Jumat, 21 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


Diskriminasi Agama

Hal yang ingin saya bahas kali ini tidak jauh dari tulisan saya sebelumnya mengenai demokrasi di Indonesia yang terlalu bebas, saya ingin membahas kembali tentang perpecahan dan pengelompokkan masyarakat. Namun, kali ini saya akan lebih fokus pada dampaknya dalam bidang kemanusiaan di dunia.
                Saat ini, ada kurang lebih 7.000.000.000 (tujuh milyar) manusia di bumi. Semuanya tersebar di kurang lebih 195 negara yang tersebar di berbagai benua di dunia ini. Setiap negara tentu memiliki suku, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda. Beberapa negara memiliki perbedaan yang begitu menonjol, seperti warna kulit, warna rambut, budaya yang kontras dengan negara lain, ataupun kepercayaan mayoritas penduduknya.
                Banyak manusia yang tidak tinggal di tempat lahirnya. Misalnya warga negara Amerika ada juga yang berasal dari Eropa, Asia, Afrika, dan lainnya. Hal ini membuat mereka tampak berbeda. Kadang juga terjadi perubahan dalam diri seseorang akibat pengaruh kelompok lain yang berbeda dengannya. Hal-hal seperti ini adalah salah satu alasan munculnya kelompok minoritas.
                Perbedaan yang mencolok seperti ini kadang menyebabkan munculnya masalah sosial. Terkadang, seseorang tidak bisa menerima perbedaan-perbedaan itu dan cenderung menunjukkan rasa tidak sukanya. Hal ini sering berujung pada terjadinya diskriminasi.

                Diskriminasi adalah perilaku seseorang yang cenderung tidak adil dan membeda-bedakan suatu kelompok, golongan, atau individu tertentu yang berbeda dengannya. Ada berbagai macam diskriminasi, diantaranya diskriminasi terhadap orang cacat, diskriminasi umur, gender, ras, dan agama. Pada kesempatan ini, saya ingin membahas sedikit mengenai diskriminasi agama di berbagai belahan dunia.
                Diskriminasi agama sebenarnya sering terjadi di mana-mana, dengan atau tanpa kita sadari. Misalnya, ketika orang tua anda berpesan untuk tidak bergaul terlalu sering dengan seseorang karena memiliki kepercayaan yang berbeda. Atau ketika seseorang tidak diizinkan mengikuti suatu perkumpulan, yang seharusnya bersifat umum, karena berbeda agama. Saya bertanya pada beberapa teman saya yang menganut bermacam-macam agama, dan beberapa diantaranya mengaku pernah merasakannya.
                Temenku pernah. Di tempat lesnya, jadi gurunya yang atheis pernah ngatain agamaku sebagai agama yang ngga jelas,” tutur seorang teman saya yang menganut agama Kristen, ketika ditanya mengenai hal ini. “Terus di kelasnya dia bilang karena dia Kristen, yang Islam agak ngejauhin dia.
                Ini adalah salah satu contoh. Kenyataannya, hal seperti ini sering terjadi di lingkungan skitar kita. Baik di sekolah, tempat les, tempat kerja, tempat bermain, dan lainnya. Mungkin kita mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan agama lain dan menyinggung seseorang dengan atau tanpa sadar. Atau ketika kita secara otomatis menjauh dari orang-orang yang memiliki agama berbeda, bisa karena memang tidak nyaman, takut salah bicara, tidak biasa, atau bahkan memang tidak suka.
                Kasus lain yang sering kita temui adalah, siswa yang terpaksa mengikuti pelajaran agama yang tidak dianutnya, di sekolah. Misalnya, seorang siswa beragama Buddha masuk ke sebuah sekolah dan hanya diberikan pilihan untuk belajar agama Islam atau Kristen. Selain itu, di beberapa sekolah juga terlihat lebih mengutamakan murid-muridnya yang beragama Islam. Sedangkan pelajaran lainnya tidak begitu diperhatikan, atau bahkan sampai ditiadakan.
                Lain halnya dengan kelompok-kelompok kecil agama atau kepercayaan asli Indonesia yang tidak dianggap. Hal seperti ini jelas merupakan sebuah kendala bagi mereka yang menganut kepercayaan atau agama seperti ini, di mana hampir setiap pendaftaran sekolah atau kerja hanya diberikan 5 sampai 6 pilihan agama untuk diisi. Hal ini menyebabkan “Islam KTP” bukan hanya sebuah kiasan, tetapi hal yang benar-benar dilakukan. Beberapa pengantut kepercayaan atau agama tertentu yang tidak dianggap di Indonesia terpaksa mendaftar sebagai seorang Islam atau Kristen. Konsekuensinya adalah pandangan orang-orang terhadap mereka. Seringkali mereka diledek perihal ketaatan mereka dalam beragama, meskipun sebenarnya itu memang bukan agama mereka, atau dicap sebagai orang yang tidak baik. Tapi, tanpa melakukan hal seperti ini, mereka akan kesulitan untuk masuk ke perguruan tinggi atau mendapat pekerjaan. Sering terjadi kasus di mana orang-orang ini dikesampingkan dalam kompetisi ketika perekrutan kerja, misalnya perekrutan Pegawai Negri Sipil. Yang lebih parah adalah, jika mereka sudah dicap komunis dan diburu karena tidak memilih satupun agama atau bila mereka dianggap merusak sebuah agama dan dihukum atas apa yang mereka percaya.
Hal-hal seperti ini tentu tidak hanya terjadi di Indonesia. Diskriminasi sudah menjadi sebuah masalah yang mendunia. Saya juga sempat bertanya pada seorang warga negara Jepang melalui e-mail. Ia mengatakan sejauh ini belum merasakan hal-hal seperti itu di lingkungannya, namun ia mengakui sulit untuk menemukan dan membangun masjid dan gereja di sana. Selain itu, kita pasti beberapa kali mendengar kabar mengenai kasus pembakaran masjid-masjid dan bullying yang terjadi pada siswa-siswa muslim di sekolah-sekolah di Amerika.
Hal ini juga terjadi di Eropa. Baru-baru ini, saya membaca artikel-artikel di beberapa situs di Internet mengenai empat warga negara Inggris yang mengklaim bahwa mereka mengalami diskriminasi agama hingga akhirnya kehilangan pekerjaannya. Keempat orang ini kehilangan pekerjaannya akibat apa yang mereka percayai. Di antaranya adalah seorang pegawai maskapai penerbangan, British Airways, yang diberhentikan karena tidak mau mencopot kalung salib yang ia kenakan. Selain itu adalah seorang penasihat dari Bristol yang dipecat karena mengungkapkan bahwa ia keberatan jika harus memberikan terapi pada pasangan gay. Sebagian orang mungkin menganggap itu wajar karena mereka kurang professional, namun mereka sampai kehilangan pekerjaan hanya karena hal-hal yang mereka pegang kuat.
                Dapat kita lihat terjadi berbagai macam kasus diskriminasi agama di dunia. Kasus-kasus ini terjadi berdasarkan alasan yang berbeda-beda, dari yang ringan hingga yang berat. Tetapi, semuanya memiliki pihak yang merasa dirugikan karena ketidak adilan orang lain terhadapnya. Jika hal ini diteruskan dapat berakibat buruk seperti perselisihan antar agama, saling caci maki, perpecahan, hingga peperangan.
                Kita tidak bisa hanya mengandalkan pendidikan untuk menghentikan diskriminasi. Keluarga jelas berperan untuk mendidik seseorang untuk menjadi toleran. Namun, bukan berarti pendidikan tidak harus mengutamakannya juga.
Bertahun-tahun kecurigaan dan konflik antar agama terbentuk di dunia ini. Diskriminasi pada umumnya ditujukan pada kelompok minoritas yang dengan mudahnya dijadikan obyek diskriminasi. Prasangka yang timbul pada diri seseorang baik secara sadar atau tidak, ditularkan orang lain atau mucul dengan sendirinya, seringkali menjurus pada perpecahan karena timbulnya jarak dan halangan antar agama. Diskriminasi agama juga seringkali berlatar belakang sejarah yang tidak bisa dilupakan antara suatu kelompo, golongan, atau individu penganut agama tertentu yang tidak bisa dilupakan. Rasa iri juga bisa menjadi penyebab diskriminasi agama, ketidak mampuan atau kekalahan seseorang disangkut pautkan dengan masalah agama. Hal-hal ini seringkali berawal dari masalah ekonomi, ekologi, dan budaya.
Diskriminasi adalah perilaku yang dilakukan seseorang yang berhubungan dengan kepribadiannya, sehingga sulit untuk menghilangkannya dari pribadi setiap orang. Namun selalu ada cara untuk mengurangi diskriminasi agama yang terjadi di lingkungan kita.
Karena seringkali berawal dari kondisi sosial dan ekonomi yang tidak imbang, ada baiknya untuk memperbaiki kondisi social dan ekonomi masyarakat terlebih dahulu. Dalam hal ini akan berhubungan dengan kasus kemiskinan, kesenjangan  social, dan sebagainya. Diperlukan pemerataan sehingga tidak terjadi saling iri, saling tuduh, hingga saling ancam.
Selanjutnya diperlukan kesadaran setiap manusia bahwa agama apapun yang dianut oleh seseorang, kita semua sama-sama adalah manusia. Kita semua pasti memiliki kesalahan. Membeda-bedakan dan menjauhi orang lain tidak akan menyelesaikan apapun. Untuk menanamkan prinsip ini pada tiap-tiap individu dibutuhkan partisipasi berbagai golongan, terutama sekolah, keluarga, dan teman.
Sekolah adalah tempat hampir setiap anak menghabiskan waktunya. Sekolah sudah seperti keluarga kedua bagi seorang anak. Karena itu, sudah seharusnya hal seperti ini benar-benar diutamakan oleh sekolah. Seharusnya dibuat dalam kurikulum pendidikan, terutama bagi sekolah umum, mengenai pelajaran penyetaraan dan saling toleransi. Bukan dengan memisahkan kelompok-kelompok berdasarkan agamanya, tetapi diperlukan sesi diskusi ringan mengenai hal ini. Sharing di antara murid-murid yang berbeda agama, dan pengenalan berbagai macam agama. Untuk sekolah-sekolah khusus agama tertentu memang sudah sewajarnya untuk mengutamakan pendidikan agama itu, namun jangan sampai lupa untuk mengajarkan muridnya tentang toleransi, karena setiap agama pun pasti mengajarkan tentang toleransi.
Sebelum masuk ke SMA Labschool, saya bersekolah di sekolah Islam sejak dulu, di mana kerap kali guru-gurunya membicarakan mengenai agama lain dan hal-hal buruk yang mereka lakukan terhadap Islam. Hal seperti inilah yang pada akhirnya akan sering menimbulkan kebencian dan diskriminasi agama itu sendiri. Seharusnya jika memang ingin membandingkan suatu agama dengan agama yang dianut, cukup bicara tentang ideologinya. Sebab menceritakan konflik-konflik yang sebenarnya hanya dilakukan segelintir orang hanya akan menimbulkan prasangka, dan murid-murid akan mengecap semua penganut agama lain ini berbahaya. Padahal, orang Islam pun tidak akan mau dicap buruk hanya karena segelintir orang melakukan hal buruk. Hal ini juga terjadi di sekolah-sekolah khusus agama tertentu. Seharusnya diberikan pengertian tentang bagaimana seharusnya bersikap, bukannya justru melawan. Pendidikan adalah media penting dalam penanaman rasa toleransi beragama.
 Selain pendidikan, media massa juga berperan sangat besar. Sering kita menemukan berita di Koran atau televisi yang seperti mengompori suatu konflik agama atau sejenisnya, misalnya suatu berita yang mengatakan bahwa kelompok rohis seringkali menjadi sarang teroris. Seharusnya ada batasan yang boleh dilakukan oleh pers, pers dilarang untuk menuliskan hal-hal yang belum terbukti jelas dan dapat menambah kebencian.
                Keluarga jelas sangat berperan penting dalam hal ini. Sikap toleransi menghadapi perbedaan seharusnya ditanamkan sejak kecil. Namun, kadang justru hal sebaliknya yang terjadi. Keluarga besar yang berisi berbagai macam ras dan agama seharusnya bisa menjadi contoh bagi seorang anak untuk mengamalkan sikap toleransi, tetapi kadang justru hal sebaliknya yang terjadi.
Seorang teman berbagi ceritanya mengenai kondisi keluarganya ketika saya membicarakan hal ini. Ia mengatakan bahwa anggota keluarganya memiliki agama yang berbeda-beda (hal yang sebenarnya biasa terjadi di beberapa keluarga). Namun, ia merasa agak terbebani berada dalam sebuah keluarga multi religion yang pada kenyataannya sering saling tuduh satu sama lain. Seorang anggota keluarga dapat dengan terang-terangan menganggap apa yang dipeluk anggota keluarga lainnya adalah suatu kesalahan, sehingga akhirnya ia lebih memilih untuk menjadi seorang agnostik. Ini adalah sebuah fakta di mana keluarga, yang seharusnya bisa menjadi orang-orang yang paling paham kondisi anggota lainnya, ternyata justru melakukan hal sebaliknya.
Sebaiknya pihak keluarga juga tidak menjauhkan anak-anaknya dari penganut agama lain baik secara langsung maupun tidak. Karena orang-orang akan cenderung memiliki sifat toleransi dan lapang dada jika sudah terbiasa berada di lingkungan yang beragam. Memiliki teman yang beragam juga akan membuat seseorang mengerti lebih baik tentang golongan lain.
Pemerintah juga seharusnya memberikan tindakan tegas terhadap kasus-kasus diskriminasi yang sudah melebihi batas kewajaran. Seperti pemecatan seseorang, larangan untuk mengenakan aksesoris keagamaan, hingga kasus-kasus yang berhubungan dengan fisik seseorang. Jika hal-hal seperti ini dibiarkan, dapat terjadi konflik berkepanjangan yang berakibat lebih buruk. 

Kesimpulannya adalah, diperlukannya pembangunan sikap setiap individu baik dengan pendidikan formal dan nonformal. Pembiasaan terhadap perbedaan juga diperlukan. Perlu kesadaran untuk tidak melecehkan suatu kaum hanya karena memiliki perbedaan, karena setiap orang berhak untuk dihormati dan dimengerti. Diperlukan juga kesempatan untuk mendapat pendidikan yang lebih luas mengenai agama masing-masing dan agama orang lain. Selain itu, stereotype tertentu tentang suatu kelompok agama juga perlu dihentikan. Untuk mencapai hal-hal ini diperlukan dukungan dari berbagai pihak seperti instansi-instansi social, pendidikan, keluarga, lingkungan bergaul, pemerintah, media massa, dan lainnya. Karena pada dasarnya tidak ada satupun dari kita yang menginginkan suatu perpecahan di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar