Kamis, 20 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan



Hak Berpendidikan dengan Adanya Sekolah RSBI

Indonesia memiliki banyak masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan, tetapi tidak banyak masalah yang sudah terselesaikan. Terlalu banyak "tetapi" dalam pembahasan segala masalah Indonesia. Dalam pemecahan masalah, Indonesia banyak hanya menggunakan sebatas "seharusnya", yang seharusnya, dilanjutkan dengan pengambilan tindakan. Maka dari itu, saya peringatkan sebelum anda membaca lebih jauh, bahwa pada tulisan ini akan terdapat banyak sekali "tetapi" dan "seharusnya".

Setiap negara memiliki tujuan yang berbeda-beda. Salah satu tujuan negara kita yang tercinta ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan adanya tujuan tersebut, diperlukan fasilitas-fasilitas yang disiapkan oleh negara agar bangsa negara dapat memenuhi tujuan mulia tersebut. Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia, dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya, tanpa memandang status sosil, status ekonomi, suku, etnis, agama, dan jenis kelamin. Pendidikan untuk seluruh bangsa menjamin bahwa kepada mereka,peserta didik yang memilik hambatan fisik, ataupun mental, maupun hambatan ekonomi dan sosial, serta kendala geografis, juga mendapatkan hak mereka untuk berpendidikan, dengan menyediakan layanan pendidikan untuk menjangkau mereka yang tidak terjangkau.

Anak yang Kurang Mampu sedang Belajar
Kendala utama bagi penyeluruhan hak berpendidikan adalah bagi orang-orang yang memilki hambatan ekonomi. Dengan mahalnya harga yang harus dibayar agar dapat bersekolah, masyarakat Indonesia yang tidak memiliki latar belakang ekonomi mencukupi pun ragu-ragu, apakah seharusnya mereka ikut bersekolah atau tidak. Mungkin tentunya jauh di lubuk hati mereka, mereka memiliki keinginan untuk berpendidikan, tetapi hambatan ekonomi bagi mereka merupakan hal yang sangat besar. Hanya untuk mencukupi kehidupan sehari-hari sudah sulit, apalagi ditambah dengan tambahan biaya berpendidikan.

Langkah yang diambil oleh pemerintah:

Pemerintah Indonesia menyadari akan masalah tersebut, sehingga menciptakan Beasiswa Miskin, yaitu beasiswa yang diberikan kepada masyarakat yang kurang beruntung, agar mereka juga memperoleh hak mereka untuk berpendidikan. Beasiswa tersebut berisikan Rp 360.000 per tahun bagi siswa sekolah dasar, dan Rp 550.000 bagi siswa sekolah menengah pertama. Target sasaran pemerintah pada tahun 2010 silam meliputi 2.246.800 siswa sekolah dasar, dengan total dana sebesar Rp 808.848.000.000,00 (delapan ratus delapan milyar delapan ratus empat puluh delapan juta rupiah) dan sebanyak 831.193 siswa sekolah menengah pertama juga termasuk dalam target sasaran pemerintah, dengan total biaya Rp 457.156.150.000,00 (empat ratus lima puluh tujuh milyar seratus lima puluh enam juta seratus lima puuh ribu rupiah) (diknas.kemdikbud.go.id). Diharapkan dengan program Beasiswa Miskin tersebut dapat membantu dan memenuhi hak berpendidikan yang masyarakat kurang beruntung harus dapatkan.

Poster Program Wajib Belajar 9 Tahun
Dengan kenyataan yang berlangsung sekarang ini, masih banyak masyarakat kurang beruntung yang ditemukan di jalan raya pada jam sekolah. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Beasiswa Miskin, belum menutupi semua masyarakat Indonesia dalam hak berpendidikannya. Selain Beasiswa Miskin, pemerintah memiliki program lain, yaitu program wajib belajar sembilan tahun. Program wajib belajar selama sembilan tahun memiliki arti bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yang meliputi sekolah dasar dan sekolah dasar menengah. Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar, minimal pada jenjang pendidikan dasar, tanpa memungut biaya sepeserpun pada masyarakat bersangkutan yang kurang beruntung. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2006 menjelaskan mengenai pedoman pelaksaan gerakan nasional percepatan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dan dengan tujuan untuk pemberantasan buta aksara. Untuk memenuhi segala tujuan, maka program wajib belajar sembilan tahun merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah, serta masyarakat.

Masalah:

Dengan peraturan wajib belajar sembilan tahun bebas biaya, seharusnya memenuhi tujuan negara untuk mencerdaskan bangsa dapat tercapai. Tetapi, muncullah sekolah-sekolah dengan standar berbeda. Standar internasional akunya. Sekarang ini, pemerintah tengah dibingungkan dengan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, yang konsepnya bertolak belakang dengan ketentuan nasional yang telah ditetapkan mengenai pendidikan yang bebas biaya. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, yakni sekolah dasar dan sekolah menengah pertama telah mendapat gugatan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) untuk dihapuskannya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan menyamakan semua sekolah.

Gugatan tersebut beralaskan bahwa mayoritas sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional tidak dapat memenuhi kuota 20% untuk siswa miskin. Bahkan, hampir semua sekolah menengah pertama Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di berbagai daerah tidak dapat memenuhi kuota tersebut. Kuota 20% tersebut tidak dapat dipenuhi, tentunya dikarenakan oleh masyarakat kurang beruntung yang ‘takut’ untuk mendaftar dengan alasan biaya yang mahal. Bukan hanya masyarakat kurang beruntung saja yang menganggap sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional menuntut sejumlah biaya yang cukup mahal, bahkan masyarakat yang dinilai berkecukupan pun juga beranggapan bahwa sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional menunjang biaya yang mahal. Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti mengatakan bahwa sekolah-sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional menghadapi dilema. Disatu sisi ditekan untuk mewujudkan terpenuhinya kuota 20% untuk siswa dengan latar belakang ekonomi yang kurang beruntung sesuai peraturan perundangan. Tetapi, biaya yang tinggi membuat siswa miskin enggan mendaftar.

Jika saja status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan, dan semua sekolah berstatus yang sama, dengan biaya atau tanpa biaya yang sama, maka masyarakat yang kurang beruntung dapat menikmati pencarian ilmu seperti kalanya masyarakat yang lebih beruntung. Sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional memang umumnya memiliki kualitas yang lebih bagus, dari segi fasilitas, maupun pengajaran, hal tersebut memang disebabkan oleh ‘sumbangan’ dari para orang tua murid, yang sehingga menghasilkan fasilitas yang memuaskan. Jika status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan, orang-orang bertanya-tanya, apakah kualitas sekolah tersebut akan menurun?

Dari segi akademik, sekolah-sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional mengadakan ujian masuk yang cukup sulit, agar sekolah-sekolah tersebutpun mendapatkan anak didik yang cerdas, sehingga siswa yang lulus dari sekolah tersebut dapat mengangkat nama baik sekolah tersebut. Tentunya dengan proses pembelajaran yang memadai oleh guru-guru pengajar pada sekolah tersebut. Mari berpikir, jika status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan, maka secara otomatis, guru-guru pengajar juga mendapatkan dampaknya juga, yang tidak lain adalah keuangan. Dengan bayaran sekolah yang lebih mahal ketika sekolah tersebut masih berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, maka penghasilan guru-guru pengajarpun lebih besar, dibanding ketika status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihilangkan. Ditakutkan bahwa dengan menurunnya penghasilan para pengajar, semangat para pengajar untuk mengajar anak didik merekapun menguap ke udara. Dengan kualitas pengajaran yang menurun, maka hasil pengajaranpun tidak akan menjadi efektif.

Fasilitas Ruang Praktikum pada SMP RSBI 19
Melalui segi fasilitas, pengadaan fasilitas fisik seperti air conditioner atau membangun gedung sekolah memang terdapat pada sekolah-sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Kenyamanan murid-murid dalam kegiatan belajar-mengajar memang penting. Dengan pungutan (bayaran) yang lebih mahal daripada sekolah reguler, yang fasilitas ditanggung oleh pemerintah, maka fasilitas yang terbentukpun lebih memuaskan kenyamanan peserta didik dalam bersekolah.

Mahalnya biaya masuk RSBI membuat siswa miskin yang berprestasi tidak mampu duduk di sekolah ini. Sebenarnya, Indonesia memiliki banyak bibit bermasa depan cerah dengan otaknya yang cerdas, akan tetapi, dikarenakan masalah inilah bibit-bibit tersebut menjadi terbatas jumlahnya dan hanya berasal dari satu kalangan saja.

Solusi:

Egois adalah sebuah perilaku atau sifat yang tidak terpuji. Memperjuangkan hak sesama bangsa Indonesia merupakan hal yang terpuji. Terhapusnya status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional berarti memperjuangkan hak berpendidikan oleh anak-anak yang kurang mampu. Kita egois, jika hanya ingin diri kita sendiri yang menikmati ilmu. Dengan kebijakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, anak-anak yang kurang mampu, tetapi memiliki otak yang cerdas tidak bisa mendapatkan sekolah yang seharusnya dia berhak dapatkan, walaupun sebenarnya mampu untuk menembus masuk ujian masuk sekolah yang sulit tersebut, dan alasannya tidak lain dari alasan biaya. Kebijakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional sebenarnya muncul sebagai suatu siasat untuk mendorong sekolah berstatus Sekolah Standar Nasional segera mengupayakan pencapaian Sekolah Bertaraf Internasional. Dapat dikatakan bahwa, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional masih merupakan sebuah proses agar sekolah tersebut dapat bertaraf internasional, yang memiliki arti bahwa dengan memiliki status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, sekolah tersebut belum memenuhi kriteria untuk menjadi Sekolah Bertaraf Internasional. Pemerintah menargetkan setelah lima tahun berjalan sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional diharapkan menjadi Sekolah Bertaraf Internasional, namun pada kenyataannya, sekolah-sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang telah lima tahun berjalan belum mampu memenuhi kriteria Sekolah Bertaraf Internasional.

Guru yang Sedang Mengajar Di Kelas
Satu hal saja sebenarnya, yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Satu hal yang sederhana, tetapi sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan orang saat ini. Keikhlasan. Ikhlas bagi para pengajar berarti ikhlas dalam mengajar, berapapun yang diterima sebagai imbalannya. Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa, seharusnya kita tempel di ingatan kita akan hal tersebut. Tanpa guru pengajar, tidak akan ada sekolah yang berlangsung. Tidak akan ada proses pembelajaran yang berlangsung. Tidak akan ada murid, tanpa guru pengajarnya. Tidak akan ada lulusan-lulusan suatu sekolah yang dapat dibangga-banggakan. Semua hal tersebut merupakan hal-hal yang sederhana dan terjadi tanpa kita sadari. Tanpa guru tidak akan ada anak didik yang dibilang pandai, karena pengajarnya saja tidak ada.

Ikhlas bagi orang tua berarti mengikhlaskan hilangnya status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional bagi sekolah-sekolah, karena pada dasarnya semua sekolah adalah sama, hanya tergantung kepada sang anak didiknya saja. Memang proses pembelajaran juga berpengaruh, tetapi pengajar-pengajar sekolah yang tadinya sebelum status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan merupakan sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, juga tidak dipilih secara sembarang. Sekolah yang bagus memiliki standarnya sendiri, mulai dari pengajar, sampai anak didiknya yang dipilih melalui ujian masuk berdasarkan kecerdasan dan kemampuan sang anak didik. 

Sumber Data:
http://www.diknas.kemdikbud.go.id/
http://www.bisnis.com/
http://www.tempo.co/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar