Kamis, 20 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Teropong Kekejaman Genosida

                                                            A.      Masalah
Keanekaragaman pada hakikatnya merupakan suatu kelebihan yang dimilikiumat manusia. Perbedaan itu bisa berupa apa saja. Baik perbedaan jenis kelamin,perbedaan umur, tempat tinggal, warna kulit, bahasa ataupun budaya.Masingmasingperbedaan tersebut memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Namun justruperbedaan inilah yang menjadi bibit perselisihan. Sepanjang sejarah dunia pada umunya dan Indonesia pada khususnya,perselisihan kerap kali terjadi pada dua kelompok yang memiliki perbedaan. Banyak sekali perbedaan yang menjadi cikal bakal perselisihan ataupunpermusuhan besar-besaran, tetapi dalam banyak kasus, perbedaan etnis atau budayamerupakan salah satu yang paling sering menjadi sorotan. Perbedaan ini seringmenjadi awal pertikaian yang sangat sulit untuk dihentikan bahkan hingga turuntemurun. Indonesia yang dikenal dengan keanearagamannya yang luar biasa tentu sajatidak dapat luput dari berbagai kasus perselisihan antar dua kelompok budaya.Perselisihan semacam ini kerap terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dariperebutan hak milik atas suatu benda, tanah hingga perkelahian fisik yangmenyebabkan korban dari di dua belah pihak. Namun terkadang perselisihan semacam ini bisa berkembang terlalu jauhdan menyimpang dari apa yang biasanya terjadi. Perselisihan antar etnis ataubudaya ternyata mampu berkembang menjadi suatu tindakan agresif yang membuatpelakunya bertindak diluar batas bahkan dikategorikan kriminal berat. Kategoricriminal tertinggi dari perselisihan macam ini adalah pembantaian besar-besaranterhadap suatu etnis tertentu. Hal ini pernah beberapa kali terjadi di masa silam baikdi Indonesia ataupun negara lain. Pembantaian ini tak urung yang menyebabkanjatuhnya banyak korban dan kerugian materil maupun immateril. Pembantaiansemacam ini biasa juga dikenal dengan istilah Genosida Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang apa pengertian Genosidadari segi sosiologi, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Genosida terkait isuetnis, contoh-contoh kasus Genosida dan tindakan apa yang dilakukan sebagaipengendalian dan pencegahan atas perilaku tersebut dalam masyarakat.
Genosida dalam ilmu sosiologi termasuk sebagai bagian pola hubunganantar kelompok. Kontak antar dua kelompok ras dapat diikuti proses akulturasi(perpaduan budaya), dominasi (satu ras menguasai ras yang lain), paternalism(dominasi ras pendatang), atau integrasi (pengakuan perbedaan). Genosida secara umum didefinisikan sebagai sebuah pembantaianbesarbesaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok denganmaksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut. Kata ini pertama kalidigunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkin, pada tahun 1944 dalambukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serika. Kata inidiambil dari bahasa Yunani γένος genos (ras, bangsa atau rakyat) dan bahasa Latincaedere (pembunuhan). Genosida merupakan satu dari empat pelanggaran HAM berat yang beradadalam yurisdiksi International Criminal Court. Pelanggaran HAM berat lainnyaialah kejahatan terhadap kemanusiaan,kejahatan perang, dan kejahatan Agresi. Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000tentang Pengadilan HAM, genosida ialah “ Perbuatan yang dilakukan denganmaksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompokbangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggotakelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadapanggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakankemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegahkelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalamkelompok ke kelompok lain. “2.2 Kasus Genosida dan Faktor-Faktor PenyebabnyaKasus genosida di Indonesia Indonesia sebagai Negara kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau danwilayah yang cukup besar memiliki banyak sekali budaya yang terdapatdidalamnya. Bahkan di satu pulau dapat memiliki ratusan kebudayaan yang berbeda.Keanekaragaman ini merupakan suatu kelebihan namun tidakmenutup adanya konflik antar kelompok etnis yang tumbuh tersebar di seluruhkawasan Indonesia. Hal itu dapat terlihat dari berbagai kasus Genosida yang terjadisejauh sejarah berdirinya Indonesia.
Pembunuhan masal di Bandanaira (Pulau Banda) tahun 1621 oleh Belandapada zaman Jan Pietersz Coen. Penduduk dipaksa untuk bekerja. Akibatpembunuhan tersebut belanda terpaksa mendatangkan budak dr Negara dandaerah lain. Jumlah pasti tidak diketahui. Dalam kesaksian disebut hampersemua penduduk meninggal, sebagian kecil melarikan diri. 1. Tragedi pembantaian Jepang di Kalimantan. Tidak hanya kaum prokemerdekaanyg dibunuh tetapi juga para pemuka agama, pemuka golongandan para Raja di zaman itu. 2. Westerling di Sulawesi Selatan. Menurut mantan Diplomat RI, ManaiSophian, tercatat 40.000 orang meninggal meski Belanda mengklaim hanya5000 orang yang meninggal. 3. Tragedi 1965. Setelah gerakan G30SPKI terjadi, gerakan ‘membersihkan’komunis menggelora dimana-mana. Militer dikerahkan ke seluruh negri,Mereka yang dianggap pendukung komunis, dibantai, ditangkap, disiksadan dibuang tanpa pernah ada pengadilan yang adil dan bukti yang jelas.Kebanyakan dari mereka yang ditangkap adalah buruh dan petani. 4. Tragedi mei 1998 dimana etnis tionghoa mengalami pembantaian,pengrusakan properti, pemerkosaan dan penculikan. 5. Kerusuhan Sampit, (Februari 2001) Kalimantan Barat antara suku Dayakdan Suku Madura.Kebanyakan kasus Genosida yang terjadi sebelum masa kemerdekaan memilikimotif atau latar belakang kepentingan politik para penjajah di masa itu. Sedangkankasus Genosida yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia seperti kasusG30SPKI,dimana pembantaian dilakukan terhadap mereka yang menganut paham dantermasuk golongan komunis merupakan kasus Genosida dengan latar belakangfaham atau golongan.Kasus Genosida yang disebut terakhir, yaitu kerusuhan Sampit merupakansalah satu kasus Genosida yang memiliki latar belakang pertikaian SARA.Kasus Genosida InternasionalSelain di Indonesia, dunia memiliki sejarah sendiri tentang terjadinyaGenosida. Sebagian kasus di antaranya adalah :Pembantaian bangsa Kanaan oleh bangsa Yahudi pada milenium pertama.
Berdasarkan uraian kasus kasus diatas,dapat terlihat bahwa genosida yang terjadi, berkembang dan pecah bukan hanyakarena perilaku menyimpang dari kedua belah pihak yang memanfaatkan rasaetnosentris pada diri mereka untuk melakukan hal yang tidak manusiawi, tetapi adajuga faktor dari luar kelompok yang menyebabkan itu bisa terjadi.Salah satu yang dibahas diatas adalah ketidakpuasan kelompok atas kinerjapemerintah yang tidak tuntas dalam menyelesaikan masalah antar dua belah pihaksehingga menyebabkan kelompok bersangkutan mencari cara lain untukmenyelesaikan. Atas dasar solidaritas terhadap sesama kelompok satu etnis, makamereka melakukan tindakan yang melanggar hukum dan tidak manusiawi. Tindakan ini bisa dikategorikan tindakan yang menyimpang atau tidak sesuaiharapan masyarakat. Selain itu adanya diversifikasi yang terjadi baik secara langsungmaupun tidak langsung dapat menyebabkan kecemburuan sosial danberujung pada dendam yang mengakar. Sehubungan dengan penyimpangan yang dilakukan kelompok tentunya adapengendalian sosial yang dilakukan. Menurut Berger, cara pengendalian terakhirdan tertua adalah dengan paksaan fisik. Pada kasus kerusuhan Sampit, bentuk pengendalianyang dilakukan adalah dalam bentuk fisik. Hal ini dilakukan karena kategoripenyimpangan yang dilakukan masyarakat sudah memasuki kategori criminal beratyang direncanakan oleh kolektif. Bentuk pengendalian yang diambil pun lebih kuat yaitumelalui militer pemerintahan yang turun langsung dan menghentikan tindakan Genosidasecara langsung dan fisik. Disamping itu, baik di Indonesia maupun internasional telah ditetapkanhukum-hukum tentang keberlangsungan hidup (HAM) pada umumnya danperlindungan terhadap kelompok masyarakat dan golongan baik etnis atau bukan.Di Indonesia Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kotayang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yangbersangkutan. Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutusperkara pelanggaran hakasasi manusia yang berat. Pengadilan HAM berwenangjuga memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang beratyang dilakukan di luar batas teritorial wilayah negara Republik Indonesia olehwarga negara Indonesia. Akan tetapi Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutusperkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorangyang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan.
Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuanmencegahkelahiran di dalam kelompok; “Dunia internasional sendiri merujuk peraturan HAM oleh PerserikatanBangsa-Bangsa (PBB) yang merupakan organisasi dunia dan dibentuk denganalasan utama hak asasi manusia. Kekejaman dan Genosida setelah Perang Dunia IImenyebabkan munculnya konsensus bahwa organisasi baru ini harus bekerja untukmencegah tragedi serupa di masa mendatang. Tujuan awal adalah menciptakankerangka hukum untuk mempertimbangkan dan bertindak atas keluhan tentangpelanggaran hak asasi manusia.Beberapa hak 370 juta masyarakat adat di seluruh dunia juga merupakansuatu fokus untuk PBB, dengan Deklarasi tentang Hak-Hak Masyarakat Adat yangdisetujui oleh Majelis Umum pada tahun 2007. Deklarasi ini menguraikan hak-hakindividu dan kolektif untuk budaya , bahasa, pendidikan, identitas, pekerjaan dankesehatan, menyikapi isu-isu pasca-kolonial yang dihadapi masyarakat adat selamaberabad-abad. Deklarasi tersebut bertujuan untuk mempertahankan, memperkuat danmendorong pertumbuhan adat, budaya institusi dan tradisi. Deklarasi ini juga melarangdiskriminasi terhadap masyarakat adat dan mendorong partisipasi aktif mereka dalamhal-hal yang menyangkut masa lalu, masa sekarang dan masa depan mereka. Meski bisa dilakukan tindakan pengendalian, perlu juga dipahami bahwatindakan pencegahan akan jauh lebih baik jika tindakan pencegahan juga dilakukansejak awal. Jika menilik kasus genosida bernuansa etnis diatas, dapt terlihat bahwamasalah antar dua kelompok bertikai dimulai dari ketidakcocokan dan prasangka yangberkembang menjadi streotip negatif tertentu. Diversifikasi etnis yang dilakukan pihakluar ataupun pemerintah juga menjadi salah satu penyebabnya. Dan yang paling utamaadalah tidak terselesaikannya urusan hukum secara tuntas antara kedua belah pihakyang berseteri sehingga salah satu pihak atau keduanya memilih untuk bertindaksecara agresif untuk mendapat keinginannya. Karena itu tindakan pencegahan yangpaling penting adalah berasal dari pemerintah sebagai pihak yang memiliki kuasa lebih. Tindakan pencegahan yang paling utama adalah memastikan apabila adakasus antar dua kempompok etnis, proses hukum berjalan dengan sebagaimanamestinya sesuai peraturan yang berlaku dan tanpa memihak salah satunya. Denganberjalannya proses hukum yang baik, akan menimbulkan kepercayaan terhadaphukum sehingga jika ada suatu pertikain baik bernuansa etnis ataupun tidak,kelompok-kelompok tersebut akan mempercayakan penyelesaiannya kepada hukumpemerintah bukannya malah bertindak agresif dan menyimpang. Tindakan pencegahan berikutnya adalah memastikan peraturan-peraturanyang ada sudah cukup meng-cover segala hak dan kewajiban serta perlindunganbagi masyarakat etnis tanpa mendahulukan atau menkhususkan etnis manapun.Dengan adanya peraturan tersebut, masyrakat etnis akan merasa aman dan tidakakan terpicu untuk membuat tindakan sendiri tapi menjadikan peraturan pemerintahsebagai rujukan pertama. Kedua pencegahan diatas sangat penting untuk menghindari eskalasi konflikyang mungkin terjadi antar dua kelompok etnis terutama di Negara Indonesia yangterdiri dari ribuan suku bangsa berbeda. Penting bagi Indonesia untuk memliki
Tugas pemerintahlah untuk memastikan semua peraturandijalankan dengan semestinya. Selain pencegahan dari pihak luar, anggota kelompok etnis sendiri pun perlumenumbuhkan rasa toleransi terhadap etnis lain sebagai salah satu langkah merubahpola pikir atas prasangka maupun stereotip etnis tertentu yang kerap kali menjadi awalpermusuhan antar etnis. Stereotip-stereotip yang berkembang seperti suku Minangyang perhitungan, suku Batak yang kasar ataupu suku Jawa yang kaku dan konservatifsebenarnya bisa dihapuskan. Harus ada pemahaman di kalangan semua masyarakatterutama masyarakat yang masih menganut nilai-nilai etnis tertentu bahwa stereotipbukanlah penilaian mutlak untuk keseluruhan mayarakat etnis tertentu. Sehingga tidakada anggapan bahwa etnis tertentu adalah lebih baik dari etnis lainnya. Sikap salingtoleran dan terbuka dengan perbedaan tentunya mampu menumbuhkan sikap salingmenghormati antar etnis sehingga tidak akan terjadi pertikaian hingga tindakan sepertiGenosida.

Solusi
Genosida yaitu pembunuhan massal terhadap suatu etnis tertentu merupakantindakan menyimpang yang tidak manusiawi yang seringkali diikuti denganperilaku menyimpang lainnya seperti penculikan, pemerkosaan dan penyiksaan. Banyak hal yang melatarbelakangi tindakan Genosida seperti adanyakepentingan politik, ekonomi dan juga rasa etnosentrisme berlebihan sehinggamembuat suatu etnis pantas memusnahkan etnis lainnya. Rasa etnosentrisme negatif dapat dicegah mulai dari pemerintah yang harusmemastikan adanya peraturan hukum yang kuat tentang masyarakat etnis,pelaksanaanya hingga tuntas dan tanpa memihak, serta harus adanya pemahaman darimasyrakat sendiri tentang toleransi antar etnis. Pengendalian Genosida apabila sudahterjadi adalah berupa pengendalian fisik melibatkan pihak berwajib baik dari dalamnegeri maupun luar negeri jika dibutuhkan.

sumber : www.google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar