ketiga. Fenomena ini juga merupakan kebalikan dari kondisi yang dialami oleh negara-negara maju.  

  Keterbelakangan dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan atau bisa dikatakan sangat terkait, maka dari itu saya akan menyinggung sedikit tentang kemiskinan  dalam tulisan ini.

   Secara sosiologis, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan ditentukan oleh tiga faktor; yakni kesadaran manusia, struktur yang menindas, dan fungsi struktur yang tidak berjalan semestinya. Dalam konteks kesadaran, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan biasanya merujuk pada kesadaran fatalistik dan menyerah pada “takdir”. Suatu kondisi diyakini sebagai pemberian Tuhan yang harus diterima, dan perubahan atas nasib yang dialaminya hanya mungkin dilakukan oleh Tuhan. Tak ada usaha manusia yang bisa mengubah nasib seseorang, jika Tuhan tak berkehendak. Kesadaran fatalistik bersifat pasif dan pasrah serta mengabaikan kerja keras.

   Kesadaran ini tampaknya dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan diterima sebagai takdir yang tak bisa ditolak. Bahkan, penerimaan terhadap kondisi itu merupakan bagian dari ketaatan beragama dan diyakini sebagai kehendak  Tuhan.

   Kesadaran keberagamaan yang fatalistik itu perlu dikaji ulang. Pasalnya, sulit dipahami jika manusia tidak diberi kebebasan untuk berpikir dan bekerja keras. Kesadaran fatalistik akan mengurung kebebasan manusia sebagai khalifah di bumi. Sementara sebagai khalifah, manusia dituntut untuk menerapkan ajaran dalam konteks dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kemiskinan dan kebodohan, wajib diubah. Bahkan, kewajiban itu adalah bagian penting dari kesadaran manusia.

   Faktor penyebab lain yang menyebabkan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan karena otoritas struktural yang dominan. Kemiskinan, misalnya, bisa disebabkan oleh ulah segelintir orang di struktur pemerintahan yang berlaku tidak adil. Kemiskinan yang diakibatkan oleh problem struktural disebut “kemiskinan struktural”. Yaitu kemiskinan yang sengaja diciptakan oleh kelompok struktural untuk tujuan-tujuan politik tertentu. Persoalan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan juga disebabkan karena tidak berfungsinya sistem yang ada. Sebab orang-orang yang berada dalam sistem tidak memiliki kemampuan sesuai dengan posisinya. Akibatnya sistem berjalan tersendat-sendat, bahkan kacau. Kesalahan menempatkan orang tidak sesuai dengan kompetensinya (one man in the wrong place) bisa mengakibatkan kondisi bangsa ini menjadi fatal.

  DR. H. Edi Suwardi, mengatakan bahwa kebodohan dan keterbelakangan merupakan salah satu bentuk penjahahan yang harus diperangi.

   Meski ancaman penjajahan secara konvensional sudah tidak ada, namun jiwa, semangat dan nilai-nilai 45, di era pembangunan kini, masih sangatlah relevan. -- Harus kita pahami, bahwa kebodohan, keterbelakangan atau kebodohan, adalah penjajahan bentuk baru yang harus kita perangi.

Berbagai hal diasumsikan atau dianggap sebagai penyebab kebodohan dan keterbelakangan di Indonesia. Seperti contohnya, pelawak. Sebuah artikel di Internet yang saya temukan di internet menyatakan bahwa pelawak merupakan salah satu hal pendukung kebodohan.
Berikut artikel tersebut:

   Pada saat ini yang namanya kebodohan dan keterbelakangan sedang diperangi berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Karena kebodohan bangsa akan menjadi malapetakan bagi kelangsungan Negara itu sendiri dan bagi masing-masing individu nya. Tapi pernyataan itu sepertinya tidak berlaku bagi pelawak. Mengapa bisa demikian ? Coba saja kita perhatikan dalam berbagai session lawakan justru tampilan orang-orang bodoh, gaya orang yang terbelakang malah menjadi bahan empuk untuk membuat sebuah scenario lawakan. Saya tahu yang jadi pelawak itu orang-orang pintar. Tapi sepertinya bagi mereka perilaku orang bodoh itu malah ditiru dan ditampilkan dalam berbagai media. Kalau ditelusuri secara teliti, sepertinya tidak ada pesan moral yang disampaikan. Semuanya hanya bertujuan agar orang yang melihat aksi mereka itu tertawa. Ironisnya kebodohan yang sedang digembor-gemborkan untuk diberantas, justru malah dipertontonkan ke public, hanya demi rupiah. Makanya dalam artikel ini saya member judul “ Pelawak Mendukung Kebodohan Bangsa “ yang lebih parah justru pemerintah juga menyukai acara seperti itu. yang jadi pertanyaan besar Apakah tidak ada cara lain untuk membuat scenario selain dari hal tersebut Apakah itu semua berarti pelawak mendukung kebodohan bangsa Tapi kalau dipikir lebih lanjut saya rasa kedua pertanyaan diatas sangat tidak mungkin kalau jawabannya adalah “ YA “ Hal ini bukan berarti menjelek-jelekan seseorang, tapi untuk menjadi pertimbangan saja. Kalau ada cara lain kenapa tidak ? Kalau menurut anda bagaimana ?

 Boleh setuju, boleh tidak. Tapi artikel diatas merupakan pendapat dari warga Indonesia sendiri yang tentunya secara langsung merasakan perkembangan,keterbelakangan, sekalipun kebodohan yang mungkin ia rasakan di negara ini.

Selain kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan juga dikatan sebagai penyebab beberapa tindak kriminilatas, penyelewengan, dan sebagainya. Contohnya, terorisme.

Terorisme yang menyatakan bahwa membunuh seseorang adalah benar, jelas merupakan faham yang keliru. Kebodohan dan keterbelakangan lah yang menyebabkan sebagian orang Indonesia menganggap bahwa faham ini adalah benar.

"Teror itu bisa dilakukan karena beberapa situasi. Bisa saja masalah keterbelakangan, kebodohan, depresi yang memungkinkan seseorang memiliki keyakinan seperti itu (terorisme)," kata Menko Polhukam Widodo AS dalam rapat kerja bersama Komisi I terkait terorisme di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2009). (detik.com)

 Selain terorisme, kebodohan dan keterbelakangan juga dianggap sebagai salah satu penyebab berbagai “salah kaprah” dikalangan masyarakat Indonesia, terutama yang masih tinggal dipedalaman atau yang cara berfikirnya masih sangat tradisional. Misalnya, faham “banyak anak banyak rezeki.” . Orang terdahulu mungkin bisa berkata begitu, tetapi dewasa ini jelas saja faham itu salah. Karena semakin banyak anak, maka semakin banyak juga biaya yang diperlukan untuk merawat,mendidik,mensejahterakan , dan membesarkan anak- anak.  Selain itu, faham tersebut juga dapat menimbulkan masalah-masalah lain seperti, masalah kependudukan yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, kelaparan, kurangnya lapangan pekerjaaan dan sebagainya.

  Kebodohan dan keterbelakangan tidak hanya terjadi pada kalangan bawah atau kalangan kurang terdidik. Tetapi juga sering kali terjadi pada kalangan yang terdidik.

Sumber Daya Alam Indonesia yang banyak dikelola oleh negara lain adalah salah satu bentuk keterbelakangan masyarakat Indonesia. Entah, memang sama sekali tidak ada tenaga kerja ahli yang bisa mengelola atau memang sengaja membiarkan hal tersebut terjadi untuk menjalin persahabatan, saling membantu, atau memang ada alasan lain yang tidak kita ketahui.

 Dari sebuah artikel yang berjudul “Kebodohan Orang Indonesia Bikin Gemuk Pengusaha Singapura dan Malaysia” (http://www.voa-islam.com).  Didapati bahwa pengusaha atau pemilik operator telepon seluler disana, mendapat untung dari kebodohan orang Indonesia.  Keuntungan tersebut didapat dari kesalahan orang Indonesia yang tidak mengaktifkan paket internet untuk di dua negara tersebut namun langsung menggunakan internet disana. Maka pulsa pemilik telepon seluler akan langsung tersedot ke operator di dua negara itu.

 Mulai dari hal-hal penting sampai hal yang sepele, keterbelakangan dan kebodohan tak dapat dipungkiri lagi telah menjadi masalah bagi bangsa Indonesia.

   Apa saja faktor penyebab keterbelakangan Indonesia? Beberapa orang memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang hal ini.

Diantara pendapat-pendapat yang berbeda itu, berikut adalah salah satu pendapat yang saya ambil.
  1. Pemerintahan negara Indonesia yang lebih mementingkan nilai dari pada kualitas otak anak , buktinya: setiap tahun nilai UN atau Ujian Nasional selalu meningkat, dan anak harus lulus sekolah sesuai nilai yang di tetapkan oleh pemerintah.

  1. Pemerintah yang selalu menyalahgunakan uang negara, sehingga uang negara di pakai untuk kepentingan sendiri, dan bukan di gunakan untuk negara

  1. Kurangnya semangat belajar pada anak, agar anak semangat belajar harus ada motivasi baik dari guru, teman, keluarga, atau pun media massa

  1. Kurangnya kreatifitas pada diri masyarakat, sehingga Sumber Daya Alam atau SDA yang berada di negara kita digunakan oleh negara lain

  1. Kurangnya tingkat kreatifitas Sumber Daya Manusia atau SDM, sehingga masyarakat Indonesia hanya bisa bekerja di pihak warga negara asing. Padahal jika masyarakat Indonesia mampu berkreatifitas, maka masyarakat mampu membuka lapangan pekerjaan sendiri

  1. Kurangnya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Sebenarnya pemerintah mengetahui bahwa rakyat Indonesia itu tidak sedikit melainkan sangat banyak, namun lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah tidak seimbang dengan masyarakat yang berada di negara Indonesia


   Mengenai keterbelakangan khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi masyarakat indonesia belum seberapa kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya Jepang, Cina, Korea, dll. Penduduk indonesia terutama didaerah pelosok/pedesaan masih minim tentang ilmu pengetahuan maupun tehnologi, dalam hal ini “Haruskah kita diam dengan kenyataan tersebut ?” menurut saya pemerintah harus berupaya meningkatkan pendidikan diberbagai daerah karena pendidikan merupakan salah satu pendorong untuk mengurangi kemiskinan yang merupakan salah satu akibat dari keterbelakangan dan kebodohan, jikalau anak-anak bangsa indonesia maju akan pendidikan berarti dapat mengimbangi negara lain, kita tidak perlu lagi memerlukan tenaga kerja yang profesional dari negara yang lain, tetapi kita dapat memanfaatkan pemuda-pemudi indonesia yang memiliki skill dan pengetahuan.

   Untuk mencegah supaya kebodohan dan keterbelakangan bangsa Indonesia tidak berkelanjutan, berikut solusi-solusinya         :

  •  Meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk membangun sekolah yang lebih layak, menarik, supaya masyakarat pedalaman yang pola pikirnya masih tradisional tertarik untuk sekolah dahulu sebelum bekerja. Secara tidak langsung hal ini dapat mengubah pola pikir mereka yang tradisional tersebut.

  • Memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang berbagai hal di daerah pedalaman kepada masyarakat (yang sudah dewasa) agar tidak hanya generasi muda saja di tempat mereka yang belajar. Mengubah pola pikir tradisional (yang negative) lebih baik dimulai dari orang dewasa, karena generasi mudanya cenderung akan mengikuti yang lebih tua.

  •        Untuk di desa-desa, berkaitan dengan terorisme yang disebabkan oleh keterbelakangan dan kebodohan perlu diadakan penyuluhan agama agar iman mereka kuat sehingga mereka tidak akan terlibat atau mau diajak dalam suatu aksi kejahatan dalam bentuk terorisme yang mengatasnamakan Tuhan.



  •                    Selain di desa-desa, penyuluhan agama juga perlu dilakukan di instansi pemerintah agar iman mereka kuat sehingga tidak terjadi kebodohan dalam bentuk penyelewengan dalam tugas mereka.

  •                Perkenalkan masyarakat dengan teknologi. Mau tidak mau, semua hal di dunia ini sekarang berkaitan dengan teknologi. Agar tidak terbelakang dari negara-negara lain, maka masyarakat Indonesia juga harus dikenalkan dengan teknologi. Tentunya cara menggunakannya untuk hal-hal yang positif.


  • .                 Pelajaran yang diajarkan jangan terlalu sulit. Hal itu dapat membuat pola pikir generasi sekarang menjadi terlalu teoritis sehingga nalarnya tidak digunakan dengan baik. Selain itu, supaya generasi muda lebih mengerti dasar-dasar cara-cara menggunakan pelajaran tersbut dalam kehidupan sehari-sehari melainkan hanya hafal teorinya saja.


  •            Mendidik masyarakat Indonesia yang memiliki potensi dalam suatu bidang agar nantinya dapat menjadi tenaga kerja ahli untuk Indonesia. Sehingga tidak perlu lagi ada tenaga kerja ahli yang berasal dari negara lain.



  Sekian solusi yang dapat saya sampaikan, “tak ada gading yang tak retak” pribahasa yang mungkin cocok dalam tulisan ini. Saya cuma pelajar yang ingin memenuhi tugas sejarah saya, maka maaf bila ada kesalahan kata. Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar